Utang Darah Manusia Harimau

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Anak gadis Naneng menjerit dan terkencing-kencing. Suara-suara panci dan periuk ditabuh. Kampung riuh.

APA kau percaya karma? Ah, bukan. Ini bukan karma. Ini hanya kutukan. Kutukan temurun.

Di dusunku, kampung kecil yang menggeliat dan tumbuh di tepi aliran Sungai Lematang, tersembunyi oleh hutan belantara dan tak tahu kenapa diberi nama Tanah Abang, ada sebuah cerita yang melegenda. Mitos yang turun-temurun dirawat, bahkan kerap kali dijadikan dongeng pengantar tidur kanak-kanak.

Kata nenekku, setiap tahun kabisat akan ada satu anak keturunan kampung kami yang menanggung dosa leluhur ini.

’’Oh, tidak, tidak. Ini bukan dosa. Bukan,” nenekku tergesa menggeleng dan mengibas-kibaskan tangannya. ’’Bukan. Ini hanya sebuah penebusan. Cuma penebusan. Kau tahu, kan? Kita hanya mencicil sebuah utang. Utang darah,” desisnya. Menghirup udara yang mungkin terasa mencekik lehernya.

’’Tapi kenapa kita yang menanggungnya? Itu kan dosa nenek moyang.”

Nenek menggedik, lalu matanya menerawang jauh, melompati jarak dan waktu, bergegas menuju masa lalu.

***

KONON, sebelum orang-orang Tanah Abang beranak-pinak seperti rayap macam sekarang ini, kampung kami hanya diisi segelintir orang. ’’Tak lebih dari tiga ratus enam puluh enam orang,” tegas nenek.

Namun di sepanjang aliran Sungai Lematang sudah ada kampung-kampung lain seperti Siku, Dangku, Baturaja, Kuripan, Banuayu, Bulan, dan Belimbing, yang walau sangat jauh, tapi sudah berinteraksi dengan orang-orang Tanah Abang. Tersebab penduduk di kampung hulu itu dalam satu bulan pasti pernah menghilir, menuju Sungai Musi, untuk membeli bahan pokok di pusat Sriwijaya yang ada di Palembang.

’’Tidak heran bila ada satu-dua bujang asing yang bertandang ke kampung kita ini. Biasanya bujang-bujang itu tengah mencari pujaan hati. Yang nenek tak pernah tahu, bujang-bujang itu selalu hapal rumah mana saja yang punya anak gadis.’’

Tersebutlah, anak gadis Naneng tengah didekati oleh bujang asing. Awalnya tak ada yang peduli. Itu lumrah. Tapi orang-orang mulai bertanya ketika Naneng bercerita di kedai kopi, bila bujang yang mendekati anak gadisnya selalu datang usai matahari tenggelam dan pamit pulang setelah burung pungguk mulai berbunyi.

’’Pulang ke mana dia?” seseorang bertanya ketika Naneng usai mengutarakan keganjilan itu. Naneng mengangkat gelas kopinya, menghirup seperempat, meletakkan gelas kembali dan keningnya berkerut-kerut.

’’Itulah yang aku tak paham. Tak banyak bujang yang pulang larut dari rumah gadis. Biasanya sebelum magrib mereka sudah bergegas kembali ke perahu, takut kemalaman sampai rumah.’’

Orang-orang senyap dan hanyut dalam pikiran masing-masing, menduga-duga, menerka-terka dan muaranya tetap satu saja: pulang ke mana dia?

’’Coba kau tanya, pulang ke mana? Dan, suruhlah dia bertamu beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Naik perahu malam-malam dan gulita, berbahaya. Pekan silam, orang dusun hilir sana diterkam buaya saat sedang berak di sungai.’’

Seketika orang-orang bergidik. Berita itu sudah tersiar dan ramai dibicarakan.

’’Aku sungkan menanyakannya,” ujar Naneng, ’’Nanti dia salah menduga. Dikiranya aku sudah tak sabar dia melamar anak gadisku.’’

Beberapa orang tergelak. Wajah kecokelatan Naneng sedikit memerah. Dia tergesa menjangkau gelasnya kembali, meneguk kopinya hingga hampir seperempat.

’’Kenapa tak kau pinta anak gadismu saja yang bertanya?”

Baca juga:  Dongeng Boneka Nyai Djelema

Seketika dengungan setuju memenuhi kedai kopi. Itu usulan terbaik yang diberikan. Naneng pun sependapat. Akan lebih bijak bila bertanya kepada anak gadisnya. Dan nantinya anak gadisnya itu yang bertanya pada bujang itu.

Jadilah, sepulang dari kedai kopi dan melihat bujang asing itu perlahan turun dari tangga rumahnya, lalu menghilang dalam kegelapan malam, Naneng memanggil anak gadisnya.

’’Siapa bujang tadi? Ebak perhatikan sudah lebih dari dua pekan ini, selang dua-tiga malam dia datang bertandang.’’

Dalam remang cahaya lampu batok, Naneng dapat melihat pipi anak gadisnya perlahan memerah, lalu seperti tersadar jika bapaknya tengah menunggu jawaban darinya, anak gadis itu tergesa meluruskan punggung.

’’Namanya Raimau, Bak.’’

’’Heemmm,” Naneng berdehem sembari mengembuskan asap tembakau yang menggumpal dalam mulutnya. ’’Pulang ke mana dia?”

Anak gadisnya menggeleng. ’’Tak tahu, Bak.’’

’’Tak kau tanya?’’

’’Tidak.” Ada riapan air di matanya. Cemas bertalu. Dia khawatir ebak-nya tak menyukai bujang itu. Padahal dia sendiri sudah kadung jatuh cinta.

’’Cobalah kau tanya.’’

’’Untuk apa, Bak?”

’’Biar kita tahu,” Naneng mulai gusar, ’’Tak kau perhatikan kalau bujangmu itu selalu bertandang jelang malam dan pulang hampir larut. Kau tak takut kalau dia terjatuh dari perahu atau dia diterkam buaya.’’

Seketika anak gadis Naneng mengembuskan napas lega, tapi beberapa detik berikutnya menelan ludah pahit. Dia baru paham ke mana ucapan bapaknya. Dan malam itu dia tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus dihantui pertanyaan bapaknya. Dia tak sabar menunggu pagi, lalu matahari meninggi dan pada akhirnya tenggelam lagi. Saat itulah, pujaan hatinya datang bertandang.

***

BEGITULAH, ketika matahari tergelincir di barat dusun, anak gadisnya Naneng sudah selesai memasak makan malam, mandi, berdandan dan menunggu dengan pertanyaan yang mendesak-desak di hatinya. Tanya yang membuatnya seperti duduk di atas bara.

Jadi tak heran bila anak gadisnya Naneng senang bukan kepalang, ketika jelang gelap menyungkup kampung, bujang yang dia tunggu muncul di tapak tangga rumah orang tuanya. Lalu, perlahan bujang itu menaiki anak tangga dan seperti biasa, mereka akan memadu kasih di teras rumah yang temaram.

’’Bang,” panggil anak gadis Naneng, ’’Aku hendak bertanya satu hal. Boleh tak?”

’’Boleh,” sahut bujang bernama Raimau itu. Dia selalu duduk di pojok teras, di bagian ini ada lubang tak lebih dari 10×10 sentimeter. Biasanya dibuat untuk membuang kotoran yang disapu di teras.

’’Abang pulang ke manakah?” anak gadis Naneng bertanya dengan suara lirih. Dia agak khawatir, kalau-kalau bujang itu tersinggung dan tak hendak lagi menemuinya.

’’Kenapa kau bertanya begitu?’’ si bujang balik bertanya.

’’Aku tiba-tiba terpikir, apa Abang tak takut pulang malam naik perahu? Tak Abang dengarkah kalau sepekan silam ada yang diterkam buaya?’’

Bujang itu tersenyum, membuat bibirnya tertarik dan ceruk di bawah hidung yang memang samar, semakin tak ada. ’’Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku?’’

Gadisnya Naneng tergesa mengangguk.

’’Tak usah takut. Aku tak pulang naik perahu.’’

’’Terus?” anak gadis Naneng justru semakin bingung.

’’Dusunku dekat Tanah Abang. Desa Raja. Kau pernah dengar itu. Jadi aku jalan kaki saja, lewat pinggir sungai.’’

Baca juga:  Bolu Delapan Jam

Desa Raja? Pikiran anak gadis Naneng seketika berputar. Nama yang asing. Namun dia tak mempedulikannya lagi. Toh, dia sudah punya jawaban bila bapaknya kembali bertanya ihwal keganjilan yang dilakukan bujang pujaan hatinya itu.

Ketika bujang itu pulang seperti biasanya, Naneng yang sudah menunggu segera memanggil anak gadisnya itu.

’’Pulang ke mana dia?” tanyanya, tak sabar.

’’Ke Dusun Raja, Bak. Dia tak naik perahu, tapi jalan kaki lewat pinggir sungai.’’

Seketika Naneng melipat keningnya, bingung.

“Dusun Raja?” matanya menerawang. Berpikir keras, mengingat-ingat, adakah dusun itu di hilir atau di hulu Tanah Abang. Dan hasilnya nihil. Dia tak menemukannya. Nama dusun itu terasa asing sekali.

***

SAAT teman-temannya di kedai kopi bertanya, Naneng menjawab seperti yang diceritakan anak gadisnya. Dan tak ada satu pun orang di kedai kopi itu tahu, di mana dusun bernama Raja itu. Namanya asing. Setiap orang hafal nama dusun-dusun di hulu ataupun di hilir Tanah Abang. Tak ada nama Desa Raja, yang ada Desa Baturaja. Namun saat anak gadis Naneng bertanya lagi pada bujang itu, apa maksudnya Baturaja, bujang itu membantah. Dia mengatakan nama desanya Desa Raja.

’’Nanti saat kita kawin, kau akan tahu dusunku.’’ Dan cinta memabukkan gadis itu.

’’Sepertinya agak aneh. Kau mungkin perlu mengintip sesekali anak gadis dan bujang itu. Apa yang mereka obrolkan.’’

Setelah menimbang-nimbang saran itu, Naneng melakukannya. Saat bujang itu datang bertandang, dia pura-pura pamit ke kedai kopi. Sementara istrinya menemani anak-anaknya yang masih kecil untuk tidur. Di tengah jalan, Naneng berbalik arah. Dia mengendapendap di bawah rumah dan berniat mencuri dengar.

Namun dia agak terkejut ketika berada di bawah teras rumahnya yang gulita. Dari lubang teras di pojok, dia melihat sesuatu yang panjang dan bergelung menjuntai. Di dekatinya benda itu. Darahnya berdesir melihat benda itu ternyata sebuah ekor hewan dengan bulu-bulu warna emas dan hitam berbelang-belang.

Naneng teringat sesuatu. Dia mengendap-endap kembali, ke arah bawah dapur rumahnya, tempat istrinya menanak air minum. Diambilnya abu bakar yang sudah dingin dan dihamburkannya benda itu di telapak tangga rumahnya. Lalu dia gegas kembali ke kedai kopi. Berbaur dan mengubur cemas.

Paginya, Naneng tergesa melihat telapak tangga rumahnya. Dan darahnya tersirap. Dia melihat bekas tapak kaki harimau di sana. Bukan tapak kaki manusia. Namun Naneng tak kuasa menceritakan itu pada anak gadisnya, tergesa dia menghapus jejak itu.

Dua harian dia gelisah. Karena tak tahan, diceritakannya temuan aneh itu pada beberapa teman minum kopinya. Mereka pucat pasi.

’’Anak gadismu diincar harimau jadi-jadian,” desis mereka. Bulu kuduk Naneng meremang. Dia tak dapat membayangkan bila anak gadisnya dimakan makhluk menyeramkan itu. Memang masih banyak harimau di hutan dekat dusun mereka. Namun Naneng tak pernah menduga jika ada siluman harimau di sana. Mungkin saja nama desa yang disebut bujang itu adalah nama desa siluman harimau.

’’Kita harus mengusirnya. Jika perlu membunuhnya. Kalau tidak, anak gadismu yang jadi incaran,” saran teman-teman minum kopinya dan Naneng hanya pasrah. Siang itu mereka menyusun siasat untuk menghalau harimau jadi-jadian itu.

Baca juga:  Malam yang Menelan Ayah

Malamnya, selang dua malam sejak temuan Naneng itu, seperti yang direncanakan, orang-orang itu mengintai dalam gelap. Saat waktu dirasakan pas, mereka perlahan mendekat. Semua terkesiap saat melihat sebuah ekor menjuntai dari lubang teras rumah Naneng. Itu benar-benar ekor harimau.

Seketika tiga orang menarik kuat-kuat ekor itu. Terdengar auman yang memekakkan telinga. Ayam-ayam yang terkantuk dalam kandang langsung berloncatan dan berkotek riuh. Suara auman harimau itu membahana, membangunkan orang-orang. Anak gadis Naneng menjerit dan terkencingkencing. Suara-suara panci dan periuk ditabuh. Kampung riuh.

Harimau jadi-jadian itu melompat dari teras. Orang-orang yang sudah mengepung segera mengejar. Ada yang melempar tombak, menghalau. Harimau itu terdesak, di antara puluhan laki-laki kampung yang ternyata telah siaga. Mata birunya berkilat-kilat terkena cahaya obor. Merasa dirinya terdesak, harimau jadi-jadian itu segera berubah wujud menjadi manusia kembali. Seorang bujang berwajah rupawan.

’’Aku tak berniat jahat,” desisnya, bergetar. ’’Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Saat pertama kali melihatnya. Aku ingin menikahinya. Aku tak akan melukainya.’’

’’Kau siluman! Dia manusia!” teriak orang-orang.

’’Tapi kami saling mencintai,” dia memelas.

’’Siluman dan manusia tak bisa menyatu.’’

’’Kumohon…,” dia tak menyerah. ’’Kami akan punya anak…”

’’Bunuh!” teriak seseorang, disambut riuh rendah yang lain. Seketika orang-orang menyerang. Karena terdesak, harimau jadi-jadian itu kembali berubah wujud. Dia mencakar ke sana ke mari. Orang-orang berjeritan. Melihat cela, dia berlari, menerobos malam yang pekat, lalu lenyap di dalam hutan belantara.

***

’’BAGAIMANA nasib anak gadis Naneng, Nek? Apa dia tahu kalau pacarnya seekor siluman harimau?”

’’Dia tahu dan syok,” nenek menghirup napas, dalam. ’’Harimau siluman itu bisa diusir, tapi masalahnya tak selesai.’’

’’Kenapa?’’

’’Anak gadis Naneng hamil. Naneng dan orang-orang yang marah mengurungnya. Dia mati saat beranak, pun anaknya yang berbulu mirip harimau dibiarkan mati kelaparan. Perbuatan kejam ini yang membuat siluman harimau itu marah.’’

’’Jadi dia mengirimkan kutukan?’’

Nenek mengangguk. ’’Setiap tahun kabisat akan lahir bayi yang punya ciri-ciri manusia harimau. Bawah hidungnya tak berbelah, punya ekor walau pendek, jari-jari harimau dan berbulu. Bila sekali saja anak itu dibawa ke hutan, dia akan lenyap tanpa jejak untuk selama-lamanya. Konon, katanya, dia akan diambil dan dibawa ke desa siluman harimau.’’

Aku menelan ludah. Tanpa kusadari, aku meraba daging di bawah batang hidungku, memperhatikan bulu tebal yang memenuhi lengan dan aku menelan ludah saat menyentuh ekor pendek yang ada di bokongku. Mataku beriap memandang nenek. Dia berusaha tersenyum, walau kurasa sangat kecut. ***

Pali, 2018

GUNTUR ALAM Buku kumpulan cerpen gotiknya berjudul ”Magi Perempuan dan Malam Kunangkunang” (Gramedia Pustaka Utama, 2015). Saat ini menetap di Pali.

 

[1] Disalin dari karya Guntur Alam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 29 Juli 2018