Sebuah Kamar Rahasia

Karya . Dikliping tanggal 17 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

SEBELUM gelap kabut dan pertanyaanmu terlontar serupa mimpiku, kita sedang bertamasya,bukan? Tak jauh-jauh ke pusat kota,beberapa langkah saja kau sudah terpesona dengan wahana yang mulai gerlap oleh lampu,gerobak gulali,dan putaran ombak banyu yang menggoda senyummu. Selepas magrib kau merengek menagih janji Ibu,mau tak mau nazar kenaikan umur harus ditunaikan. Entah kenapa,kausuka sekali ombak banyu.Mungkin bianglala terlalu menakutkan. Seingatku, kau memang mudah meringis kala ketakutan.

APAKAH ibu akan pergi, Kak? Aku takut sendirian….”

Pertanyaanmu yang risau bebe­rapa hari lalu menjelma suara da­lam ruang kedap udara di putaran ombak banyu ini. Pasar malam yang biasa kita nantikan setahun sekali seolah tak lagi berwarna pa­da kerlipnya yang menyulih padam atau monokrom. Aku melihatmu tertawa riang. Tawa yang melekat di masa lalu. Aku mengingatnya kala gigi susu itu tanggal menyisa­kan raut menggelikan bahkan saat kau diam saja. Kau meringis nyeri lalu tergelak sendiri menatap cer­min.

“Seperti badut ompong Hahaha­ha.”

“Bukan Sovia, kamu seperti dra­cula. Ya, dracula! Bu lihat, Adik seperti dracula.”

“Apa itu dracula?”

“Makhluk pemangsa. Monster bertaring.”

“Seperti kucing buduk?” wajah­nya mulai berubah.

“ltu iblis, Nak.Manusia pemba­ntai umat. Mahkluk tak beragama,” sahut ibu datar mengenyah gelak dari kamar rahasia.la menutup ra­ pat pintu lalu mendekat. Raut wa­jahnya tak bersifat.

“Ayo, sudah malam, waktunya tidur. Jangan lupa cuci kaki baca doa.”

Dalam padam, kita masih suka bersahutan. Menerka tentang bu­nyi-bunyi malam yang juga berasa­ hutan. Lalu kau mengulang gam­baran mimpiku.

“Apakah ibu akan pergi, Kak?”

“Mengapa kau berpikir begitu?”

“Aku pernah bermimpi buruk .”

Lalu ia bercerita tentang mimpinya yang sama dengan mimpiku. “Kita harus berdoa lebih sungguh-sungguh sebelum ter­tidur.”

Lalu kami berdoa sesuai yang pernah diajarkan lbu.

“Kapan ayah kembali, ya Kak?”

“Mungkin besok.”

Atau mungkin masih lama lagi. Sebelum menghilang bersama seo­rang temannya yang asing, ia me­meluk kami dan membicarakan janji-janji mengenai masa depan. Lalu berbicara serius dengan lbu tanpa kuketahui apa maksudnya. Setahun lebih ayah pergi mening­galkan kami bertiga tanpa pernah kudengar kabar dan suaranya dari ponsel. Aku ingin merindukan ayah, tapi mimpi buruk itu selalu datang bertamu.

Baca juga:  Makam di Bawah Jendela

Di sebuah hutan yang gulita dan hanya diterangi setengah cahaya bulan jingga, aku berdiri horizontal di tengah-tengah Sovia — yang ter­ lihat murung — dan ibu yang dipeluk sosok hitam serupa raut ayah dengan tatapan merah nyalang. Sosok lelaki hitam itu ke­mudian menarik ibu pergi hingga bayangannya mengecil dan aku terbangun dari mimpi.

Aku tak ingin percaya mahkluk legam itu adalah ayah. Bagiku ayah orang terbaik sedunia. Dia selalu tersenyum pada siapa saja. Tidak banyak berbicara dan hampir pasti tak pernah marah, kecuali jika aku atau Sovia mendekat atau menco­ba masuk ke kamar rahasia.Hanya larangan sekadarnya.

“Di sana banyak debu, tikus, dan hantu,” kata ayah menggodaku.

Lalu ia menguncinya.

Tapi kepalaku tak pernah lepas memikirkan kamar itu.Kamar di sudut ruangan yang dekat dengan tangga melingkar ke lantai dua. Di luar langit-langit pintunya tak ada lampu. la meremang dari cahaya yang berasal dari kamar mandi di sebelah kanan atau ruangan utama yang lurus menghadapnya.

Suatu saat selepas magrib dan ibu tengah bersama Sovia, diam-diam aku melangkah menuju pintu kamar rahasia. Beberapa jarak sampai ke daun pintu yang kebe­tulan tak terkunci dan sedikit ter­buka, aku mendorongnya perla­han menguak seisi ruangan.Da­lam remang kulihat banyak perkakas, sejumlah kardus bekas, potongan kabel dan logam, serta barang lain yang ku tak tahu apa fungsinya.

Tiba-tiba muncul kerlip cahaya membilas remang. Membuatku se­langkah mundur kebelakang.Di depanku melayang sosok lelaki dengan rambut dan jenggot pan­jang menjuntai. Bajunya putih serupa terusan berwajah ramah dengan tatapan mata sendu.

Seketika tubuhku gemetar. Na­mun, tangannya mengangkat sedada seolah berkata, “Jangan takut.”

Baca juga:  Suamiku Jatuh Cinta pada Jam Dinding

Tak berlama-lama aku beringsut pergi menuju kamar. lbu yang ber­ ada di samping kasur Sovia me­mandangku dengan aneh. “Ada apa, Nak?”

Aku tak menjawab. Berlaku seo­lah tak terjadi apa-apa. Aku takut ibu marah. Setelah ibu keluar ka­mar, aku menceritakan ini pada So­via. Mulutnya menganga. Lalu berkata sesuatu yang menge­jutkan.

“Aku juga pernah melihatnya. Sejak itu aku tak pernah dekat­ dekat ke kamar itu.”

Aku pun tak pernah lagi coba­ coba melongoknya. Mungkin dia adalah penunggu rumah ini yang mati penasaran di kamar itu.

Ayah tak tahu jika saat itu aku telah membacakan doa-doa yang pernah diajarkan ibu. Doa pengusir setan. Tapi sosok itu hanya tersenyum. Setan tidak akan mungkin tersenyum mendengar­nya.

**

SETELAH beberapa waktu lamanya akhirnya ayah pulang. Hatiku lega.

Wajahnya terlihat klimis. Ayah membelikanku beberapa hadiah buku. Sovia mendapatkan boneka impiannya.Kata ayah, buku-buku ini adalah panduan belajar buatku mulai sekarang. Aku akan berseko­lah di rumah saja.Ayah yang akan mengajarimu, ucapnya. Dadaku serasa sempit.

Sejak ayah pulang, ia memang lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga. Sesekali datang bertamu orang yang tidak kukenal dan tidak pula diperkenalkan.

Mereka berbincang sebentar lalu masuk ke kamar rahasia.

Seraya mengelus ubun-ubun, lbu berucap, “Dunia ini hanya sesaat, Nak. Ayah dan ibu ingin kita semua dapat berkumpul bersama kelak. Tidak hanya sebentar, tapi sela­manya.”

Sebelumnya aku sedang mela­munkan janji ayah tentang masa depan yang pernah ia utarakan. Aku ingin bersekolah tinggi, men­dapatkan gelar sarjana seperti Ayah. Lalu mengajar di sekolah se­bagai guru.

lbu lalu menceritakan apa yang telah diceritakan ayah padanya. Sebenta r lagi ka mi semua akan pin­dah dari rumah ini.Rumah yang penuh kenangan.Pergi menuju tempat terindah yang tak terbayangkan. Jauh dari ketakutan, mimpi buruk, dan murka Tuhan.

Tempat semua orang bermimpi pu­nya rumah di sana.

Baca juga:  Kalah Telak - Cinta Menembus Batas

Ya !Tak perlu menunggu setahun sekali untuk bermain wahana.Ka­mi akan punya pasar malam kami sendiri!

“Apa pun keinginanmu akan ter­penuhi.”

Aku membayangkan sebuah negeri dongeng.Negeri yang penuh dengan para kurcaci dan hewan yang berbicara. Khayalan yang menemaniku hangat di dingin malam sebelum terlelap.

Pagi ini kami telah bersiap-siap tamasya. Minggu yang ditunggu. Ayah membawa sejumlah per­bekalan yang ia rangkul dari kamar rahasia. Pakaian ba ru beiwarna ungu kami kenakan. Sovia terlihat gembira.Mata ibu  berbinar-binar. ayah menyetir mobil dengan riang, sesekali bernyanyi. Kami melewati jalan-jalan yang belum pernah dilalui.

Baru sekali ini ka mi pergi bermain selain ke pasar malam. Se­ belumnya aya h tak pernah menga­ jak ka mi piknik ke tempat-tempat wisata atau mal seperti yang sering aku lihat di televisi.

Sampai di suatu tempat yang sering diceritakan, Ayah membe­lokkan setirnya secara tiba-tiba ke arah pos keamanan. Beberapa orang berteriak. Aku dan Sovia ikut tersentak. Mobil terhenti. Saat be­berapa penjaga hendak mendekat, aya h memeluk kami bertiga. lbu memejamka n mata.Nanap mata bulat Sovia terpapar kalut. Ayah mengeluarkan semacam remote dari saku jaketnya.Terdengar bu­nyi dari arah bagasi. Lalu terjadi ledakan.

**
SEBELUM gelap kabut dan per­tanyaanmu terlontar serupa mimpiku, kita sedang bertamasya, bukan?

Dunia serasa hening dan hangus. Bercak merah menggenang di as­pal. Kulihat beberapa tubuh ber­serakan. Badanku remuk. Sese­orang datang menolongku dari panas jilatan api. la menggen­dongku pergi.

Dalam gegas ia bertanya, “Adik baik-baik saja?”

Geriap mataku samar menatap wajahnya. Raungan bunyi lamat terdengar. Sekelebat sosok  hantu di kamar rahasia menyaru. Lelaki berseragam ini menatapku dengan sendu.

Mata yang kuingat lekat di balik seragam cokelatnya dan sering disebut ayah dengan penuh kebencian.***

 

[1] Disalin dari karya Deden Hardi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 15 Juli 2018