Walat Malioboro

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SEMUA tempat keramat, warisan peninggalan, punya walat. Turun temurun, tanpa putus. Setiap generasi mengalami, mewarisi. Walat seperti perangkap. Penjebak para pelanggar. Kelewat garis batas, demarkasi maya yang teramat mitologis. Tak ada tapi dipercaya. Sekurangnya, demikianlah yang terjadi dalam perasaan Wanadi, tukang becak yang lebih 50 tahun menguras keringat di seputaran Malioboro. Ialah ketika Wanadi tiba-tiba tidak bisa kencing berhari-hari.

Selepas Gestok, 1965, Wanadi masuk lingkaran satu Malioboro. Usia 15 tahun sudah mengayuh becak. Mula-mula tidak mencari penumpang karena ia bekerja pada juragan arang. Tugasnya, langsir arang kayu dari Pasar Serangan ke Beringharjo. Sejak itu, ia sudah kena larangan tak tertulis, kencing di tempat terbuka. Termasuk, seruak gang sempit, parit tepi jalanan, atau sebalik rimbun pohonan. Dilarang kencing sembarangan.

Bukan kali ini saja Wanadi kena walat Malioboro. Sebabnya, Wanadi berulang-ulang melakukan pelanggaran. Ia kencing di lokasi terdekat sesaat setelah kebelet. Bahkan, ketika sedang mengayuh becak mengantar penumpang. Begitu kebelet, becak ia hentikan dan enteng saja dia menepi ke trotoar, buang air. Herannya, penumpang tidak protes.

Baca juga:  Suatu Pagi di Dermaga

Karena walat yang menimpanya selalu ringan-ringan saja, Wanadi berani melanggar. Malah, kangen rasanya kalau lama tak kena walat. Wanadi masuk angin, ia atasi dengan kerokan. Kaki pegel, ia atasi pijat urut. Batuk pilek, cukup minum kecap dan air jeruk nipis. Perut kembung, minum jamu cekok. Badan panas dingin, kompres rendaman daun dadap srep. Setiap kali Wanadi kencing sembarangan di kawasan Malioboro, tanpa ganti hari ia kena walat. Dan, Wanadi selalu lolos dari beban penderitaan akibat melanggar larangan. “Ah, gampang. Dhemit Malioboro sudah lama kenal aku. Sudah ngepren. Beri walat sekaligus resep penyembuhnya,” sesumbar Wanadi kepada kawan-kawan sesama pembecak.

Walat kali ini tidak sembarangan. Tidak boleh dianggap entheng. Sudah 10 hari Wanadi tidak bisa kencing. Wanadi sudah minum jamu pelancar turas. Minum soda gembira. Minum beer. Semua mentok dan hanya menambah beban kantong kemihnya. Bahkan, hari ini perutnya terasa kembung dan beban berat menekan ke arah dada. Napasnya teras pendek, terengah-engah. Gara-garanya, sebelas hari lalu Wanadi kencing berulang-ulang ke lubang goronggorong yang sedang dibongkar akibat renovasi. Pagi, ia kencing di situ, siang juga begitu. Sore dan malamnya pun ia gelotorkan air perutnya ke gorong-gorong terbongkar. Sehari setelah itu, pipa ledeng di alat vitalnya, mampet. Tidak bisa kencing meski kebelet.

Baca juga:  Pohon di Atas Makam

Mula-mula ia abaikan. Saat mulai tersiksa, ia atasi dengan resep nalurinya. Minum jamu, minum air soda, minum beer, dan sambat mengeluh kepada dhemit Malioboro. Bahkan, Wanadi sudah minta maaf dan ampun dengan membakar kemenyan, menabur kembang. “Kali ini aku tobat. Kuwalat tenan. Jinguk, tobat tobat … soto babat campur kawat!”

Wanadi merenung. Dulu, ketika memulai membecak sudah dipesan para seniornya untuk tidak kencing sembarangan di kawasan Malioboro. Ia merasa telah melanggarnya sekaligus menganggap enteng akibat walat yang diterimanya. Kali ini, walat yang menimpanya teramat berat dan menyiksa. Mestinya Wanadi periksa ke Puskesmas. Tapi, tidak. Wanadi memilih samadi tengah malam di dekat bekas tonggak pohon ringin selatan Pasar Beringharjo.

Seperti mendapat bisikan gaib, Wanadi melangkahkan kaki ke arah selatan. Ia mengikuti saja perintah gaib itu. Terus berjalan menggudu tanpa banyak pikiran sampai perempatan Kantor Pos, berbelok ke kiri lalu menyebarang ke arah Kantor Bank Indonesia. Seperti ada yang menyuruh, ia sampai di bekas pekarangan parkir yang kini terdapat bangunan bawah tanah, beratap indah dan ada pintu lorong buat memasukinya. Wanadi memandanginya saja, lalu yakin bahwa itu tempat kencing. Sayang, tempat kecing megah itu tutup, tidak membuka pelayanan. Wanadi seperti ada yang menyuruh, segera bersimpuh di depan pintu lorong menurun, menyembah berulang-ulang sembari membaca mantra pertobatan.

Baca juga:  Raden Bekel Tejomantri

Serta merta pula, pipa ledeng di alat vitalnya terasa terenggang dan deras mengucurkan air seni sepenuh isi perutnya. Wanadi kecing terduduk di situ, berjamjam lamanya. Wanadi berkubang kencing sendiri. ❑ – g

Yogyakarta, Maret 2018

 

[1] Disalin dari karya Purwadmadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 15 Juli 2018