Prahara di Geladak Weltevreden

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Aku berlari ke ujung geladak, berdiri tegak membusungkan dada. Menatap mereka sembari mengacungkan revolver ke arah langit.

’’VERDOMME!1 Apakah pantas seorang jebolan Universteit Leiden2 mendustakan cinta seorang kekasihnya!”

Ucapan itu terdengar keras di atas geladak kapal Weltevreden. Seorang wanita kurus, tak terlampau tinggi, berkulit putih mulus dan berambut sebahu sedang membusungkan dada di hadapan pria gembul berambut ikal. Tanpa rasa takut! Matanya setajam busur panah. Tangan kanan wanita berhidung mancung itu bahkan sudah siap melesatkan telapak tangan kanannya pada pipi pria di hadapannya itu. Di samping mereka, ada seorang nonik bertubuh tinggi semampai tak henti-hentinya mengusap air mata. Aku kembali menoleh ke arah dua orang aneh yang sedang bertengkar tadi, dan benar saja, wanita itu baru saja mendaratkan tamparan ke pipi kiri lelaki gembul di hadapannya.

’’John, ada masalah!” ucap Koenraad sembari membunyikan peluit panjang mengajakku berjalan ke arah mereka.

Aku sebenarnya malas mengurusi masalah ini, tapi sebagai seorang polisi militer yang saat itu ditempatkan di atas geladak, aku harus menjaga kondisi agar tetap stabil.

’’Hey! Stoppen! Kalian bertiga!” tegas temanku Dirk ketika melihat lelaki gembul yang ditampar tadi mendorong wanita berkulit bersih itu hingga tersungkur jatuh.

Si Gembul maju ke arah lawannya dan berdiri mengangkangi bahkan siap untuk melesatkan bogem mentah. Dibandingkan dengan Dirk, posisiku memang lebih dekat dengan kejadian itu.

’’Hup! Wachten!3 Bukan begitu cara menghadapi wanita!” ujarku, lalu kutendang perut gembulnya dan ia terlempar agak jauh dari wanita itu.

’’John! Biar kuurusi lelaki ini, akan kusantap dia di kabin penghakiman! Kau urus saja dua wanita itu! Ajak mereka kembali ke kabin masing masing!” ucap Dirk yang berlari ke arahku. Huh! Dasar! Dia mau bersenang-senang dulu rupanya. Tangan dan kakinya sudah lama tak diasah sejak pulang ke Rotterdam tiga tahun lalu untuk menyembuhkan luka tembak tentara Jepang di pangkal pahanya.

***

’’Kom op Juffrouw!4 Angin malam tidak baik untukmu!” ujarku pada wanita kurus itu. Dia menatapku dengan tatapan tajam. Sepertinya sisa-sisa amarahnya masih belum pudar benar. Ia merangkul teman wanitanya yang sedari tadi hanya bisa menangis saja. Menuruni anak tangga dan masuk ke dalam kabin nomor 203.

Sebagai seorang polisi militer, aku hanya bisa mengantar mereka sampai depan pintu kabin. Andai saja pria dan wanita tidak dipisah, mungkin aku bisa menemaninya hingga ke dalam. Namun bau yang tak bersahabat benar-benar menusuk hidungku. Perutku serasa mual dan sesekali aku ingin muntah.

’’Kenapa? Mau muntah Meneer!5” ujar wanita itu sinis.

’’Beginilah yang kami rasakan seminggu terakhir! Ombak tiga hari dua malam di Samudra Atlantik seminggu lalu benar-benar mengocok isi perut kami sehingga luluh lantak semua di sini!” ujarnya dengan ketus.

Goedendag!6” ucapnya sembari menutup pintu kabin dengan keras.

Aku berjalan menyusuri kabin-kabin di Weltevreden, menuju ke arah kamar mandi pusat. Hanya tiga barang yang kutuju saat itu: kain pel, ember, dan sebungkus pewangi. Kubawa ketiganya lalu kuberikan pada penghuni kamar 203.

’’Untuk apa kau melakukan semua ini?” ujar nonik penghuni kamar 203 yang aku tak tahu namanya.

’’Aku juga manusia, sama sepertimu Juffrouw! Goedendag!” ujarku sambil menyodorkan peralatan itu ke tangannya. Tanpa banyak kata, aku lalu pergi ke arah geladak mencari angin segar. Kulihat wanita itu masih menatapku dengan tatapan penuh tanya. Biarkan saja!

Baca juga:  Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau pergi

***

’’Mungkin ini bisa menghangatkanmu, Meneer!” suara itu terdengar tepat di balik kepalaku, membuyarkan pandanganku pada matahari yang mulai bersembunyi di sudut-sudut langit. Aku pun menoleh ke arah sumber suara itu.

’’Juffrouw, kenapa kau di sini? Malam akan tiba dan cuaca di laut sedang tak menentu!” ucapku pada wanita yang sore tadi bersikap ketus kepadaku.

Ia lalu mengambil posisi duduk di sampingku sembari menyerahkan secangkir kopi hangat. Lampu sorot yang terpampang dari atas mercusuar menyeka wajahnya dan entah kenapa dadaku serasa berdetak teramat kencang. Ternyata cantik juga dia.

’’Namaku Maretha, Maretha Brienda!” Ia lalu menjulurkan tangannya tepat di hadapan dadaku yang masih saja berdebar.

’’Jo… John! Johanes van Dallen,” ujarku dengan bibir bergetar. Dia tersenyum, lalu kedua tangannya menutup mulut dan hidungnya yang mancung. Ternyata dia tertawa! Sial! Wanita itu menertawakanku!

’’Ternyata anggota militer juga bisa grogi, ya!” tawanya semakin keras. Ia membuat pipiku semakin merah. Beberapa rekanku yang lewat pun bersiul-siul menyanyikan lagu cinta. Di akhir siulannya, mereka berkata, ”Ehm… waktu istirahat sudah selesai, saatnya ganti lokasi!”

’’Beri aku waktu lima menit Tuan, aku ingin memberi oleh-oleh untuk kekasihku!” ujar Maretha manja.

’’Oh, baiklah Juffrouw, memang John tak pernah lihat wanita, jadi wajar jika dia gugup begitu!” gelak tawa membahana di atas geladak.

’’Hey kalian! Verdomme!” kulempar gelas kopiku ke arah mereka. Mereka lari sambil tetap tertawa-tawa. Ups! Aku sadar bahwa gelas yang kulempaar tadi bukan gelasku, itu gelas milik Maretha.

’’Maretha, sorry!” ucapku.

Ia tersenyum lembut dan berkata, ’’Geen problem!7 Kau bisa menebusnya dengan cara lain!” pintanya dengan lembut di telingaku.

’’Di kabinku diisi oleh empat orang, salah satunya wanita yang hamil lima bulan. Ia membutuhkan persediaan makanan yang cukup. Perbekalanku kuberikan untuknya. Jika kau ada ransum atau makanan yang bisa kami makan, maka kuampuni kesalahanmu!” Ia lalu mengerdipkan mata dan sedikit mengibaskan rambutnya.

Mataku terbelalak, aku semakin sulit untuk berkata tidak. Kuanggukkan kepalaku dan jempol di tangan kananku mengacung pertanda setuju. Tiba-tiba kedua tangannya melingkar di leherku, sejenak kemudian hidungnya yang mancung telah mendorong hidungku dan aku pun merasakan suatu sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Debur ombak di Selat Giblatar mulai menyeruak seiring debur ombak dalam dadaku.

’’Bagaimana, lezat bukan oleh-olehku? Kau bisa mengulanginya kapan pun saat kau membawakan ransum ke kabinku! Jaga diri baik-baik, mijn leive!8” Ia lalu melepaskan rangkulan tangannya di leherku dan beranjak pergi melenggak-lenggok ke arah tangga. Kembali ke kabin 203.

***

Permintaan dari bidadari laut yang mampu mendebarkan deru jantungku bukanlah perkara rumit. Sebagai polisi militer aku mendapat jatah ransum tiga kali sehari. Semenjak mengenal Maretha, aku hanya makan satu ransum saja. Dua sisanya sengaja kusisihkan untuk belahan jiwaku itu. Bahkan sesekali aku mengantungi roti, sosis, atau apa saja yang ada di dapur untuk kuberikan kepada cinta pertamaku itu.

Ketika kedua jarum arloji di tanganku menyatu, menunjuk ke angka 12 dan matahari telah lelap beristirahat, aku sengaja melakukan patroli ke kabin 203. Kuketuk pintu sebanyak tiga kali dan Maretha telah berdiri di balik pintu itu.

Ia selalu saja pandai membuat kejutan, khususnya lewat pakaian yang dikenakannya. Terkadang ia mengenakan pakaian kantor, pakaian olahraga, seragam sekolah, bahkan pakaian renang dan lingerine tipis juga tak segan-segan dikenakannya. Hanya tiga hal yang kami lakukan saat bertemu: kuketuk pintu, kuserahkan dua ransumku, dan dia mendekapku lalu mengkreasikan beragam cara untuk membuatku terusmenerus kecanduan menemuinya.

Baca juga:  Penjual Fitnah

Tiga minggu aku melewati malam yang luar biasa dengan Maretha. Meskipun pertemuan kami hanya lima hingga lima belas menit, tapi itu sudah cukup untuk menimbun pundi-pundi cintaku padanya. Sesekali aku melihat Maretha naik ke arah geladak di sore hari jika cuaca cerah. Ia menuntun kawannya yang sedang hamil untuk mengajaknya jalan-jalan.

Hampir seluruh polisi militer yang bertugas tahu kisah cintaku dengannya, dan mereka membiarkan saja. Mereka tahu hanya itulah hiburan bagi para marinir yang bertugas mengawal sekitar 200 mahasiswa serta para republiken dan etnis China yang ingin kembali ke Hindia.

Selain pertemuan malam jahanam yang berujung nikmat, kami juga melakukan pertemuan setiap hari Sabtu selama tiga puluh menit. Kami berjanji memilih geladak sebelah timur saat bertemu pada jam empat sore jika cuaca cerah. Saat itulah ia bercerita tentang teman-teman yang sekabin dengannya. Ia juga bercerita tentang keberaniannya menampar salah seorang pelajar Hindia jebolan Leiden di atas geladak ini.

’’Pelajar itu bernama Sujai. Di Belanda dia mengaku sebagai anak pemilik pabrik gula dan kawin dengan Hellena, kawanku yang cengeng itu!” tegasnya.

’’Lalu kenapa dulu kau menamparnya?” tanyaku.

’Natuurlijk!9 Dia lelaki pengecut! Di Belanda ia mengumbar cinta pada Hellena dan menjanjikan kehidupan mewah serta beragam rayuan lain. Ia pun menghamili Hellena dalam sebuah perangkap yang disusunnya sendiri. Orang tua Hellena marah dan mengusir putrinya itu. Otomatis Hellena hanya menggantungkan diri pada Sujai dan lelaki itu berjanji akan memberikan kehidupan yang indah di Jawa sehingga Hellena mau dibujuk untuk naik kapal ini.

Setelah di kapal, baru dia mengaku bahwa dia sudah berkeluarga di Jawa dan meminta Hellena agar tidak kaget jika nanti menjadi istri kedua karena dia akan dijemput di pelabuhan oleh istri pertamanya dan anaknya!”

Mendengar cerita yang begitu panjang itu aku hanya mengangguk-angguk saja. Terpaku menatap bibirnya yang terusmenerus bicara, bak dewi yang sedang bersabda tentang cinta. Aku bersumpah pada diriku untuk menikahinya saat tiba di Hindia kelak.

***

’’Wah, malam ini kau begitu terlihat menakjubkan!” ucapku melihat Maretha dalam ritual tengah malam kita yang sedang membuka pintu kabin 203.

Dia mengenakan gaun pengantin yang anggun, berwarna putih bersih lengkap dengan kaus tangan dan sepatu kaca. Tak kusangka, nonik yang satu ini menyimpan gaun indah di kopernya. Malam itu ia memelukku lebih erat dari biasanya dan mencumbuku lebih mesra dari biasanya.

’’Sayang, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku lagi?” ucapnya.

’’Tidak mampu lidah ini untuk menolak permintaan darimu, Kasih!” mantap kuucapkan itu padanya.

’’Esok, jika kita sudah sampai di Batavia, biarkan aku turun ke sekoci sendiri, kau cukup melihatku dari atas geladak!” Ia langsung mencumbuku lagi agar aku menganggukkan kepala dan tidak banyak bertanya.

Malam itu, setelah menemui Maretha, aku tak dapat tidur atau memang sengaja untuk tidak tidur. Aku menulis surat cinta dan rencanarencanaku bersamanya. Kususun rencana itu serapi mungkin hingga tak terasa cahaya mulai menyembur dari balik jendela kabinku. Pertanda sudah pagi. Surat yang kutulis telah usai kukerjakan. Aku menoleh ke belakang dan aku melihat berlembar-lembar kertas berserakan di bawah kursi. Sedangkan yang ada di hadapanku hanya tiga lembar saja. Tiga lembar yang kutulis dengan penuh doa dan penuh pengharapan semalam suntuk.

Baca juga:  Ibu dalam Secangkir Ingatan

***

Keesokan harinya, kapal Weltevreden telah sampai ke Batavia. Para penumpang mulai keluar dari kabin dengan membawa koper-kopernya. Dari atas geladak, aku melihat beberapa orang sudah mulai turun menggunakan sekoci-sekoci untuk menuju daratan Batavia. Sekarang Maretha dan empat temannya ada di sampingku. Kuberikan surat itu padanya dan ia tersenyum.

’’Sayang, lihatlah ke sana!” ujarnya. Aku melihat ada lima sekoci berlayar menuju ke arah kapal Weltevreden.

Mereka membentuk formasi yang rapi: 2-1-2. Satu sekoci di tengah terlihat teramat bagus, berhiaskan rumbai-rumbai mawar beraneka ragam. Di atasnya ada seorang pria berdiri gagah, sedangkan empat sekoci yang mengawalnya terlihat sangat militeristik dengan prajurit bersenjata lengkap. Maretha memberikan amplop padaku dan berkata, ’’Aku memenangkan ini sebelum aku memenangkan hatimu, Sayang!”

Setelah berucap demikian, ia langsung turun. Beberapa pengawal dari sekoci tadi naik untuk menjemput Maretha.

Gadis manis berhidung mancung itu segera naik ke sekoci utama. Ia menghampiri pria yang berdiri di antara bunga-bunga dalam sekoci itu. Lelaki berambut pirang nan panjang itu lalu bersimpuh di hadapan Maretha dan menyodorkan sebuah kotak kecil. Dengan bantuan teropong, aku melihat isi kotak itu mirip seperti cincin.

Aku langsung naik pitam. Kubuka amplop pemberian Maretha. Amplop itu ternyata berisi potongan koran Belanda, De Waarheid. Di salah satu kolom koran itu terlihat jelas ada foto pria berambut pirang dengan tajuk, ’’SEDANG BUTUH JODOH! PEWARIS TUNGGAL PABRIK GULA BATAVIA”. Di bawah fotonya ada prosedur mengenai cara mengikuti sayembara iklan jodoh ini dan tepat di foto itu ada cap bibir lipstik merah. Pasti itu lipstik Maretha.

Semua orang yang menjadi saksi pertunangan itu bersorak. Beberapa orang bertepuk tangan sambil bersiul. Maretha menerima cincin itu dan lelaki berambut pirang itu segera mengenakannya di jari manis Maretha. Ia lalu berdiri mencium kening Maretha dan memeluknya erat.

Aku melihat semua itu dari atas geladak Weltevreden. Tawa riang orang-orang atas peristiwa romantis Maretha seolah menertawakan kekalahanku sebelum menginjakkan kaki di tanah peperangan. Sorak-sorai meriah, memestakan cawan darah di hati yang terluka parah. Petasan mulai diletupkan, bunga tabur dilemparkan, altar pelaminan seakan nyata di atas bahari.

Aku berlari ke ujung geladak, berdiri tegak membusungkan dada. Menatap mereka sembari mengacungkan revolver ke arah langit. Kutekan pelatuknya tiga kali. Letusan pertama membuat orang-orang gusar. Letusan kedua sorot mata mereka tertuju kepadaku. Dan, sebelum aku meletuskan peluru ketiga, kuarahkan bibir revolver ke arah dadaku yang telah terkoyak dusta.

’’Hai Maretha yang terkasih! Di atas geladak ini aku bersaksi, cinta suci yang ternodai akan dihapus dengan darah murni!” Lalu jemariku menekan pelatuk yang tak sabar tuk ditekan. Tubuhku langsung melemas, melesat terjun ke laut dan semua berubah menjadi merah, warna amarah yang memoles bibir perairan Batavia. ***

CATATAN

  1. Keparat
  2. Universitas Leiden
  3. Tunggu
  4. Ayo nona
  5. Tuan
  6. Selamat malam
  7. Tak masalah
  8. Sayangku
  9. Tentu saja

 

ARDI WINA SAPUTRA

Penulis buku kumpulan cerpen Aloer-Aloer Merah. Guru Bahasa Indonesia SMA Katolik St. Albertus Malang. 

 

[1] Disalin dari karya Ardi Wina Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 15 Juli 2018