Mata Merah

Karya . Dikliping tanggal 18 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Minggu Pagi

SEMAKIN hari matamu semakin merah dan kuyu. Warna hitam yang menggantung di bawah matamu semakin hitam saja. Kita baru saja sebulan saling kenal. Tiga bulan yang lalu kita adalah murid baru. Aku mengenalmu saat pelantikan anggota peleton inti, di sebuah sesi yang mengharuskan siswa mengeluarkan bekal yang dibawa, lalu beberapa saat kemudian dewan peleton inti menyuruh kita makan.

Masih segar dalam ingatanku, waktu itu dewan peleton inti hanya memberi durasi tujuh menit untuk menghabiskan bekal masing-masing. Tentu saja aku tak mungkin menghabiskan sebab aku bukan tipe orang yang  bisa makan dengan cepat. Kau pun yang kala itu duduk di sampingku sepertinya sama denganku.

Ketika tujuh menit itu habis. Dewan peleton inti menyuruh kita memberikan bekal masing-masing ke teman yang duduk di sebelah kanan. Aku lalu memberikan bekalku kepadamu, semua bekal lauknya sama, oseng buncis dan tempe goreng. Di tengah-tengah aku makan, kau buat aku kaget.

Baca juga:  Kemarau

“Enak sekali, siapa yang memasak?” tanyamu sembari mengunyah.

“Ibuku,” jawabku singkat.

Aku melirik nama dada yang digantung dengan tali yang melingkar di leher. Satrio Aji. Itu namamu. Di tengah-tengah suara dewan peleton inti yang menggelegar, aku dan kau saling berbisik. Bisikan-bisikan itu mengundang pertemuan-pertemuan.

***

SUNGGUH, matamu kian memerah. Aku pernah bertanya padamu, apakah kau suka menonton sepakbola di tengah malam? Kau bilang tak suka sepakbola. Lalu aku bertanya lagi apakah kau sering begadang? Kau diam. Kemudian kau alihkan pertanyaanku ke sesuatu yang lain. Lain hari aku bertanya lagi dengan pertanyaan yang berbeda: kenapa matamu merah?

“Aku hanya sedikit lelah, semalam aku tidur begitu nyenyak,” jawabmu.

Apakah itu mungkin? Sedangkan wajah kuyumu terus menghiasi hai-hari. Wajahmu tak pernah segar. Kata teman-teman, kau kerap tidur saat guru sedang menerangkan, apalagi saat mata pelajaran biologi. Karena itu pula kau dijuluki, Sang Dewa Tidur. Lucu juga mendengar julukan itu.

Baca juga:  Laba-laba

Tapi mendengar ujaran teman-teman, ditambah renungan-renunganku, aku menjadi tak percaya jika kau tidur pada waktu malam hari. Aku mencoba memastikan lagi dengan bertanya padamu dengan pertanyaan yang sama.

“Ini sudah biasa, tidak usah dipikirkan.”

Entah kenapa ketika telingaku menangkap kata-kata itu, di mataku wajahmu menjadi segar. Aku merasa benar-benar jatuh cinta padamu. Lalu timbul pertanyaan: apakah kau tidak merasakan hal yang aku rasakan?

***

SATRIO Aji. Siswa yang penampilannya begitu sederhana, tak pernah aneh-aneh seperti siswa SMA kebanyakan. Pada suatu malam, kubelah udara yang dingin dengan sepeda motor. Pukul sepuluh. Tidak pantas sesungguhnya seorang perempuan pulang sendirian dari bepergian di jam-jam yang hampir mendekati tengah malam.

Aku baru saja menonton teater ketika baru saja sepeda motorku melewati sebuah perempatan, tak sengaja penglihatanku menuju ke sebuah arah yang membuatku menghentikan sepeda motor dan berteriak: Satrio!

Baca juga:  Kesetiaan Kura-kura

Kau menoleh ke arahku, dan menyeberang.

“Dari mana Anjani, sampai malam-malam begini?”

“Dari menonton teater. Kamu dari mana atau mau ke mana?”

“Aku pulang dari kerja.”

“Kerja?”

“Iya, aku kerja di rumah makan. Setelah ini, Ibu sudah menunggu bantuanku mencuci ketan yang akan dibuat camilan untuk dijual. Ya, sudah aku pulang dulu, Anjani. Hati-hati di jalan. Lain kali jangan pulang terlalu malam.”

Menatap matamu, aku mulai mengerti, apa yang menyebabkan warna merah hadir di matamu.

Bantul, Juli 2018

Risen Dhawuh Abdullah

Pungkuran Timur RT 05 Pleret Bantul Yogyakarta

 

[1] Disalin dari karya Risen Dhawuh Abdullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 15 Juli 2018