Kobbar

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

MAYAT Kobbar ditemukan bermandi darah di halaman parkir Zenyaph Cafe, dini hari. Ada enam timah panas menembus dada lelaki itu. Otoritas kepolisian Distrik Hamburga menyebut, Kobbar diserang gerombolan bersenjata yang belum diketahui identitasnya. Orangorang kaget dan terguncang, Namun mereka tetap diam. Nama Kobbar telah jadi nama terlarang di negeri kami, sejak tim nasional kami gagal menjuarai Piala Sejagat.

***

Mestinya negeri jadi juara Piala Sejagat, jika Kobbar tidak membuat gol bunuh diri. Dia bermaksud menghalau bola, tapi bola itu melintir, melenting dan masuk ke gawang sendiri. Akhirnya, timnas kami harus merelakan Aramica sebagai juara. Impian bangsa kami selama hampir 40 tahun pun kandas.

Bagi warga negara kami Republik Colosenia sepak bola sudah jadi agama. Umumnya bangsa kami menganggap menang dalam sepak bola sama artinya dengan membela Tuhan. Bangsa kami sangat percaya Tuhan terlibat dalam sepak bola. Dalam sepak bola itulah, Tuhan menunjukkan kuasaNya. Menang-kalah, Tuhan lah yang menentukan. Konon keyakinan itu sudah berusia ribuan tahun. Kakek dan orang tua kami selalu bilang jadilah manusia yang disayangi Tuhan dengan selalu menang dalam sepak bola. Maka, menjadi pemain sepak bola itu wajib bagi setiap anak laki-laki di negeri kami.

Baca juga:  Perempuan Bulan Perak

Keyakinan itu pula yang membikin semangat Kobbar berkobar-kobar untuk menjadi pemain sepak bola. Sejak kecil ia sudah “ngeloni” bola. Bernapas dengan bola. Lalu saat remaja ia jadi pemain bola amatir. Dan ketika potensinya bersinar, seorang pemandu bakat mengambilnya, memasukkannya dalam tim yunior profesional di provinsi Tarrcam. Hanya beberapa bulan akhirnya Kobbar direkrut tim senior Hollacos FC, klub yang dimiliki Klabedor Horaweddy, pengusaha besar yang mengusai peredaban minyak dan narkoba.

KobbarTampil produktif mencetak gol, Kobbar membawa Holacos FC menjuarai Liga Prima, kompetisi kasta paling tinggi di negeri kami. Tanpa proses berbelit, Kobbar pun masuk dalam tim nasional negeri kami. Posisinya, stoper. Ia bersanding dengan Irvan Kordobba, bek senior yang telah memegang 98 caps pertandingan internasional.

Meski masih miskin pengalaman internasional, Kobbar tidak grogi tampil dalam Piala Sejagat. Ia selalu dipasang. Permainannya memukau dan selalu mempersulit lawan. Hingga, timnas kami mampu menembus babak final berhadapan dengan Aramica. Ini final yang ditunggu-tunggu. Jadi juara Piala Sejagat adalah impian paripurna bangsa kami. Bukan hanya kebanggaan yang menjelma tapi juga perasaan bersama sebagai bangsa yang disayang Tuhan. Seperti dikatakan leluhur kami, kemenangan adalah bukti bahwa Tuhan menyayangi bangsa kami.

Baca juga:  Ramadan Sepuluh hari Pertama - Malam Takbiran - Malam Lebaran - Malam Syawalan - Musim Mudik - Malam Sebelum Tidur

Saat itu timnas kami telah unggul 2-1. Namun, pada masa injury time, tendangan keras pemain Aramica mengancam gawang kami. Kobbar mampu menghalau bola yang melesat cepat. Bola melenting di depan gawang. Kiper Marcekell gagal menangkap. Bola melesak masuk ke gawang. Skor pun 2-2, hingga pertandingan diperpanjang, dan akhirnya tim kami kalah dalam adu penalti.

Bangsa kami menangis. Presiden kami, Mrozzal Barkecuah marah. Ia memecat menteri olah raga dan tim pelatih. Tim pun dibubarkan. Mereka dipermalukan di depan massa yang memadati Gillar Square. Satu persatu pemain diminta maju, menghadap presiden dan dibentak-bentak. Termasuk Kobbar. Saat dibentak-bentak presiden, Kobbar terdiam tapi tidak takut. Mata Kobbar malah menatap mata presiden. Ledakan kemarahan presiden pun semakin keras. Peristiwa itu disiarkan televisi secara langsung.

Baca juga:  Pena

Kepada para wartawan, Kobbar bilang, “Gol itu semata-mata bukan kesalahan saya. Saya sudah berusaha keras menghalau bola. Namun, mendadak ada bayangan sosok yang mengarahkan bola itu hingga masuk gawang. Saya yakin, dia itu malaikat. Bisa jadi Tuhan lebih menghendaki tim lawan yang menang.”

Setelah pernyataan itu dimuat di seluruh media, pada dini hari itu Kobbar ditemukan tewas. Tim pencari fakta tidak mampu menemukan gerombolan pembunuh Kobbar. Karena merasa gagal, Pemimpin Tertinggi Kepolisian Republik Colosenia pun menyatakan mundur. Sampai kini, nama Kobbar selalu kami kenang, dengan campur aduk perasaan. ❑- g

Indra Tranggono, cerpenis; buku kumpulan cerpennya “Sang Terakwa”, “Iblis Ngambek,” Menebang Pohon Silsilah” dan “Perempuan yang Disunting Gelombang

[1] Disalin dari karya Indra Tranggono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 1 Juli 2018