Rumah Hantu

Karya . Dikliping tanggal 24 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat

SIANG itu, Junot tergopoh-gopoh masuk ke rumah. Sepatu dan tasnya masih dikenakan. Keringat Junot membuat kemeja putih ngeplek ke badan dan basah.

“Rumah Hantu kini ada isinya,” Junot tersengal-sengal bicara. “Rumah Hantu! Rumah Hantu yang memakan Greti.”

“Dari mana kamu tahu, Junot?”

“Teman-teman di TK yang bilang. Dan tadi pas Junot lewat, perempuan itu duduk di emper. Mirip penyihir.”

Rumah Hantu, rumah paling ujung di jalan, mungkin sudah dua tahunan tanpa penghuni. Listrik sudah lama diputus oleh PLN. Belukar di pekarangan depan, dan genting yang beberapa runtuh tak tersentuh. Selepas penghuninya pindah ke Sumatera dan entah kapan akan kembali karena tak ada kabar, rumah itu kosong. Dan dijuluki oleh Junot dan teman-temannya sebagai Rumah Hantu. Tentu karena perwujudan bentuknya layak disebut sebagai sarang hantu, tempat wewegombel kawin, atau tempat sundel bolong membuang bayi. Terlebih, ketika Greti ditemukan lemas-pingsan di pekarangan, setelah semalaman tidak pulang. Itulah mengapa Junot kerap menjuluki Rumah Hantu yang memakan Greti.

Baca juga:  Insomnia

Petang itu, Rumah Hantu mulai tampak layak huni. Gerumbul rumput liar dibabat habis. Dan seorang perempuan, usianya kisaran tujuh puluh, dengan caping bambu membawa sabit di tangan kiri dan sapu lidi dilipatan ketiaknya tengah merapikan halaman. Saya sendiri kaget. Bukankah dia, Kamiri, ibu dari pemilik rumah. Mengapa baru sekarang dia memedulikan rumah anaknya?

“Penyihir tua!” Junot berbisik saban melewati Rumah Hantu yang kini dihuni Kamiri.

Dua hari kemudian rumah itu sudah rapi dan bahkan melebihi kerapian halaman rumah saya. Wajar saja, Kamiri tak berhenti sepanjang hari menyapu dan mencabuti rumput. Seolah gulma yang wajib dibasmi. Dan satu lagi yang saya amati, Kamiri begitu menyayangi kucing-kucing liar. Kucing yang berasal dari pasar tak jauh dari kompleks.

Semula Kamiri hanya memberi makan seekor kucing hitam. Dia memandikan di sumur kanan rumah. Kemudian memberinya kepala ikan asin, atau sesekali saya lihat Kamiri mencampur nasi dan cuwilan pindang mentah dalam mangkuk. Tiap kucing itu menjilati nasi dan daging terakhir, Kamiri tersenyum puas dan bahagia. Seperti seorang nenek yang menjamu cucu kesayangan dengan makanan kesukaan.

Baca juga:  Hari Tanpa Kepala

Makin lama saya saksikan tidak hanya satu kucing yang datang menghampiri rumah Kamiri. Saya hitung sudah bertambah menjadi lima. Dan jumlah paling stabil adalah antara 12 atau 13 kucing merubung Kamiri tua yang mulai kuwalahan bila hanya menyajikan nasi dan ikan asin. Kamiri mulai membeli sosis siap makan. Dalam sehari Kamiri menghabiskan setoples sosis untuk dikunyah kucing liar. Pastilah kucing pertama yang menemukan rumah Kamiri, yang gegas mengabarkan ke semua kawan-kawannya, bahwa ada nenek tua yang begitu baik hati membagi-bagikan makanan sedap.

Bila Kamiri terlambat memberi jatah makanan, suara belasan kucing liar itu mengeong tanpa henti. Sesekali diriuhkan suara perkelahian kucing. Yang itu ternyata menimbulkan keresahan. Rumah di sekitar Kamiri diam-diam memprotesnya. Mereka tidak suka. Lantaran tidak hanya suara kucing lapar, kucing berkelahi, atau suara kucing kawin. Makin sering kencing, tahi, dan bulu-bulu kucing itu tersebar di mana-mana. Itu menjijikkan.

Baca juga:  Keluarga yang Menanti Hujan

“Apa sebaiknya kita tegur?” usul seseorang.

Usul itu mentok, karena tak ada yang akrab dengan Kamiri. Dan selalu terbentur, mungkin usianya tak lama lagi, biarkan saja. Kalau Kamiri mati pasti tidak lagi bikin ulah. Kamiri terus saja mengurus kucing-kucing liar itu. Suara mereka mengeong, berkelahi, mendesah berisik ketika kawin, atau suara anak-anak kucing baru lahir menjadi polusi dan bahan gunjingan tanpa ada solusi. Hingga suatu saat, Junot berteriak sepulang dari TK.

”Nenek Kucing itu mati, Ma! Nenek itu mati. Orang ramai. Pada bilang kalau tubuh nenek kucing itu dimakan kucing. Apa kucing lapar bisa memakan manusia, Ma?” ❑-e

*) Teguh Affandi, menulis cerpen dan ulasan buku di beberapa media. Mukim di Jakarta sebagai editor di Noura Publishing.

 

[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 22 Juli 2018