Sebuah Lukisan

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Lampung Post

KATANYA, lukisan memiliki makna yang mendalam. Penuh inspirasi. Dalam lukisan, ada kehidupan. Begitu kira- kira yang sering dipikirkan oleh Herlina sejak banyak orang membicarakan tentang lukisan. Baginya, lukisan tidak memiliki arti apa-apa, kecuali hanya sekadar hiburan saja. Bahkan dia sering menganggap aneh lukisan yang kata orang-orang sangat bermakna. Padahal, lukisan itu hanya oret-oretan tak karuan dari krayon atau cat.

Beberapa kali Herlina diperlihatkan sebuah lukisan oleh teman-temannya saat duduk ngopi di sebuah kafe yang menjadi langganannya. Tapi, sama sekali dia tampak biasa-biasa saja. Mungkin memang benar selera seseorang itu berbeda. Sangat subjektif. Lebih dari itu, kadang malah fanatik atas subjektivitas atas pendapatnya sendiri.

“Bagus juga sih,” kata Herlina suatu ketika saat dilihat sebuah lukisan oleh temannya.

“Ya, kamu seperti tak punya perasaan sama sekali,” ujar Dewi dengan manja. Bibirnya sedikit maju. “Atau jangan-jangan kamu membohongi perasaanmu sendiri.”

Herlina tertegun. Dia berusaha mengabaikan omongan sahabat karibnya. Tapi, pikirannya terus mencerna apa yang dikatakan oleh Dewi. Dia memang seperti berusaha membohongi dirinya sendiri. Entahlah. Herlina tetap diam, tanpa memberikan tanggapan lagi pada Dewi.

“Hei, Lin…” kata Dewi tiba-tiba menggantung. “Besok kita ke Kafe Sebal, yuk. Kafenya baru buka. Katanya lebih unik, menarik, dan inspiratif. Udah lah, kamu tak usah berbohong. Mantanmu juga bakalan balik. Dia sudah beristri.”

“Ah, kamu ini, Wik,” kata Herlina sok judes dan pahit muka. “Gak mungkin lah. Ayo, daerah mana tempatnya?”

Tak berapa lama, Dewi melihatkan sebuah peta di ponselnya. Herlina langsung memahami lokasi yang dimaksud. Tidak jauh dari kafe langganannya. Dari iklan yang dibaca, Kafe Sebal memang seperti menyuguhkan tempat dan situasi yang berbeda. Itu dirasakan oleh Herlina. Entah itu pengaruh iklan atau sekadar perasaan Herlina saja akibat persuasi Dewi.

“Baiklah, sudah tahu kan tempatnya?” tanya Dewi memastikan.

“Iya. Besok aku langsung mau menjemputmu.”

Malam itu mereka menikmati kopi dan beberapa camilan yang dipesan. Tak biasanya perempuan menyukai kopi. Hanya Herlina perempuan yang selalu memesan kopi. Itu semacam kenangan saat masih berstatus pacaran dengan Kurnia. Tapi, Dewi tak pernah menyoal kopi yang menjadi minuman favorit sahabatnya meski dia sebenarnya tahu. Pelanggan perempuan kafe itu rata-rata memesan jus, termasuk Dewi yang tak pernah mencoba mencicipi kopi sama sekali. Katanya bikin insomnia.

Baca juga:  Sekelam Dirham

***

Pagi itu, Herlina sudah membasuh lekuk tubuhnya dengan air embun. Kulitnya yang kuning langsat semakin kenyal. Aroma wangi yang dipakai saat mandi menyeruak di sekitar kamar mandi hingga ke kamar pribadinya.

Dia perempuan yang terlihat sempurna sebelum putus dengan Kurnia. Tubuhnya yang sintal. Masa depan dan masa lalunya yang sangat bergairah. Semua lelaki selalu memperhatikannya. Tapi, dia tak mudah terjerat oleh jala-jala asmara setelah tak ada hubungan dengan Kurnia. Mungkin sakit itu tak pernah dia pikirkan meski kadang secara tiba-tiba hatinya terenyuh.

“Wik, kamu sudah, siap?” tanya Herlina pada Dewi di ponsel yang ditempelkan di pipi ranumnya. “Baik, baik. Aku segera berangkat.”

Dalam sekejap, Herlina memoleskan gincu pada dua bibir mulutnya. Padahal dia tak usah memoles gincu sedikit pun. Bibirnya sudah terlihat merekah merah muda. Kecantikan alami itu yang membuat banyak lelaki menyukai Herlina, meski tak sembarang lelaki berani mendekatinya. Sebuah parfum khas disemprotkan pada bagian leher di belakang telinganya. Lalu dia menuju garasi motornya. Bajunya yang terbuat dari kain tipis, melambai saat Herlina bergerak. Seakan membelai kulitnya yang halus.

Tak seberapa lama, Herlina tiba di rumah Dewi. Sebuah senyum mekar dari bibir Dewi. Dia segera menuju Herlina yang menunggu di halaman rumahnya. Tanpa basa-basi, Herlina segera memacu motornya menuju lokasi Kafe Sebal yang tak begitu jauh. Dari halaman kafe, Herlina tak melihat banyak pelanggan di sana. Hanya ada beberapa orang lelaki dan sedikit perempuan. Baru setelah dia memesan kopi, pelanggan berdatangan. Seperti turut-serta Herlina datang ke Kafe Sebal. Situasi kafe tak seperti pada iklan yang dibaca. Herlina hampir mengutarakan itu pada Dewi.

Baca juga:  Tak Perlu Pakai Nasi

“Iya, ya,” tiba-tiba kata Dewi komplain pada dirinya sendiri. “Kok biasa-biasa saja kafe ini?”

“Ya, itu kan bahasa iklan saja, Wik,” timpal Herlina sedikit kecewa.

Sembari menyeruput kopi yang dipesan, Herlina memerhatikan seorang pelayan perempuan yang secara perlahan seperti merencanakan sesuatu dengan rekannya. Tanpa lepas dari sosok pelayan perempuan itu, Herlina tak memalingkan pandangannya.

Secara perlahan, dinding yang masih putih bersih itu ditarik. Ternyata dinding hanya ditutup kain dengan begitu ketat, sehingga menyerupai dinding. Herlina baru tersadar setelah melihat sebuah lukisan di balik kain putih yang disingkap oleh pelayan perempuan bersama rekannya.

“Wik, kita pulang, saja,” kata Herlina secara tiba-tiba pada Dewi yang sontak kaget.

“Kenapa?” tanya Dewi sembari mengikuti arah mata Herlina memandang.

“Lah, lukisan itu…” ucapan Dewi tercekat dengan gonta-ganti memerhatikan Herlina dengan lukisan di dinding Kafe Sebal.

“Kafe Sebal ini benar-benar membuatku sebal,” katanya dengan wajah tak bersahabat.

Lukisan di dinding Kafe Sebal itu menyerupai lekuk tubuh dan rupa Herlina. Seorang gadis berambut panjang terurai dengan dada menonjol dan tubuh sintal sedang duduk bersimpuh di dekat vas bunga mawar. Sementara tangannya memetik bunga dan mencabik pucuk bunganya. Tapi, Herlina berusaha tenang. Dia khawatir para pelanggan kafe menyadari gerangan yang tergambar pada lukisan di dinding itu.

“Ayo kita pulang, Wik!” kata Herlina setelah melihat kelebat Kurnia yang tak jauh di dekat kasir.

Dewi hanya memerhatikan arah pandang Herlina. Di sana, di dekat kasir, memang ada Kurnia. Dewi mulai menemukan jawaban tentang rahasia Kafe Sebal itu. Juga tentang Herlina. Mungkin Kurnia masih menyimpan rasa pada Herlina. Sehingga, lukisan Kafe Sebal yang dirintis pun diukir dengan gambar gadis menyerupai Herlina.

“Aku pokoknya tak rela!”

Dewi bungkam. Herlina berdiri dengan raut wajah kecut bagai asam. Dia menjelma lagu Nella Kharisma Kecut Bagaikan Asam dalam benak Dewi yang segera menahan tawanya. Dewi melihat ekspresi Herlina tampak berang dan marah besar, seperti cintanya dulu pada Kurnia yang tak mudah dibakar godaan lelaki lain.

Baca juga:  Lelaki Badai Hujan

“Sudah, Her…” kata Dewi mencegat Herlina yang mulai akan melang- kahkan kakinya menuju Kurnia. “Tak usah dipermasalahkan.”

Sontak, seluruh pengunjung Kafe Sebal memerhatikan Dewi yang berusaha mencegat langkah Herlina karena suara cukup nyaring. Begitu juga dengan Kurnia yang sedang berbincang dengan seorang kasir cantik. Keadaan menjadi hening, kecuali suara musik koplo yang mengalun mengiris perasaan. Mereka juga memerhatikan Herlina bergantian dengan lukisan di dinding Kafe Sebal.

Suasana semakin mencekam saat para pelanggan tahu tentang lukisan di dinding kafe. Siang itu, Herlina mandi keringat. Lalu dia beranjak keluar kafe yang diikuti oleh Dewi dan mata-mata penuh keheranan yang terus memandangnya. Air matanya terus mengalir seakan memenuhi jalan yang dilewati.

Dia sebenarnya berharap Kurnia menyusulnya saat pergi dalam keadaan emosi membuncah. Tapi, dia tak merasakan tanda-tanda diikuti oleh Kurnia. Rasa kecewanya pun semakin menjadi. Herlina sadar, dia bukan siapa-siapa lagi bagi Kurnia. Tapi, Herlina tak mengerti tentang Kurnia yang memakai ilustrasi dirinya jika dia tak peduli lagi pada Herlina.

Sebenarnya, dalam hati terdalam, Herlina merasa bangga dan kagum meski kadang terasa menyakitkan atas ilustrasi lukisan Kafe Sebal. Tubuhnya yang sintal dan dada menonjol serta bokong bohai terukir indah di dinding. Ditambah lagi, banyak pelanggan yang tahu kalau lukisan itu tak lain bentuk tubuh Herlina.

Siang itu bagi Herlina seakan menjadi hari yang penuh rasa. Penuh warna. Seperti pelangi yang ada noktah hitam pada warna-warnanya. Lukisan kafe telah membawa perasaannya pada api masa lalu, membakar selain memang membuatnya hangat.

Yogyakarta, 23 November 2017

 

[1] Disalin dari karya Junaidi Khab
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu, 12 Agustus 2018