Resital Malka

Karya . Dikliping tanggal 17 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Suara piano bertenting di tengah keheningan. Dari atas panggung. Di langit. Hanya satu denting. Ting! Dan di bawah sana, hamparan tanah rekah. Ribuan dinding bengkah. Dan jutaan pohon rebah. Terkulai di tanah.

Di bawah sana, langit telah menjadi hitam. Kilat sambar-menyambar. Orang-orang menengadah. Bertanya-tanya, siapa bermain piano di atas sana? Menekan sebuah tuts dalam keheningan teramat purba.

“Ya, Tuhan, itu pasti Malka!” seru seseorang.

“Aduh, bagaimana ini, kita belum bersiap-siap!” sahut yang lain.

“Kita sudah terlambat! Resital Malka sudah dimulai!”

***

Tak ada yang lain. Ya. Itu pasti Malka. Ia pianis paling terberkati di jagat raya. Dan ia sudah menunggu terlalu lama untuk memulai resital paling mencengangkan, paling mengguncangkan.

Seseorang mengatakan, perang telah berakhir hampir satu abad silam, tapi itu bohong. Perang masih berlanjut, dan kehancuran masih terus berlangsung. Lebih hening, lebih lembut. Dan tak kasatmata. Dan di atas sana, di sebuah panggung resital megah, sebuah piano usang membatu. Berdebu. Butuh disentuh.

Disentuh Malka.

Malka selalu datang tepat waktu. Dan ia bisa saja memulai konser kapan pun ia mau. Namun sungguh tidak adil jika ia harus bermain di atas panggung seorang diri, sementara kursi-kursi penonton kosong melompong tanpa kehidupan. Setidaknya seseorang harus datang dan duduk di kursi itu untuk mengapresiasi dentingan mahal jemari Malka.

Malka akan memberi mereka waktu. Dan Malka akan menunggu. Baginya menunggu bukan masalah. Namun tentu ia harus bergerak ketika waktu menunggu telah habis.

Malka tak pernah cemas soal piano tua di atas panggung itu. Piano itu tak akan rusak meski harus membeku jutaan tahun lagi. Dan piano itu tak memiliki kaki yang bisa membuat beranjak karena bosan terlalu lama menunggu penonton. Di belakang panggung, di balik tirai raksasa berwarna merah pekat, Malka telah menunggu. Selama jutaan tahun. Di sana ada sebuah kursi kayu. Tempat Malka mempersiapkan penampilan terbaik. Di sanalah Malka duduk sambil merapikan tatanan wajah. Menyisir rambut. Mengasah kuku-kuku. Serta membenarkan letak leher yang membeliut.

Sesekali Malka membuka tirai merah itu untuk melihat kursi-kursi penonton yang melompong dari waktu ke waktu. Ke mana para penonton, bisik Malka, lagi dan lagi, meski ia tahu persis jawabannya. Para penonton sedang sibuk berperang di bawah sana. Berperang dan berperang. Dan Malka selalu menyaksikan dengan enggan. Di tengah keengganan itu, Malka mengingatkan diri, betapapun ia rela menunggu, ia tetap punya batasan waktu. Malka punya atasan, dan atasannya telah menentukan batasan waktu yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh Malka. Ketika sang atasan bilang, ìWaktu menunggu sudah habis, mulai saja pertunjukan!î, maka waktu sudah habis. Dan pertunjukan harus segera dimulai. Malka harus segera membunyikan tuts pertama.

Baca juga:  Tungku Ibu

Di pusat dinding, di balik tirai merah di belakang panggung itu, jarum jam raksasa terusmenerus berputar. Dan berdentang bila waktunya berdentang. ”Waktu selalu mengendap-endap, dan ia bergerak cepat,” ßbisik Malka pada diri sendiri.

Di bawah panggung megah itu, suatu waktu, kursi-kursi merah pekat —serupa warna tirai di atas panggung penonton — menghilang. Diganti gumpalan kabut. Tebal serupa gemawan. Dan di bawah gumpalan kabut itu, sebuah pemandangan perang bisa dilihat Malka dengan sangat gamblang, bahkan meski ia hanya melongok dari balik tirai. Sejak jutaan tahun silam, Malka menunggu para penonton selesai berperang. Mereka masih terlalu berkeringat untuk pergi ke pertunjukan musik, pikir Malka. Seusai perang nanti, biarkan mereka pulang ke rumah masing-masing, beristirahat sejenak, lalu barangkali bercinta dengan pasangan masingmasing, sebelum membersihkan diri dan berdandan rapi khas seseorang yang ingin pergi ke pertunjukan. Mungkin mengenakan jas, rompi, dengan dasi kupu-kupu, bagi para lelaki. Dan mengenakan blus warna gelap, bagi para perempuan.

Namun, sampai jutaan tahun kemudian, para penonton masih saja sibuk berperang. Di manamana. Di rumah-rumah. Di atas dipan. Di pasarpasar. Di jalan-jalan. Dan bahkan, di rumah ibadah. Sepertinya tak seorang pun peduli pada sebuah pertunjukan musik. Tak seorang pun tertarik menyaksikan sebuah resital. Tak seorang pun memiliki jiwa seni mumpuni. Malka menutup tirai merah di balik panggung, dan h a n y a butuh waktu beberapa detik untuk terenyak sebab suara ledakan dari bawah sana. Malka yakin, di bawah sana, seorang anak di bawah lima tahun telah menjadi yatim. Dan seorang perempuan dengan anak di bawah lima tahun segera menjadi janda yang menggelandang. Dan para gelandangan, mereka takkan memiliki waktu untuk menonton pertunjukan musik. Maka makin perang berlanjut, kian banyak gelandangan. Dan makin banyak gelandangan, akan membuat panggung resital itu kian sepi.

ìNasib sedang berkerja di bawah sana, aku akan menunggu, mungkin sebentar lagi sang atasan memberi instruksi,î ujar Malka sambil memotong kuku-kukunya yang telah meruncing. Kuku yang runcing tidak bagus untuk pianis sejati. Untuk gitaris atau harpis mungkin tak masalah, tapi untuk pianis tidak, terima kasih. Malka harus memotong kuku-kukunya.

Baca juga:  Kesumat

Beberapa menit kemudian, sebuah jeritan melengking dari bawah sana, jeritan yang kesekian juta kali — Malka malas menghitung semenjak jutaan tahun silam. Barangkali seorang gadis kehilangan keperawanan. Atau seorang lelaki cabul dikebiri di muka umum. Atau bisa jadi seorang koruptor ditembak mati. Malka tak lagi terkejut atas semua itu, atas kejadian-kejadian aneh di bawah sana. Malka hanya perlu melongok dari balik tirai merah di belakang panggung. Memastikan para penonton memang belum siap — dan tak akan pernah siap, dengan pertunjukan musik jenis apa pun.

***

Malka melirik jam raksasa yang terus bekerja di belakang panggung. Mengingatkan Malka akan waktu yang tidak banyak. Malka ingin mengantuk, tapi Malka tak pernah bisa mengantuk. Maka, dalam keheningan yang tidak disangka-sangka itu, angin berdesir, sedesir, membawa sebuah pesan dari atasan.

Malka melirik jam raksasa sekali lagi, dan menghela napas, “Waktu mereka sudah habis! Waktu mereka sudah habis! Resital harus segera dimulai! Resital harus segera dimulai!”

Malka berdiri dengan wajah penuh guratan emosi. Merapikan setelan. Lantas membuka tirai merah lebar-lebar dan melangkah ke tengah arena. Kini, Malka telah berdiri di atas panggung. Di hadapan kursi-kursi penonton yang melompong. Di hadapan piano tua yang setia.

Malka tersenyum ke arah kursi-kursi merah yang kosong itu. Membungkuk sejurus untuk memberi penghormatan pada orang-orang semu di hadapannya, orang-orang yang lebih menyukai perang dan tidak menyukai pertunjukan musik.

“Aku akan memainkan! Sekarang! Dengan atau tanpa penonton. Lagipula pertunjukan resital bukan untuk ditonton, melainkan untuk disimak. Dan mereka akan menyimak di tengah keheningan peperangan… di bawah sana.”

Malka melangkah mendekati piano kesayangan, menarik bangku kayu panjang sedikit ke belakang dan duduk, mengambil posisi paling nyaman.

Malka menghela napas. Menyeru pelan suara sang atasan, memohon izin memulai resital. Tangan Malka berayun dan jemarinya bergerak runtun serupa lambaian.

Dan…

Ting!

Suara piano bertenting di tengah keheningan.

Dari atas panggung. Hanya satu denting. Ting! Dan di bawah sana, hamparan tanah rekah. Ribuan dinding bengkah. Dan jutaan pohon rebah. Terkulai di tanah.

Malka telah siap dengan dentingan kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnyaÖ.

Ting ting ting! (Seperti nada pembuka yang mungkin akrab di telingamu.) Tanah berguncang, kembali rekah, sebuah gunung menyemburkan magma, mirip bisul yang pecah memuntahkan nanah. Debu dan batu-batu api memenuhi udara. Serupa pesta kembang api. Ting ting ting ting ting ting ting ting ting! (Untaian nada rendah yang nyaman.)

Baca juga:  Ular-ular Peliharaan Bapak

Tanah berguncang berulang-ulang. Langit bergemuruh. Topan menyambar. Angin membeliung. Mencerabut paksa pepohonan dan menerbangkan atap rumah-rumah. Membongkar gedung-gedung. Segalanya bertebaran, orangorang berjumpalitan bak anai-anai.

Ting ting ting ting ting! Ting ting ting ting ting! Ting ting ting ting ting ting ting! (Mulai merambat ke nada yang berkelok.)

Matahari tergelincir dari tempatnya. Tercebur ke cakrawala. Silih berganti. Melahirkan gulita. Sementara guncangan tak juga reda. Tanah makin menganga. Menelan segala apa yang dijunjung. Lautan surut dan kembali dengan ombak raksasa yang bergulung-gulung di ketinggian, membilas segalanya, meluluhlantakkan yang tak rata.

Dan Malka menikmati resilatnya. Malka memejamkan mata, terus menggerakkan jemari. Merajalela. Mengembara dari satu not ke not lain. Mengarungi satu nada ke nada lain. Tanpa partitur. Tanpa keraguan.

Ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting! Ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting ting!(Nada yang menghentak, meliuk, kejar mengejar. Mengentak lagi. Meliuk lagi. Masih terus kejar-mengejar. Entakan yang nyaring. Liukan yang dalam.

Lalu mulai melambat, dan melambat dan melambat. Nada jeda yang tersengal.)

Tak ada waktu menginsyafi berapa lama Malka memainkan resital.

Malka telah jatuh dalam keasyikan denting-denting, serupa darwis yang mabuk. Hingga sampai pada dentingan terakhirÖ.

Ting! (Masih serupa entakan, tapi kelewat lembut.)

Malka menghentikan gerakan jemari dengan tangkas dan menyingkap mata. Sebuah not berhenti pada keheningan sempurna. Dan di bawah sana, segalanya telah rata. Puing-puing berselengkat menguapkan asap paling lembap. Peperangan telah usai. Segalanya telah usai. Benar-benar usai. Sebuah resital agung baru saja berakhir.

Malka menutup piano. Malka menutup piano. (44)

Malang, 2017-2018

Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di berbagai media. Kumpulan cerita terbarunya, Lumpur Tuhan, memenangi sayembara sastra Dewan Kesenian Jawa Timur (2018). Kini bermukim di Malang.

 

[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 15 Juli 2018