Dongeng Tarka dan Sarka

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Maka mereka pun hanya membuka telinga badaniah mereka, sebelum mampu membuka yang batin. Mereka — Tarka dan Sarka– mencoba membuka telinga dan menutup lisan.

“Lakukanlah pekerjaan kalian sebagaimana biasa, namun dengan satu pantangan: jangan berbicara sepatah kata pun tentang apapun,” begitu pesan ayah mereka, yang memang seorang pertapa.

Sarka, sang adik. yang bertubuh kurus dan selalu lapar itu mempertanyakan ‘pelajaran’ yang baru saja diterima dari ayahnya. Menurutnya, itu hal yang hampir mustahil bisa dilakukan di tengah kehidupan masyarakat negeri Hastina yang makmur ini.

“.. Kalian akan mendengar begitu banyak pengetahuan secara diam-diam. Dengan mendengar, berarti kalian bisa menyimak. Dengan membisu, lisan kalian akan terjaga dari pengucapan yang sia-sia.. Karena seringkali lidah kita mengeluarkan racun fitnah yang tak bisa kita duga…” begitu pesan sang ayah kepada kedua kakak-beradik Tarka-Sarka yang mengais rejeki dengan menjual jasa menyeberangkan orang-orang dari tepi utara ke tepi selatan sungai Liman Benawi.

“Nanti.. kalau ada yang mbayar kurang, bagaimana, ayah?” protes Sarka lagi. “Apa, kami tidak boleh omong?”

Pertapa tua itu tersenyum, kemudian menjawab dengan lembut, “Terimalah. Jangan bertanya atau mempertanyakan. Terimalah berapapun yang mereka berikan pada kalian. Mudah-mudahan Yang Maha Adil akan memberimu keadilan.”

Maka, sejak empat puluh hari lalu, kedua kakak beradik itu bekerja dalam kebisuan. Mereka hanya tersenyum atau mengangguk. Kadang menggeleng. Berapa besar pun kepeng uang yang diberikan para penumpang, mereka terima dengan dada lapang. Dan nyatanya, pendapatan mereka lebih besar daripada sebelumnya.

Para penumpang, yang umumnya adalah istri-istri tentara Hastina—yang tentu saja memiliki uang lebih—dengan senang hati memberikan bayaran lebih, karena menganggap kedua juru getek itu sangat sopan dan tak banyak tanya.

***

SORE itu, ketika mereka menambatkan rakit bambu di tepi selatan, sambil menunggu penumpang, Tarka dan Sarka dikejutkan oleh suara mendesing dan ceburan kuat di permukaan sungai. Bola kulit. Mereka pun kemudian hanya diam, dan membiarkan bola itu dibawa hanyut ke muara.

Sepak bola, permainan baru yang hanya boleh dimainkan kalangan istana. Dan tentunya, bola itu milik kaum bangsawan Hastinapura. Sebuah permainan aneh yang dibawa dari manca. Bulatan itu mereka kejar, untuk mereka tendang. Memang kelihatan menarik, tetapi bagi Tarka dan adiknya, tak lebih dari permainan orang bodoh. Mereka tak tertarik, dan karenanya, mereka diamkan saja bola itu hanyut dibawa arus sungai Liman Benawi.

Baca juga:  Ha-hi-hu-he-hooo

Hening senja itu. Langit di barat sudah menunjukkan garis-garis jingga. Sebentar lagi, sesaat sebelum matahari benar-benar tenggelam, mereka akan pulang. Namun, sampai saat itu tiba, mereka memang masih menunggu, barangkali saja masih ada satu atau dua orang yang ingin menggunakan tenaga mereka.

Tiba-tiba… “Ahh, pasti masuk sungai. Sena, kau yang harus mencarinya.. tendanganmu terlalu kuat!”

Ketiga kesatria muda Hastina itu–Duryudana, Dursasana dan Sena–sampai di tepian sungai. Mereka tak melihat apa-apa kecuali gelegak arus sungai dan kedua kakak-beradik itu.

“Hei, kalian? Apakah kalian melihat sebuah bola, bola kami, meluncur ke arah ini?” tanya Dursasana pada Tarka dan Sarka.

Kedua orang itu menyembah, lalu salah seorang menunjuk arah sungai dengan ibu jarinya.

“Bodoh! Mengapa kalian diam saja? Seharusnya kalian mengejarnya!” sergah Duryudana.

Kedua orang itu diam saja.

Sena tak bicara sepatah pun, segera mencebur ke dalam arus sungai dan berenang menuju muara.

Sepeninggal Sena, Duryudana dan adiknya mondar-mandir gelisah. Nafas mereka masih memburu. Sementara itu, Tarka dan Sarka masih bersimpuh di tanah, menunduk memandang ke bawah. Entah nasib apa yang berikutnya akan menggilas mereka.

“Hei, siapa namamu?” tiba-tiba Duryudana membentak.

Tarka diam saja, karena hari itu dia memang bertapa bisu.

Duryudana tercenung, tidak biasanya seorang jelata diam bila ditanya bangsawan.

Tiba-tiba kaki Dursasana bertengger di pundak Tarka, “Hei, tanah liat, apakah kau tuli. Pangeran Duryudana bertanya siapa namamu, mengapa kau diam saja.” Digerak-gerakkannya tubuh Tarka dengan kaki kirinya. Tarka masih diam.

“Dan kau.. apakah kau juga bisu-tuli?” segah Dursasana pada Sarka.

Sarka menggigil ketakutan.

“Siapa namamu?” ulang Duryudana geram.

Keduanya masih saja membisu. Sebuah pelajaran penting yang mereka rasakan begitu berat, terjadi di senja itu. Pesan sang ayah, agar mereka tidak berbicara, tiba-tiba mengubah situasi menjadi pilihan, yang sangat mungkin berakhir buruk.

Burung-burung kembali ke sarang. Udara mendingin. Cerecet monyet bersahutan berebut dahan di hutan-hutan. Semua berubah tanpa ada yang pernah menyadarinya.

Duryudana naik pitam. Siapakah kedua manusia jelata ini, yang dengan keras kepala berani menentang seorang pangeran Hastina? Baru kali ini. Duryudana merasa dirinya diabaikan rakyatnya. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

Baca juga:  Kakek dari Tong San

“Apakah kau akan tetap membisu, manakala rajamu bertanya padamu? Apa kau pikir dengan begitu kau bisa lebih hebat dari penguasamu? Hah? Jawab!” dan sebuah tendangan menghantam wajah Tarka.

Tarka terguling, hidungnya mengucurkan darah. Sarka mencoba membantu kakaknya, namun tendanganlah yang mencegahnya.

Kedua kakak-beradik itu terguling dengan darah bercampur tanah di wajah. Berkelebat pesan sang ayah bahwa membisu, menjaga lidah agar tak melisankan apapun, sepertinya laku yang mudah. Akan tetapi, pada kenyataannya, apalagi di tengah masyarakat yang suka mengobral lisan dengan berbagai dalih, adalah sesuatu yang sangat sulit.

Membisukan lidah, pada hakikatnya adalah membiasakan diri berserah tanpa bertanya. Dengan berserah tanpa suara, seseorang akan berlatih menuju alam kekosongan dirinya sendiri. Dan dengan mengosongkan diri sendiri, seseorang akan dengan mudah menerima keheningan dari sang Maha Hening. Hanya dengan menyatu pada sang Maha Hening inilah manusia mampu mencapai kesempurnaan dirinya, dan dengan kesempurnaan itulah dia akan bisa menuju Sang Maha Sempurna. Demikian kelebat ucapan sang ayah ketika menuturkan rahasia laku bisu.

Karenanya, Tarka dan Sarka, pemuda yang belum genap 17 tahun itu hanya diam tak melawan ketika kedua bangsawan Hastina itu menghajar mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih mulia dan layak diperoleh dengan mengorbankan nyawa sekalipun, yang membuat mereka tahan terhadap siksaan badaniah. Mereka bahkan diam-diam memanjatkan doa agar Duryudana dan Dursasana mendapatkan cahaya pengetahuan, untuk akhirnya memahami bahwa mereka melakukan kesalahan.

Akan tetapi, kedua orang bangsawan Hastina itu, yang dengan bangga mengatakan berdarah Kuru, anak keturunan keluarga Kuru itu, bahkan seakan ingin menunjukkan kekuasaan. Tak ada bola, tubuh manusia pun jadilah!

Senja yang menggelap, seakan memekatkan hati nurani mereka. Kejengkelan mereka memuncak, manakala setiap kali terjungkal, Tarka dan Sarka berusaha bangkit dan bersimpuh seperti semula. Sarka, si adik, menangis dalam kebisuannya, usianya yang masih terbilang kanak-kanak belum terlalu kuat menerima siksaan. Tarka memeluknya, dan tanpa sebisik pun suara, dia mengajak adiknya bersimpuh hormat sebagaimana layaknya manusia yang memiliki kehormatan.

Duryudana yang bertubuh tinggi besar, kuat, tegap dan selalu berlatih gulat di kasatriannya, bukanlah tandingan Tarka; pemuda desa yang bertubuh kurus kering, kecil dan berkulit coklat gelap itu, yang bahkan lebih menyukai puasa dan bersepi diri. Tak heran jika tubuhnya menjadi bulan-bulanan Duryudana. Begitu pula dengan Dursasana. Kekuatan tenaganya seakan ditimpakannya ke tubuh Sarka—adik Tarka.

Baca juga:  Sekelam Dirham

Entah pada hantaman yang ke berapa, batas kekuatan tubuh kakak beradik itu sampailah. Sebuah detak teredam, tulang-tulang yang remuk terasakan. Duryudana dan Dursasana sebetulnya merasakan dan mengetahui bahwa tulang-tulang dua manusia malang itu remuk, namun, entah mengapa, mereka tak berhenti.

Adik-adik Duryudana yang lain, karena merasa ketiga orang itu cukup lama tak kembali ke lapangan, menyusul dan menyaksikan kedua orang itu tengah menghempaskan Tarka dan Sarka. Mereka merasa ngeri menyaksikan tubuh Tarka dan Sarka, yang berlumuran darah bercampur tanah.

Seekor burung hitam, secara aneh terbang melintas dan merobek sunyi dengan teriakan paraunya.

Hening berlalu begitu saja. Senja menjadi kereta kesunyian yang menghantarkan Tarka dan Sarka kembali ke alam keabadian. Bahkan, lihatlah, matahari seakan bergegas menarik tirai temaram, tak sampai hati menyaksikan penderitaan yang dialami kakak beradik yang bahkan tak melakukan kesalahan apapun itu. Angin membeku, seakan tak percaya bahwa Tarka dan Sarka yang selama ini mereka belai-belai ketika beristirahat di atas rakit mereka, nyaris membentuk seonggok daging berbalut debu dan darah.

Duryudana dan Dursasana, dua bangsawan, dua kekuasaan Hastinapura, pergi begitu saja.

Senja tak berwarna, lindap, senyap.

 

Yanusa Nugroho lahir di Surabaya, 2 Januari 1960. Pernah duduk di redaksi majalah Berita Buku Ikapi, lalu menjadi copy-writer di Indo-ad, kemudian memilih menjadi penulis lepas. Kumpulan cerpennya antara lain Bulan Bugil Bulat (1989), Cerita di Daun Tal (1992), dan Menggenggam Petir (1996). Novel karyanya, Di Batas Angin (2003), Manyura (2004), dan Boma (2005).

Polenk Rediasa lahir di Tambakan, Buleleng 1979. Bernama lengkap I Nyoman Rediasa, perupa dan dosen di Undiksha, Singaraja. Ia menempuh pendidikan seni di SMSR Denpasar, ISI Denpasar, dan pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar. Berpameran tunggal sejak tahun 2004 di sejumlah kota. Pernah mendapatkan penghargaan dalam Biennale Beijing tahun 2008.

 

[1] Disalin dari karya Yanusa Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 19 Agustus 2018