Patung Batu Merah

Karya . Dikliping tanggal 24 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Mereka membuat lingkaran. Saling berpegang tangan dan beberapa saat kemudian mulai menari. Kaki-kaki mereka dihentakkan ke depan, ke samping, dan ke belakang. Satu orang memutar tubuhnya, membuat gerakan koprol. Satu orang yang lain mulai bernyanyi. Nyanyian itu diikuti yang lainnya. Lalu semua yang ada dalam lingkaran itu turut bernyanyi. Mereka berpakaian hitam-hitam. Lingkar mata mereka juga hitam. Di tengah-tengah mereka ada sebuah patung batu. Warnanya merah pekat seakan sekian lama direndam darah. Patung itu tertancap di tanah, tingginya tak sampai dada orang dewasa. Sebelum mereka mulai melingkar, patung batu merah itu dibungkus kain hitam. Ayi Kaka, Si Kepala Kaum, telah membuka kain itu. Memang, hanya Kepala Kaum yang boleh membuka kain pembungkus itu.

Ayi Kaka tidak ikut bernyanyi, dia berdiri di tengah lingkaran, berjalan mengelilingi patung batu merah berulang kali. Lalu dari tas kulit yang tersampir di pundak, dikeluarkannya sebatang emas. Dia berhenti, berdiri tegak dan mulai menggosok-gosok batang emas itu dengan telapak tangannya. Mulutnya komat-kamit, tapi suaranya tenggelam oleh suara orang-orang yang bernyanyi sembari berputar-putar kian cepat. Ayi Kaka pelan-pelan tampak menua di tengah-tengah lingkaran itu. Mereka yang tidak ikut dalam lingkaran, berkumpul di sekitar. Sebagian di antaranya meraung-raung seperti kesurupan.

“Pamanmu memang sudah tua,” kata bapak yang berdiri di sampingku. Aku menoleh, wajah bapak kelihatan risau.

Kami—aku dan bapak—tiba di Lahamalo, tanah asal kami, tadi pagi. Sebenarnya aku malas datang. Di samping karena sedang banyak pekerjaan, aku juga tidak sepakat dengan keputusan yang dijatuhkan tetua adat. Bapak punya pikiran yang sama denganku. Dia meneleponku dan menyampaikan pikirannya. Tapi karena para keluarga dan tetua kaum mendesak kami, permintaan untuk datang tak bisa kami tampik. Ada urusan besar yang harus dimusyawarahkan menyangkut martabat dan kehormatan kaum.

Beberapa waktu lalu, Orang Daratan membuat masalah dengan kaum kami. Seorang pemuda dari Daratan diam-diam membawa lari anak gadis kaum kami. Peristiwanya memang tidak terjadi di pulau ini, tapi di daerah lain di mana kedua orang muda itu merantau. Meskipun begitu, kehormatan tetaplah kehormatan. Tetua kami merasa terhina oleh peristiwa itu. Mereka mengirim seorang utusan untuk membicarakan persoalan tersebut. Hasilnya, utusan kami ditemukan di suatu tempat dalam keadaan luka parah. Meski beberapa orang mengatakan bahwa utusan tersebut sempat mampir di kedai minum sebelum terlibat perkelahian dengan pengunjung lain, tetua kami sudah memutuskan bahwa Orang Daratan penyebab semuanya dan karenanya secara langsung telah menghina dan bahkan menantang perang kaum kami. Kami dipanggil untuk ikut musyawarah. Upacara yang sedang berlangsung ini adalah bagian dari persiapan perang.

Kami menumpang kapal laut, singgah di beberapa bandar sebelum sampai ke Lahamalo. Perjalanan yang jauh dan melelahkan, selain harus berhadapan dengan para copet dan penipu yang berkeliaran di kapal dan bandar. Aku tahu, bapak tidak tertarik dengan urusan-urusan adat. Bapak seorang yang berpikiran rasional dan memilih merantau sebagai cara untuk menjalani hidup. Sebagian dari sifat dan cara berpikir bapak itu menurun padaku, meskipun aku tak begitu akur dengan dia. Di masa mudanya, bapak suka bermain sandiwara. Biasanya saat perayaan Paskah, bapak akan bertindak sebagai sutradara dalam pementasan merayakan kenaikan Isa ke surga. Meskipun bukan seorang Kristen, bapak sering diundang untuk mengikuti pementasan dengan pelakon para pemuda anggota jemaat. Aku tidak pernah melihat bapak naik panggung, tapi dari caranya bicara serta gestur tubuhnya aku bisa merasakan jejak-jejak seorang seniman panggung.

Baca juga:  Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang?

“Kita perlu penghasilan tetap supaya bisa hidup layak. Kalau Bapak tidak berhenti main sandiwara, mungkin kamu tidak akan ada. Kalaupun ada, paling-paling cuma jadi nelayan atau gembala. Tidak bisa kuliah dan mengerti teknologi seperti sekarang. Meski kuliahmu sendiri tidak beres, tapi setidaknya kamu tidak menghabiskan usia di kampung ini,” ucap bapak. Kami sepakat untuk diam-diam menjauh dari keramaian upacara itu. Duduk di tanah yang agak tinggi dan tersembunyi, melihat dari kejauhan upacara yang terus berlangsung. Dari tempat tinggi ini, kami bisa melihat pemandangan di kejauhan. Laut tenang yang membentuk garis horizon, punuk-punuk bukit, perumahan di kampung-kampung, serta bangunan-bangunan perkantoran. Awan-awan domba mengapung di langit biru seperti gumpalan-gumpalan kapas.

“Kamu tahu, kalau pamanmu meninggal, Bapak yang harus menggantikannya sebagai Kepala Kaum,” ujar bapak sambil menatapku. Pandangannya seakan-akan mewakili kelanjutan kalimat itu; setelah bapak akulah yang akan menjadi Kepala Kaum. Ayi Kaka punya dua anak dari dua istri. Dari istri pertama, dia mendapat seorang anak yang tak mungkin menjadi Kepala Kaum lantaran ia adalah perempuan. Dari istri kedua, dia memang mendapat seorang anak laki-laki, tapi sejak remaja anak itu hilang entah ke mana. Benar-benar hilang bagai diisap angkasa. Beberapa orang menduga anak laki-laki itu memang diambil oleh dewa-dewa. Sebagian lain menduga anak itu dijadikan tumbal untuk kesaktian Ayi Kaka. Tapi aku pikir anak itu mungkin sudah mati tenggelam di laut. Kedua istri Ayi Kaka sudah meninggal pula, sedangkan anak perempuannya menikah dan sampai sekarang masih tinggal di kampung ini.

“Waktu dulu Paman terkena kasus penipuan, pasti Bapak yang membantunya agar lepas dari hukuman, iya kan?” tanyaku. Bapak tidak menjawab. Kami berdua menatap ke bawah, ke arah tempat berlangsungnya upacara. Lingkaran orang-orang itu sudah terlepas. Sekelompok anak muda pilihan yang disebut Kelompok Burung Hitam bernyanyi dan memainkan alat musik. Salah seorang di antaranya meneriakkan bunyi-bunyi burung liar. Rambut pemuda itu kribo, dia melompat-lompat seperti kesetanan. Paman terlihat celingak-celinguk seakan sedang mencari seseorang. “Itu, Bapak dicari,” kataku.

Ayi Kaka sudah telanjur dikenal sebagai orang sakti. Sejumlah orang bersaksi mereka pernah melihat Ayi Kaka terbang, meluncur dengan kaki tak menyentuh tanah. Sewaktu masih bekerja di perusahaan minyak, Ayi Kaka diperdaya oleh seorang rekan bisnisnya hingga mendapat dakwaan penipuan. Entah bagaimana ceritanya, Ayi Kaka urung dibui. Dia tiba-tiba masuk rumah sakit karena masalah di ginjalnya. Sejak saat itu, dia harus cuci darah secara berkala.

“Kalau dia jadi dibui, pastilah Bapak yang sekarang berdiri di depan batu itu,” ujar bapak. Tiga orang bocah tampak menunjuk-nunjuk ke arah tempat kami duduk, lalu sesaat kemudian berlari-lari, mendaki tanah tinggi ke arah kami. “Saya kira sekarang Bapak tak bisa lagi menghindar. Barangkali Paman sudah lelah, ingin istirahat dan menjalani hari tuanya dengan tenang,” ucapku. “Pamanmu merusak ginjalnya sendiri waktu itu. Sampai sekarang Bapak tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Memang Bapak sempat ikut membiayai perawatannya, tapi tak lama. Setelah itu Bapak tidak tahu lagi. Karena dia terbukti sakit, orang yang menuntutnya mau tak mau harus setuju berdamai,” kata bapak. “Tapi aneh juga dia masih hidup sampai usianya sekarang,” ucapku menegaskan. Ayi Kaka kukira sudah berusia lebih dari 70 tahun.

Baca juga:  Muazin Pertama di Luar Angkasa

Tiga bocah itu terus mendaki, suara panggilan mereka terdengar sampai tempat kami duduk. Di dekat patung batu merah itu sudah tidak ada orang. Kelompok Burung Hitam sudah selesai dengan nyanyian perangnya. Bila aku tetap bermukim di Lahamalo, pastilah aku menjadi bagian dari kelompok ini. Mungkin aku akan berada di posisi si kribo itu. Ayi Kaka dan yang lain rupanya sudah masuk ke rumah adat di mana orang-orang berkumpul untuk memulai musyawarah. Aku perhatikan patung batu merah itu, tak terjadi perubahan apa-apa, ia tetap tampak kecil dari kejauhan. Tidak seperti kata orang-orang yang bilang bahwa patung batu itu akan tampak demikian tinggi dan besar apabila dilihat dari kejauhan. Makin mendekat, patung batu itu akan makin mengecil, hingga ke ukuran aslinya.

Patung Batu MerahSesungguhnya patung batu merah itu nyaris tak membentuk sosok apa pun. Namun, konon kata orang, jika diperhatikan dari jarak tertentu, kita akan melihat patung itu dengan bermacam-macam bentuk. Kadang sosok seorang tua berjanggut, kadang bentuk seekor harimau, kadang juga seperti sebatang pohon. Para tetua bilang, patung batu itu diturunkan dari angkasa pada suatu masa yang tak bisa dikira-kira. Dewa-dewa telah menurunkannya untuk menjaga Lahamalo dari bala dan bencana. Juga memberi petunjuk pada kaum kami. Jika seseorang melihat patung batu merah itu berbentuk sosok atau makhluk tertentu, itu adalah pertanda yang harus diperhatikan, lantaran menyangkut nasib dan masa depan.

Dahulu, kaum kami adalah kaum utama di pulau ini. Mereka adalah manusia-manusia terpilih. Namun para pendatang kemudian tiba, yang sebagiannya adalah pedagang, sebagiannya lagi pelarian. Mereka membentuk koloni, mengawini penduduk setempat, dan beranak pinak membangun permukiman-permukiman. Sekarang, kaum kami yang masih murni hanya bermukim di Lahamalo, kawasan paling timur pulau, diapit oleh laut dan perbukitan.

Berkembangnya kehidupan para pendatang, bukan hanya membuat persaingan merebut lahan kian keras, tapi lebih jauh lagi menimbulkan berbagai peperangan. Makin lama, jumlah kaum kami kian menyusut. Para tetua risau, Kepala Kaum juga risau. Lalu, pada suatu waktu, diadakanlah satu upacara besar. Saat itu mereka menyadari, sudah sekian lama mereka melupakan kehadiran patung batu merah di tengah-tengah mereka. Pada upacara besar tersebut, mereka menyembelih banyak hewan ternak untuk dijadikan persembahan bagi dewa-dewa. Kain hitam-putih dijahit dan disucikan, lantas dipergunakan untuk membungkus patung batu merah itu.

Sekarang, kain itu dibuka lagi. Perang akan segera terjadi, tak ada yang bisa menghalangi, kecuali kedua kaum yang berseteru.

Tiga bocah itu makin dekat dan melihat ke arah kami sembari terus berseru-seru. Semak-semak menyematkan biji-bijinya di celanaku yang sedikit basah oleh sisa embun. “Mereka pasti saling mencintai. Mereka kawin lari karena tahu akan sangat sulit mendapatkan restu. Dulu, Bapak juga begitu. Kamu tahu, ibumu itu Orang Daratan. Kami sulit mendapatkan restu, tapi Bapak tak mau gegabah. Untunglah Kepala Kaum saat itu bertindak bijaksana hingga tak sampai terjadi perang. Itu makanya ibumu tidak mau ikut kemari. Ah, kalau saja anak muda itu mau sedikit bersabar, semuanya mungkin akan baik-baik saja,” kata bapak.

Baca juga:  Mengundurkan diri

“Siapa yang memperlakukan utusan kita hingga sampai begitu parah lukanya, bukankah mereka Orang Daratan juga?” tanyaku.

“Memang Orang Daratan, tapi waktu itu mereka sama-sama mabuk dan pemukulan itu tidak ada hubungannya dengan kasus kawin lari.”

“Terus Paman bilang apa?”

“Seperti katamu, pamanmu sudah capek dengan hidupnya, dengan semua yang dia alami, dengan statusnya sebagai Kepala Kaum, juga dengan orang-orang yang menganggap dia sakti. Sesungguhnya, pamanmu tidak sakti sama sekali.”

“Kenapa para tetua ngotot mau berperang?” tanyaku lagi. Bapak mengembuskan napas berat. “Urusan perkawinan Bapak dengan ibumu itu rupanya belum selesai. Mereka, terutama para tetua, masih belum bisa menerimanya. Kehormatan adalah kehormatan. Hidup bisa dikorbankan demi kehormatan. Peristiwa sekarang ini membangkitkan lagi persoalan lama yang tampak sudah selesai tapi kenyataannya masih jadi bara dalam sekam. Itu hal yang tak bisa Bapak pahami. Bapak merasa tidak cocok hidup di sini.” Ia beringsut sedikit dan menunjuk ke bawah, “Kamu lihat batu itu? Bagaimana mungkin benda semacam itu dianggap sebagai pelindung?” Patung batu merah sudah tertancap di tanah, konon, sejak beribu tahun lalu. Tiap ada perayaan; panen, musim ikan, dan perkawinan, orang-orang mengadakan upacara, mengucap mantra-mantra, dan melontarkan doa ke atas sana. Tapi patung batu merah itu hanya akan dilibatkan bila menyangkut peristiwa besar seperti adanya bencana dan peperangan.

Tiga bocah itu telah sampai di depan kami, napas mereka ngos-ngosan. Salah satu yang bertubuh paling gemuk, dengan terbata-bata berkata, “Paman dipanggil Ayi Kaka ke sana. Katanya sudah mau mulai,” Bapak berdiri, “Iya. Ini Paman mau turun,” ucapnya. “Ayo, sama-sama, Paman,” jawab bocah gemuk. Bapak menatapku, aku tersenyum dan berkata, “Saya tahu dulu Bapak pemain sandiwara, tapi Bapak jangan bermain sebagai korban, Bapak itu pelaku utama.”

“Sial,” kata bapak. “Kamu tidak ikut? Ayo, temani Bapak.”

“Tidak,” kataku. “Saya mau lihat-lihat pemandangan.”

Ketika bapak dan ketiga bocah itu bergerak turun, aku sempat mendengar bocah gemuk itu bertanya, “Jadi kita akan perang, Paman?” ia kelihatan bersemangat, seakan perang sama dengan permainan. Aku memalingkan pandangan, melihat pemandangan di kejauhan. Laut tenang yang membentuk garis horizon, punuk-punuk bukit, perumahan di kampung-kampung, serta bangunan-bangunan perkantoran. Awan-awan domba mengapung di langit biru seperti gumpalan-gumpalan kapas. Bapak dan bocah-bocah itu makin mengecil. Aku mengarahkan pandangan ke patung batu merah. Benda itu sekarang kelihatan lebih besar dan tinggi, tidak seperti tadi. Kupicingkan mata seakan tak percaya. Dapat kusaksikan patung batu merah itu membentuk satu sosok. Makin kuperhatikan, makin yakin aku bahwa sosok itu adalah sosokku sendiri.

(Kekalik, 2018)

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Pada 2017, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? Bukunya yang terbaru adalah kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (Basabasi, 2018).

[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 21-22 Juli 2018