Kota-Kota di Ujung Jari

Karya . Dikliping tanggal 14 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota-kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari satu per satu kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

Kota-kota itu tersembunyi di sebuah dunia yang tidak kutahu mana kaki langit, mana garis pantai, atau mana batas kota. Atau barangkali tak berbatas? Entahlah. Otakku yang cupet terlampau malas memikirkan perihal ini. Asal bisa singgah dan mendirikan rumah, beres. Aku tak ingin repot memikirkan barangkali di suatu tempat entah di mana ada pipa-pipa kotoran mengular atau kabelkabel silang-sengkarut atau sistem-sistem yang tidak pernah mogok berkedip agar kehidupan di kota-kota ini tak berhenti berkelip. Entah, entahlah! Soal apa yang ada di balik kota-kota ini, janganlah lagi bertanya! Aku tak tahu jawabannya!

Oh, maafÖ bukan bermaksud menghardik. Baiklah, sebagai permintaan maaf, kuberi tahu cara ke sana, ke kota-kota yang terlahir dari ujung jemari. Buat ke sana, satu hal mesti kau punya: kendaraan. Tentu kendaraan beserta bahan bakar, yang bukanlah bensin, solar, apalagi kayu bakar. Bahan bakarnya tak kasatmata, tak bisa kautimbang literan. Soal kendaraan tadi, ada yang menarik. Ukurannya cuma segenggaman tangan, tapi ajaib mampu memboyongmu ke kota-kota itu. Dulu kendaraan, yang konon cerdas, ke kota kebanyakan berukuran sekepalan, tetapi makin ke sini ada yang sebesar wajah, selebar koran pun ada. Harga beragam, tergantung pada isi sakumu bisa memuntahkan berapa lembar uang buat membawa satu pulang.

Naiki kendaraanmu sampai nanti bertemu persimpangan. Kadang simpang tiga, simpang empat, simpang lima, simpang sepuluh pun ada. Tergantung pada sudah berapa banyak kota dalam peta navigasi kendaraanmu. Nah, jika itu soal kota-kota yang bakal kuceritakan, maka turun dan menyeberanglah di persimpangan dengan rambu bergambar amplop. Tidak usah takut tersesat, sebab jika sudah kauikuti rambu itu, lampu di persimpangan lain akan padam. Jika jalanmu terang, sudah pasti itu arah yang kautuju. Kota pertama, kota pembuka buat memperoleh pass masuk ke kota-kota lain: Kota Kotak Pos.

Tapi sebelumnya kuwanti-wanti, bijak-bijaklah berlaku di sana bila tak ingin kehilangan jari. Sebenarnya ada banyak kota di ujung jemari, tapi kukisahkan tiga saja.

***

Kota Pembuka: Kota Kotak Pos

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari kota ini kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

“Selamat datang.”

Kembali ke masa saat kali pertama aku menginjakkan kaki di Kota Kotak Pos. Aku yang tengah berdiri di persimpangan lain terkesiap demi mendengar suara tanpa rupa yang berucap mantap. Persis suara petugas kantor kecamatan yang mewartakan istirahat dimajukan sebab ada pegawai harus meniup lilin ulang tahun tempo hari, tanpa peduli pengantre yang sudah menunggu sejak pagi. Sejauh pandang kulempar, tidak ada hal lain selain satu-satunya jalan yang kupijak sekarang. Di depanku terhampar jalan bercabang, kanan dengan plang bertuliskan “Daftar” dan kiri “Masuk”. Aneh, jalan sebelah kiri ditutup portal. Maka tidak ada pilihan selain kanan.

Baca juga:  Lelaki Pengurus Orang Mati

“Sebutkan nama depan Anda.”

Lagi-lagi suara bening tanpa rupa menggema.

Tapa ragu kusahuti, “Manu.”

“Sebutkan nama belakang Anda.”

“Sia.” “Sebutkan kata sandi.”

“Manusia.”

“Sandi lemah.”

“Manusiaaaa.”

“Sandi lemah.”

Hei! Yang benar saja. Aku kesal. Lalu sekonyong- konyong terdengar bisikan kecil, juga tanpa rupa. Katanya, “Buat seperti pelat nomor, beri angka dan huruf.”

“Manusiasempurnasej4g4drayatiada2?” jawabku setelah semenit memutar otak.

“Kata sandi kuat.”

Setelah menjawab pertanyaan soal tanggal lahir, kelamin, dan nomor ponsel, akhirnya suara tanpa wujud memintaku menyebutkan alamat yang aku ingin pakai.

DanÖ. Amboi! Lihatnya di sana. Sebuah rumah berbentuk kotak pos bertuliskan namaku, Manusia, besar-besar sudah berdiri. Simsalabim abrakadabra! Sebetulnya proses saat kau pertama mendaftar menjadi warga kota-kota di ujung jari ya begini. Berdiri di persimpangan dengan pilihanpilihan semacam “Laki-laki” atau “Perempuan” atau simpang dua belas dengan deretan nama bulan dari Januari hingga Desember. Aneh, meski kau terus menyusuri jalanan ini, tidak akan lelah kakimu barang sedikit pun.

Jika sudah kaukantongi alamat di sini, kota lain bisa kautinggali.

***

Kota Galeri

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari kota ini kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

Tak terhisab jumlah foto dan pemutar video mini di kota ini. Setiap bangunan galeri punya foto dan video masing-masing. Punya pengunjung sendiri-sendiri.  Terkadang hanya ada satu orang mematung di depan sebuah foto. Tak jarang pula ada ribuan memelototi satu foto yang sama.

Pernah suatu kali kujumpai hal konyol. Saat di sela-sela waktu istirahat kerja kuputuskan singgah ke kota ini (kau tahu, datang ke sini mulai jadi candu). Di depan sebuah foto milik artis terkenal yang sering menyebut diri Plinses Syantik Tralala, ribuan orang berkerumun bak semut mengerubungi larutan gula yang tumpah.

“Wah, makin syantik ajah, Mbak,” kata seorang dengan muka bergambar wanita yang kelihatan sudah dipercerah dan dipercantik dengan alat pengubah rupa yang menjamur.

Baca juga:  Jika Kau Robohkan Masjid Itu - Tentang Gedung Tua Tengah Kota Surabaya - Sapta Nawa Hotel

“Dasar tukang cari sensasi,” timpal yang lain.

Tak terima, pengunjung lain membalas tak kalah pedas, “Orang gak pemes kayakkamu bisanya sirik aja sih!”

Begitulah, dua kubu saling memuntahkan serapah dan pembelaan, adu jotos dan jambak-jambakan. Di antara itu semua, sekonyong-konyong seseorang dengan lantang menerobos tengah kerumunan. “Pembesar payudara, Mbak, Mas!”

Sementara di dalam rumah, sekilas kulihat si Plinses Syantik Tralala asyik melihat ke luar sambil ongkang-ongkang kaki. Aku menahan diri, tidak ikut beropini. Gegas aku pilih balik kiri. Sekembali dari sana aku terjengkang dari kursi kerja sebab terbahak tiada henti.

Omong-omong, kenapa galeri fotoku tidak ada yang mengunjungi? Aku ingin fotoku mendapat stiker hati sampai rutin aku bolak-balik ke kota ini tiap dua menit sekali.

***

Kota Beranda Biru

Aku tak ingat kapan tepatnya kutemukan kota ini. Kota yang bermula dari ujung jemari. Tidak siang tidak petang, saban hari kota ini kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali.

Belakangan aku merasa tak nyaman bila tidak kutilik barang sebentar kota ini. Mengabaikan kenyataan sekarang aku berada di meja makan, sepersekian detik berikutnya aku sudah menggapai kendaraanku dan melaju ke sini: Kota Beranda Biru, salah satu kota favoritku di antara kota-kota di ujung jari. Kota dominasi biru inilah yang paling lama kutinggali setelah Kota Kotak Pos.

“Lagi, kenapa tidak bisa lepas sebentar? Matamu sudah seperti dilem saja ke layar.”

Lamat kudengar suara, yang jelas bukan suara dari kota ini. Bukan dari kota di ujung jari, melainkan kota maujudnya jemari. “Berisik,” desisku. Entah, aku jadi mudah naik darah bila diusik. Mungkin sebab mata dan jempolku yang panas sehingga amarahku makin gampang mendidih.

Di salah satu beranda kulihat kerumunan warga. Oh, di kota ini rumah-rumah memiliki beranda luar biasa luas. Tempat pemilik rumah berkisah, menunjukkan foto atau menyetel video.

Biasanya pengunjung berkunjung di beranda, mengobrol, jajak pendapat, memuji, tak jarang pula mencaci tanpa tahu hal-ihwal. Ya, di depan beranda rumah orang. Yang terakhir, persis orang yang datang bertamu kemudian melempar tahi lalu pergi.

Memang biasanya saat orang-orang menginjakkan kaki ke kota ini, sebuah suara mendayu bakal mendesis di telinga, “Apa yang Anda pikirkan?” Dan bak dihipnotis, tanpa ragu mereka bakal berdiri di beranda rumahnya lantas menceritakan semua, dari urusan dapur, perkara kasur, gosip “katanya” sampai berita tidak jelas jluntrungan benar atau salah. Tentu saja cerita mereka bakal dikerubuti. Tak terkecuali yang kutemukan di beranda kawanku.

Baca juga:  Teriakan Aluna

Di samping kawanku yang berkisah berdiri dua muda-mudi telanjang tanpa sehelai benang menutupi. Keduanya kuyup air berwarna hijau beraroma busuk. Mereka dikerubuti. Banyak yang menunjuk-nunjuk, tak sedikit yang meludah dengan jari.

Apa sudah kubilang, sekarang makin banyak kutemukan warga berwajah tanpa mulut sebab mulut mereka pindah ke ujung jari? Dari mulut itulah orang-orang meludah. Ludah yang luar biasa amis.

“Kumpul kebo woi. Enak ya mesum siang-siang?!”

“Dasar tidak tahu adat!”

“Lonte, woi, lonte!”

“Bakar aja. Kelakuan kayak hewan!”

“Viralkan!”

Lelepin aja ke laut!”

“Weh, seksi cuy yang cewek.”

Aku mendekat setelah cukup lama mendengar teriakan warga lain. “Ada apa?”

“Ini mereka mesum berdua-duaan!” Kawanku menyalak berapi-api.

“Diamanahi jaga rumah malah zina. Goblok!” Yang lain menimpali lantas meludahi. Tentu dengan mulut yang sudah pindah ke ujung jari.

“Saya sudah bilang kami tidak melakukan apa-apa!” Cericit si pemuda yang lindap oleh teriakan warga. Dan entah kenapa aku meneriaki juga meludahi.

***

Mataku panas. Sepertinya aku terlelap setelah memuntahkan serapah buat dua muda-mudi kemarin. Aku terbangun lantaran merasakan haus yang sangat. Persis saat ujung gelas mengarah ke tempat yang seyogianya bibir, aku terperanjat.

Bibirku hilang. Alih-alih kudapati bibirku menempel di ujung jempol kanan dan kiri. Bibir di jempol kiri menyeringai, “Kau tahu, muda-mudi tadi, dua hari lagi bakal mati tertelan serapah kalian yang tak mau mendengar!”

Dalam setiap ucap bibirku berleleran liur amis yang membuatku menjeluak.

“Sok jadi hakim. Sok jadi Tuhan!”

Lagi-lagi aroma dari kedua bibirku membuat isi perut naik.

“Setelah ini giliranmu. Kau yang diseret di beranda dan dilucuti, disumpahi, diludahi!”

Aku menutup kedua telingaku. Tindakan sia-sia sebab aku justru membawa mereka persis ke depan liang rungu. Bisa kudengar mereka menyeringai, mengumpat, dan meludah.

Berhenti! Berhenti!

***

Aku tak ingat kapan tepatnya kutinggalkan kota-kota tadi. Kota yang bermula dari ujung jemari. Kota-kota yang tidak siang tidak petang, saban hari satu per satu kusinggahi; singgah, pergi, lantas kembali. Barangkali sejak kupotong dua jempolku sebab ada dua mulut di sana yang tak henti mencaci dan beraroma layaknya tahi. (44)

– NF Rifana, perempuan Agustus asal Mojokerto, Jawa Timur

 

[1] Disalin dari karya NF Rifana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 12 Agustus 2018