Bulan Memancar

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Di luar, bulan memancar. Namun di sudut beranda, remang saja. Jame dan Latifa selalu mematikan lampu ketika mereka duduk-duduk di sana. Kalau saja daun-daun pohon tanjung di sisi pagar halaman itu tidak terlalu lebat, mungkin cahaya bulan akan lebih mudah menggambarkan wajah mereka.

“Mungkin kita memang harus memelihara kucing,” ujar Jame.

“Mengapa tidak dari dulu, Jame? Kita bisa memilih jenis yang kita suka,” jawab Latifa.

Jame membenamkan puntung rokoknya ke dalam asbak. Setelahnya, setenggak kopi hangat mengaliri tenggorokannya.

“Aku khawatir dengan alergimu. Menurutmu, apa ada jenis kucing yang tidak mudah merontokkan bulu-bulunya?”

Latifa bergumam tidak jelas. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya yang kurus dan panjang ke dahinya. “Aku tahu,” ujarnya kemudian. Namun suara Latifa tertahan oleh dering sebuah ponsel.

Jame mengangkat ponsel itu dan segera terlibat dalam pembicaraan dengan seseorang. Di ujung pembicaraan, Jame manggut-manggut seraya menoleh ke arah Latifa. “Ibu,” ujarnya lirih, seraya menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

“Ada apa?” tanya Latifa selepas Jame menaruh ponselnya di atas meja.

“Kucing.”

Latifa menajamkan matanya ke arah Jame. Jame tampak sedih.

“Kucing kesayangan ibu hilang. Sudah berhari-hari. Ibu begitu sedih sepertinya.”

“Joan hilang?” tanya Latifa seolah tidak percaya.

Jame hanya mengangguk. Dalam suatu kesempatan, Latifa pernah bertemu dengan Joan. Waktu itu liburan panjang, Jame mengajaknya pulang ke kampung halaman. Nyaris selama seminggu, Latifa lah yang paling rajin mengurusi kucing itu, meskipun sembari mencemaskan alerginya. Tapi seekor javanese berekor panjang ternyata memang tidak menyumbangkan banyak bulu rontoknya.

“Lima tahun belakangan, ibu mulai suka memelihara kucing. Bukan hanya Joan. Masih ada dua atau tiga yang lainnya, dan ibu selalu sedih jika terjadi sesuatu yang kurang baik pada kucing-kucing itu.”

“Mungkin ibu butuh lebih banyak teman di rumah,” tanggap Latifa.

Jame terdiam sejenak. Sejak ia menikah dengan Latifa dan harus tinggal jauh dari kota kelahirannya, ibunya hanya tinggal bersama ayahnya. Ayahnya adalah seorang pensiunan tentara yang lebih suka menghabiskan hari-harinya dengan pergi memancing atau berkebun.

“Mungkin rasanya seperti kita,” ujar Jame lirih.

Kalimat pendek Jame yang biasa-biasa saja itu segera membekas di hati Latifa. Bagaimanapun Jame telah mengatakan sesuatu yang menggambarkan suasana hatinya malam itu.

Bulan memancar dan langit sedang bersih di malam purnama itu. Tapi di sudut beranda, remang saja. Cahaya lampu dari ruang tamu hanya segaris tipis cercah yang menerobos lewat gorden jendela yang sedikit terkuak. Cahaya bulan sepertinya belum sanggup menerobos kelebatan daun-daun pohon tanjung dan atap beranda yang cukup rendah.

Baca juga:  Kenangan Tukang Kayu

“Jadi, jenis apa yang menurutmu tidak terlalu berisiko dengan alergimu?”

Latifa menyarankan seekor russian blue. Tetapi boleh juga jika mendapatkan seekor javanese muda yang manis dan berwarna coklat.

“Seperti kucing kesayangan ibu,” tegas Latifa.

Jame setuju saja dengan saran Latifa. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Latifa karena merasa tidak tahu sama sekali soal kucing.

“Bisa kubayangkan, bagaimana senangnya Hilda kalau kita benar-benar memiliki seekor kucing. Kau ingat, kan? Sewaktu anak itu merengek, tidak mau pulang dari rumah tetangga gara-gara seekor kucing. Padahal hanya kucing kampung biasa.”

“Iya, tentu aku ingat. Tapi sepertinya, anak itu tidak akan kemari lagi.”

“Ada apa? Beberapa hari ini aku tidak melihatnya bersamamu.”

Latifa berusaha tersenyum. Selepas menikmati kopinya beberapa sesapan, ia menceritakan sesuatu dengan suara yang berat.

“Dari yang bisa kutangkap, ibunya tidak pernah rela kalau anak itu nantinya akan lebih dekat dengan kita ketimbang dengan orang tuanya sendiri.”

“Apa itu bukan kekhawatiran yang berlebihan?”

“Aku tidak tahu, Jame. Kita tidak akan pernah tahu jenis perasaan macam apa itu, sebelum kita benar-benar menjadi orang tua,” jawab Latifa, sebelum kemudian beranjak ke peraduan.

Bulan MemancarBerikutnya hening. Jame masih bertahan di beranda dan kembali mem bakar rokoknya. Belakangan, Jame dan Latifa selalu tidur larut. Mereka sering menghabiskan waktu di sisi kota untuk memandangi pantai hingga dini hari atau mengunjungi kafe yang memainkan lagu-lagu The Beatles. Tapi malam itu mereka memilih diam di rumah.

Bosan di beranda, Jame melangkah keluar membuka pintu pagar halaman. Gang di depan rumah itu sunyi. Cahaya bulan memantulkan bayangan tubuh Jame ke permukaan aspal yang kasar. Jame iseng meman dangi bulan yang telah condong ke barat. Ia teringat Hilda, bocah perempuan lima tahunan, yang sering berada di rumahnya. Hilda adalah anak kedua dari Rahma, adik iparnya. Dalam beberapa kesempatan, Jame pernah menceritakan dongeng tentang peri bulan kepada bocah itu.

“Hilda,” bisik Jame tiba-tiba.

***

Jame baru saja menuntaskan buang hajatnya, ketika mendengar sesuatu yang mencurigakan di toilet sekolah. Jame mendekat ke sumber suara yang berasal dari sebuah kamar mandi yang di pintunya ditempel sebuah permakluman: “pintu rusak, jangan dibuka!” Saat Jame merapatkan telinganya di pintu, suara itu semakin jelas: suara-suara seperti orang mendesah. Terdorong oleh rasa penasaran, Jame pun memutar gagang pintu itu.

Baca juga:  Daun-Daun Beluntas

Tak dinyana, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan posisi miring dan nyaris roboh karena salah satu engselnya tidak berfungsi. Jame nyaris tidak percaya ketika melihat sosok yang dikenalnya sedang berdiri dengan celana melorot. Sosok itu pun segera menarik celananya ke atas. Antara gugup, kaget, malu, dan murka karena aibnya terbuka, dengan kalapnya Efendi melayangkan tendangan beruntun yang teramat keras ke daerah vital teman sekelasnya itu. Maka dalam sekejap, pandangan mata Jame menjadi gelap. Sebuah rasa sakit yang teramat dahsyat membuat dunia di sekitar Jame berhenti seketika. Lantas, dengan tubuh yang masih gemetar dan rasa malu yang tidak bisa ditanggungnya, Efendi pun melarikan diri dari tempat kejadian.

Tubuh Jame yang tersungkur tidak berdaya ditemukan oleh seorang petugas cleaning service yang hendak menyelesaikan tugas hariannya, tidak lama kemudian. Petugas itu menemukan selembar foto, seorang perempuan dengan pose yang menakjubkan, yang selanjutnya dikenali sebagai seorang bintang film dewasa. Selembar foto itu telah melayang jatuh dari tangan Efendi ketika pintu kamar mandi yang rusak itu terbuka untuk pertama kalinya oleh tangan Jame.

Setelah peristiwa itu, Jame hanya bisa menanggung kegetiran: ia kehilangan salah satu testisnya. Sementara, satu yang lainnya nyaris tidak berfungsi dan harus ditangani lebih lanjut oleh seorang dokter. Di kemudian hari, di usianya yang matang, ketika Jame bertemu Latifa, ia menceritakan semuanya. Latifa sempat menghilang beberapa hari, namun kembali muncul di hadapan Jame dan mengatakan sesuatu yang membuat hubungan mereka berujung di pelaminan.

“Kita harus percaya pada keajaiban Tuhan,” ujar Latifa saat itu. “Setidaknya, kita akan memiliki seorang anak, kan?” Jame berdoa semoga keajaiban benar-benar akan menghampiri mereka berdua.

***

“Kucing itu tidak akan pernah kembali,” ujar Latifa.

Jame berusaha menanggapi dengan tenang. “Menurutku, kita akan segera mendapatkan penggantinya.”

Itu empat purnama berikutnya sejak mereka merencanakan untuk memelihara kucing. Mereka telah mendapatkan seekor kucing dari jenis russian blue. Latifa memberi nama kucing itu Russi. Russi adalah seekor kucing jantan yang manis dan elegan dan menjadi sedemikian dekat dengan Latifa. Jika Jame pergi ke kantor atau sedang keluar kota, Latifa tidak terlalu merasa kesepian lagi untuk beberapa waktu. Tapi pada sebuah sore yang hujan, kucing itu menghilang dan tidak pernah muncul lagi pada hari-hari berikutnya.

Baca juga:  P a k a r e n a

Latifa dan Jame telah melakukan segala upaya. Mereka menempelkan poster di tiang-tiang listrik di semua gang di kompleks perumahan itu. Poster itu mereka cetak sendiri di atas sebuah kertas HVS berukuran A4. Dengan perasaan sedih, Latifa telah memilih sebuah foto seekor kucing, Russi, yang tengah berpose di depan sebuah laptop. Di atas foto itu, Latifa menuliskan sebuah kalimat singkat dengan huruf-huruf kapital berjenis tebal: “RUSSI TELAH PERGI”. Tidak lupa, Latifa juga mencantumkan nomor yang bisa dihubungi jika ada seseorang yang mungkin pernah melihat kucing itu pada suatu hari. Tidak hanya itu, mereka bahkan mengumum kannya di akun media sosial yang mereka miliki.

“Kenapa tidak pergi ke panti asuhan saja?” tanya Latifa tiba-tiba.

“Kau serius?” Jame balik bertanya.

Ada sesuatu yang tiba-tiba berdesir dalam diri Jame. Meskipun terus berharap pada keajaiban, mereka juga pernah merencakan hal seperti itu sebelumnya.

“Kita akan memiliki seorang anak dengan cara seperti itu.”

Latifa mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Lalu, seperti sesuatu yang telah di rencanakan, mereka beranjak dari beranda itu dalam waktu yang nyaris bersamaan. Jame membuka pintu pagar dan Latifa mengekor di belakangnya. Gang di depan rumah itu sunyi. Tiba-tiba mereka tergerak untuk berjalan menyusuri gang. Bulan memancar, memantulkan bayangan tubuh mereka ke permukaan aspal yang kasar. ■

Pagesangan, 4 Maret 2018

Tjak S Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Selain menulis, sehari-harinya mengerjakan ‘perwajahan’ untuk sejumlah buku dan sejumlah penerbitan lainnya. Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat

[1] Disalin dari karya Tjak S Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 19 Agustus 2018