Pesan Kematian

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

“APA pendapatmu jika aku ingin mati muda?”

Suatu pagi kau tiba-tiba bertanya tak lucu. Aku pikir kau hanya lelah menghadapi hari-hari yang tak lagi menggairahkan, seperti kebanyakan pemuda yang kehilangan harapan. Melihat wajahmu yang serius, aku bingung dan diam.

Beberapa hari terakhir kau memang tampak aneh dan suka mengumpat. Terutama saat kau kalah main game Mobile Legends yang digemari banyak teman sebayamu. Namun tampaknya bukan kekalahan bermain muasal kemarahanmu.

“Aku hanya menghabiskan waktu di layar kaca HP!” teriakmu.

Kalimat itu belakangan selalu kudengar dari bibirmu. Kita memang menghabiskan banyak waktu dengan mengunggah dan membaca status tak jelas di Facebook. Setelah bosan di Facebook, kau pindah ke Twitter, lalu ke Instagram, Youtube, dan grup Whatsapp. Kau bahkan punya dua HP. Satu berisi game dan satu khusus komunikasi media sosial.

“Dua HPtidak cukup,” katamu saat aku tegur.

Aku lihat kau membanting HP, lalu diam sambil mengernyitkan dahi seperti merenung kesal saat melihat teman-temanmu lebih menggunakan media untuk bisnis daripada hanya bermain dan hiburan. Lalu kau meniru. Kau tak tahan godaan kembali ke kebiasaanmu bermain di dunia maya.

“Sial!” umpatmu sebelum kembali ke duniamu, dunia maya. Jika sudah pegang HPbukan hanya mandi dan tidur yang kaukurangi, bahkan makanpun kau kurangi. Sering aku lihat kau makan sambil memencet HP, kadang mengumpat, kadang tersenyum.

Jika sudah pegang HPbukan hanya mandi dan tidur yang kaukurangi, bahkan makan pun kau kurangi. Sering aku lihat kau makan sambil memencet HP, kadang mengumpat, kadang tersenyum.

“Aku tak mau jadi tua dan menyusahkan anak-cucu kelak,” ujarmu sambil berdiri.

Matahari meninggi, mulai panas, keringat mengalir ke pipi. Aku melihat wajahmu lebih santai. Namun, entah kenapa aku lebih panik. Kau seolah sudah memutuskan sesuatu dari lontaran pertanyaanmu.

“Kita ketemu lagi di taman ini ya?”

Kau hanya mengangguk. Aku sedikit lega, meski sepanjang jalan terus memikirkan kelakarmu.

***

Pesan Kematian“Apa kamu kenal nomor ini?” Lewat WA aku menghubungimu, meski hanya basa-basi. Aku hanya ingin memastikan kau tidak melakukan yang tak diinginkan. Alih-alih menghubungimu agar tenang, aku malah gelisah setelah kau tidak membalas, bahkan tidak membaca pesanku.

Biasanya aku tidak segelisah ini. Biasanya kau tidak membalas karena sibuk main game. Namun di pikiranku muncul hal lain. Aku takut kau makin stres. Apalagi orang tuamu sekarang tidak menjatah uang data internet setelah kau hanya menghabiskan waktu bersama HP.

Baca juga:  Mbah Mahdi dan Cerita Pagi Itu

Kau tidak membalas pesanku. Namun kau menepati janji untuk datang di tempat kita biasa bertemu. Bahkan kau mandahuluiku. Kusangka kau telah melupakan pembicaraan kemarin, tapi kau malah makin dirasuki pemikiran lain.

“Hidup ini hanya menunggu tua dan mati. Lebih baik mati muda bukan?” kembali kau membuka pembicaraan tak lucu.

“Orang yang jadi kakek-kakek sudah tidak punya harapan, selain menunggu kematian. Kadang ada yang seperti anak kecil, tak tahu malu ingin diperhatikan. Ada pula yang hanya duduk di rumah, meratapi masa lalu yang tidak mungkin kembali,” katamu setelah kuketahui kau membaca kalimat si pendaki gunung dengan pesannya: nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.

“Dan mati tua adalah kematian yang melelahkan,” katamu.

“Chairil Anwar saja ingin hidup seribu tahun lagi.”

“Petikan puisi itu hanya berlaku pada karyanya,” sanggahmu dengan senyum menyepelekan.

Hari-hari selanjutnya, entah berapa kali aku dapati kau setiap pagi memandang nenek yang duduk di depan rumah dengan pandangan kosong. Sesekali aku lihat kau menelisik seluruh tubuhnya yang sudah keriput. Wajah, tangan, juga tak luput baju kebaya dengan sampir yang mengikat perut nenek itu jadi sorotanmu. Kaupandang dengan tatapan heran dan mengantongi pertanyaan.

“Apakah yang nenek itu pikirkan? Kenapa dia masih menggunakan kebaya?” tanyamu.

Aku hanya menatap heran pada nenek itu. Namun aku lebih heran atas pikiranmu.

“Atau memang tidak dipedulikan oleh anak-cucunya?” terkamu setelah beberapa kali kaulihat sang cucu berbicara dengan nada tinggi meminta uang seperti preman. Kaudapati pula ibu anak itu tidak peduli atas sikap sang anak.

Makin kuat saja kau dengan keinginan untuk tidak menjadi tua. Lalu kau membayangkan anak-cucumu kelak memperlakukanmu secara tidak sopan dan tak merawat. Terlebih saat kau mendapati berita di media sosial tentang anak membunuh orang tuanya, membuang, bahkan menyiksa orang tuanya. Karena itu pula kau makin sayang pada ibu dan bapakmu. Setiap hari kau selalu menyempatkan berkumpul dengan bapak-ibumu sambil berbincang hal-hal yang membuat mereka terhibur.

Namun setelah nonton film The Age of Adaline yang berkisah tentang orang yang tidak tua-tua karena tersambar petir, kau makin bingung. “Aku tidak ingin melihat orang tuaku atau anakku menjadi tua.” Kau mulai diperbudak film sains fiksi itu.

Baca juga:  Katastrofa

Orang tuamu merasa aneh atas sikapmu akhir-akhir ini. Mereka bertanya-tanya tentang sikapmu yang makin hari kian jadi pendiam. Kubilang itu hanya gejala anak muda yang mulai dewasa. Namun mereka tidak yakin, meski mengangguk. Kau makin sayang pada orang tuamu dan makin tidak ingin mati tua setelah mendapati kakek belakang rumahmu meninggal di kamarnya tanpa diketahui sang anak.

Kau melihat kakek itu kaku dan susah disedekapkan.

“Kenapa sampai tidak diketahui dan sampai kaku seperti itu?”

Aku tidak menjawab pertanyaanmu. Pertanyaan itu di luar pemahamanku.

“Kenapa anak-cucunya tidak begitu sedih? Hanya istrinya yang merasa kehilangan dengan isak sesal yang tak mampu dikendalikan.”

Kau makin yakin mati tua adalah kematian menyedihkan. Malam itu, aku melihat air matamu menetes, meski dengan cepat kauusap dengan ujung baju. Kau makin sedih saat mengingat pembicaraan orang tentang kelakuan kakek itu yang buruk.

“Mati tua hanya makin tambah dosa.”

“Kau bisa sejak sekarang melakukan hal-hal baik dan menghindari hal-hal buruk. Segala kau yang atur.”

“Bagaimana caranya menghindari dunia yang bertabur fitnah dan menyodorkan gambar tidak senonoh dan kemunafikan orang-orang di media sosial ini?”

Pertanyaanmu tidak hanya membuatku bingung, tetapi juga kecewa. Terlebih saat kau berniat bunuh diri setelah melihat banyak berita di media sosial tentang korupsi dan sang pekau dihukum pada akhir hidupnya.

“Kamu bisa bersandar pada agama kan!”

“Agama apa yang pantas dipegang jika hanya dijadikan senjata untuk kemenangan atau sebagai tombak untuk saling tikam antarsaudara.”

“Kau harus yakin.”

“Aku lebih yakin mati muda lebih baik.”

Kau mengangguk. Niatmu makin mantap setelah orang tuamu merampas semua HP-mu. Mereka pikir HP-lah yang membuat sikapmu berubah.

Orang tuamu makin gelisah saat berkali-kali mendapatimu hendak bunuh diri. Entah sudah berapa kali aku dan orang tuamu menghalangi kau minum racun, gantung diri, dan beberapa usaha lain. Terakhir kau hendak memotong nadi di pergelangan tanganmu. Untung, ibumu menarik tanganmu, lalu merampas dan melempar pisau dapur itu. Kau mendorong ibumu hingga tersungkur dan buru-buru meraih pisau itu. Untung, bapakmu datang dan menendang pisau itu ke bawah meja. Setelah kejadian itu mereka mengikat tangan dan kakimu dengan rantai dan mengurungmu di kamar.

Baca juga:  Kalender Terakhir

Dikurung di kamar tidak membuatmu gila. Aku melihat matamu tidak kosong. Kau sering menyendiri bukan? Bahkan tidak punya banyak teman sudah kaujalani. Barangkali hanya HP satu-satunya alasan kau akan kesepian. Jadi kau akan kehilangan kebiasaan bermain di dunia maya. Jika kau berteriak, aku yakin bukan meminta dilepas, melainkan meminta HP agar tidak bosan. Namun orang tuamu sudah kepalang takut. Padahal, kau masih bisa menjawab dengan normal jika ditanya. Dan, kau tidak tertawa seperti kebanyakan orang gila.

“Apa kau masih ingin mati muda?”

Kau diam.

“Maafkan aku,” suaramu terbata-bata.

“Maafkan aku juga.”

Kau bergeming, bahkan tidak menoleh. Aku melihat bulir-bulir di matamu bertahan. Tidak kauusap seperti pernah kupergoki. Kau juga tidak memedulikan ibumu yang duduk di depanmu. Kau harus tahu, mati muda bukan pilihan. Bahkan aku tidak punya pilihan saat dua malaikat mengangkat jiwaku dan tidak memberikan kesempatan pamit kepadamu yang kini menangis. Kau menangis berhari-hari, tetapi bukan lagi karena kepergianku. Kau menangis karena masih dianggap tidak waras. Padahal, kau sudah menyadari: mati bukan pilihan.

***

“Bagaimana ceritanya hingga pacarmu meninggal?” kata seorang ibu dengan suara terbata-bata.

“Dia bunuh diri karena mengira aku meninggal,” kata anaknya. “Dia tidak tahu kabarku, sehingga panik. Apalagi pesannya tidak kubalas. Mungkin dia tidak tahu HP-ku dimatikan. Coba aktifkan HP-ku, pasti dia mengirim banyak pesan,” pinta sang anak.

Ibunya buru-buru mengaktifkan HPsang anak dan membaca semua pesan kekasih anaknya. Dari sekian pesan, ada satu pesan yang panjang dan bercerita tentang keinginan anaknya untuk mati muda.

“Apa pendapatmu jika aku ingin mati muda?” Ibunya membaca kalimat pada awal cerita ini yang diberi judul “Pesan Kamatian”. Di depan sang anak dengan tangan dan kaki terantai, bibir ibu itu gemetar. Namun dia terus membaca. Membaca debar-debar dadanya. (44)

Jejak Imaji 2018

Sule Subaweh bekerja di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarya, aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya Bedak dalam Pasir (2017).

[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 1 Juli 2018