Kertas Puisi Beraroma Kopi

Karya . Dikliping tanggal 31 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

LONCENG gerbang di depan rumah Alesa berbunyi. Ketika Alesa mengintip dari balik jendela kamarnya, sesosok pria berambut panjang dengan topi koboi berdiri di sana. Ini kali ketiganya pria misterius itu datang dan membunyikan lonceng di gerbang rumah Alesa.

“Iseng banget, sih!” gerutu Alesa.

Alesa mengarahkan kursi rodanya menuju gerbang depan rumahnya. Alesa yakin ada sesuatu yang ditinggalkan pria misterius itu. Pada kunjungan pertamanya, pria itu meninggalkan secari kertas berisi potongan puisi. Kedatangannya yang kedua, pria itu meninggakan lagi potongan puisi, sepertinya lanjutan dari puisi sebelumnya. Ada kesamaan dari kunjungan pria itu. Kertas pada puisi itu beraroma kopi. Benar saja, pria itu kembali meninggalkan selembar kertas berisi puisi. Alesa membacanya.

Aku adalah lonceng yang harus kau goyangkan
Agar menderu, seperti gemuruh di hatiku
Tapi jangan goyangkan lalu kau tinggalkan
Karena rinduku akan mengikuti jejak cintamu
Kasih, lukiskan bayangmu sebentar saja
Biar kurasakan hadirmu yang nyata

Alesa selalu mengagumi puisi-puisi pria misterius itu. Meski hanya potongan puisi, Alesa bisa merasakan kesedihan yang dialami pria itu. Lagi-lagi aroma kopi tercium dari kertas puisi. Sepertinya pria misterius itu sangat menyukai aroma kopi.

***

Puisi Beraroma KopiHARI ini tepat satu minggu Alesa berada di atas kursi roda. Semua berawal dari kejadian pulang sekolah siang itu. Ketika mama melarangnya menonton teater. Namun Alesa tetap ngotot ingin menonton teater. Karena Kelana, teman dekatnya sedang melakukan pertunjukan teater di Gedung Arcawacana. Alesa berlari, namun sebuah becak motor menghentikan langkahnya. Alesa tertabrak becak motor yang mengakibatkan tulang kakinya retak. Sejak kejadian itu, Alesa menghabiskan harinya di atas kursi roda.

Baca juga:  Rawa di Atas Gunung - Wayang - Musim Hujan - Ibadah - Warna - Peta SUrga - Gamelan

Pagi ini Alesa kembali membaca puisi dari pria misterius itu. Tiba-tiba mama datang sambil membawa sarapan.

“Kamu menulis puisi lagi? Nenenk paling tidak suka dengan penyair, sastrawan, penulis dan sejenisnya. Menurut Nenek, tidak ada yang bisa dibanggakan dari profesi itu,” kata mama sambil melirik kertas di tangan Alesa.

“Tidak, Ma. Aku menulis puisi hanya untuk mengisi waktu luang saja. Ini puisi dari pria misterius. Pria berambut panjang yang hampir seluruh rambutnya berwarna putih. Dia selalu memakai topi koboi untuk menutupi wajahnya,” Alesa bercerita dengan mimik wajah serius.

“Siapa dia? Apa dia datang ke rumah ini?” tanya mama sambil merebut kertas puisi dari tangan Alesa.

Alesa menggeleng. “Aku tidak tahu, Ma. Pria itu hanya membunyikan lonceng gerbang. Setelah itu dia pergi.”

Baca juga:  Cangkir Keramik Bergambar Ulat

Tiba-tiba saja mama menangis setelah mencium aroma kertas puisi. Dadanya terasa sesak untuk menceritakan semuanya kepada Alesa. Kertas puisi beraroma kopi itu telah membangkitkan kenangan-kenangan lama. Tentang seorang penyair  yang bersumpah tidak akan pernah menikah dengan wanita lain. Meski cintanya tidak mendapat restu.

“Dia datang lagi setelah lima belas tahun menghilang,” gumam mama dengan tatapan mata kosong.

“Mama kenal dengan pria misterius itu?” tanya Alesa.

“Mungkin Mama sudah lupa dengan wajahnya. Tapi aroma kopi pada kertas puisinya bisa membuat kenangan-kenangan itu hadir kembali.”

“Siapa pria itu, Ma?”

“Dia adalah cinta pertama Mama. Yang seharusnya menjadi cinta terakhir Mama juga,” jawab mama masih dengan tatapan mata kosong.

“Tetapi..”

Alesa terdiam menunggu jawaban mama.

Mama menarik napas panjang. Semacam ada kekuatan yang harus dikumpulkan untuk mengatakannya. “Nenek tidak pernah merestui hunungan kami. Nenek bilang, seorang penyair tidak ada yang bisa dibanggakan selain rayuan-rayuan dari puisinya.” Mama berbicara dengan nada tegas sambil beranjak pergi.

Lima menit kemudian, mama datang membawa selembar kertas.

“Ini puisi dari pria misterius itu, saat Mama menikah dengan Papa kamu. Aroma kopi di kertasnya memang tidak kuat lagi, tapi masih tercium.” Mama menyerahkan kertas puisi pada Alesa.

Baca juga:  Malam-Malam di Semarang - Siang-Siang di Gondomanan - Malam-Malam di Bekasi - Pagi-Pagi di Surabaya - Sore-Sore di Malioboro

Pamit
Jika esok aku berpulang
Aku ingin kau yang menggali kuburku
Mengubur jasadku bersama kenangan-kenangan kita
Jika esok Malaikat yang datang
Aku berharap, aku yang pulang 
Membawa sebungkus cerita yang hilang
Dan sejuta luka yang akan kukenang
Tuhan, aku ingin pulang!

Kendal, 20 Februari 2003

“Pria itu sangat mencintai Mama?” tanya Alesa.

“Dulu kami saling cinta,” jawab mama. “Sebelum semuanya terlanjur, Sayang. Sebelum kamu merasakan sakit seperti yang Mama rasakan. Mama berpesan agar Alesa tidak berpacaran dengan penyair. Karena Nenek tidak akan merestui sampai kapanpun. Lebih baik menuruti ucapan Nenek. Daripada mendapatkan karma dari sumah-serapah Nenek.”

Tiba-tiba saja air mata mengucur deras dari mata Alesa. Dia teringat Kelana, kekasihnya. Penyair muda itu sedang menyiapkan buku puisi untuk Alesa. Mungkinkah Alesa akan mewarisi kisah cinta mamanya?

Muhammad Fauzi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Selamat Sri Kendal

[1] Disalin dari karya Muhammad Fauzi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 26 Agustus 2018