Kepala Siluman, Ular-ular Gelondongan, dan Naga Sisik Hitam…

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Bagaimana harus kuceritakan deritaku padamu, ading Aliman? Engkau pergi jauh sekali, sedang penyakitku tak kunjung sembuh–jika ini memang penyakit, meski aku merasa tak pernah sakit. Aku hanya merasa sakit jika ingatanku bangkit, denyut kepalaku kambuh, dan sedikit bilur pada kulit. Tapi itu semua tak mengapa jika dibandingkan dengan usahaku untuk sekadar memejamkan mata, sebab dalam sepicing saja pandanganku hablur bertukar rupa. Segala yang kulihat akan berubah melecut, menggigit, meneror–apa yang dengan sederhana kusebut derita.

Aku tak punya sebutan lain, Aliman, ya, kecuali derita saja. Derita luar-dalam, lebih dari yang tampak, susah sungguh dipahami orang lain. Tapi apa salah kunamai ini “derita saja” sebagaimana sebutan akut, sakit menahun, duka nestapa, ranggas merana, hidup merasai atau sengsara, yang dilekatkan kepada nasib seorang anak Adam?

Aliman, engkau telah pergi, jauh sekali. Tapi kuanggap Jauh Sekali itu nama tempat, sebagaimana Kintap, Sungai Danau, Bati-Bati, Muara Asam-Asam, atau Pulau Lari-Larian–itu sederet nama tempat di tanah kita, banua tercinta.

Aku tahu engkau berangkat ke tempat Jauh Sekali pada suatu dinihari, ketika derap sepatu mengepung rumah-gubuk kita, menggedor-gedor, sehingga palang pintu jatuh sendiri seakan gemetar, daun pintu membuka sendiri seperti pasrah, dan derit engselnya seolah berkata, “Masuklah, ambillah yang bersisa…”

Apa yang bersisa? Tak ada. Kecuali dirimu dan diriku. Tapi aku sisa tak berguna. Jalanku terhuyung-huyung karena separuh kakiku lumpuh. Mataku dianggap rabun, meski aku bisa melihat dalam remang. Jari-jariku sering bergetar karena urat saraf terganggu. Sementara kau sehat. Tubuhmu kuat. Matamu tajam. Otot-ototmu kukuh.

Kau sisa dari abah kita yang kuat, tapi akhirnya terkalahkan. Aku mungkin seperti ibu, penyakitan, dan meregang nyawa kehabisan darah saat melahirkan aku di atas klotok. Sering kudengar cerita itu. Ibu dibawa dari kampung kita di seberang yang puskesmasnya ditinggalkan petugas. Sejak balian terakhir meninggal, yang sakit parah harus dibawa ke rumah sakit di Marabahan. Termasuk ibu-ibu yang susah melahirkan.

Termasuk ibu kita. Tubuh hamilnya terbaring lemah di atas klotok. Persis saat melewati ulek Marabahan, ketubannya pecah. Di atas klotok itulah aku terpancar ke dunia, di atas air, di atas ulek yang berputar. Berpusaran. Dan di tengah pusaran itu ibu kita kehabisan darah, ulah ketaksabaranku.

Tapi katamu, kandungan ibu memang lemah. Maklum ibu sakit-sakitan sejak sawah-ladang kita kekeringan ulah penguasa hutan dan pihak perkebunan. Mereka menebang dan membakar hutan semaunya. Sedang sawah-ladang ibarat rahim bagi ibu kita. Jika siklus air-tanah-udara terganggu, maka terganggu pula kandungannya. Di atas segalanya, itulah takdir ibu, katamu. Tapi aku tahu kau menghiburku, sebagaimana kau tahu aku merasa berdosa, selamanya.

Aku lahir tak sempurna dan penyakitan, meski ungkapan ini tak kusuka. Aku sempurna, bahkan sangat sempurna, sebab bisa melihat apa yang tak orang lihat, dapat merasa apa yang orang tak merasakan. Aku tidak sakit, apalagi penyakitan. Tapi biarlah orang-orang menyebut demikian, dan lebih dari itu menganggap jiwaku terganggu. Kada waras. Dengan begitu, aku tak berguna dan berharap siapa pun lalu melupakanku.

Tinggal kau yang tersisa. Mereka ambil.

Baca juga:  Lampion Buat Ibu

Tubuhmu yang kuat tak sanggup melawan, tapi sinar matamu tak padam. Kau diseret ke mobil patroli. Lengking sirene seolah pekik enggang yang mengiringi kepergianmu. Mengapa? Yang kutahu, kau melukai seorang mandor kebun. Dan bisik tetangga menambahkan: engkau menghasut orang membakar lahan sawit di perbatasan!

Tapi aku tak yakin kau menghasut. Meski kutahu kau suka membacakan puisimu di jalanan, di muka petani yang resah. Apakah kata-katamu berbisa? Aku justru percaya kata-katamu murni, kau rawat seperti ibu melahirkan. Ah, selalu aku ingat ibu!

***

Sama sepertimu, Aliman–cuma caranya berbeda–aku percaya bahwa kebun sawit yang dibuka hampir seluas bumi di banua, pertanda bala. Dan aku melihat apa yang tak dilihat orang: gelindingan kepala siluman! Warnanya hitam kemerahan, disodok galah-galah bertangkai panjang, jatuh menyeringai, bergelindingan. Aku kerap tergeragap melihatnya dinaikkan ke atas truk, lalu berteriak, “Kepala siluman, kepala siluman! Awas, kepala siluman, menggelinding lewat!”

Bahasaku tak seindah bahasamu, memang. Aku berteriak juga bukan di jalanan, tapi di hamparan sawit yang berbatas dengan cakrawala. Itu cukup membuat pekerja kebun terganggu. Mereka melengos mengenang kelakuanku dulu. Mereka seolah sepakat menganggapku tak pernah sembuh. Dulu, aku melihat ular-ular gelondongan, berderet dalam ikatan, diseret dari hulu ke kuala dan aku melawannya.

Sebab ular-ular itulah yang telah menelan abah kita, meski kepadaku dijelaskan bahwa beliau tewas dihantam pohon rebah. Tetap saja aku tak percaya. Aku merasa abah telah dipaksa atau terpaksa masuk hutan dikerahkan perusahaan kayu. Abah berburu pohon-pohon, dengan chain-saw dan gergaji yang menderu.

Ketika abah ditandu tak bernyawa ke luar hutan, sejak itulah aku melihat kayu-kayu yang hanyut di sungai menjelma jadi ular-ular gelondongan!

Ya, pohon-pohon itu menjelma jadi ular-ular raksasa di mataku, terhumbalang hanyut, licin, telanjang, mengerikan. Saat mandi di bawah pohon lua, aku tangkap buah kebuau dan aku lemparkan kepada ular-ular mengerikan itu, juga ke kapal-kapal penariknya yang menyebalkan. Setelah itu kulemparkan apa saja: pasir, potongan kayu, batu-batu. Belakangan kuambil semua yang dibawa orang ke tepian untuk dicuci: sendok, piring, gelas, dandang, ember, penggorengan, guci.

Melihat kenyataan itu, dengan berat hati, kau bawa aku ke rumah sakit jiwa di Gambut. Beruntung, aku disambut Nahdiansyah, sahabatmu yang bertugas di sana. Dia terapi aku dengan puisi sambil bercerita hubungannya denganmu. Kalian sama-sama kuliah di Yogya, meski ia selesai dan kau tidak. Dia bekerja di rumah sakit pemerintah, dan kau turun ke lapangan menyelidik pemerintah.

Hanya saja kalian dipertalikan oleh puisi. Kalian pernah menerbitkan kumpulan puisi berdua, kutahu, dan diam-diam kubaca. Maaf, aku juga suka membaca catatanmu yang berserakan di rumah, dan sedikit-banyak aku merasa ikut suka puisi. Puisi membawaku pergi dari derita tak bertepi. Itulah yang kurasakan, tiap kali Nahdiansyah membacakan puisi-puisinya kepadaku, hasratku pada hidup perlahan bangkit.

***

Secara adat berobat, terapi puisi seorang petugas rumah sakit jiwa membuatku sembuh cepat. Kau membawaku kembali pulang. Lalu kau tenang meninggalkanku di rumah. Lagi pula saat itu aku tahu ke mana engkau pergi. Bukan ke tempat Jauh Sekali, seperti saat ini, ‘kan Aliman? Ada pendampingan petani di Banua Etam, engkau bilang, dan kau pergi berbulan-bulan. Tak apa. Sebab yang kau perjuangkan sesuai yang kuinginkan.

Baca juga:  Keluarga yang Menanti Hujan

Tapi bersamaan dengan itu, bekas hutan yang dibuka menjadi kebun sawit di kampung kita, mulai menghijau tumbuh. Sawit ditanam seluas mata memandang, dan waktu itu aku masih melihat ia selembut dan sejinak pohon kelapa. Daunnya melambai. Namun hari ke hari, pelepah-pelepahnya mulai mengeras, mengkal, serupa remaja yang berangkat dewasa dengan kenakalan dan keras kepala.

Ketika buah-buah aneh-ganjil menyumbul di ketiak pelepah, aku kembali tersiksa, buah-buah itu kian besar, terus membesar, warnanya hitam kemerahan. Itu semua tak ubahnya kepala siluman dalam cerita kai-nini kita. Kuyang! Siluman berkepala manusia dengan jeroan tubuh terburai. Bukan! Ini lebih menakutkan. Serupa mariaban! Siluman gaib berbulu lebat, berbadan besar dan matanya sembap kemerah-merahan!

Itulah yang membuat aku kembali berteriak, mengamuk. Kuhalangi jalan keluar-masuk truk dengan kayu dan batu-batu. Aku tantang para sopir dan para pekerja yang memegang galah-galah panjang. Karena mereka menganggap aku belum sepenuhnya sembuh, kambuh, atau tak bakal sembuh, maka mereka menggelandangku. Memasungku!

Engkau pulang–dari pengembaraanmu ke Banua Etam--dan geram mendapati aku terpasung di tengah rumah. Segera engkau bebaskan aku. Kau tuntun aku turun jenjang. Melihat kakiku yang pincang terhuyung-huyung, rasa sedih dan marahmu menyatu. Kau cari siapa saja yang telah memasungku. Kau cekal leher pambakal yang mengizinkan pendatang di kebun menyorongkan kayu pasungan ke kakiku.

“Ingat, kakakku waras, sangat waras. Kalian yang gila dan keterlaluan!” katamu di muka pambakal yang pura-pura insyaf. Ia mengutarakan dengan lunak sebuah fakta.

“Sejak kau pergi, Aliman, kakakmu Mujani uring-uringan. Ia berteriak-teriak di belakang rumah dan menghalangi jalan truk. Ia belum sembuh tampaknya, atau sulit sembuh. Dulu, bukankah ia juga begitu melihat kayu gelondongan? Ulun minta maaf.”

Maka kepada pambakal yang mengunjuk maaf, kau diam saja. Tapi terhadap seorang mandor yang tertawa melihat deritaku, kau hunuskan pedang panjang. Sabetan mandau-mu mencipratkan darah segar. Lalu terdengar tuduhan bahwa kau menghasut orang membakar kebun di perbatasan. Kepulanganmu dianggap pelarian. Sudah lari, berulah pula. Cukup alasanlah sepatu berderap mendatangi rumah-gubuk kita dinihari itu.

Begitulah kau mereka ambil. Tinggal aku yang tersisa. Tak berguna.

Tapi Julak pambakal tampaknya benar insyaf. Setelah kau dibawa pergi, Aliman, Julak pambakal mengantar aku ke Gambut. Mungkin saja ia takut akan balas dendammu jika kembali mengulangi cara lama, memasungku. Meskipun kini kau pergi ke tempat Jauuuh…Sekali, dan aku tak tahu kau di mana, tapi bayang-bayangmu yang kuat cukup membuat mereka yang ingin kembali memasungku, mengkerut.

***

Jadi aku kembali ke sini, Aliman, ke RSJD Sambang Lihum, pal 3,9 Banjarmasin-Gambut. Aku kembali bertemu Nahdiansyah, temanmu. Dialah yang memberiku kertas dan pena, memintaku menulis atau menggambar apa saja, termasuk rinduku kepadamu. Begitu cara ia menerapiku. Karena itu, seperti dulu, keadaanku cepat membaik. Bahkan Nahdiansyah kerap mengajakku jalan-jalan.

Baca juga:  Mengenang Kota Hilang

Hari ini, kawanmu yang baik itu memenuhi permintaanku untuk melepas kangen ke siring Barito, melihat ulek Marabahan yang berputar, tempat di mana aku dilahirkan. Aku ingin mengenang ibu kita yang meninggal di pusaran itu. Kurasa, ini juga terapi.

Kami duduk di warung makan, memesan ikan pepuyu dan aruan. Saat itu menjelang hari pasar. Di depan kami perahu-perahu membongkar muatan. Ada satu perahu membongkar barang pecah-belah, mengonggoknya di depan kami sehingga menutupi pandangan kami ke sungai. Ketika barang-barang itu diangkut ke dalam pasar, halangan terbuka, saat itulah aku melihat naga sisik hitam muncul dari kelokkan sungai!

Aku tergeragap. Terpana lama. Lalu kelojotan. Menendang-nendang. Mungkin seperti saat aku dilahirkan. Kehebohan pasar berpindah ke warung yang kami masuki.

“Naga sisik hitam, naga sisik hitam, singkirkan, singkirkan….!!” Aku meronta.

Tentu aku sering melihat tongkang batubara seperti gunung diseret kapal dari hulu ke kuala, tapi pada hari itu aku melihatnya tidak biasa. Tongkang bukanlah tongkang, kapal bukanlah kapal dan batubara bukanlah batubara.

“Wah, tongkang batubara ia amsal naga sisik hitam,” bisik orang-orang.

“Ya, lempar dengan apa saja! Serang! Jangan sampai kalah!” aku mulai melempar gelas dan piring. Menyusul botol-botol kecap, teko, sendok, garpu, dan baki.

Meski kakiku setengah lumpuh dan sarafku bergetar, orang-orang tak mudah menaklukkanku. Bahkan puisi yang dibisikkan Nahdiansyah, berubah jadi mantra pembangkit gairah di telingaku. Aku makin liar melawan. Kubalikkan meja, kulemparkan isinya. Tapi naga sisik hitam itu alangkah jahanam, betapa tak menenggang. Ia terus melenggang lewat, dari Sungai Nagara menyimpang ke Sungai Barito, melewati ulek, arus pertemuan yang berputar, terus berputar. Seperti waktu. Susah-payah kutundukkan.

Aku tak ingat benar bagaimana dari Marabahan aku kembali sampai di Gambut, Aliman ai. Tubuhku mengambang. Tapi masih sempat kudengar gegas orang-orang mengangkatku ke mobil yang segera dipacu temanmu itu. Dan saat terbangun, di ruangan putih-putih, temanmu Nahdiansyah memberiku tambahan kertas kosong buat kutulisi. Jadi, catatanku mungkin akan berlanjut.

/Marabahan-Lansano,

Juli 2018

Kamus Banjar:
Ading: adik. Banua: tanah kampung halaman. Banua Etam: sebutan untuk daerah Kaltim. Klotok: perahu bermesin. Balian: dukun atau pemimpin ritual. Ulek: pusaran air yang muncul akibat pertemuan dua sungai atau lebih. Kada waras: tidak waras, gila. Pambakal: kepala kampung. Pohon lua: jenis pohon yang banyak tumbuh di tepi sungai. Buah kebuau: jenis buah yang biasa hanyut di sungai. Kai-nini: kakek-nenek. Ulun: saya. Mandau: pedang khas Kalimantan. Julak: paman. Siring: tepian. Ai: tekanan irama kata.

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Menetap di Yogyakarta, mengurus Akar Indonesia dan Komunitas Rumahlebah. Buku cerpennya, antara lain, Parang tak Berulu (2005), serta dalam proses terbit, Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai.

[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar”Koran Tempo” edisi akhir pekan, 7-8 Juli 2018