Riwayat Haji

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

“Doa apa yang hendak kalian titipkan padaku sewaktu di depan ka’bah nanti?” Haji Mashurat mengajukan pertanyaan, disertai anggukan kepala berulang-ulang. Jam dinding berputar di atas kepalanya. Haji Mashurat mengedarkan pandangan. Membiarkan orang-orang berbisik serupa suara lalat. Bulan muncul dari balik dekapan awan dan merayap di permukaan langit. Mereka datang ke rumah Haji Mashurat guna mendoakan keselamatan laki-laki gemuk, berkumis tebal itu berangkat haji untuk kelima kalinya.

“Doakan yang baik-baik saja. Semoga kelak kami juga bisa naik haji,” terpaksa Rahnawi menjawab. Ia tak ingin memancing emosi Haji Mashurat karena tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan. Haji Mashurat melilitkan sorban putih di kepalanya. Kerut-kerut di dahinya mulai tampak membentuk garis yang terombang-ambing. Jari jemarinya dipenuhi cincin akik berbagai macam warna.

Angin dari balik perbukitan membawa hawa dingin. Menghunusnya ke dalam pori-pori kulit. Haji Mashurat membenarkan posisi. Pada saat itulah, dengan binar-binar kebanggaan di matanya, Haji Mashurat kembali akan mengurai kisah-kisahnya sewaktu di Mekkah. Ia mengedarkan pandangan. Menandai penghargaan atas kehadiran tamu undangan. Berdehem-dehem guna menghilangkan sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Ia atur alur napasnya.

“Dulu…” Haji Mashurat diam sejenak. Menunduk. Dua bola matanya menyimpan gerimis tipis sehalus sutra. Kurang lebih satu menit ia melanjutkan,“Saya tidak menyangka bisa mencium hajar aswad bahkan sampai berulang-ulang. Dan berkali-kali pula menginjakkan kaki di tanah suci. Saya merasa nikmat disana. Itulah mengapa saya tak ingin berhenti pergi ke sana.”

“Saya bermimpi bertemu Rasulullah. Kata orang, tidak akan datang Nabi ke dalam mimpi seseorang kecuali ia sudah bersih hati dan memang dipilih Gusti Allah.” Mata Haji Mashurat berkaca-kaca. Ia mengusap gerimis yang meleleh di kedua pipi tembemnya dengan sorban. Orang-orang terharu. Terkagum-kagum. Sampai-sampai ada yang ikut meneteskan air mata. Ada pula yang berbisik-bisik dan mencibir.

“Membual! Mana mungkin Rasulullah hadir dalam mimpimu!” Rahnawi melenguh dalam hati. Menyimpan cibiran di dalam dadanya. Melintas dalam  ingatan Rahnawi, tiga tahun lalu ucapan Haji Mashurat melubangi dadanya. Jantung Rahnawi hampir copot dari tangkainya kala itu. Namun ia tetap bersikap wajar kepada haji Mashurat. Tak memelihara dendam.

Waktu itu, jam delapan pagi. Matahari mendaki permukaan langit dari balik bukit Garincang. Seekor burung melayang-layang, sesekali hinggap di atas dahan. Isak tangis Simar, istri Rahnawi membuatnya terhisap memasuki kepedihan demi kepedihan di dalam hatinya. Misdar, anak mereka sakit keras. Ia cuma dibiarkan terbaring berhari-hari di atas ranjang.

Baca juga:  Perempuan Tua dan Seekor Anjing

Padahal bocah tujuh tahun itu harus segera dioperasi karena usus buntu. Sebagai kepala keluarga Rahnawi tentu merasa bertanggung jawab. Tapi, laki-laki kurus kerempeng itu tidak sanggup membawa anak lelaki satu-satunya ke rumah sakit lantaran terhalang biaya. Rahnawi cuma seorang petani. Kerja serabutan. Penghasilan tak jelas. Mendengar tangis istrinya yang panjang dan menyayat kian membuat Rahnawi merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri atas ketakberdayaan yang mencekiknya.

“Haji Mashurat.” Gumam istri Rahnawi diantara isak tangisnya. Tubuh Misdar merasakan sakit yang teramat pada perutnya. Ia meronta-ronta, diseratai jerit melengking. Dengan sandal jepit yang dikenakannya, Rahnawi melangkah terpiuh-piuh untuk sampai di rumah gedung bertingkat, dengan lampu-lampu serupa bunga mawar milik Haji Mashurat.

Gemetar merambat dari ujung tumitnya begitu ia tiba di rumah Haji Mashurat. Seorang pembantu menyambutnya. Menyilakan masuk. Di ruang tamu berpendingin, segelas teh dihidangkan oleh pembantu. Dinanti-nanti Haji Mashurat belum juga menemui Rahnawi yang mengatur alur napasnya sejak tadi. Ia meremas-remas tangannya yang mulai basah.

Tidak lebih dari enam menit. Haji Mashurat telah keluar membawa sebungkus rokok. Rahnawi berdoa agar laki-laki bersorban di hadapannya bersedia membantu kesulitan yang tengah membelitnya. Dengan tersenyum, Haji Mashurat menyodorkan sebatang rokok. Rahnawi merasakan keringat mengucur di sekujur tubuhnya. Ia belum berani mengatakan maksud kedatangan.

“Tumben kau ke sini?” Haji Mashurat memulai. Mengurai ketegangan yang merambat sekujur tulang belulang Rahnawi. Ia tergagap untuk bicara. Ia melempar pandangan keluar jendela, pada baris pohon-pohon siwalan yang diterpa angin.

“Begini…” suara Rahnawi terputus. Ia seakan tak sanggup menguarai niat kedatangannya. Jam dinding di atas kepalanya berdetak tak seirama dengan laju degup jantungnya yang dirasakan payah. Sesaat kemudian, dengan menarik napas dalam-dalam ia bicara pelan seperti desir angin. “Saya butuh bantuan Mas Haji.” Haji Mashurat mengangguk-anggukkan kepala.

“Anak saya sakit keras. Ia harus dioperasi. Kalau boleh, saya ingin pinjam uang.” Haji Mashurat menyemprotkan asap rokoknya. Laki-laki bergamis, dengan sorban melilit di kepalanya itu mengernyitkan dahi, menimbang-nimbang apa akan menuruti permohonan Rahnawi atau membiarkan laki-laki kerempeng itu menelan kesedihannya sendiri. Haji Mashurat mengulas bibirnya dengan senyum kecut.

“Maaf… maaf saya tidak dapat membantu.” Jawab Haji Mashurat pendek. Mendengar ucapan itu, Rahnawi merasa seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Terbayang sudah bagaimana nasib anaknya. Ia seperti kehilangan tenaga untuk bangkit dari duduknya.

“Semua uang saya sudah disetor untuk naik haji. Saya harus berangkat haji lagi.” Haji Mashurat memang dikenal lantaran kehajiannya yang berulang-ulang. Namun ia juga dikenal lantaran sifat kikirnya yang teramat kepada tetangga.

Baca juga:  Sang Penyair, Pelukis, dan Mungkah

“Bukannya Mas Haji sudah berkali-kali ke tanah suci?” Pertanyaan ini sempat diajukan Rahnawi sebelum lelaki kurus kering itu pulang menelan kekecewaan. Haji Mashurat menampakkan gigi-giginya yang mulai berkurang. “Saya cinta Rasulullah. Makanya saya harus naik haji berkali-kali selama masih hidup.” Rahnawi terlihat ingin meludah mendengar ucapan Haji Mashurat yang seperti itu. Tapi, ia buru-buru pamit pulang. Sehingga tubuhnya sudah hilang ditelan pengkolan jalan ketika Haji Mashurat mendengar keresak kasar sandalnya makin menjauh.

“Haji kampret!” Ia menyimpan umpatan itu di dalam dadanya yang meletup-letup. Langit sedang menghampar warna biruh cerah. Lima hari setelah itu, Misdar dijemput Izrail. Suami istri itu mengutuk dirinya atas ketakberdayaan memboyong anak lelakinya ke rumah sakit. Tangis Simar, kian panjang dan dalam. Penuh gumpalan kesedihan. Ia berusaha menenteramkan goncangan jiwanya dengan menabur bunga-bunga di atas pusara sang anak.

Dengan mata berkaca-kaca, Rahnawi tersadar dari lamunan panjangnya. Suara keras Haji Mashurat membuyarkan ingatan akan peristiwa kelam dalam hidupnya. “Kalau ingin naik haji bersihkan hati kalian. Tentunya kalian harus punya uang untuk sampai kesana.” Haji Mashurat menggulung sebagain baju di lengannya sehingga tampak arloji kuning keemasan berkilauan. Malam kian larut. Bulan timbul tenggelam dalam dekapan awan. Orang-orang bubar. Haji Mashurat bangkit, menerima uluran tangan orang-orang yang bersalaman kepadanya. Ia pun menepuk semua pundak orang-orang dan berujar, “Semoga bisa naik haji sama seperti saya.”

***

Dalam temaram lampu teplok yang terpiuh-piuh ditiup angin. Rahnawi tengah menyandarkan tubuhnya ke dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Hujan menggedor-gedor atap rumahnya. Hidupnya bergelantungan di garis kemiskinan. Segelas teh tanpa gula dihidangkan di atas meja oleh Simar. Meskipun begitu, ia terbilang laki-laki nekat. Nekat naik haji. Tempo hari, laki-laki yang makin menonjolkan tulang belulang di tubuhnya itu bilang kepada Simar bahwa ia akan menabung demi bisa sampai di tanah suci.

“Jangan nekat, Mas.” Istrinya merasa tak yakin Rahnawi akan sampai di Mekkah. Menanggapinya Rahnawi memberikan senyuman.

“Untuk ibadah ya harus nekat. Yakinlah pasti dikabulkan.” Rahnawi meyakinkan. Mantap. Ia hisap sebatang kelobot. Asapnya berputar-putar di udara.

Kini hampir satu tahun kurang sepuluh hari. Tersimpan sudah dua puluh juta di dalam lemari. Rahnawi banting tulang demi tanah suci. Dengan pencapaian itu, Rahnawi semakin yakin dirinya bisa mencium hajar aswad atau berdoa di depan makam para Nabi. Jam delapan malam. Angin menusuk-nusuk daun mangga. Terdengar pintu diketuk. Rahnawi meminta Simar segera membukanya.

Baca juga:  Banaspati

Seorang perempuan tua, keriput, dan bungkuk sedang berdiri di ambang pintu. Simar dapat mendengar tarikan napasnya berat dan goyah. Ia bicara terbata-bata disertai derai batuk. Bahwa cucu satu-satunya sedang terbaring di rumah sakit dan mesti dioperasi. Tak lama kemudian, perempuan tua itu menangis panjang dan sangat dalam.

“Berapa yang dibutuhkan untuk biaya operasi nek?” Rahnawi menggeser posisinya, duduk di sebelah si perempuan renta itu. Mengelus-elus tengkuknya.

“Rp 20 juta.” Jawaban nenek itu pendek. Kaget Rahnawi mendengar si nenek menyebut angka sebesar itu. Ia tarik napas dalam-dalam. Rahnawi masuk kedalam kamar. Dengan bungkusan berisi uang Rahnawi memberikan kepada nenek tersebut. Perempuan tua itu berniat mencium tangan suam istri itu pertanda terimakasih. Namun mereka menolaknya. Simar mengantar nenek itu sampai di depan pintu.

“Kenapa Mas berikan semua uang itu? Bukankah uang itu akan disetor untuk naik haji?”

“Apa guna saya naik haji kalau masih ada tetangga di sebelah rumah kita yang kelaparan. Apalagi ada tetangga yang sangat membutuhkan seperti nenek tadi.”

“Memang Mas kenal dengan nenek tadi?” Pertanyaan Simar membuat Rahnawi terperangah. Ia menggeleng. Sampai langit dibungkus gelap. Bintang ditabur di permukaan langit. Perempuan tua itu tetap diselimuti misteri. Suami istri itu berpegangan tangan ketika terlelap di atas ranjang. Dalam mimpi, Rahnawi bertemu dengan perempuan tua tadi. Walaupun wajahnya tampak jauh lebih muda. Ia tetap bisa dikenali. Tubuhnya mengeluarkan pendar-pendar cahaya. Ia berdiri di samping ka’bah. Melambai-lambaikan kedua tangannya kepada Rahnawi.

Pulau Garam, 2017

ZAINUL MUTTAQIN

Lahir di Garincang, Batang-batang Laok Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (Edukasi Press; IAIN Walisongo Semarang. 2013). Perempuan dan Bunga-bunga  (Obsesi Press; STAIN Purwokerto. 2014). Sepotong Senja, Sepenggal Sangka (FAM Indonesia, 2016). Tinggal di Madura. Email: lelakipulaugaram@gmail.com

[1] Disalin dari karya Zainul Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi 12 Agustus 2018