Bukan Saya

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Lampung Post

SEJAK tiga hari belakangan, saya merasa ada keganjilan yang terjadi dalam diri saya. Saya merasa, apa-apa yang menjadi kepunyaan saya sebenarnya bukanlah milik saya. Pekerjaan, rumah, mobil, bahkan istri dan anak saya yang masih berusia dua tahun itu pun sepertinya bukan istri dan anak saya.

Begitu pula dengan tubuh yang sedang saya diami saat ini, saya merasa, ini bukan tubuh saya. Semua terasa begitu asing. Saya tidak akrab dengan semua ini meski saya sangat mengenalinya. “Engkau terlihat linglung,” suara lembutnya membuyarkan lamunan saya, “barangkali efek benturannya belum benar-benar hilang.”

“Benturan?”

“Empat malam kemarin kau terpeleset dari tangga. Apa engkau lupa? Mungkin sebaiknya kita periksakan bekas benturan ini ke dokter.”

“Tidak perlu. Saya baik-baik saja.”

“Atau paling tidak, beristirahatlah dulu sehari. Jangan dulu masuk kantor.”

“Saya baik-baik saja.” Ia beranjak dari ranjang dengan sedikit kecewa menggurat di wajahnya. “Hei, saya baik-baik saja,” saya meyakinkannya, kemudian tersenyum kepadanya.

“Saya percaya,” balas istri saya.

Lalu bergegas menggendong putri kecil kami dan membawanya turun ke lantai bawah. Sementara ia dan seorang pembantu mempersiapkan sarapan di meja makan, putri kecil kami akan bebas bermain di hamparan karpet di ruang TV. Sedangkan saya, bersiap-siap menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Namun, sebelum itu, saya menghampiri terlebih dahulu cermin yang terpasang di meja rias istri saya. Saya mengamati bekas benturan di kening saya yang tempo hari membentur lantai cukup keras. Memarnya sudah hampir hilang. Saya pastikan, saya akan baik-baik saja.

***

Saya memeriksa faktur-faktur pembelian para customer dan mencocokkannya dengan yang tertera pada kontra bon utang. Saya mencermatinya. Saya tidak ingin ada tagihan yang terlewat. Sebab, keteledoran semacam ini biasa dijadikan alasan bagi para customer nakal untuk menunda pembayaran hingga satu bulan ke depan–kendati tidak semua customer bertingkah demikian. Dan saya mesti berhati-hati.

“Engkau tampak lebih bersemangat akhir-akhir ini,” goda Vyas–rekan kerja yang bekerja seruangan dengan saya. “Sepertinya benturan di kepalamu itu baik untukmu,” Vyas tersenyum sambil menahan tawa, “apakah akan berpengaruh baik juga buatku?”

“Kita tidak akan pernah tahu, Vyas. Engkau harus mencobanya terlebih dahulu.”

Perempuan yang usianya sepantaran saya itu tertawa renyah. Ia mengusap keningnya, seakan-akan tengah membayangkan sebuah benjolan yang menempel di sana. Vyas memang selalu seperti itu. Ia kerap membayangkan sesuatu yang menurutnya lucu. Akan tetapi, tawa renyahnya kali ini sedikit mengusik pikiran saya. Seolah-olah tawanya itu memicu kembali perasaan ganjil yang bersemayam dalam benak saya beberapa hari belakangan ini.

Baca juga:  Semoga Kau Tidak Melihatku, Melfa

Saya merasa, sepertinya saya sering melihat Vyas tertawa lepas seperti itu. Ya, tentu saja saya sering melihatnya tertawa seperti itu–bagaimanapun, Vyas adalah rekan kerja yang bekerja seruangan dengan saya. Akan tetapi, yang saya maksudkan sekarang ini sungguh berbeda. Maksud saya, sepertinya saya sering melihat Vyas tertawa seperti itu, tapi entah di mana.

“Engkau pasti sangat merindukannya, ya, kan?”

“Maaf, kenapa?” saya terkesiap, kemudian menoleh ke arahnya.

“Edd. Kalian sangat dekat. Engkau pasti sedang merindukan Edd, ya, kan?”

Saya kembali memandang ke depan, ke arah meja kosong yang terletak di antara meja saya dan Vyas. Meja kosong itu berhadap-hadapan dengan meja kami berdua. Meja kosong itu tempat Edd dulu bekerja. Sudah hampir sebulan meja itu belum terisi kembali. Dan, pekerjaan-pekerjaan yang semestinya dikerjakan oleh Edd sementara waktu dilimpahkan kepada saya dan Vyas.

“Iya. Edd kawan yang baik.”

Sebelum Edd meninggal, ruangan ini biasa dihuni oleh kami bertiga. Sama-sama m e n g e m b a n tugas supervisi penjualan yang masing-masing berbeda divisi. Vyas di divisi pasar tradisional, saya di divisi pasar modern, dan Edd khusus menangani penjualan produk ke hotel, restoran, dan kantin.

Kami bertiga merupakan rekan kerja yang kompak. Saling bantu satu sama lain walau berbeda-beda divisi. Dan, kami juga saling mengenal karakter satu sama lain–empat tahun sudah kami bersama-sama di ruangan ini. Saya sangat meyakini hal itu. Hanya saja, sejak tiga hari belakangan ini, saya kesulitan mengingat wajah Edd. Entah mengapa, setiap saya menyebut namanya dan mencoba mengingat Edd, yang saya temukan di benak saya cuma sekelumit gambaran buram dan berbayang. Membuat kepala saya terasa pusing dan agak berat.

***

Ia masih kesal. Saya dapat merasakannya. Sebab, seharian ini, ia banyak melontarkan kata: terserah. Dan, menurut Vyas–dua hari kemarin saya sempat menanyai pendapatnya tentang hal ini, perempuan yang sering mengatakan kata terserah pada satu waktu tertentu–dan bukan ke-biasaan dirinya, itu artinya: perempuan tersebut sedang jengkel. Apalagi kalau kata terserah itu ia ucapkan dengan pelan lalu tersenyum tipis. “Jika seperti itu, apa artinya?” tanya saya lagi.

“Itu artinya: engkau dalam masalah besar, teman!”

Seharusnya tak perlu saya tanyakan hal ini kepada Vyas, karena sebenarnya saya sudah bisa menduganya mengapa istri saya bersikap demikian. Ini semua pasti gara-gara ketidak-mauan saya diperiksakan ke dokter. Pasti ia masih merasa khawatir. Akan tetapi, seperti yang berulang kali saya katakan kepadanya; saya baik-baik saja. Saya tidak merasakan sakit yang terlalu pada keesokan harinya. Sedangkan perih yang saya rasakan ketika benturan itu baru saja terjadi, menurut saya, rasa perihnya itu masih terbilang wajar. Tak perlu ia khawatirkan.

Baca juga:  Si Mata Elang

Saya mendekatinya yang sejak tadi berbaring memunggungi saya. Barangkali, cumbu rayu mampu meredakan kekesalannya kepada saya. Tanpa berpikir lama, saya tempelkan bibir saya pelan-pelan ke tengkuknya–setelah sebelumnya saya sibakkan rambutnya yang panjang dan bergelombang itu. Lalu, sebelah tangan saya tak lupa melingkari pinggangnya. Saya usap-usap perutnya sejenak, lantas, saya lanjutkan kembali upaya saya untuk membangkitkan gairahnya yang seminggu terakhir ini terabaikan oleh saya. Istri saya bereaksi. Kemudian, naluri purba kami masing-masinglah yang saling berbicara.

“Saya masih marah kepadamu,” ujarnya sembari mengelap keringat yang bertumbuhan di kening saya.

Saya hanya tersenyum, lalu terkulai di sampingnya bak seekor kelinci jantan kehabisan tenaga usai bertandang di tubuh betinanya. “Engkau jangan terlampau khawatir. Saya baik-baik saja,” balas saya agak terengah-engah.

Istri saya lalu menatap saya dengan kedua bola matanya yang tampak laksana dua perahu yang sedang mengarungi dua samudera yang amat tenang. Begitu dalam ia menatap saya. Dan, dengan tatapan yang sama pula saya menyambut tatapan sepasang matanya yang jernih itu. Untuk beberapa saat yang singkat, waktu seolah terhenti. Dan sesaat kemudian pula, saya beralih memandangi hidungnya, pipinya, serta dagunya yang sedikit tirus itu. Saya amati betul-betul tatkala perasaan ganjil yang masih terselubung dalam benak saya perlahan-lahan kembali muncul. Saya merasa, saya baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. Menikmati sesuatu yang bukan milik saya. Betapa berdosanya saya sekarang ini, pikir saya.

***

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita walau itu satu detik kemudian. Itulah yang saya pahami kembali setelah menghadiri pemakaman manajer personalia yang juga bekerja di perusahaan tempat saya bekerja. Padahal, kemarin sore menjelang malam, saya berkunjung ke rumahnya menemani istri saya yang sudah berteman lama dengan istrinya. Dan, saya pun sempat berbincang-bincang sebentar dengannya, sebelum akhirnya ia memohon diri sejenak ke kamar kecil dan terpeleset di dalamnya. Kepala bagian belakang manajer personalia saya tersebut membentur sudut bak mandi hingga terjadi pendarahan hebat.

Baca juga:  Kekasih dari Bulan

Saya terus merenungi kejadian itu di samping istri saya yang sedang mengemudikan mobil menuju rumah. Dan, saya terkenang akan seorang perempuan yang turut hadir dalam proses pemakaman tadi. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau bahagia?” tanya perempuan itu antusias.

“Ada apa?” tanya istri saya. “Perempuan yang terakhir kali berbicara dengan saya tadi, apa engkau kenal?”

Dengan mimik heran, ia menoleh kepada saya, “Engkau tidak mengenalnya?” Ia kembali fokus menatap jalan.

“Perempuan itu istrinya Edd. Bagaimana bisa kau sampai lupa?”

“Edd?” decak saya mengulangi, “Perempuan itu istrinya Edd?”

Gambaran buram dan berbayang itu kembali menyerang saya. Saya belum mampu mengingat wajah Edd. Saya benar-benar lupa akan rupanya. Kemudian saya keluarkan ponsel dari dalam saku. Mencari foto Edd yang tersimpan di galeri ponsel saya. “Kenapa tidak ada? Kenapa tidak ada foto sama sekali?”

“Maaf, saya lupa bilang, tadi pagi putri kecil kita sibuk bermain-main dengan ponselmu itu. Barangkali dia salah pencet,” jelas istri saya.

Lalu saya kirimkan pesan–lewat WhatsApp– kepada Vyas, memintanya mengirimkan foto Edd untuk saya. Sementara saya menunggu foto kiriman dari Vyas, saya mencoba renungi pertanyaan-pertanyaan perempuan itu tadi.

“Saya jadi teringat rumor yang diceritakan istri manajermu itu tempo hari.”

“Rumor tentang apa?”

“Edd. Dia mati diracun istrinya. Engkau tahu? Ternyata Edd itu terobsesi dengan istri sahabatnya sendiri sudah sejak lama.”

Pesan balasan dari Vyas baru saya terima. Vyas mengatakan seluruh foto Edd yang ada di ponselnya menghilang. Aneh, pikir saya.

***

“Edd, kaukah itu?”

Ia berdiri kokoh menyongsong saya yang menuruni tangga. Tatapannya begitu tajam. Ia mengangsurkan tangan, seakan-akan hendak berjabatan tangan dengan saya. Akan tetapi, begitu saya menyambut tangannya, tiba-tiba sosok itu menarik saya dengan sangat kuat. Saya kehilangan keseimbangan lantas menubruknya. Dan, saya tidak ingat apa-apa lagi selain rasa perih yang membekas di kening saya, juga istri saya yang tak henti-hentinya berteriak-teriak panik.

[1] Disalin dari karya Abdullah S Dalimunthe
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu, 15 Juli 2018