Sekelam Dirham

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

SUDAH dua jam Dirham terkurung di rumah. Dia tak bisa keluar dan main. Padahal, dia ingin bermain layanglayang. Namun karena matahari terlalu terik, sang bapak melarang. Bapak mengancam akan menyabet jika dia bersikeras keluar.

Dirham berfisik lemah dan cepat lemas. Tak jarang dia pulang dengan hidung berdarah. Kini, setelah merasa tak terlalu terik, Dirham meminta izin kembali kepada sang bapak untuk pergi bermain.

“Kamu sudah salat asar?” sahut Bapak.

“Belum, Pak.”

Dalam hitungan detik, sang bapak melepas gesper dan mencambuk Dirham tanpa ampun. Dirham berteriak. Namun sang bapak terus mencambukkan gesper.

“Masih kecil sudah berani ninggalin salat. Mau jadi apa kamu!”

“Bapak sudah! Berhenti. Dia masih kecil!” ujar Ibu seraya keluar dari dalam rumah.

“Ibu selalu membela. Anak ini tidak akan dewasa jika terus kita manjakan!” bentak Bapak, lalu masuk ke rumah.

Dirham menangis sambil memeluk sang ibu. Beberapa tetangga melihat saat sang bapak mencambuk Dirham. Ada yang merasa kasihan, ada pula yang mencemooh. Mereka mencemooh karena anak-anak mereka pernah menangis akibat ulah Dirham.

Dirham dikenal nakal di kalangan anak-anak. Dia sering mengajak siapa pun berkelahi. Tak peduli lebih tua atau muda, semua dia habisi dengan tangan kosong. Badan besar membuat dia selalu berhasil memiting anak lain hingga nyaris pingsan.

Banyak yang mengira Dirham mengidap autisme. Ada pula yang bilang Dirham mengidap gangguan jiwa alias gila.

“Apalagi yang kaulakukan sampai Bapak marah? Ceritakan pada Kakak,” ujar Uci, kakaknya, di dalam kamar.

“Masa aku nggak salat saja, Bapak main sabet. Dasar Bapak gila!” Suara Dirham memenuhi ruangan.

“Kamu yang gila! Ninggalin salat!” sahut Bapak dari luar, lalu masuk ke kamar membawa tongkat rotan.

Dirham bersembunyi di balik badan Uci. Bapak mendekat, mengamangkan tongkat rotan, hendak memukul.

“Bapak, sudah, Pak. Setop! Kasihan Dirham, Bapak pukuli terus,” ujar Uci.

“Kalau nggak dipukul, anak ini nggak akan ngerti!”

“Cukup, Pak, cukup! Kekerasan tak bakal mengubah dia jadi lebih baik!”

Halah! Kamu dan Ibu sama saja. Memanjakan dia!”

Baca juga:  Masa Lalu adalah Masa Depanku

Bapak berlalu, meninggalkan mereka berdua di kamar. Uci memeluk erat Dirham. Dirham membalas pelukan sambil berharap mimpi buruk itu cepat berakhir.

***

Makin hari kelakuan Dirham kian tak terbendung. Baru saja sang ibu mendapat laporan Dirham berkelahi. Temannya pingsan, lalu dilarikan ke rumah sakit.

Ibu menyusul ke rumah sakit, meminta maaf, dan menyatakan akan mengganti seluruh biaya pengobatan. Untung, keluarga itu menganggap perkelahian tersebut hanya wujud kenakalan remaja.

Saat tiba kembali di rumah, Ibu memberitahukan kejadian itu pada Bapak. Bapak sangat syok, apalagi setelah melihat jumlah tanggungan pembayaran di rumah sakit. Dia memegang dada. Pingsan. Saat itu, tak ada yang tahu di mana Dirham berada.

“Mobil kita jual saja ya?” Itulah kalimat pertama Bapak setelah tersadar.

“Bapak tak usah mikir itu dulu. Istirahatlah,” ujar Ibu yang duduk di tepi pembaringan bersama Uci.

“Mana Dirham?”

“Masih dicari Om Dezan, Pak,” sahut Uci. “Bapak istirahat saja. Tak usah mikir macam-macam. Kalau Bapak sudah sehat, baru kita pikirkan.”

Bapak memejamkan mata, lalu tertidur.

Tujuh hari berselang, Dezan menemukan Dirham di sebuah gedung tua. Dirham tertidur, menggenggam botol minuman keras. Dezan menyeret dia pulang sambil memberi tahu bahwa Bapak terkena serangan jantung dan kini dirawat di rumah sakit.

Wajah Dirham menunjukkan kegetiran. Namun dia tak mau memperlihatkan perasaan. Di dalam mobil, Dirham menolak ke rumah sakit. Dia tak mampu memaafkan, walau Bapak sakit keras sekalipun.

“Halo, Nak. Kamu ke sini ya. Bapak mau omong,” suara Ibu di telepon. “Lebih baik Bapak mati sekalian.”

“Kamu tak boleh omong begitu, Nak.”

Sayup terdengar suara Bapak meminta Ibu menyerahkan telepon. Dia ingin bicara. “Nak, kamu bisa ke sini?” Suara lembut Bapak tibatiba menggetarkan hati Dirham.

“Bapak mau omong untuk kali terakhir, Nak. Bapak janji, setelah ini kamu bebas mau bicara lagi pada Bapak atau tidak.”

Dirham terdiam, lalu menutup telepon. Dia pun menuju ke rumah sakit.

Setelah pertemuan dengan sang bapak, tak ada perubahan drastis pada Dirham. Mungkin memang benar dia sudah gila. Begitulah pikir orang-orang. Tak sedikit orang tua melarang anak mereka bermain dengan dia.

Baca juga:  Cerita Uang

Hanya beberapa teman masih setia bermain bersama dia. Itu pun kebanyakan lebih tua dan tak sekolah. Mereka merokok dan minum minuman keras. Ya, Dirham tak henti-henti mabuk dan merokok.

Bahkan dengan santai dia membawa teman-teman ke rumah. Mereka berpesta minuman kears. Bahkan ada teman mengajak perempuan.

Malam menjelang. Telepon berdering. Setengah mabuk, Dirham mengangkat telepon. Dia tersentak ketika mendengar kabar Bapak baru saja meninggal. Bergegas dia membangunkan teman-temannya. Dia bersihkan sisa makanan, puntung rokok, dan botol-botol minuman. Lalu dia mandi, menyikat gigi, memakai wewangian penghilang bau alkohol.

Kerabat dan tetangga berdatangan. Mereka memasang tenda, menyusun kursi, menaruh baskom berisi beras tempat menaruh uang dari para pelayat. Dirham mengintip baskom bertutup kain itu.

“Cukup banyak,” pikir dia. Dia tak lagi memedulikan jasad Bapak yang terbujur kaku.

Malam itu, di kamar dia tak bisa tidur. Bukan karena suara mengaji yang terasa mengganggu. Namun dia memikirkan besok bakal punya banyak uang, sehingga bisa membeli minuman dan rokok. Dia akan jadi raja.

Pagi-pagi benar, ketika orang-orang salat subuh, Dirham mengambil seluruh uang dari baskom. Dia mengendap-endap, pergi, tanpa sepengetahuan siapa pun.

***

“Mana sisa uang pelayat kemarin, Bu?”

Ibu kaget ketika Dirham tiba-tiba pulang ke rumah setelah tiga hari menghilang.

Astaghfirullah! Kamu dari mana saja, Nak?”

Udah, cepet. Mana duitnya? Kalau nggak, kubunuh!” bentak Dirham sambil berjalan ke dapur, mengambil pisau.

Ibu menghambur keluar, mencari pertolongan. Untung, seorang tetangga mampu melumpuhkan Dirham. Pisau terlepas dari tangan Dirham. Dia tertangkap. Malam itu, dia dibawa ke rumah Om Dezan. Dia tinggal di sana beberapa waktu.

“Aku mau pulang,” ujar Dirham.

Dezan merasa Dirham sudah cukup waras. Karena itulah, dia mengantar Dirham pulang. Namun Dezan menelepon beberapa kerabat agar berjaga-jaga. Tiba di rumah, Dirham langsung menghambur ke dapur. Tampaknya dia hendak mengambil pisau.

Baca juga:  Perempuan di Galeri 27 atawa Smells Like Empty Spirit

“Memang sudah benar-benar gila dia,” pikir Dezan.

Suasana mencekam. Tiba-tiba seorang kerabat berkata, “Dirham, Pakde mau beli durian. Kamu mau ikut nggak?”

Sebagai penggemar berat durian, tentu saja Dirham mengiyakan. Seluruh kerabat sepakat jika di mobil Dirham berbuat macam-macam, mereka akan langsung membawa ke rumah sakit jiwa. Selama perjalanan Dirham tampak senang. Kerabat semobil tak bercuriga apa pun.

Bentar ya, Pakde mau nemui teman,” kata Pakde setelah membelokkan mobil ke pekarangan rumah sakit.

Dia berbicara dengan suster. Mereka sepakat membius Dirham dan membawa ke kamar. Dirham tak sempat melawan. Dia pingsan.

Dua bulan berlalu. Dirham berubah. Kini, dia rajin salat dan terus-menerus memanggil Ibu, meminta maaf. Dokter pun akhirnya mengizinkan Dirham pulang.

Dezan memutuskan menginap di rumah mereka beberapa hari untuk memastikan semua sudah benar-benar aman. Malam keempat setelah kepulangan Dirham, Dezan pulang ke rumahnya. Dia merasa tak ada lagi yang perlu ditakuti.

Dirham benar-benar berubah. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu memeluk sang ibu sambil meminta maaf.

Hari dan bulan berganti begitu cepat. Malam ini, peringatan malam ke-100 kepergian sang bapak. Ketika acara usai dan semua pulang, seseorang datang menemui Ibu. Mereka berbincang di ruang tamu.

“Bu, saya bendahara di kantor Bapak. Ini uang pensiun Bapak yang baru saja turun.”

“Oh, iya. Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan.”

Tiba-tiba pintu kamar Dirham terbuka. Dirham mendengar percakapan mereka. Dia memandang tamu itu sebentar, lalu beranjak ke dapur, mencari-cari sesuatu. “Bu, pisau di mana?” (44)

Semarang, 17 Juli 2018: 04.04

– Chandra Buana, mahasiswa Jurusan Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang

 

[1] Disalin dari karya Chandra Buana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 22 Juli 2018