Di Balik Kabut Menyulam Hindu

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Pikiran Rakyat

SAHABAT, ingatkah kamu pada bait kata yang menjadi sejuta makna? Pada buku yang menjadi saksi bisu Sesungguhnya, sejak saat itu aku sudah menaruh rasa percayaku kepadamu. Sejatinya, kamu adalah manusia yang baik hatinya. Maka di setiap embusan napasku, aku tak lepas bersyukur atas kehadiranmu.

KAMU mengubah hidupku dengan cara yang tak pernah aku duga. Kamu mengajar­kanku untuk kembali hidup setelah sekian lama aku tak memiliki kehidupan. Kamu meyakinkanku bahwa meninggalkan masa lalu adalah sebuah keniscayaan. Kamu juga membuk­tikan kepadaku, bahwa aku layak atas suatu hari yang akan datang. Suatu hari yang selalu aku impikan.

Sejak beberapa hari lalu, aku tak bisa lepas dari euforiaku tentang Alprijan. En­tah apa yang pertama kali terlintas di piki­ ranku sehingga aku terfokus pada na­manya, pada kisah saat kami bersama. Rasanya, persahabatan kami memiliki banyak hal manis untuk dikenang. Aku pernah teringat kata-kata dari sebuah lagu “impianku sederhana dan hadirmu lah yang menjadikannya  sempurna”. Analoginya seperti itu masa SMA yang kujalani. Berba­gai masalah keluarga, sekolah, pelajaran, dan teman menjadikanku sangat tersiksa tiga tahun lamanya. Aku menyanggah sepenuhnya pada mereka yang mengata­kan masa SMA itu indah. Awalnya aku merasa tidak pernah ada kata indah dalam masa SMA-ku, tapi aku keliru. Masa SMA­ ku memang sangat menyebalkan, tapi jus­tru kehadiran Alprijan dan persahabatan kamilah yang menjadikannya lebih indah. Meski tidak sepenuhnya.

Aku masih ingat awal mula kami berjum­pa. Dia penuh rahasia, tidak banyak bicara, dan bergerak di balik bayang-bayang. Dia adalah hal yang semu bagiku. Aku Aurus, aku pribadi yang teliti dan peduli. Aku se­orang ekstrovert yang disukai banyak orang. Aku aktif, produktif, dan ambisius. Aku sudah tahu orang seperti dirinya, aku punya banyak kenalan dengan orang tipe­kal dia, dan kebanyakan dari mereka adalah pribadi yang sangat aku suka. Tetapi Alpri­jan berbeda. Dia tidak membuatku menyu­kainya apalagi hanya penasaran dengan rahasia-rahasianya, dia membuatku mema­hami. Memahami banyak hal dalam persa­habatan kami layaknya literasi. Tidak hanya membaca  dan mengetahui, tetapi mene­mukan makna besar di balik semua itu.

Baca juga:  Warisan Terakhir Kolektor Gigi

“Aku akan menceritakan sesuatu kepadamu,” katanya di hari pertama kami mulai dekat.

Alprijan memberitahuku sebuah rahasia yang bahkan ia sembunyikan dari hatinya sendiri. Aku mengerti betapa sebuah luka terkadang terlalu menyakitkan hingga kita tak penah ingin mengungkitnya lagi. Apala­gi Iuka tersebut menyisakan bekas yang bahkan ketika kita tidak ingin mengungkit­nya, ada sebagian kecil dari hati kita yang selalu mengenangnya. Alprijan telah mengambil sebuah langkah berani untuk bercerita kepadaku. Meski awalnya kukira langkah tersebut sangat keliru, tapi waktu kemudian membuktikan sesuatu. Terkadang, hanya dengan berusaha bukan berarti kita menentukan hasilnya.

Lama kami saling bertukar cerita, aku mulai nyaman dengannya. Aku tidak hanya mendengarkan, tapi juga membagikan segala hal yang aku rasakan. Aku mulai su­ka berada terus di sampingnya dan berceri­ta tentang segala hal yang bahkan tak per­lu diceritakan. Entah kecanduan apa yang aku alami waktu itu, tapi aku telah berbuat hal yang salah, yang di kemudian hari begi­tu kusesali telah melakukannya.

Selama liburan, kami saling mengirim surat la banyak bercerita tentang manis­ pahit masa liburan yang ia alami. Begitu pun aku. Saat itu keadaanku sedang tidak baik. Takdir berkonspirasi dengan keadaan untuk menjatuhkanku. Pada masa-masa tersulit itu, hanya ada Alprijan di sisiku. Di­alah yang menjadi tempat hatiku bersan­dar. Dia menemukan tempat bersemayam yang indah di hatiku.

Aku hidup dalam sebuah penjara yang keluargaku ciptakan.Sebuah penjara di mana di dalamnya pudarlah semua angan dan harapan.Tidak pernah ada impian. Tidak pernah ada kenangan yang menjadi alasan untuk bertahan. Setiap hari aku ter­belenggu dengan semua nestapa yang menghampiriku.Terkadang, aku ingin menjerit. Berkata dengan lantang agar orangtuaku mendengarnya.

**

KAU terlalu banyak menuntut! Kau lebih banyak merenggut daripada memberi. Aku tahu hidup hidup memberimu banyak ke­ kecewaan.Hanya saja, kenapa kau melam­ piaskannya kepadaku? Apa aku salah bila bermimpi? Apa aku salah bila berharap? Apa aku tidak layak menadapatkan janji untuk suatu hari yang aku impikan? Aku rindu hidup. Aku merindukan kehidupan. Katamu aku tak layak bahagia. Katamu hidup ini tak indah. ltu semua katamu! ltu semua hidupmu!Dan kau yang telah melakukan semua ini kepadaku. Kau yang menciptakan penjara kehidupan yang amat mengerikan ini untukku. Aku bersumpah! Aku akan menghancurkan jeruji nista ini. Yang telah mengurungku bertahun-tahun dengan kegelapan dan kesunyiannya.

Baca juga:  Sebatang Lengkeng yang Bercerita

**

LALU Alprijan datang dengan sebuah ca­haya di tangannya. Katanya, hidupnya juga sangat kelam. Tetapiia masih punya ha­rapan yang bisa digantungkan dan mem­berinya arah ketika tersesat. Jadilah kami melangkah bersama dengan satu cahaya untuk satu tujuan. Alprijan telah mem­beriku harapan. Dia menjanjikan mimpi un­tuk hatiku yang sunyi.

Satu tahun berlalu dan hidup mulai berubah. Alprijan memulai kehidupannya dengan lebih indah. la telah melupakan satu tahun masa duka-laranya. Hidupnya kembali bahagia. la bahkan menemukan seorang teman perempuan yang ia suka. Yang siang dan malam tak pemah lepas dari pikirannya. Hidupku juga berubah. Berubah menjadi lebih buruk.

Aku hanya bisa menatapnya dari ke­jauhan. Kini,bukan jarak kami saja yang jauh, tetapi hati kami juga. Andaikan kabut tak pemah mengukir hidup hingga larut. Andaikan aku tidak pemah larut dalam lu­ka atas kepercayaanku kepadanya. Dia telah resmi mengkhianati semua janjinya. Semuanya begitu menyakitkan bagiku. Membuatku berlayar pada kekecewaan yang mendalam. Membuatku bertarung pada kesakitan hati tak terperi.

Semenjak Alprijan menjauh, aku kembali menyendiri. Menikmati setiap alunan kesedihan yang diputar di hadapanku. Aku semakin jatuh.Aku menjerit tanpa suara, merintih tanpa makna. Aku telah salah dengan percaya kepadanya. Berharap mendapatkan cahaya yang ia janjikan.Aku terlalu berharap bahwa seorang insan dap­ at membebaskanku dari neraka ini. Aku mengangankan sesuatu yang terlalujauh di bawah ambang kenyataan. Aku memang mendapat perhatiannya, tapi aku tidak menjadi alasan bahagianya.

**

KENAPA? Kenapa hal ini harus terjadi kepadaku? Yang berharap penuh kepadamu sedangkan aku tahu kamu tidak mewujudkan impianku. Andai kamu mau mengerti. Bagaimana rasa sakitnya berharap pada orang yang salah. Bagaimana rasa kecewanya percaya pada orang yang tak tepat.

Baca juga:  Kota Kami

Alprijan, seandainya kamu tahu soal je­ruji itu.Aku tidak pernah ingin tinggal de­ngan seorang lelaki berusia 40 yang selalu memukulku setiap hari karena impianku. Yang tak pernah segan melayangkan ta­ngannya yang kasar kewajahku. Seorang lelaki yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik ketika usiaku masih lima, Diba­wanya aku dari panti asuhan dan diberi­kannya aku kepada istrinya yang sakit. Na­mun kehidupan manis itu baru saja berlangsung dua tahun ketika hidup mereng­gut ibu angkatku. Menyisakan puih-puih kekecewaan bersamaku dan dia yang mu­lai mencandu minuman keras dan narkoba. Dan gadis yang kamu sukai itu, dia adalah teman masa kecilku yang dijemput oleh sepasang suami istri yang seharusnya men­jemputku. Malang Bu Panti tidak terlalu suka padaku hingga menitipkan gadis itu kepada orang yang benar-benar ia percaya dan menitipkanku pada lelaki yang tam­pangnya seram dan meragukan itu. Sampai detik ini aku mendengki kepada gadis itu dan menyesali nasib diri atas kehadiran lelaki kasar itu di hidupku.

Alprijan, aku resmi meninggalkanmu saat itu. Aku tidak bisa menahan derai hati un­tuk tidak berlayar di perahu yang sama dengan tujuanmu. Maaf soal keegoisan ini. Sebuah gelas yang pecah akan sulit untuk disusun kembali, seberapa keras pun kita mencoba. Hendaknya di antara kita tiadalah yang memaksa. Andainya memak­sa, kita tak akan bahagia.

Sahabat, apabila sebuah gelas telah pe­cah. Percayalah, ia sudah kehilangan keper­cayaannya. Tak perlu lagi bicara soal me­maafkan.Tentunya selalu ada maaf di an­tara kita. Tapi soal kepingannya? Jangan kamu anggap hendak berbahagia. Kepingan itu akan ikhlas, tapi dengan sebuah pengor­banan yang berat. Pengorbanan soal keta­jaman yang akan melukai orang lain.

Saatnya hati yang bicara, siapa yang harusnya kecewa? Sahabat, jikalau ada yang harus kecewa di antara kita, hendaknya kau tahu itu siapa.***

 

[1] Disalin dari karya Karisna Mega
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 12 Agustus 2018