Hanya Bayang

Karya . Dikliping tanggal 19 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

BULIR-BULIR air mata itu kembali merembes membasahi pipinya. Ini sudah menjadi kali ketiga untuk hari ini di mana pipi itu harus dibanjiri butiran-butiran kesedihan yang tak kuasa dibendungnya. Entah beban macam apa yang telah menjeratnya dalam sejuta ketidakpastian dan pertanyaan-pertanyaan yang menghakimi dirinya tanpa tahu bagaimana caranya untuk pergi dari semua itu. Aku begitu ingin datang mengulurkan tangan untuknya, mengusap air matanya yang berjatuhan, atau hanya sekadar bertanya “Apa kau baik-baik saja?” Tetapi aku tidak bisa. Sungguh, aku tak berdaya untuk itu.

KERLINGAN fajar menyertai tetes embun pada daun yang basah akibat hujan kemarin petang. Aroma hujan yang menyusup menuju rongga hidung seolah menyapa untuk segera beranjak dari tempat peraduan. Kokokan si ayam jago yang senantiasa bersahutan seolah menceritakan suatu kisah yang tidak bisa dimengerti. Seperti hari-hari biasanya, ia pun beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk mulai menuliskan kisah baru di lembaran harinya yang masih putih kosong. Dia berangkat ke sekolah sekitar jam 7.15 pagi dengan mata yang agak bengkak. Aku sangat yakin jika dia kembali menumpahkan kesedihannya dan membasahi bantal-bantal empuknya kemarin malam. Tetapi sungguh disayangkan, ini adalah sesuatu yang berada di luar kemampuanku. Aku sungguh tak bisa menemaninya, terlebih ketika kegelapan mulai menyelimuti.

Hari ini, ia pergi ke perpustakaan sekolah dan aku selalu mengikutinya seperti biasanya. Aku selalu berada di dekatnya meskipun aku tak bisa berbuat apapun ketika ia terjebak seorang diri dalam kesedihannya, selain menatapnya dalam-dalam.

Aku hanya bisa menenangkannya melalui rangkaian kata-kata yang menyejukkan jiwa, meski aku tahu ia sama sekali tidak bisa mendengarkanku.

Ia mengambil sebuah buku filosofi yang agak tebal dan mulai melahapnya selembar demi selembar. Ia selami kata per kata dan sesekali mengguratkan sebuah senyum simpul untuk memulai sebuah halaman baru. Buku itu tidak terlalu tebal, bahkan kurasa dapat habis dibaca dalam sekali duduk. Setelah sekian kali ia datang ke perpustakaan, ia sering kali mencari buku yang sama. Aku juga tidak tahu pasti, kenapa ia begitu menyukai buku tersebut. Namun, entah apa isinya, buku itu selalu bisa memnbuatnya terlihat gembira. Apa pun itu, aku berterima kasih kepada buku itu. Karenanya, temanku bisa tersenyum kembali.

Baca juga:  Menyusuri Masa Lalu - Merangkai Bunga

Terkadang ia membawa buku yang dipinjamnya di perpustakaan untuk dibaca di kelasnya sambil menunggu jam pelajaran dimulai. Ia kemudian duduk diam seorang diri di pojok kelas seolah ia bukan bagian dari kelas itu. Setahuku, dia sama sekali tidak memiliki teman dekat atau sekadar rekan yang bisa diajak bercengkrama. Dia selalu menghabiskan hari-harinya sekolah seorang diri.

Bel tiba-tiba berbunyi, tanda jam pelajaran telah dimulai. Dia pun tersadar dari dunia fantasinya dan bersiap-siap untuk mengikuti pelajaran sastra Indonesia. Ahh… sungguh ini adalah pelajaran yang begitu membosakan. Tetapi entah kenapa, ia begitu menyukainya. Seperti biasanya, Bu Diana selalu mengawali kelas dengan sebuah kuis kecil untuk memanaskan mesin kami.

“Baiklah anak-anak, sekarang ibu akan memberikan sebuah pertanyaan mengenai materi yang ibu tugaskan untuk dipelajari sebelum kelas dimulai. Arnel, apakah kamu tahu tentang angkatan pertama sastra Indonesia?”

“Angkatan pertama dari sastra Indonesia adalah angkatan 1950- an yang ditandai dengan terbitnya majalah sastra kisah asuhan HB Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi.”

Kemudian aku mendengar teman misteriusku ini bergumam kecil. “Bukan itu jawabannya, angkatan pertama itu angkatan ’45.” Kemudian, Bu Diana menghela napas dan berbalik bertanya kepada siswa yang lainnya. “Apakah itu benar, anak-anak?” Sunyi. Senyap. Tidak ada satu pun suara yang terdengar. Bahkan hanya sekadar hela napas dan hati yang berdebar karena takut akan kemarahan sang guru. Ayo, Cintya! Kau bisa melaku-kannya. Aku melihattnu sendiri kau mengetahui jawabannya. Kenapa kau hanya diam?

**

Hanya Bayang “AKU pulang.” Serunya sambil melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu. Ia pun segera menuju kamara untuk melepas penat.

“Cintya, apa kau tidak makan du-lu?” Tanya ayahnya dari ruang tamu. Di sampingnya duduk sang ibu yang tengah memegangi secarik kertas. Bukan. Kurasa itu bukan kertas biasa. Ku tahu itu dari raut wajah ibunya.

“Tidak, aku tidak terlalu lapar.” Jawabnya singkat

“Bisa ayah bicara padamu sebentar?” Tanya ayahnya kembali.

Baca juga:  Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel

“Tentu saja.” Sahutnya.

“Kami dari pihak sekolah dengan terpaksa membatalkan beasiswa yang diperoleh oleh anak Bapak/Ibu karena anak yang bersangkutan tidak berhasil memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan.” Itulah cuplikan surat yang menghujam menusuk perasaannya. Sungguh, dari tatapan matanya aku bisa tahu bahwa kini hatinya terkoyak. Satu-satunya cahaya harapan baginya untuk bisa melanjutkan pendidikan kini telah sirna tergantikan oleh gelapnya ketidakpastian.

Ia sadar sadar betul dengan kondisi keluarganya yang memang pas-pasan, dan aku pun tahu itu. Memang, ia bisa melangkah sejauh ini untuk merasakan bangku seko-lah dan menggali ilmu pengetahuan hanyalah bergantung pada beasiswa yang ia dapatkan dengan kerja keras. Namun, kurasa keberuntungan sudah tidak menaunginya lagi. Tetapi kenapa harus di saat seperti ini? Di saat ia sungguh membutuhkannya? Terkadang aku melihat takdir terlalu kejam padanya. Dia hanyalah seorang gadis rapuh yang membutuhkan seseorang untuk diajak berbagi dan membantunya menyeka air mata yang kini mulai berjatuhan lagi.

Malam pun kian kelam dan tudung-tudung kegelapan mulai menyelimuti dengan hawa dingin yang menggelitik setiap jengkal kulit dan menusuk menyusup ke dalam sendi-sendi sehingga membuat hati pun ikut gemetar.

Temanku tergeletak tak berdaya di hadapan sang nasib yang begitu kejam kepadanya. Dia berusaha menahan semua lukanya yang begitu pedih dan mengasingkan diri ke dalam dunia fantasinya sendiri. Namun, inilah kenyataan yang tersaji di hadapannya. Dia tidak bisa begitu saja melarikan diri dari pedihnya kenyataan dan bersembunyi dibalik mimpi. Hanya pada khayalan-khayalannya ia bisa menghibur diri dan mengisi lubang yang ada pada hatinya. Meski itu semua hanya semu. Palsu.

Meski demikian, tidak mudah baginya untuk bisa melarikan diri dari semua msalah yang datang silih berganti mengejarnya dan mendaratkan pukulan-pukulan yang menusuk hati. Terkadang luka-luka itu terlalu menyakitkan sehingga terlalu sulit baginya untuk menenggelamkan diri dalam mimpi indahnya dan terlelap menunggu hari berganti. Sebotol obat tidur pun telah menjadi teman setianya selama ini. Seperti malaikat maut yang mengulurkan tangan bantuan kemudian mencampakkannya menuju jurang yang gelap dan dalam,

Dengan rambut yang acak-acakan, ia merangkak dari tempat tidumya dan kembali meraih tangan sang malaikat maut itu. Aku mulai khawatir dengan temanku itu karena ia baru saja kehilangan cahaya yang selama ini menuntunnya untuk terus berjuang. Betapa bahagianya sang malaikat maut jika ia mengetahui hal tersebut dan membisikkan hal-hal yang menyesatkan. Diambilnya botol itu diambilnya sebuah pil tidur. Tiba-tiba ia menangis lagi. Aku pun bertanya-tanya, “Kenapa dia menangis lagi?” Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.

Baca juga:  Kami Naik Kereta Uap

“Ayah, Ibu maafkan aku. Maafkan aku karena telah menjadi pengecut.” Aku terkejut. Diambil-nya pil kedua. Ketiga. Bukan. Dia menumpahkan semua pil itu ke tangannya. Jangan Cintya! Aku menjerit sekuat tenaga. Namun, aku tahu ia sama sekali tidak akan mendengarkanku. Semua pil itu memasuki mulutnya yang bergetar dan hanyut dengan segelas air. Tak berselang lama, tubuhnya pun mulai lemas. Aku mulai panik. Bagaimana ini? Sungguh menyebalkan. Aku selalu bersamanya namun sama sekali tidak bisa berbuat apapun untuknya. Seketika tubuh rapuhnya itu terkulai lemas. Mulutnya mengelurkan suatu cairan putih. Tatapan matanya kosong dengan air mata terakhir yang masih sempat meleleh membasahi jendela jiwa itu.

Aku hanya bisa menangis dalam diam. Menangis di samping temanku yang kini telah tiada di dalam dekapanku. Seharusnya aku bisa menghentikannya dan menemaninya. Yang ia butuhkan hanyalah seorang teman yang bisa diajaknya berbagi kesedihannya. Seorang kawan yang akan mengulurkan tangan ketika terjatuh. Namun, takdir begitu kejam dan tak mengenal rasa kasihan. Takdir sama sekali tidak mengijinkanku untuk melakukannya. Bukan. Takdir tidak ingin aku melakukannya sehingga temanku bisa tunduk di hadapannya. Diciptakan sebagai sebuah wujud yang selalu menemani temanku, tetapi tak berdaya atas apa yang terjadi padanya. Tidak bisa menyeka air matanya saat ia menangis. Bahkan hanya sekadar mengelus punggungnya saat ia bersedih. Karena inilah aku. Hanya sebuah bayangan.***


[1] Disalin dari karya Evee Andreas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 19 Agustus 2018