Haji Manap

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Langit merah. Bulan merah. Segalanya tampak merah di matanya. Angin malam juga beraroma darah. Pada sebuah ladang garam, ia terkapar. Sekujur tubuhnya penuh luka. Tulang-tulangnya remuk. Ia mengerang kesakitan. Darah kental mengucur dari kepala, merembes ke wajahnya. Potongan kayu, batu, dan benda tajam berserakan di sekelilingnya. Izrail pun seperti mengintip di balik pohon siwalan, menunggu giliran.

***

Matahari terik. Dul Karim berjalan dengan kaki telanjang. Keringatnya lengket di kaus oblong yang warnanya sudah tidak jelas. Caping cokelat menutupi kepalanya dari bara terik.

Tubuh Dul Karim berotot. Kulitnya hitam kusam karena sengatan matahari. Urat di lengannya tampak menjalar bagai akar pohon, yang semakin jelas saat sekop di tangannya berayun dan menancap gundukan garam. Ia memasukkan garam itu pada sebuah karung sampai terisi penuh.

Dul Karim jongkok. Tangannya mencekik kuat kepala dan kaki karung. Sekuat tenaga ia angkat karung itu ke udara sambil menahan napas, dengan bahu siap memanggul. Berat garam mencipta jejak kaki sepanjang pematang, menuju gubuk yang berdiri di antara hamparan ladang garam. Kakinya awas menjaga keseimbangan.

Gubuk Dul Karim berjarak sekitar 300 meter dari ladang. Dibangun di luas tanah 5 x 6 meter. Dindingnya terbuat dari gedek sehingga angin gampang masuk lewat lubang-lubang kecilnya, menyambangi penghuni gubuk. Semua tiang penyangganya dari bambu. Atapnya dari genteng. Lantai plesternya sudah mengelupas.

Di gubuk itu Dul Karim hidup berdua dengan ibunya. Usianya belum genap tujuh belas tahun. Setelah lulus dari MTs (madrasah tsanawiyah), ia sengaja tidak melanjutkan sekolah. Ia menggantikan ibunya bertani garam sebagai satu-satunya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bapaknya, Haji Manap, seorang petani garam yang meninggal dengan perut robek, ususnya memburai dan darahnya berhamburan di ladang garam, lima tahun silam.

Terik benar-benar membakar tubuh Dul Karim. Keringatnya mengucur deras. Berkali-kali ia mengelapnya dengan ujung kaus. Sudah 10 karung garam ia panggul sendiri.

Rasa payah mulai hinggap di bahu dan pinggulnya. Langkahnya mulai terasa berat. Ia duduk di pematang. Memandang hamparan ladang garam. Tiba-tiba dadanya terasa perih bagai cacar air di kakinya saat menginjak butiran garam. Ia teringat bapaknya. Semenjak bapaknya meninggal, segalanya terasa lebih sulit. Apalagi, ibunya menjadi sakit-sakitan.

Samar-samar Dul Karim masih bisa mengingat kata-kata bapaknya dulu. Kini, ia baru bisa mencerna kata-kata itu, “Bertani garam harus berani pedih, Nak. Bila hujan turun kau bisa hancur, belum lagi permainan para pengepul. Kita tak boleh menyerah, terus berusaha. Satu-satunya kekuatan yang harus kita miliki sebagai orang miskin adalah keyakinan. Ingat, menjadi orang baik sebuah pilihan. Bila kita mati itu takdir.”

Baca juga:  Subuh Kesembilan

Kedua mata Dul Karim terasa panas. Dadanya semakin bergolak. Ia ingin bapaknya hidup lebih lama sehingga ia bisa belajar banyak hal. Dulu, selepas pulang sekolah ia sering diajak bapaknya ke ladang untuk memperbaiki tanggul: mengambil lumpur di ladang berair untuk menambal tanggul sampai tebal dan lebih tinggi agar tak mudah jebol.

Segala yang pernah terekam matanya kini melintas di kepalanya. Ia teringat saat baaknya mengajari cara bertani garam dan membuat kincir angin. Bapaknya sangat telaten. Ia melihat bagaimana bapaknya membuat kincir angin dari rangkaian pipa peralon, papan kayu, besi, laker, dan ban bekas.

“Dulu kakekmu yang mengajari bapak membuat kincir angin seperti ini,” kenang Dul Karim pada bapaknya, “Begitu juga cara bertani garam.”

“Memangnya benda ini untuk apa, Pak?” tanya Dul Karim polos. Waktu itu ia baru masuk sekolah dasar.

“Dengan kincir angin ini kita bisa menghemat tenaga, anginlah yang bekerja,” ujar bapaknya, “Benda ini bisa memompa air baku yang mengalir langsung dari laut lewat kanal kecil ke ladang garam kita. Setelah air di ladang sudah cukup, kita ikat kincir angin ini dengan tali, supaya berhenti memompa air.”

“Lalu, siapa yang menciptakan angin, Pak?”

“Allah yang menciptakannya, makanya kita tak boleh lupa bersyukur.”

Kemudian Dul Karim memejamkan mata dan mengangkat kedua tangan mungilnya di dada, persis menirukan bapaknya saat berdoa sehabis shalat. “Terima kasih ya Allah, Engkau telah meringankan pekerjaan bapakku.”

Bapaknya tersenyum bangga. Lelaki berkumis tebal itu langsung memeluk dan mencium kepala anaknya. Bila langit sedang baik, hujan tak turun sampai berhari-hari dan sinar matahari akan membuat air laut di ladang itu menguap dan meninggalkan kristal-kristal garam dan para petani garam akan mengambilnya untuk dijual. Namun, bila tidak beruntung, air laut yang sudah tua dan mulai mengkristal menjadi butiran garam kembali mencair terkena air hujan.

Terik matahari kian terasa menyengat di kulitnya. Dul karim tersadar dari lamunannya. Ia bangkit dan kembali mewadahi tumpukan garam itu, lalu memanggulnya ke gubuk.

Baca juga:  Jemari Kiri

***

Di usia Dul Karim yang masih belum matang itu, ia sudah memiliki banyak pengalaman pahit. Ia harus hidup di tengah selidik mata penuh benci para tetangga, juga suara-suara nyinyir yang terus menyebar dan awet sampai saat ini, bahkan sampai ke telinga anak-anak. Sebuah cerita tentang bapaknya, Haji Manap, yang mati dihajar puluhan orang menggunakan potongan kayu, batu dan benda tajam karena dituduh memperkosa Mbak Sri, tetangganya yang ditinggal kerja suaminya ke Malaysia sebagai kuli bangunan.

Suasana malam saat kejadian itu sangat mencekam. Orang-orang kampung berdatangan, seperti hendak menyaksikan sebuah pertunjukan opera kematian. Cahaya senter berlesatan dari tangan puluhan orang. Haji Manap terkepung. Beberapa orang lelaki itu langsung memukul dengan membabi buta.

“Hajar!”

“Jangan beri ampun!”

“Bunuh!”

“Laknat!”

Begitulah orang-orang menghardik sambil menghantam tubuh Haji Manap tanpa ampun, juga tanpa memberi kesempatan padanya membela diri. Setelah tubuh Haji Manap tak bergerak, satu per satu orang mulai meninggalkan jasadnya, juga sekelompok lelaki beringas yang entah dari mana, yang berhasil menghasut warga dan yang paling membabi buta menyiksa Haji Manap. Sementara Mbak Sri lenyap saat kerusuhan pecah.

***

Haji ManapPadahal, sewaktu Haji Manap masih hidup, petani garam mencapai masa jayanya. Harga garam stabil. Pabrik pem produksi garam juga bisa dikendalikan. Para pengepul juga tak berani memainkan harga. Kabarnya, selain pintar Haji Manap juga memiliki ilmu kanuragan.

Haji Manap juga berjasa membentuk sebuah organisasi di desanya. Ia juga dikenal baik oleh banyak orang. Ia sangat vokal membela masyarakat. Bahkan, ia tak segan-segan mengajak para petani garam demonstrasi di gedung pemerintahan. Bahkan, beberapa bulan sebelum pemilihan kepala desa, ia digadang-gadang maju di pilkades. Masyarakat di desanya yang mayoritas petani garam mendukungnya.

Sial, petaka itu justru terjadi dan segalanya berubah. Waktu itu Dul Karim sudah mondok di sebuah pesantren, yang juga menaungi MTs tempat ia mengenyam pendidikan. Pagi-pagi sekali pengeras suara di menara masjid memanggil Dul Karim karena ada familinya datang. Ia bergegas ke ruang tamu pondok. Marsuk, saudara bapaknya sudah duduk menunggu.

“Tumben, bapak ke mana, Man?” tanya Dul Karim sambil bersalaman.

“Kamu harus tabah, Dul. Keluargamu dapat musibah, bapakmu meninggal,” jawab pamannya sambil merangkul tubuh Dul Karim.

Baca juga:  Kehormatan

***

Sejak bapaknya meninggal, Dul Karim memendam rasa dendam. Celurit yang digantung sungsang di tiang bambu gubuknya itu siap memberi perhitungan kepada orang yang membunuh bapaknya. Ia selalu membawa celurit itu ke manapun ia pergi.

Namun, ia tidak tahu siapa yang bakal ia tebas lehernya. Ia tak tahu siapa yang membunuh bapaknya. Sedangkan Mbak Sri, orang yang mungkin dapat memberinya keterangan, menghilang sejak peristiwa itu. Tak ada seorang pun yang tahu. Apakah Mbak Sri masih hidup atau sudah meninggal.

Orang-orang yang dulu dekat dengan keluarganya kini menjauh. Ia dan ibunya dikucilkan warga.

“Tidak apa-apa, Nak,” jawab ibunya saat ia mengadu kalau orang-orang menjauhinya.

“Aku tidak terima diperlakukan seperti ini, Bu. Aku juga perlu tahu siapa dalang dari semua ini.”

“Tak usah kamu pikirkan itu,” ibunya mendinginkan suasana.

“Aku masih sakit hati, Bu. Aku tak akan tenang sebelum menemukan pembunuh bapak,” geram Dul Karim.

“Ya, ibu mengerti. Ibu juga merasakan hal yang sama, Nak, tapi tak usah ada dendam. Biar hukum Allah yang membalasnya.”

Sekujur tubuh Dul Karim gemetar, ia marah. Air matanya pecah, begitu juga ibunya. Mereka berpelukan dalam tangis.

“Tapi, Bu…,” lanjut Dul Karim tersendat.

“Sudahlah, Nak. Setelah bapakmu, ibu juga tak ingin kehilanganmu.”

Dul Karim terisak dalam pelukan ibunya.

Ya. Sebetulnya ada yang dirahasiakan oleh ibunya. Malam saat sebelum dirajam—bapaknya pergi dari rumah setelah menerima telepon dari Pak Kades, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Dan beberapa hari setelah pembantaian itu, Mbak Sri menemui ibunya dan meminta maaf sambil menangis, katanya, Pak Kades akan membunuhnya bila ia tidak mau ikut dalam skenario pembunuhan Haji Manap. Setelah itu Mbak Sri menghilang dan ibunya menjadi sakit-sakitan. ■

Faruqi Umar kelahiran 09 April 1993 di Sumenep, Madura. Menamatkan kuliahnya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur

[1] Disalin dari karya Faruqi Umar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 29 Juli 2018