Hilang Ingatan

Karya . Dikliping tanggal 24 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Merasa tak ada penolakan, ia pun kembali berbaring persis di belakang saya. Tiba-tiba, ia meminta izin untuk memeluk saya dari belakang. Saya agak terganggu dan merasa risi dengan permintaannya.

 

Saya mendadak linglung gara-gara rangkaian kejadian yang menimpa saya. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya menjadi ragu pada waktu dan ingatan. Saya perhatikan, bibir mayat gadis dalam foto di koran itu, menyunggingkan senyuman.

***

MALAM itu, malam pertemuan kami. Hujan yang tiba-tiba tumpah memaksa saya menepi di sebuah halte. Saya kenakan jas hujan yang saya ambil dari bawah jok motor. Saya sudah siap-siap meluncur kembali namun suara tangisan sayup seseorang menghentikan rencana saya.

Saya perhatikan, tangisan itu milik sesosok perempuan berambut panjang yang duduk dalam gelap. Saya tak jadi pergi. Saya justru menghampiri dia yang rupa-rupanya sudah berada di halte ini sebelum saya. Tangisnya makin menjadi kala saya mendekat dan bertanya mengapa dia menangis. Ada jeda sebentar untuk kemudian ia memberi jawaban: tak tahu jalan pulang.

Apa yang menimpa gadis ini membuat saya terus berpikir lantas mengajukan banyak pertanyaan agar mendapat kepastian apa yang sesungguhnya terjadi. Semua pertanyaan saya hanya mendapat sebuah penegasan bahwa dia memang lupa segalanya. Bahkan keberadaannya di halte itu pun tak ia ketahui pasti bagaimana bermula. Di sela-sela percakapan kami, saya sempatkan memperhatikan wajahnya. Dari jarak sedemikian dekatnya, saya berani memastikan bahwa gadis ini sungguh rupawan. Ia memiliki paras cantik milik perempuan-perempuan Jepang.

Meski memiliki kecantikan penuh, ia justru tak lagi punya ingatan, tak membawa serta masa lalunya. Tak juga saya temukan tas atau dompet yang biasanya memuat beberapa identitas diri pemiliknya. Demikianlah kini si gadis hilang ingatan masih saja menangis.

Gadis yang menangis ini mengenakan atasan kaus lengan panjang marun berleher ’’v’’ dan bawahan jins skinny donker yang seluruhnya basah. Sambil berupaya menenangkan, saya segera mengulurkan jaket saya untuk ia kenakan agar dapat mengurangi dingin yang sudah menghantam tubuhnya yang kuyup. Ia segera mengenakan jaket saya dan menghentikan tangisnya. Upaya saya menenangkannya cukup berhasil.

Sambil menyeka sisa-sisa air mata, ia bertanya pada saya apakah saya pengojek online. Saya tersenyum mengiyakan. Dia mengetahui profesi saya berkat jaket seragam yang kini ia kenakan. Hujan makin deras disertai tiupan angin yang sangat kencang hingga menyebabkan sebagian atap halte tua itu terangkat dan sepertinya tak lama lagi akan terlepas.

Saya segera menawarkan diri mengantar si gadis ke pos polisi terdekat untuk membuat laporan diri sebagai orang hilang. Dengan begitu polisi akan membantu menyebarkan pengumuman keberadaan dirinya dan tentu ia akan mudah ditemukan pihak keluarga. Ia setuju dan kami pun bergegas menembus badai hujan menuju pos polisi terdekat.

Baca juga:  Senja di Zaman Now

Di sebuah pos polisi kami bertemu dengan seorang polisi muda yang justru mengarahkan kami untuk menuju kantor Polsek terdekat karena pos itu hanyalah Pos Polisi Lalu Lintas yang tidak melayani laporan mengenai orang hilang. Kami akhirnya mengarah ke tempat yang dimaksud, namun di tengah perjalanan si gadis memberikan usul untuk melapor keesokan harinya saja sebab malam semakin larut dan hujan pun tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Saya setuju saja. Lagipula, lokasi kantor Polsek memang jauh.

Dalam perjalanan, saya menanyakan kira-kira bantuan seperti apa lagi yang dapat saya berikan kepadanya. Tanpa sungkan dia mengatakan: mengajaknya menginap sementara di rumah saya adalah tawaran terbaik. Permintaan itu tentu saja langsung saya tolak. Saya justru mengajukan tawaran lain yaitu membayarkan biaya penginapan untuknya sampai keesokan hari, sampai ia siap saya hantarkan ke kantor Polsek. Mendengar tawaran terakhir saya, ia kembali menangis dan menegaskan bahwa jika saya tidak mengajaknya pulang ke rumah, ia minta diturunkan saja di pinggir jalan dan akan bertahan di sana saja sampai kapan pun dengan segenap bahaya yang mengancam.

Sepertinya, gadis hilang ingatan ini sengaja memerangkap saya dalam masalahnya. Saya tetap tak mau mengajaknya pulang karena tidak ada siapa-siapa di rumah. Istri saya sedang mudik menjenguk mertua perempuan saya yang tengah sakit di Kalimantan. Ia baru akan pulang minggu depan. Jika seorang lelaki seperti saya, sudah seminggu tak bersama istri, tiba-tiba berduaan bersama seorang gadis muda yang rupawan seperti ini, dapat saya pastikan akan datang suatu masalah yang bisa membikin runyam. Pikiran ini benar-benar menghantui saya.

Tidak ingin mengambil risiko, saya pun memutuskan menurunkannya di tepi jalan. Motor sudah berjalan beberapa meter sampai kemudian saya hentikan lagi setelah saya mendengar ia setengah berteriak mengatakan saya sebagai laki-laki yang tak punya rasa belas kasih, tak peduli pada nasib seorang perempuan yang seharusnya ditolong dalam situasi seperti ini.

Pikiran saya hampir habis! Saya mencoba menimbang-nimbang, apa yang sebaiknya saya lakukan. Terlintas di pikiran, sepertinya tak mengapa mengajaknya pulang dengan penuh kehati-hatian. Maksud saya, saya akan berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tak melakukan hal-hal yang sangat mungkin terjadi di antara kami. Tapi saya kembali ragu, apa saya mampu?

Baca juga:  Pohon-pohon Tetangga, Ayam-ayam Tetangga

Saya pun terpikir untuk memberi tahu istri saya mengenai keberadaan perempuan ini agar tak terjadi salah paham, namun ide itu cepat saya urungkan. Sepertinya, jika itu saya lakukan, justru membuat urusan jadi semakin gawat. Pada akhirnya saya membuang keraguan saya dan memutuskan untuk memboncengnya pulang menuju rumah demi alasan kemanusiaan dan menepis anggapan bahwa saya tak mau menolongnya.

Motor segera melaju dan sampailah kami di rumah. Beruntung saya tinggal di rumah kontrakan di mana para warga di sekitar tidak saling kenal, tidak saling peduli. Keberadaan gadis baru yang saya bawa ke rumah ini tak akan sampai menjadi perhatian dan masalah bagi mereka.

Saya persilahkan dia untuk mandi terlebih dulu. Saya geli melihat tampilannya sehabis mandi setelah mengenakan setelan pakaian istri saya yang saya berikan sebelum ia mandi tadi. Bayangkan saja, istri saya berbobot tujuh puluh sementara dia gadis mungil yang mungkin hanya empat puluh lima kiloan.

Sehabis mandi, saya mengajaknya makan bakso yang sempat kami beli dalam perjalanan pulang tadi. Dia makan dengan lahapnya seperti orang yang belum makan selama seminggu. Dalam makan malam kami itu, tak banyak pembicaraan. Saya hanya sempat menyinggung bahwa di rumah kecil satu kamar tidur ini kami hanya tinggal berdua. Kami sudah sepuluh tahun menikah tapi belum punya anak. Sehabis makan saya persilahkan dia untuk tidur di dalam kamar. Sementara itu saya akan tidur di atas karpet depan televisi.

Di luar, hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti. Hanya dalam hitungan menit saya terlelap dalam tidur karena kelelahan berjalan seharian mencari dan mengantar penumpang, ditambah lagi urusan dengan si gadis di sepanjang jalan pulang tadi, cukup menguras pikiran dan tenaga.

Malam itu, saya terbangun oleh gelegar guntur yang begitu mengerikan dalam badai hujan di luar. Tanpa saya duga, si gadis yang tak punya ingatan itu rupanya sudah berbaring di samping saya. Dia memohon maaf karena tidak berani tidur sendirian, apalagi ia mendengar gelegar guntur hingga membuatnya keluar dari kamar, berbaring di samping saya. Saya hanya diam dan kembali berusaha memejamkan mata untuk tidur.

Merasa tak ada penolakan, ia pun kembali berbaring persis di belakang saya. Tiba-tiba, ia meminta izin untuk memeluk saya dari belakang. Saya agak terganggu dan merasa risi dengan permintaannya. Meski begitu, karena masih mengantuk saya berusaha kembali tidur dan tak sempat mengiyakan dan tak pula menolak permintaannya. Kini ia memeluk saya dari belakang.

Baca juga:  Upacara

Tak hanya sampai di situ, dia bertindak lebih jauh lagi dan mengatakan bahwa semuanya akan ia berikan sebagai rasa terima kasihnya kepada saya yang sudah begitu baik kepadanya. Sebagai lelaki yang lemah, saya menyerah. Saya tak sanggup menolak atau menghentikan apa pun yang kemudian ia sodorkan dengan begitu mudahnya.

Saya terbangun oleh sinar matahari pagi yang menembus sela-sela gorden. Tapi, di samping tak saya dapati si gadis itu lagi. Saya bangkit dan mencoba mencarinya di kamar, di dapur dan di setiap sudut rumah dan tetap saja tak saya temukan ataupun tanda-tanda keberadaannya. Dalam kebingungan dan banyak tanya di kepala, saya memutuskan untuk segera pergi mencari si gadis. Saya sudah berkeliling sekitar tempat tinggal saya satu jam dengan sepeda motor, namun tak juga saya temukan gadis itu. Saya putuskan mampir ke sebuah warung kopi sebelum melanjutkan pencarian.

Sambil menunggu mi rebus pesanan, saya menyeruput kopi sambil membaca sebuah koran yang ada di meja warung. Koran itu edisi kemarin. Persis di halaman belakangnya saya menemukan foto dan berita yang langsung membuat jantung saya berdetak tak karuan. Mendadak, tenaga saya menguap entah ke mana. Saya mengenali dengan baik wajah dan postur gadis yang sudah menjadi mayat dalam sorotan berita itu. Saya juga tahu jaket yang yang dia kenakan adalah jaket saya. Dalam berita itu dia disebutkan telah tewas bunuh diri di perlintasan kereta api, dua hari yang lalu.

Saya menjadi ragu pada waktu dan ingatan saya. ***

Samarinda, 5 -8 November 2017

CATATAN:

Cerpen Hilang Ingatan merupakan salah satu karya terakhir Ramadira, cerpenis yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur. Sebab, pada Senin (16/7) lalu, cerpenis muda bernama asli Muhammad Riharja itu telah dipanggil Sang Khalik. Hingga akhir hayatnya, Ramadira tercatat sebagai PNS fungsional pengantar kerja pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Timur. Karya-karya cerpennya menyebar di berbagai media lokal maupun nasional. Dia telah membukukan beberapa cerpennya dalam Kumpulan Cerita Kucing Kiyoko (2011). Pemuatan cerpen Hilang Ingatan sudah seizin istrinya.

 

[1] Disalin dari karya Ramadira
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 22 Juli 2018