Sepotong Roti Hijau

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

DARSUNI menyaksikan pemandangan itu tanpa sempat merasa pedih. Hatinya telah serupa pisau yang tebal oleh karat. Tumpul di mana-mana. Tak ada yang Darsuni rasakan. Perasaannya datar saja seperti permukaan meja. Sementara sepotong roti itu terus bergulir dari satu telapak ke telapak yang lain.

Semua sama mungilnya, telapaktelapak itu. Masing-masing satu gigitan, lalu sepotong roti di kejauhan itu berpindah ke tangan yang berikutnya. Terus begitu sampai nanti roti ludes. Yang mendapat potongan terakhir tentu merasa begitu mujur. Sedang yang di sebelahnya hanya akan memandanginya mengunyah dan menelan potongan terakhir itu sambil menelan liur.

Pemandangan yang lumrah. Entah di luar sana. Tetapi di dunia Darsuni, yang demikian telah terjadi sejak dahulu kala. Bahkan sepertinya sebelum ia mengada. Jadi, batin Darsuni dan orangorang yang seperti Darsuni, jangan lebay ah. Biasa saja. Sayang jika kau harus ternganga, terperanjat, apalagi sampai berkaca-kaca dan menurunkan hujan oleh pemandangan yang telah sekarib itu.

Tak ada panggung untuk mementaskan drama di sini. Yang ada hanya kejujuran-kejujuran, potret hidup yang senyatanya. Darsuni melanjutkan pekerjaannya membersihkan gelas-gelas bekas air mineral. Matanya terpaku antara bibir gelas, pisau silet, dan jari-jarinya yang kapalan. Sayup-sayup, suara cekikikan bocah-bocah itu masuk ke telinga kanannya dan keluar dari telinga kirinya, menerbangkan serpihanserpihan ingatannya ke seantero udara kota yang pengap, tak seperti layaknya ruang terbuka.

***

DARSUNI ingat, malam itu, saat adik bungsunya masih ada di dalam perut ibunya yang sangat besar, ayahnya tiba tanpa sempat mengetuk pintu barang sekali. Lelaki itu bahkan langsung mendorong pintu, yang untungnya tengah tak terselot. Kalau terselot, bukan Darsuni mengkhawatirkan suara kerasnya akan mengejutkan adik bungsunya, melainkan khawatir dorongan yang kuat seketika melepaskan engselengselnya.

Itu pintu yang sangat tua. Ringkih oleh usia, lebih-lebih hanya terbuat dari beberapa lembar papan bekas yang disatukan. Bagian bawahnya telah bergerigi digerogoti tikus-tikus got yang sebesar lengan. Sebentar lagi, jika tak segera ditambal, tikustikus itu tentu dapat leluasa keluar masuk melewatinya.

Darsuni bergidik tiap membayangkan itu. Mungkin, tikus sebesar itu bahkan doyan jempol kaki dan jari-jarinya yang lain. Bagaimana jika ia terbangun di suatu subuh dan tahu-tahu kedua telapak kakinya telah rata tanpa satu pun cuatan jari? Ya ampun, itu mengerikan sekali!

Baca juga:  Sepasang Matryoshka

Tak seperti biasa, kali itu wajah ayahnya berseri-seri, menambah terang ruangan sempit yang cuma berpenerangan bohlam lima watt itu. Bohlam lima watt yang tak lagi baru. Mungkin besok atau lusa benangnya putus. Atau paling lama seminggu, jika beruntung. Kau bisa membayangkan redupnya.

“Lihat, apa yang Ayah bawa?” ujar lelaki itu selagi masih di ambang pintu sambi mengangkat sebelah tangannya.

Dan sepasang mata Darsuni bukannya langsung memaku sesuatu yang berayun-ayun di tangan ayahnya, melainkan justru senyumnya. Senyum itu merekah lebar sekali. Seperti bunga yang mekar sempurna. Dan gigi-gigi kuning yang menjadi makin kuning gelap oleh cahaya bohlam itu seperti lebah-lebah yang tengah mengisap nektar.

“Ayah bawakan kalian roti!” lanjut lelaki itu penuh semangat dan langsung mengeluarkan sesuatu dari kantong plastiknya.

Dan kalian adalah kependekan dari Darsuni serta ketiga adiknya yang sudah tak menghuni perut ibunya. Dua perempuan dan satu lagi yang paling kecil laki-laki. Ayahnya bahkan lupa tak menutup kembali pintu saat menyodorkan roti yang masih terbungkus plastik bening pada Darsuni. Darsuni menerimanya. Tak antusias, tetapi juga tak terkesan tidak tahu terima kasih. Itu roti! Benar-benar roti! Sementara ketiga adiknya yang beringus langsung mengeroyoknya dengan tatapan ingin tahu sekaligus … lapar.

“Kau membelinya? Sayang sekali. Kita bahkan tak punya beras.”

Itu suara ibu Darsuni yang pendiam. Kedua tangannya tengah sibuk. Satu memegang jarum, satu lagi memegang benang nyaris di ujungnya. Kedua tangan itu terangkat ke arah bohlam gantung dan sepasang matanya memicingmicing, berusaha memasukkan benang ke lubang jarum.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku mendapatkannya.”

Aku mendapatkannya. Darsuni sudah bisa menebaknya. Itu juga penghalusan untuk menemukan di suatu tempat lalu memungutnya. Dan, suatu tempat. Itu juga tertebak dengan mudah. Tempat ayahnya berkecimpung nyaris sepanjang waktu, dari hari ke hari bahkan tahun ke tahun. Lautan sampah berkubik-kubik yang mengepung sekotak rumah papan mereka dan rumah-rumah serupa lainnya.

Baca juga:  Tanda

Di kemasan plastiknya bahkan ada jejak sayur busuk. Hijau kehitaman dan oranye. Mungkin semacam caisim atau bayam dengan wortel. Darsuni mengelapnya dengan tepi kausnya sebelum membukanya dan membaginya menjadi empat. Sama besar, sama hijaunya. Bercakbercak hijau yang menjadi sedikit biru di tengah keremangan. Melalui ekor mata, Darsuni tahu ibunya mengangguk sambil menyimpul kedua ujung benangnya.

“Ada lagi?” sahutnya seraya mulai menisik dan baju yang rombeng akan tampak makin rombeng.

Pada titik ini, Darsuni dalam hati selalu bertanya-tanya. Jadi, mana yang lebih baik? Lubang-lubang di baju-baju itu ditambal atau justru dibiarkan saja menganga? Tak pernah ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

“Tentu. Seperti biasa. Wortel, kubis, juga kentang. Tak pernah ada biji jagung tersisa di tongkolnya dan sawinya terlalu busuk untuk bisa diolah. Mungkin karena kemarin malam hujannya deras sekali.”

Ibunya kembali mengangguk. “Bagus. Kalau begitu, masih ada harapan untuk besok.”

Anggukan ibunya kecil saja, perhatiannya begitu terpusat pada tisikan di hadapannya, dan Darsuni telah hafal di luar kepala irama yang terus diputar ulang di dalam rumah itu.

“Lain kali aku akan tetap keluar dan memeriksa muntahan truk itu sekalipun hujan badai. Sayang sekali kalau yang seharusnya masih bisa dimanfaatkan menjadi sia-sia hanya karena kita terlambat mengambilnya.”

Ibu Darsuni mengangguk lagi, menggigit dan menyentak benang kuat-kuat. “Begitu lebih baik.”

Dan seluruh roti hijau telah masuk ke perut. Adik Darsuni yang laki-laki bahkan mengambili remah-remah di sekitarnya dengan jarinya yang basah lalu menjilatinya.

“Nah, bagaimana roti kalian? Enak, kan?”

Darsuni mengangguk bersama kedua adik perempuannya. Adik perempuan yang paling besar bahkan menambahinya dengan, “Kapan-kapan bawakan donat, Ayah. Aku ingin sekali makan donat. Kata orang-orang, donat enak sekali. Paling enak di antara semua roti.”

Adik perempuan Darsuni yang lain menimpali, “Yang atasnya cokelat keju ya, Yah?”

Baca juga:  Minta Hujan Uang

Lelaki itu tertawa. “Tentu saja. Hanya sebuah donat cokelat keju, kan?”

Lalu adik Darsuni yang tak bisa lagi mengambil remah apa pun dengan jarinya yang basah ikut angkat suara, “Apa donat juga hijau, Yah?”

Darsuni seketika mendongak. Ayahnya berhenti tertawa. Dan benang bohlam lima watt itu putus tepat saat Darsuni yakin ada yang meleleh di pipi ibunya.

***

DI kejauhan, anak-anak itu telah kembali berkejaran. Bermandikan sampah, dikerubuti lalat-lalat, atau justru mereka yang mengerubuti lalat-lalat. Jari-jari Darsuni dan pisau siletnya bergerak kian cepat. Srat, sret, srat, sret dan gundul sudah bibir gelas-gelas itu. Mendung makin tebal dan gemuruh telah terdengar. Sedikit lagi, pikir Darsuni, saat titik pertama jatuh di punggung tangannya.

“Bapak! Gerimis, Pak!” Darsuni mendongak, “Ayo, bawa adikmu masuk! Nanti ibumu marah!”

Jari-jari dan pisau silet Darsuni bergerak kian cepat dan makin cepat saja. Sangat cepat sampai titik-titik yang menyusul jatuh bukan lagi bening, melainkan merah. Kaki-kaki kecil itu berlompatan di atas samudra bacin, menerbangkan satu-dua plastik dan kertas yang tersangkut di antara jari-jari kaki dan sandal jepit.

Terbang bersama ingatan Darsuni saat ia harus menyunggi baskom tak seberapa berat sambil meneriakkan, “Lauk! Lauk! Bakwan sayur, sambal goreng kentang! Bakwan! Bakwan! Sambal goreng kentang! …” Di luar sana, dunia tak hentihentinya bergerak. Di sini, di dunia Darsuni, dunia serasa menjebak. Kian pengap, kian membuat dada sesak. Hujan turun deras sekali, membungkam jeritan dua bocah yang menyaksikan jagoan mereka tiba-tiba jatuh terkapar di antara gunungan gelas bekas air mineral. Pisau silet dalam genggaman. Jari-jari tangan kiri nyaris putus dan di pergelangan, takdir itu digariskan.

 

Surakarta, 4 Agustus 2018

Marliana Kuswanti senang menulis dan dua novel Sepasang Angsa Putih untuk Palupi (Bhuana Sastra, 2017) dan ABADI TAILOR, Mengejar Cinta Tifanny (Bhuana Sastra, 2018) sudah terbit.

 

[1] Disalin dari karya Marliana Kuswanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi 19 Agustus 2018