Pondok Berduri

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Minggu Pagi

SEMINGGU setelah menikah Ainun Hapsari diboyong Heru Prasetyo, suaminya ke rumah mertua. Sebagai istri, Ainun manut. Hari-hari mula bersama mertua, Ainun merasa canggung. Selama taaruf, hanya beberapa kali Ainun bertemu mertua. Kini setiap hari Ainun harus bersua, bahkan tinggal satu atap. Bersama mertua perempuan, karena ayah Heru sudah meninggal sejak Heru berumur 10 tahun. Mami Ami yang bekerja sebagai TU sebuah sekolah tingkat pertama, membesarkan dengan berdarah berkeringat. Beliau juga berjualan kue dan menjual jasa sebagai ‘tukang masak’. Hingga bisa menyekolahkan, bahkan menguliahkan permata hati Heru dan kakak perempuannya, Hermin, yang kini janda satu anak.

Ibu mertua baik pada Ainun, namun sikap Hemin berbeda 180 derajat. Hermin culas dan sinis. Ainun tak tahu mengapa Hermin tak menyukainya.

Seperti peristiwa bakda Asar itu. Tatkala selesai mandi Ainun memasuki kamarnya, ia tersentak, uangnya hilang. Tentu saja Ainun bertanya pada penghuni rumah. Pada Hermin yang sedang nonton teve. “Apakah Mbak Hermin tahu siapa yang memasuki kamar saya saat saya mandi?”

“Tidak.”

“Uang saya hilang, Mbak.”

“Apa maksudmu?”

“Saya tadi nyimpan uang di bawah telapak meja rias. Tapi sekarang uang itu enggak ada.”

Mertua muncul dan menegur Ainun.

“Ada apa, Nuni?”

“Ini, Mi. Uang Ainun hilang, dan ia menuduh saya ngambil.”

“Bukan, Mi. Saya hanya tanya.”

“Pertanyaanmu seperti menuduh.”

“Terus siapa yang mengambil uang itu?”

“Entah siapa. Mana Mbak tahu.”

“Apa ada tetangga yang masuk kamar saya dan ngambil uang?”

“Jangan asal nuduh. Tetangga kita orang-orang baik.”

“Tak ada pencuri yang mau ngaku.”

“Jadi kamu nuduh Mami, aku dan Mas Heru?”

“Jadi siapa dong yang ngambil?” desis Ainun.

“Jangan asal ngomong. Ntar dilabrak orang baru rasa.”

“Min. Sudah. Nanti kita bantuin cariin.”

“Baik, Mi.” Ainun memilih mengalah, dan masuk ke kamar. Ainun sedang menyisir rambut, saat mendengar percakapan Mami dan Hermin, entah apa yang dibicarakan, ketika muncul Ukor, anak semata wayang Hermin, bocah kelas enam SD, membawa serombong makanan.

“Dari mana kamu hari gini baru pulang?”

“Main game, Ma.”

“Main game mulu.”

Baca juga:  Derai dan Luruh

“Kan Ukor lagi punya uang. Tadi Uuk nemuin uang di meja rias, uang abis buat main game dan beli makanan ini. Mama mau?”

Ternyata Ukor yang mengambil uang itu. Ainun buru-buru membuka pintu, hendak meminta kepastian pada Hermin, saat mertuanya tiba-tiba menghampiri.

“Mau ke mana, Nuni?”

“Ainun mau….”

Mami tersenyum dan merogoh saku dasternya. “Ini uangmu, Nuni. Tercecer di lantai teras depan. Lain kali hati-hati.” Mami mengangsurkan uang di genggaman, menyorongkan. Mau tak mau Ainun menerimanya.

Jumlah nominal sama. Tapi jenis uangnya beda. Uang yang hilang, tiga lembar uang dua puluhan ribu. Bukan lima puluhan ribu dan sepuluh ribuan.. Ainun merinding hati.

***

AINUN ingin menceritakan pada suaminya. Saat ia sedang membuat teh tubruk, Heru melangkah memasuki ruang tamu, dan ibu mertua menyeretnya ke kamarnya. Sesaat Heru muncul dan paras tampannya berkabut.

“Mami tak cerita, katanya ada keributan hari ini. Mengapa Ai? Mengapa kau curiga pada Mbak Min dan Mami?”

“Tapi, Mas….”

“Sudahlah, Ai, gak usah diperpanjang. Lagian Mami sudah nemukan uangmu di lantai teras. Lain kali hati-hati.”

Ainun ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi melihat situasi dan kondisi, Ainun memilih mengurungkan niat. Heru baru pulang kerja. Ia kelihatan lelah. Ainun buru-buru menyiapkan baju ganti.

“Iya, Mas. Lain kali Ai hati-hati. Hmm… Mas mandi dulu. Setelah ini makan. Ai sudah masakin semur telur kesukaan mas.”

“Terima kasih, Ai. Mas sayang padamu.”

“Ai juga sayang Mas.”

Demi rasa sayang pula Ainun rela tinggal bersama mertua.

***

SUARA azan Subuh berkumandang. Ainun buru-buru bangun. Heru ternyata sudah bangun lebih dulu. Setelah sembahyang berjamaah, Heru mengajak jalan-jalan keliling kompleks. Dilanjut memberi makan ayam piaraan. Ainun berkutat membersihkan ruang tamu, menyapu dan mengepel lantai, kemudian di dapur. Menyiapkan sarapan. Sendirian.

Hermin tak biasa bangun pagi. Pekerjaan sebagai SPG membuatnya terkadang bekerja malam. Ia biasa bangun saat Ainun sudah kelar menyiapkan sarapan pagi. Ibu mertua terkadang bangun siang. Ainun maklum, mertua sudah sepuh. Tapi Hermin masih muda, mengapa malas?

Ainun menyiapkan sarapan di meja makan. Meletakkan piring, sendok, garpu, menyusun serbet. Menata lauk. Cah brokoli ayam, kerupuk udang dan tahu goreng. Hermin mencomot sebiji tahu goreng, mengunyahnya, lalu menyumpah.

Baca juga:  Balada Orang-Orang Tercinta

“Aduh, Inun. Mengapa goreng tahu asin kayak gini? Mau kawin lagi? Kau kan sudah kawin ama kakakku yang ganteng. Masih kurang apa?”

Ainun memilih diam. Apalagi ketika Heru muncul. Ia diam-diam mencicipi tahu, rasanya tidak keasinan. Entah apa maksud Hermin.

Mami muncul berdandan anggun.

“Mami nanti masak untuk resepsi sunatan. Hermin juga lembur di luar kota. Kau jaga rumah, Nuni. Jangan ke mana-mana.”

“Iya, Mi.”

Makan pagi berlangsung damai dan mami sama sekali tak menyinggung tahu keasinan. Heru pun lahap menyantap tahu goreng. Mbak Hermin pun begitu. Mengapa tadi bilang keasinan?

Ainun memilih tak memikirkan. Ia bergegas merapikan meja makan. Kemudian mengantar Heru hingga teras. Suami tercinta mencium pipinya sebelum berangkat kerja. Impian yang didamba kala remaja. Memiliki suami tanpan dan soleh.

***

DETERJEN pencuci pakaian habis. Padahal pakaian kotor menumpuk. Ainun melangkah ke warung sembako di ujung gang. Wanita separuh baya melayani. Pemilik warung, Bu Edah, sudah tinggal di kompleks sebelum Heru lahir.

Ainun sedang memilih deterjen yang hendak dibeli, saat si pemilik waarung bertanya.

“Mbak menantu Mama Ami, ya?”

“Iya, Bu. Ada apa?”

“Bagaimana rasanya tinggal sama mertua?”

“Saya mesti menganggap seperti tinggal di rumah. Mertua juga Ibu kita.”

“Pemikiran bijak. Bagaimana tinggal dengan ipar?”

“Maksud Ibu?”

“Si Hermin beda dengan perempuan lain. Kasar. Mungkin pelampiasan lukanya pada Ibunya.”

Tanpa diminta, Bu Edah bercerita panjang sejarah mertua Ainun tanpa tedeng aling-aling. Kebaikan. Keburukan. Ainun sepertinya memerlukan oksigen tambahan untuk mencernanya. Ia bercerita apa adanya atau mengada-ada? Fakta atau hoax? Benarkah si Ukor bukan anak Hermin? Kalau begitu si Ukor anak pungut?

***

MALAM melarut Ainun tak bisa menenteramkan hati. Sebenarnya rahasia apa yang disimpan Heru tentang ibu dan adiknya? Setiap keluarga tentu ingin menyimpan nama baik namun jika mengarang cerita dusta, untuk apa?

Ainun termangu memandangi suaminya yang tertidur lelap Ainun mencintai Heru apa adanya. Heru terkadang pencemburu. Jika karena cinta ia bisa memahami.

Baca juga:  Cerita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku

***

DOKTER memeriksa hasil laboratorium, Ainun dan suaminya memandangi, harap-harap cemas.

“Bagaimana hasilnya, Dok?”

“Selamat Tuan Heru. Istri Anda hamil. Sebentar lagi Anda menjadi seorang Ayah.”

“Alhamdulillah.”

Ainun berkubang bahagia. Tanpa menunda kehamilan, mereka sekarang dikarunia keturunan. Sejanin sudah bersemayam di rahim. Mereka gegas pulang ke rumah, ingin berbagi kabar bahagia. Namun sesampai di rumah mertua, tersentak kala mendapati rumah dalam keadaan ramai. Orang-orang berkerumun. Seorang perempuan mencak-mencak.

“Cih, perempuan tak tahu malu. Suami orang direbut. Dasar janda genit!”

Perempuan cantik berumur paruh baya melabrak Hermin. Tetangga menonton. Mas Heru terpias malu.

“Maafkan, Mas, Ai. Keadaan mengapa begini?”

“Tak apa, Mas. Mungkin hanya salah paham.”

Ainun memilih bersandar pada lengan Heru yang kuat. Sementara ibu mertua mencoba memisah. Entah ke mana kakak iparnya. Di rumah atau masih berada di luaran? Saat Ainun memasuki kamar sekelebat melihat Hermin sembunyi di bawah ranjang. Ukor menjaganya di balik pintu.

Ainun memilih gegas memasuki kamar, hendak beristirahat saaat perutnya terasa melilit hebat. Ia mengaduh. Heru terlihat sangat khawatir. Ia memeluknya, menyentuh dirinya.

“Ada apa, Ai? Ada apa, Sayang? Kau tak apa, kan? Anak kita tidak kenapa-kenapa?”

Yang terbayang di benak Ainun saat itu bukan keberadaan janinnya yang semoga baik-baik saja, cerita kelam ibu pemilik warung terngiang-ngiang di benak.

“Dulu ada pemuda seberang kos di rumah mertuamu. Ganteng, masih muda. Mami Ami dan si Hermin tergila-gila. Mami Ami hamil dan melahirkan si Ukor. Si pemuda menikahi Hermin, sebulan kemudian minggat!” (e)

 

Kartika Catur Pelita: tinggal di Perum Kuwasharjo Blok A No 4, Jalan Padi 1, RT 16 RW 05 Kuwasen Jepara.

 

[1] Disalin dari karya Kartika Catur Pelita
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 29 Juli 2018