Perempuan yang Menunggu

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Perempuan tua ini duduk-duduk pada bale-bale belandongan. sebuah bangunan khas Betawi, terbuat dari bahan kayu yang biasanya berdiri di depan bangunan utama. Luasnya sekitar lima kali empat meter, tapi ada juga yang lebih besar, tergantung luas halaman. Belandongan menggunakan tiang kayu yang kokoh, dan bagian atasnya menggunakan bambu sebagai penopang atap. Belandongan masa lalu biasanya memakai rumbia atau daun kirai sebagai atap. Karena bahan baku sudah tidak bisa didapat, maka sebagai gantinya dipakai genting, seperti rumah-rumah kebanyakan. Bangunan Belandongan biasanya tanpa sekat, diisi bale-bale dan meja yang lengkap dengan kursi kayu jati atau mahoni. Bangunan ini menjadi serbaguna, bukan hanya untuk menerima tetamu, tetapi juga digunakan untuk kumpul-kumpul bagi penghuni dan tetangga sekitar.

Perempuan tua yang duduk di bale-bale terus saja sibuk merajut kerajinan tangan. Perempuan tua ini lihai memainkan benang rajut, kelihatan dari cara jemarinya melekuk sana-sini meskipun sesekali tatapannya memandang jauh ke depan, entah kepada siapa, seolah-olah ada seseorang yang tengah ditunggunya.

Kabarnya dulu si perempuan tua biasa menganyam akar pandan untuk dijadikan tudung laken atau tikar pandan. Tetapi belakangan akar pandan sudah sulit di dapat, sebagai gantinya dia merajut benang untuk dijadikan sapu tangan atau taplak meja.

Aku duduk beberapa jengkal dari si perempuan tua, bersanding dengan kursi Kong Markum, lelaki tua saudara kandung si perempuan tua tadi. Jari jemari si perempuan tua masih terus asyik masyuk merajut, seraya tatapannya sesekali mengarah jauh ke depan, tatapan penuh harap akan datangnya seseorang.

Aku menyeruput kopi hitam yang dihidangkan di atas meja, sambil terus mendengarkan pandangan Kong Markum soal perempuan. Bukan soal perempuan tua yang sedang sibuk merajut itu, melainkan perempuan di kampungnya secara umum. Lelaki tua yang sudah lebih dari sepuluh tahun ditinggal mati istrinya itu sedang membanding-bandingkan perempuan sekarang dengan perempuan pada masa dia muda.

“Perempuan sekarang mah beda sama perempuan dulu, tong. Sekarang itu keliatannya wadon (perempuan) lebih murah. Diobral kayak di kaki lima. Udah kagak ada harganya.”

Saya cukup paham kenapa Kong Markum berkata begitu, karena setelah itu dia menunjukkan tangannya ke jalan depan belandongan, ke arah lelaki pengendara sepeda motor yang memboncengi perempuan muda bercelana pendek di atas lutut. Posisi si perempuan muda memeluk si lelaki erat sekali. Seolah dirinya tidak akan pernah bisa dilepaskan. Menempel lengket macam parutan kelapa yang biasa ditaburkan di atas ketan.

Noh lo lihat si Lina. Baru juga pacaran seminggu, udah berani gelendotan sama pacarnya.”

“Maksud Engkong mesra-mesraan?”

“Iya. Beda sama perempuan dulu.”

Baca juga:  Seri Banun

Setelah itu Kong Markum bercerita tentang perempuan pada masanya, termasuk bagaimana dia berhasil meminang almarhumah istrinya, Nyak Rodiah. Kong Markum bilang, dulu itu, kalau kita senang sama perempuan, kita tidak bisa langsung mengajak kencan atau sekadar jalan-jalan dengan gebetan kita. Karena kalau kita berjalan berduaan dengan perempuan yang bukan muhrim atau belum terikat tali perkawinan, seantero kampung langsung jadi geger. Gempar mirip ada kebakaran. Penduduk saling berbisik, saling membicarakan kenapa kita sebagai lelaki perjaka jalan sama perempuan lajang yang belum ada ikatan apa-apa.

Kalo kita udah nikah terus jalan sama perempuan lain pegimana, Kong?”

“Ah, bloon pertanyaan lo! Yang masih perjaka sama lajang aja diomongin, pegimana yang udah berkeluarga? Aib! Jangan cuman dulu, sekarang juga kalo sampe kejadian kayak gitu, bakalan jadi omongan warga!”

Kong Markum kembali melanjutkan ceritanya, setelah menyeruput kopi hitam dan menginjak-injak puntung rokok yang sudah tidak bisa lagi diapit jemari karena sudah terlalu pendek. Umur Kong Markum sudah delapan puluh tahun lebih. Dia masih gemar merokok, ngopi, kebiasaan yang tidak sama sekali merusak kesehatannya. Kong Markum mengaku belum pernah check up ke dokter karena tidak berani. Kalau badannya terasa lelah atau kepalanya pusing, Kong Markum memilih tiduran. Kalau masih merasakan capai, paling-paling dia minta dipijat sama Mbak Yum, tukang pijat yang tak jauh dari rumahnya ini. Beliau tidak mau berurusan dengan rumah sakit, kecuali hanya satu kali saat dirinya terserang demam berdarah. Itu pun karena terpaksa.

Kembali ke cerita Kong Markum soal perempuan pada masanya. Menurut Kong Markum, dulu itu, kalau anak muda demen sama anak gadis orang, si anak muda tidak akan berani bicara kepada si gadis secara langsung. Biasanya si anak muda datang sore-sore ke belandongan dan duduk bercengkerama dengan bapak atau ibu si gadis. Sedangkan si gadis mengintip dari kejauhan, dari balik pintu atau jendela. Kalau memang si orangtuanya resep (menyukai anak muda), si anak muda diberikan kopi atau panganan sekadarnya, entah itu singkong bakar, jagung rebus atau lainnya. Setelah itu si anak muda tidur di balai belandongan sampai pagi. Ini disebutnya ngelancong, atau istilah keren anak sekarang disebut wakuncar atawa nge-date.

Selain orangtua si gadis, biasanya ada sejumlah nenek-nenek yang sedang menganyam akar pandan untuk dijadikan tudung laken atau tikar pandan, seperti yang dilakukan si perempuan tua yang merajut benang rajut saat ini. Sepanjang malam itu si anak muda hanya memandang ke arah jendela atau pintu rumah si gadis dari bale-bale belandongan, berharap bisa melihat si gadis tersenyum atau sekadar menampakkan wajah. Meskipun begitu, si anak muda sungguh bahagia sekali bisa ngelancong sampai pagi.

Baca juga:  Setrika Arang - Kamera - Mesin Tik - Telepon - Jam Dinding

Kalau sekiranya ada anak muda lain suka dengan si gadis, dan dia melihat anak muda lain menginap di belandongan sampai pagi, maka si anak muda itu mengalah, atau kalau dia jantan, maka bisa berkelahi demi memperebutkan si gadis. Tetapi berkelahi jarang terjadi lantaran soal berebut anak gadis, sebab itu hal yang memalukan dan aib bagi anak muda. “Kayak kagak ada perempuan laen aja, pake beceke. Kan dunia kagak selebar daon kelor, dan jumlah perempuan katanya lebih bejibun daripada jumlah lelaki!” begitu alasan anak-anak muda soal pantangan berebut perempuan, karena jumlahnya yang lebih banyak daripada lelaki.

Kalau si anak muda sudah semakin sering datang ke belandongan dan akrab dengan orang-tua si gadis, maka si orangtua akan bertanya keseriusan si lelaki. Orangtua si gadis meminta si anak muda mengajak orangtuanya untuk datang melamar si gadis.

Mendengar cerita Kong Markum, aku hanya mengangguk-angguk mirip burung pelatuk. Kembali kulirik perempuan tua yang tengah merajut, membuat Kong Markum menghela napas berat, seolah dia tahu apa yang sedang kuperhatikan.

“Namanya Samsiah. Ini contoh perempuan yang setia.”

“Kong, gak usah keras-keras….”

Kagak ngapa-ngapa. Samsiah udah budek. Dia kagak bakalan denger obrolan kita.”

“Kong, kenapa Nek Samsiah sering menatap ke luar belandongan? Apa ada yang dia tunggu?”

Kong Markum kembali menghela napas, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Terlihat kesedihan pada raut wajahnya.

Samsiah dulu itu kembang desa. Kecantikannya kagak ada tandingan. Banyak lelaki yang berlomba-lomba kepingin mendapatkannya, tetapi Samsiah hanya setia pada satu lelaki, seorang anak muda yang berjanji akan datang melamarnya.

Saya sudah bisa menebak arah cerita Kong Markum.

“Pasti anak muda itu kagak pernah datang melamar Nek Samsiah?”

Kong Markum tidak menjawab, tidak mengangguk, dan tidak menghela napas berat seperti sebelumnya.

Tiba-tiba saya dan Kong Markum dikagetkan oleh sikap Nek Samsiah yang mendadak terdiam. Tangannya berhenti merajut. Tatapannya kosong. Tampak air mata meleleh, membasahi pipinya yang keriput. Jangan-jangan Nek Samsiah mendengar obrolan kami? Kong Markum langsung berdiri, lalu memapah Nek Samsiah, membawa perempuan tua itu meninggalkan belandongan.

***

Sudah hampir dua tahun saya tidak lagi mampir di rumah Kong Markum. Saya terkejut melihat bendera kuning tertancap di tepi jalan, mengabarkan kematian. Saya tahu dari obrolan warga di jalan, bahwa Nek Samsiah telah berpulang. Saya jadi teringat dengan sosok perempuan setia yang selalu menunggu seseorang di belandongan. Saya segera beranjak ke rumah Kong Markum.

Baca juga:  Kematian Hang di Payau Deli - Catur Volksraad Nusantara

Saya terkejut karena belandongan sudah tidak lagi terlihat di depan rumah, karena katanya terkena imbas pelebaran jalan. Setelah belandongan di depan rumah Kong Markum dirobohkan, praktis tidak ada lagi bangunan belandongan di kampung ini. Barangkali zaman memang sudah berubah. Tak ada lagi warga yang tertarik mendirikan belandongan di depan rumah-rumah mereka. Tapi saya pernah mendengar kabar, ada tempat wisata yang dibuat oleh pemerintah kota setempat, membuat bentuk bangunan yang menyerupai belandongan.

Saat tiba di depan rumah, Kong Markum memeluk saya erat-erat. Saya membalas pelukan hangatnya, sambil membisikkan kata-kata sabar dan ikhlas. Kong Markum membimbing saya masuk ke dalam rumah, dan saya bisa melihat mayat Nek Samsiah terbujur kaku, wajahnya tertutup kain putih. Saya memberanikan diri menyingkapnya, dan aneh sekali, wajah Nek Samsiah tampak tersenyum, seolah memperlihatkan kebahagiaan di akhir hayatnya.

Lalu datang lelaki tua seumuran Nek Samsiah, duduk di hadapan mayat Nek Samsiah. Kong Markum berbisik pelan ke telinga saya. “Dia Sasmita, lelaki yang selama ini ditunggu oleh Samsiah.”

Saya terkejut mendengar bisikan Kong Markum. Pantas saja mayat Nek Samsiah tersenyum, barangkali karena dia berbahagia bisa bertemu dengan lelaki pujaanya?

Elo tahu kenapa Si Sasmita baru datang sekarang?”

Saya langsung menggeleng. Saya jadi penasaran.

“Si Sasmita baru balik dari Eropa. Dia juga ternyata belom kawin.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Dulu Si Sasmita diuber-uber tentara. Dia dianggap berseberangan sama pemerintah berkuasa. Padahal… setahu gue dia cuman ikut-ikutan. Dia kagak tahu apa-apa. Ya begitulah nasibnya. Dia bilang dia kagak dendam. Kagak marah. Bilangnya sih begitu. Tapi gua kagak tahu hatinya pegimana….”

Saya terkejut, lalu menatap wajah lelaki tua yang disebut Sasmita itu. Terlihat keteduhan wajahnya, ketenangannya, kewibawaannya, dan rasa cinta terhadap perempuan yang terbujur kaku di hadapannya. Sasmita terus menatap mayat Nek Samsiah, lalu dia meraih tangan mayat Nek Samsiah, dan mengecupnya.

 

Zaenal Radar T, lahir 7 Desember 1973. Pembaca buku yang senang menulis cerita, yang fokus pada naskah untuk televisi. Bukunya yang terbaru, Si Markum(Penerbit Alvabet, 2017). Menetap di Tangerang Selatan. Blog: toekangketik.blogspot.com

Meuz Prast memiliki nama panjang Bartimeus Yayan Prasetyo, menetap di Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan SMSR Yogyakarta dan pernah kuliah di ISI Yogyakarta. Memperoleh penghargaan Sketsa Terbaik Rawa Kalibayem (2002) dan Breaking The Record 1.000 M Mural Competition, Pekan Raya Jakarta (2005).

 

[1] Disalin dari karya Zaenal Radar T
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 22 Juli 2018