Segenggam Tanah Air

Karya . Dikliping tanggal 31 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat

BEBERAPA bulan yang lalu, Karjan masih melihat anak-anak di kampungnya bermain bola di lapangan ujung kampung. Beberapa minggu yang lalu dia melihat anak-anak itu bermain bola di antara batang-batang pohon kelapa yang sengaja dirubuhkan. Kini yang dilihat Karjan orang-orang berseragam yang membuat pagar betis. Teriakan-teriakan tetangganya terdengar saling sahut. Karjan menelan ludah, ternyata penggusuran itu benar-benar terjadi, bukan sekadar wacana semata.

Siti Halimah, istrinya itu menangis tersedu-sedu di sebelahnya. Rintihnya acap kali terdengar sembari mendekap anak semata wayang mereka yang masih berumur satu tahun. Satriya Piningit nama anak laki-laki itu. Seolah tak tahu gejolak yang dialami orangtua dan warga kampungnya, Satriya tertidur lelap di pelukan ibunya.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” tanya Siti Halimah di sela tangisnya.

“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa,” Sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.

Baca juga:  Warung Yu Supi

Perlawanan semua warga yang mempertahankan tanahnya menemui ujungnya. Mau tak mau, rela atau tidak tanah mereka harus steril. Bandar udara baru akan dibangun di atas tanah mereka. Rumah dan tanah milik Karjan salah satu yang terkena dampak pengosongan lahan. Uang pengganti diberikan, tapi hatinya masih menolak, meski usahanya melawan tetaplah hanya sekadar perlawanan belaka. Pagar bumi dibangun mengelilingi kampung mereka, untuk memberikan batas kepada warga saat realisasi proyek dikerjakan nanti.

Teriakan Lik Paijan masih terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tapi perlawanan Lik Paijan pun percuma saja, beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.

Baca juga:  Tenung

“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampung yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.

“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapatkan ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan perlahan.

Mendengar ucapan suaminya seketika Siti Halimah terduduk di tanah. Di kampung itu dia dan Karjan dilahirkan. Cikal bakal diri mereka terlahir di sana. Simbah, orangtua, sanak-saudara mereka pun terlahir di kampung itu. Kini, kampung itu bersiap rata oleh tanah. Bandar udara akan berdiri di sana, menggantikan kampung yang menjadi tanah air kecil mereka. Burung-burung besi nantinya akan hilir mudik landas dan mendarat di bekas tanah mereka.

Baca juga:  Tamu dari Surga

“Kau lihat, Le. Nanti jika kau besar dan pergi dengan pesawat terbang dari bandara tempat ini. Kau harus tahu, bahwa lapangan udara ini dulu tanah air leluhurmu. Tempat cikal bakal dirimu dilahirkan. Segenggam tanah air yang terpaksa lepas dari genggaman kita.” Bisik Siti Halimah di samping telinga Satriya Piningit yang masih tertidur pulas. ❑- g

Salatiga, 24 Juli 2018.

*) Artie Ahmad, lahir di Salatiga, 21 November 1994. Beberapa cerpennya tersiar di beberapa media. Kini sedang mempersiapkan novel terbarunya.

 

[1] Disalin dari karya  Artie Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 29 Juli 2018