Tak Ada Patung bagi Tapol

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Sukamto Resbowo menarik napas panjang. Betapa tipis jarak pahlawan dan pecundang. Dan ia pun tahu sekarang ada sejumlah patung dan monumen didirikan di lembah kekal Waeapo.

JALAN ke Waeapo seperti sungainya yang lebar dan berubah-ubah; alur baru muncul di antara alur lama yang tak lagi dilalui arus. Jalan di tepi Teluk Kayeli dan kaki bukit Batuboi ini juga begitu; tebing dipapas, jurang ditimbun, jembatan diganti, dan aspal kelokan lama masih tampak di sebalik semak savana. Dengan pola itu, jarak Namlea-Waeapo kian dekat sebenarnya. Namun, tidak bagi Sukamto Resbowo.

Laki-laki 68 tahun itu gelisah. Keringat mengalir dari keningnya yang penuh gurat luka. Ia telah menempuh perjalanan panjang dari Piyungan, Jogjakarta. Dan terasa makin panjang menempuh sisa jarak 40 km lagi. Rahang kukuhnya yang dibalut kerut kulit, bersitahan dari tekanan. Untunglah matanya masih terang melihat pohonpohon kayu putih, meriap kemilau oleh cahaya matahari, memberinya penghiburan murni.

Fajar matahari itu yang mula-mula ia lihat muncul dari arah Sanleko, tadi, saat ia berada di Pelabuhan Namlea. Kapal Intim Teratai yang membawanya dari Ambon ke Pulau Buru sampai di situ menjelang subuh. Penumpang segera turun diburu tukang ojek, tapi sebagian masih leyeh-leyeh di tempat tidur menunggu pagi sempurna.

Sukamto termasuk yang menunggu. Maklum, ia tak punya siapa-siapa di Namlea. Tujuannya hanya satu: Waeapo. Sudah ia cari informasi bahwa oto ke Waeapo –mikrolet yang dimodifikasi seperti bus mini– baru berangkat sekira pukul 07.00 WIT.

Maka ia menunggu, tapi tidak di tempat tidur. Ia bangkit menenteng tasnya yang berisi sejumput pakaian salin, berdiri di dek menatap hamparan riak Teluk Kayeli. Meski dilingkup cahaya samar, ia masih bisa mengenali letak Kampung Kaki Air dan Sanleko.

Nun di sana: seberang sebelah kiri adalah Kaki Air. Pintu masuk para tahanan politik (tapol), seperti dirinya, ke Waeapo, dulu. Dari Kapal ADRI, mereka pindah ke kapal-kapal kecil ukuran sekoci, memudiki Sungai Waeapo yang penuh ular dan buaya. Di muaranya, orang-orang Bugis yang menyingkir dari titah Kahar Muzakar mendirikan rumah-rumah bertiang kayu, menjadi kampung satu-satunya yang ditemui tapol saat digiring masuk ke pedalaman Buru. Di seberang kanan adalah Sanleko, di muara Sungai Waetele, tempat sebagian tapol mendarat.

Setelah pagi cerah membuka hari, Kamto ke luar pelabuhan mencari oto ke Waeapo. Ia sempat pangling melihat perkembangan Kota Namlea dengan jalan dua jalur, persimpangan, rumah dan toko-toko berderet. Dulu ia hanya mengenal Namlea lama yang sempit di bibir teluk, sementara kawasan atas hanya terdiri dari sebuah dusun yang meremangkan bulu kuduk: Jiku Kecil. Di situ terdapat penjara khusus bagi tapol yang dianggap bermasalah di unit-unit Waeapo. Ungkapan ’’di-jikukecil-kan” bagi tapol, sama artinya ’’di-sukabumi-kan” bagi kaum bertato –keduanya pada masa Soeharto.

Dulu, Kamto sering corvee ke Namlea, membawa kayu ’’gelap” milik oknum Dan Tefaat atau Dan Unit. Kayu-kayu gelondongan diikat seperti rakit, lalu dihanyutkan hingga ke Kaki Air. Tugasnya selesai sampai di situ, tapi tak jarang ada tugas tambahan mengantar padi dalam karung goni ke Namlea.

Baca juga:  Kisah Cinta Menikung Si Tukang Kabung

Melalui jalan darat ia pernah sekali-dua, tapi ia agak lupa jalurnya. Apalagi sekarang banyak jalur baru seperti yang ia lihat dari atas oto yang melaju.

Melewati Siahoni, hidung tuanya mencium aroma minyak kayu putih mengambang di udara, muncul begitu saja dari penyulingan tepi jalan. Seketika ia ingat saat menyuling di Ketel Timba. Itu semacam unit khusus di luar urusan padi sawah.

Melewati Jamilu ia ingat tuaknya yang manis. Gara-gara ini dulu ia dihajar Dan Unit. Waktu itu ia dengan berani, atau nekad, minta izin membuat tuak.

’’Unit penyulingan kayu putih ada, tambak garam dan pembuatan gula aren juga sudah, kenapa tidak penyulingan tuak, Pak Komandan?” katanya berlagak pilon, jika bukan konyol. Benar saja, dengan menyebut ’’Pancasila dasar negara”, Dan Unit menghajar Kamto dengan popor senjata. Meski semua orang tahu sang komandan menyimpan minuman menyenangkan itu di posnya.

’’Ee, apa masih ada tuak di Jamilu?” tiba-tiba Kamto bertanya kepada sopir. Para penumpang menoleh kepadanya. Ia sedikit merasa malu. ’’Maksud saya, apa polisi tidak merazianya?”

Si sopir, anak muda yang ramah, menjawab, ’’Masih ada, Bapak, tapi tak seenak buatan orang-orang seangkatan Bapak, pasti! Anak-anak muda kini lebih suka cari emas ke Gunung Botak. Mereka beli minum dari Ambon. Rasanya, fuih, kayak kencing kuda!”

Semua orang tertawa.

’’Oya, razia? Gunung Botak saja tak mempan dirazia, Bapak, apalah artinya sebotol tuak,” anak muda itu kemudian menjawab pertanyaan Kamto, meski masygul.

Kamto mengangguk paham. Oto kini memasuki jalur lurus Marloso. Ada jalan ke kiri, menuju pantai Sanleko –tempat yang tadi ia lihat dari seberang teluk. Selain jadi tempat pendaratan tapol, Sanleko masuk unit khusus pembuatan garam.

Selepas Marloso, sebuah gerbang melengkung di tengah jalan bertulisan, ”Selamat Datang di Sentra Pertanian Buru.” Dulu, tentu saja gerbang itu tidak ada. Setelah lebih 12.000 tapol 65 dikerahkan membuka savana Waeapo menjadi sawah kurun waktu 1969-1979, lembah itu berubah menjadi sentra padi Maluku bahkan Indonesia Timur. Ketika para tapol dipulangkan, datang orangorang trans mengambil-alih hasil babat-alas itu. Mereka sama-sama didatangkan pemerintah. Hanya saja dengan status berbeda.

***

TANPA gerbang itu pun Kamto tahu sudah memasuki kawasan Waeapo. Bukit-bukit kayu putih berganti hamparan sawah cukup jadi pertanda. Kini ia berada di Savanajaya, unit khusus tapol yang berkeluarga. Apakah ia akan berhenti di sini, atau terus ke mako (markas komando)?

Di Savanajaya, ia kenal baik Yadiono, kawan satu unit tapi beda barak, yakni Unit III/Wanayasa. Di unit mereka dulu ada seorang laki-laki yang suka bercerita dan mendengar cerita. Itulah Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian dipindahkan ke mako dan diberi mesin ketik setelah kunjungan Jenderal Sumitro. Yadiono menyusul pindah, karena ia menguasai banyak alat musik dan ditugaskan menyiapkan acara kesenian.

Baca juga:  Kepala Siluman, Ular-ular Gelondongan, dan Naga Sisik Hitam...

Sementara di mako, Kamto mengenal Dasipin, kawan satu kapal saat berangkat tapi beda unit, yakni Unit I/Wanapura. Unit ini dikenal sebagai mako, sebab di situlah dulu komandan Inrehab atau Tefaat Pulau Buru bermarkas. Dasipin juga ditarik ke mako karena ahli gambar dan pertukangan.

Sukamto Resbowo tidak mendapat kesempatan itu. Meskipun semua orang tahu ia adalah penyair yang bahkan saat ditangkap di Malioboro, Oktober 1965, ia baru membacakan sajak-sajak di manuskripnya yang kedua. Manuskrip itu dirampas militer, dan hidupnya sendiri dirampas dengan mengirimnya ke Nusa Kambangan. Sehari sebelum HUT ke-24 RI –16 Agustus 1969– bersama 800 tahanan ia digiring ke Pelabuhan Sodong, Wijayapura. Dalam lambung kapal ADRI XV yang karat, mereka dibawa ke Laut Banda dan berlabuh di Teluk Kayeli.

Ia tahu Yadiono dan Dasipin memutuskan tak pulang ke Jawa pasca dibebaskan. Mereka menetap di Waeapo sebagaimana ada ratusan tapol memutuskan demikian.

Sesungguhnya Kamto ingin langsung ke mako, ke tempat Dasipin. Namun begitu ia lihat lapangan Savanajaya yang hijau royo-royo, dengan gedung keseniannya yang masih berdiri, darahnya bergolak. Ia tak tahan untuk tak berhenti, meskipun belum ia tahu persis di mana rumah Yadiono kini.

***

TAPI tak sulit bagi Kamto mencari rumah kawan senasib. Rumah Yadiono persis di samping gedung kesenian yang sudah dipugar, di tepi lapangan. Di situ terdapat tugu berukir nama-nama petinggi militer dengan aneka pangkat dan jabatan mereka. Itu dibuat saat peresmian Savanajaya sebagai desa tapol yang berkeluarga, 1972.

Yadiono dan Kamto berangkulan. Mata mereka berkaca-kaca. Angin santer padang savana membuat mereka segera masuk ke rumah, lalu berkisah tak kalah santer tentang Jawa dan Buru; seolah itu dua dunia yang hendak menyatu. Berpuluh tahun tidak berjumpa rasanya tak bakal tuntas kisah dengan sekali duduk. Oleh karenanya, mereka langsung ke inti. Usia tua mengisyaratkan untuk tak banyak basa-basi dan nostalgi.

’’Aku ingin mencari makam kawan kita, Abdul Latif. Lama sekali kuniatkan. Aku datang sendiri, pamit kepada anak-cucu. Aku merasa berdosa pada Latif. Bukan aku tapol-manopol, tapi karena keadaan. Kau tahu, pontong yang kami naiki dihantam banjir dan kami semua nyaris tenggelam…’’

’’Ya, semua orang unit tahu itu!” potong Yadiono. ’

’Tapi tak banyak yang tahu cerita sebenarnya….”

’’Apa yang sebenarnya terjadi?” Yadiono tertarik ingin tahu.

’’Saat kami menyeberang bersama Dan Unit, banjir besar menghantam pontong hingga talinya putus. Pontong seketika oleng, Dan Unit yang berat dengan pakaian seragam, tenggelam. Sia-sia menolongnya karena kami semua juga akan mati seandainya Latif tidak berhasil menangkap ujung tali. Latif mengikatkan ke pinggangnya, lalu berenang ke tepi. Ia berhasil mengikat tali itu di pohon salawaku sehingga pontong tertahan. Kami 12 orang selamat, termasuk tiga tonwal. Tapi Latif sendiri terkapar. Pinggangnya patah, perutnya penuh air. Ia meninggal sebelum dibawa ke klinik.”

Baca juga:  Amurang - Siklus Putus

’’Lalu?” Yadiono kian tertarik.

’’Setelah itu, kau sendiri tahu, aku dipanggil ke mako mewakili kawan-kawan yang selamat, menyampaikan kesaksian. Aku ingin sampaikan bahwa Dan Unit jatuh tenggelam, dan Latif meninggal setelah berjuang menyelamatkan penumpang lain. Tapi tiga orang tonwal mem-brifing kami. Jangan katakan Dan Unit tak bisa berenang! Katakan bahwa ia telah berusaha menyelamatkan Latif, tapi hanya berhasil 12 orang dengan taruhan nyawanya sendiri. Itulah yang terpaksa kusampaikan. Aku berdosa, dan ingin berziarah ke makam Latif di bawah pohon salawaku,” suara Kamto bergetar haru.

’’Kita bisa ke sana sekarang. Ajak Dasipin,” Yadiono bangkit bersiap.

Tak lama, berangkatlah dua orang tua itu menyusuri jalur Savanajaya-mako sepanjang 20 km. Yadiono masih kuat bersepeda motor karena setiap hari ia mengajar musik di SMA 3 Buru dengan berkendara sendirian.

Bersama Dasipin –perjumpaan mereka tak kalah menggetarkan– tiga mantan tapol itu pergi ke tepian Air Mandidih. Tapi makam Abdul Latif tak ditemukan. ’’Telah menyatu rata dengan tanah,” bisik Dasipin. ’’Ikhlaskan,” tambah Yadiono.

Pohon salawaku sebagai penanda juga sudah tak ada. Hanya di sana, dekat rumah pamali, tegak sebuah patung menghadap Sungai Waeapo yang bergelora. Lengkap dengan prasasti batu granit: Berkorban dengan kesatria. Dan Unit Pelda Sumirat. Prajurit Saptamargais menyelamatkan 12 jiwa pontong tenggelam Air Mandidih.

Sukamto Resbowo menarik napas panjang. Betapa tipis jarak pahlawan dan pecundang. Dan ia pun tahu sekarang –setelah lanjut berkeliling– ada sejumlah patung dan monumen didirikan di lembah kekal Waeapo, termasuk patung burung garuda ukuran besar di sekolah-sekolah. Tapi, tak satu pun patung bagi tapol, meski beribu-ribu mereka telah membuka savana menjadi sawah, irigasi, jalan raya dan kampung-kampung sentosa Bumi Bufolo! ***

Waeapo-Lansano, 2018

CATATAN:

Bufolo: Nama lain Pulau Buru
Corvee: Tugas khusus atau mendesak
Dan Teefat: Komandan Teefat
Dan Unit: Komandan Unit
Teefat: Tempat pemanfaatan, atau disebut juga inrehab (instalasi rehabilitasi) tahanan politik Pulau Buru
Tapol-manopol: Tapol yang menjadi kaki-tangan komandan/tonwal
Pontong: Rakit penyeberangan
Tonwal: Peleton pengawal
Rumah pamali: Rumah pemujaan penganut kepercayaan Pamali di Buru

 

Raudal Tanjung Banua. Lahir di Lansano, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Kini menetap di Jogjakarta. Bukunya, antara lain, Lain Parang Tak Berulu. dan Api Bawah Tanah. Sedangkan buku yang dalam proses terbit, Kota-Kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai.

[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 1 Juli 2018