Air Mata Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 28 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

LAKI-LAKI itu pemah berkata padaku bahwa dirinya tidak akan bisa menangis lagi. Sebab pasokan air matanya telah habis. Dalam hidupnya di kemudian hari nanti hanya akan ada bahagia. la tampak begitu yakin saat mengatakan hal tersebut.

BAGAIMANA  caramu menghabiskan air mata itu?” ta­nyaku padanya su­atu ketika. Laki-laki itu terdiam. Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah mengalihkan pembicaraan. Kalau sudah begini, jangan harap per­tanyaanku barusan akan mendapat jawaban. lni bukan kali pertama aku menanyakan hal tersebut. Akan tetapi, hingga detik ini hal tersebut masih berupa tanda tanya.

Sudah lebih dari seribu malam aku menjalin kasih dengan laki-laki itu. Banyak hal yang telah kuke­tahui mengenai dirinya. Begitupun sebaliknya. Sejauh ini tidak ada hal yang aku sembunyikan. Tetapi tidak dengan laki-laki itu. la masih menyembunyikan beberapa hal. Tentu saja aku ingin mengetahui hal-hal yang disembunyikannya. Namun, aku tidak ingin menge­tahuinya dengan cara memaksa. Terakhir kali aku memaksanya menceritakan hal-hal tersebut, kami bertengkar hebat Bahkan per­pisahan nyaris menghampiri. Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak mendewakan rasa pe­nasaranku. Biarlah aku mengetahui segala tentangnya seiring dengan berjalannya waktu.

Ada satu hal yang menjadi kebi­asaan bagi laki-laki itu. Yaitu, ke manapun kami pergi dalam per­jalanan pulang ia selalu membeli bakso bakar. Mulanya aku mengira bahwa lelakiku ini pencinta berat bakso bakar. Namun, perkiraanku terpatahkan ketika aku mengetahui bahwa ia tidak terlalu menyukai je­nis makanan yang satu ini. Lalu mengapa ia selalu membelinya se­tiap kami pulang dari suatu tem­pat?

Saat ini kami saja pulang dari acara pernikahan putri bos di tem­pat lelakiku itu bekerja. Dalam per­jalanan pulang ia melihat seorang pedagang bakso bakar yang se­dang terkantuk-kantuk menunggu pembeli. Tanpa pikir panjang le­lakiku itu segera memarkirkan sepeda motomya di dekat gerobak pedagang bakso bakar tersebut dan memesan dua puluh tusuk bakso bakar. Masing-masing kami menghabiskan sepuluh tusuk. Seu­sai menyantap tusukan terakhir lelakiku itu mengajakku kembali melanjutkan perjalanan pulang se­bab bulan dan bintang-bintang telah diselimuti oleh mega men dung.

Baca juga:  Si Dia

Aku mengenal lelakiku itu ketika kami sama-sama duduk di bangku kuliah. Perpustakaan adalah saksi bisu atas pertemuan pertama kami. Bermula dari kegemaran yang sama yaitu membaca buku, perke­nalan kami berlanjut Seiring waktu berlalu kami lebih sering meng­habiskan waktu bersama dan tanpasadar perasaan yang disebut-sebut sebagai anugerah terindah itu mulai tumbuh.

Sejauh ini, banyak hal yang telah kami lalui bersama. Kami pernah terjatuh dalam duka. Namun lelakiku itu selalu tahu bagaimana cara mengubah duka menjadi ba­ hagia. Lelakiku itu juga menga­jariku bahwa dalam hidup kita tidak perlu memandang ke masa lalu. Sebab baginya, masa lalu hanya akan menggali kembali luka.

“Sayang, pasti masa lalu yang ka­mu lewati berat sekali,ya?” tanyaku ketika kami merayakan hari dimana lelakiku itu akhirnya diterima bekerja di sebuah bank yang ada di kota ini. Kami mer­ayakannya dengan 50 tusuk bakso bakar dan dua gelas es teh di be­randa rumahku.

“Ya, begitulah.” Tiba-tiba wajah lelakiku itu berubah muram. “Ngomong-ngomong soal masa lalu, aku jadi teringat ayahku.”

Lelakiku itu pernah bercerita bahwa ayahnya sudah lama meninggal dunia. Sakit jantung adalah penyebabnya. Selain ayah­nya, ia tidak punya siapa-siapa lagi. Tetapi hal tersebut tidak membuat semangat hidupnya pupus.

“Bukankah sekarang aku telah memilikimu?” ucapnya pada waktu itu. Sebuah ucapan yang mampu membuat rona merah jambu menghias kedua pipiku. “Malam itu aku dan ayah menghabiskan air mata kami hingga tetesan terakhir. Sehingga aku dan ayah tidak punya air mata lagi untuk diteteskan. Dan kami tidak bisa menangis lagi.”

“Bahkan ketika ayahmu mening­gal,kamu tetap tidak meneteskan air mata?”

Lelakiku itu menggeleng.

**

“MALAM ini aku ingin mengajak­mu ke suatu tempat,” ucap lelakiku sambil menoleh menatapku seje­nak yang berada di atas boncengan sepeda motor yang dikendarainya.

Saat ini kami sedang dalam per­ jalanan pulang menuju rumahku sehabis membeli kebutuhan bu­lanan di supermarket terdekat. Di atas langit sana, bulan dan bintang­-bintang berlomba-lomba mengusir pekatnya malam.

Baca juga:  Dongeng Setelah Tidur

“Ke mana? Ke gerobak tukang bakso bakar?”

Lelakiku itu tertawa kecil.

“Bukan. Lihat saja nanti.”

Sepeda motor itu melaju semakin cepat memasuki daerah yang semakin sunyi dan gelap. Suasana di tempat ini terasa menakutkan. Pohon-pohon besar berbaris di ruas kanan dan kiri jalan. Tiada penerangan lain selain lampu depan sepeda motor yang kami kendarai. Suara burung hantu bersahut-sahutan bagai irama ke­matian.

“Kita mau ke mana? Aku takut,” ucapku dengan suara gemetar.

“Jangan takut. Aku di sini.” Sepeda motor itu berhenti di se­buah pemakaman. Lelakiku itu menyuruhku turun dari atas sepe­da motornya. Dalam gelapnya malam, kami berjalan diantara makam-makam tua. Aku memegang tangannya dengan erat. Berharap rasa takut yang kurasakan menguap begitu saja. Dan nyatanya lelakiku itu selalu mempunyai cara yang tidak pemah tidak aku sukai untuk mene­nangkanku.

“Selama aku di sini tidak akan ada yang menyakitimu meskipun mayat-mayat dalam kuburan ini bangkit,” ucapnya sambil mengelus rambut  ikalku. Sempat-sempatnya ia merayuku disaat seperti ini.

Langkah kami terhenti di depan sebuah makam. Lelakiku itu mele­paskan genggamannya padaku lalu jongkok di hadapan makam terse­but. Kesedihan menguar begitu sa­ja di wajahnya. Tidak pernah se­belumnya aku melihat wajah lelakiku itu sesedih ini. Aku ikut jongkok di sebelahnya dan mem­ baca nama seorang laki-laki yang terpahat di batu nisan makam tersebut beserta tanggal lahir dan terpahat di batu nisan makam tersebut beserta tanggal lahir dan wafatnya.

“Apakah ini makam ayahmu?” tanyaku.

Lelakiku itu mengangguk. Dan tanpa kuminta cerita tentang air mata terakhir itu mengalir begitu saja dari bibirnya. Bahwasanya du­lu lelaki itu dan ayahnya diting­galkan begitu saja oleh ibunya se­bab roda dunia yang semula me­nempatkan mereka di posisi atas berganti menjadi bawah. lbunya tidak bisa menerima keadaan tersebut sehingga wanita itu lebih memilih pergi bersama laki-laki lain. Untuk menyambung hidup, ayah dari lelakiku itu beralih perofesi menjadi seorang pedagang bakso bakar.

Baca juga:  Gerutu Hamba Negeri - Pidana Tak Kasat Mata - Pada Tuhan Tinggal Percaya - Bukan Agar Negeri Ber-mandi-ri - Mungkin Azab Adalah Jawab

Di suatu malam, ketika bakso bakar dagangan ayah dari lelakiku itu belum terjual walau satu tusukpun seorang preman datang mengobrak-abrik gerobak dagang­an mereka. Kesal karena tidak berhasil merampas uang hasil dagangan, preman tersebut menusukkan belati ke perut ayah dari lelakiku itu hingga meregang nyawa. Malam itu, mereka meng­habiskan air mata masing-masing dan berikrar bahwa sepahit apa pun hidup tidak akan ada celah ba­gi air mata untuk singgah di wajah mereka.

Malam semakin larut. Kami memutuskan untuk segera pulang. Terlebih sepertinya mega men­dung telah berkumpul menjadi satu di atas langit sana. Di sepanjang perjalanan pulang kami asyik ber­cerita mengenai rencana pemikah­an yang akan dilangsungkan bulan depan. Ah, akhirnya sesuatu yang selalu ku semogakan dalam doa akan segera menjadi nyata.

Tanpa sadar, sebuah bus berke­cepatan tinggi melaju ke arah kami. Lelakiku itu berusaha sebisa mungkin menghindari bus terse­but. Namun, sepertinya memang telah tiba saatnya maut menjem­put. Lebih tepatnya menjemputku.

Tabrakan yang terjadi antara sepeda motor yang kami kendarai dengan bus tersebut membuatku tubuhku terlempar dan jatuh menghantan trotoar. Rasa sakit yang luar biasa kurasakan di seku­jur tubuh. Rasanya seperti dipukul bertubi-tubidengan batu berukur­an besar. Dapat kurasakan darah mengalir deras dari kepalaku.

“Bertahanlah Kirana!” Sayup­ sayup kulihat lelakiku itu berteriak sambil menyandarkan kepalaku di pangkuannya.

Tiba-tiba aku merasa kesulitan bernapas. Dadaku sesak. Rasa sakit yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Sebelum akhirnya aku menu­tup kedua mataku dan memasuki dunia yang serba gelap aku sempat melihat air mata mengalir dari pelupuk mata lelakiku itu.

“Kamu berbohong soal air mata terakhir itu, sayang.” ***

 

[1] Disalin dari karya Feby Farayola
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 26 Agustus 2018