Surat Cinta Untuk Bunda

Karya . Dikliping tanggal 27 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Lampung Post

Namanya Airin, salah satu anak yang besar dan hidup di Panti Asuhan Pelita Bunda. Seorang anak yang sejak kecil tidak pernah tahu siapa orang tuanya, di mana mereka dan apa pun mengenai keterangan identitas ayah ataupun ibunya. Sejak dulu ia tidak pernah mengenal arti keluarga, bagaimana indahnya keluarga itu, bagaimana kasih sayang yang bisa ia dapatkan dalam keluarga.

Ah, mungkin itu khayalan belaka yang sampai kapan pun tidak bisa ia rasakan. Mungkin itulah sebabnya, ia menjadi pendiam, tak banyak bicara dan sulit bergaul dengan orang lain. Setiap pulang sekolah, ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke taman. Hanya untuk sekadar duduk di bawah pohon dan menikmati hembusan angin lembut yang mampu membelai siapa pun.

“Kamu sudah di sini?” Suara serak seorang kakek tua, yang senantiasa menemani Airin sepulang sekolah, membuat Airin mendongak dan tersenyum. “Kamu sedang menulis apa?” Tanya kakek tua itu selepas mengambil duduk di sebelah Airin. “Aku bukan sedang menulis, tapi sedang menggambar wajah bunda.” Jawabnya. “Memang kamu sudah pernah melihat bunda?” Pertanyaan itu berhasil membuat air mata Airin mengalir melewati ujung matanya, ia menggelengkan kepala. “Tak apa, tak usah menangis kakek yakin suatu hari nanti kamu bisa bertemu dengan bunda.” Ucap kakek tua yang berusaha menenangkan Airin sambil mengelus lembut puncak kepala gadis perempuan itu.

Sore berubah menjadi malam, terang berangsur menggelap Airin harus segera beranjak dan pulang ke panti. “Kek aku pamit dulu,” ucapnya sambil mencium punggung tangan kakek tua itu dan bergegas pergi.

Sebelum tidur, ia selalu menulis surat di atas selembar kertas lalu melipatnya dan ia masukkan ke dalam sebuah wadah besar tertutup yang diberi lubang untuk memasukkan setiap kertas itu. Perlahan ia menutup matanya, dan bergabung dengan alam mimpi yang sangat indah. Mempersiapkan hari esok agar menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Raja siang baru saja bangun dan memancarkan cahaya terangnya untuk dunia. Menyelinap melewati setiap celah yang ada di jendela, mengenai mata Airin sehingga membuatnya terbangun dan bersiap menyambut pagi. Airin mengucek matanya lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Setelah itu, ia mengambil kotak sarapan dan memasukkannya ke dalam tas sekolah.

Baca juga:  Surat Cinta untuk Bunda

“Bu Ann, aku pergi sekolah dulu. Assalamualaikum” Ucapnya lalu menaiki sepeda yang diberikan salah satu donatur saat ia masih kelas enam sekolah dasar. Namun saat ia hendak mengayuh sepedanya sebuah foto menarik perhatian Airin. Di foto tersebut ada seorang bayi dan seorang perempuan yang terlihat amat senang. Tanpa berlama-lama ia memasukkan foto tersebut ke dalam saku roknya.

Bel istirahat berbunyi, membuat seluruh siswa yang ada di dalam kelas berhamburan ke luar. “Rin, ayo kita ke kantin” Ajak Tesya, teman sebangku Airin. “Tidak, aku di sini saja,” tolaknya.

Setelah semua siswa keluar, kini tinggallah Airin seorang diri di kelas. Ia mengeluarkan selembar foto yang tadi ditemukannya. Ia mengamati perempuan yang ada di foto itu, dengan sangat teliti. Dilihatnya juga sang bayi yang sepertinya baru satu minggu dilahirkan.

“Karena pada hari ini, para guru akan mengadakan rapat akhir tahun, diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi untuk segera pulang setelah jam pelajaran kelima berakhir. Sekian dan terima kasih,” suara pak Bambang terdengar menyeruak melewati speaker yang terpasang di sudut koridor sekolah, membuat seluruh siswa bersorak sorai karena pada hari ini pembelajaran dilaksanakan setengah hari.

Jam kelima baru saja berlalu, Airin kini sudah berada di parkiran dan mengambil sepeda miliknya. Ia mengayuh sepedanya dengan amat cepat, tidak peduli teriakan pengguna jalan lain yang merasa risih dengan ulah dirinya, “Hati-hati dong, Dek, kalo nanti ketabrak bagaimana?” ucap salah satu pengendara mobil sedan hitam yang baru saja disalip oleh Airin.

Ia berhenti di sebuah taman seperti biasa, dengan napas tersengal-sengal ia berteriak, “Kakek…, kakek di mana?” Airin mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut taman itu, berharap melihat kedatangan si kakek. “Ada apa?” Sebuah tangan menyentuh pundak Airin membuatnya sedikit terpelonjak. “Ada apa? Kamu nyari kakek?” Tanya kakek tua itu sambil berjalan menuju sebuah kursi. “Ayo sini,” ujarnya sambil menepuk bangku taman yang kosong di sebelahnya.

“Kek tadi pagi, aku menemukan selembar foto ini di tempat biasa aku menyimpan sepeda. Menurut kakek ini foto siapa dengan siapa?” Tanya Airin langsung pada persoalan yang ingin ia tanyakan. “Kakek tidak tahu ini siapa, tapi bisa saja ini foto kamu bersama bunda. Kalau begitu, minta sama ibu Ann foto kamu waktu masih bayi lalu samakan foto kamu dengan foto bayi ini.” Suruh kakek tua itu.

Baca juga:  Pertunjukan

Airin pergi meninggalkan kakek setelah pamit kepadanya. “Ibu Ann, ibu Ann di mana?” Airin memanggil-manggil ibu Ann, ia mencarinya ke dapur, kamar, taman belakang, namun tidak ada. “Ibu Ann..”.

“Ada apa Airin manggil ibu, kok jam segini kamu sudah pulang?” Tanya ibu Ann yang baru saja keluar dari kamar mandi. “Tanyanya nanti saja ya bu, ibu Ann punya foto aku waktu kecil, maksudnya fotoku waktu masih bayi” Airin berharap bu Ann menjawab ‘Iya’. “Kalau tidak salah ibu menyimpan fotomu waktu pertama kali ibu menemukan kamu,” Jawabnya.

“Syukurlah, boleh aku melihatnya?” “Tentu, tunggu sebentar ibu ambil dulu.” Ibu Ann masuk ke kamarnya untuk mengambil foto yang dimaksud. “Ini,” Ibu Ann memberikannya pada Airin. Betapa terkejutnya ia setelah mendapati foto dirinya yang diberikan ibu Ann dengan foto bayi yang ditemu- kannya sama persis, bahkan baju yang dikenakan pun sama. “Bunda..” Airin menangis ketika pertama kali ia melihat potret bundanya yang sangat cantik. “Bu Ann, apakah ibu mau menemani Airin mencari bunda?” Bu Ann mengangguk ia pun ikut merasakan apa yang Airin rasakan sekarang.

Hari berganti, Airin sudah siap. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu bunda. Setelah kemarin sore sampai larut malam mencari keberadaan bunda akhirnya Airin bisa mengetahui di mana sekarang bundanya berada. Dengan menaiki KRL dilanjutkan dengan naik angkot, Airin menemukan sebuah rumah besar di mana menurut informasi yang ia dapat bersama ibu Ann, di sanalah bunda tinggal.

Airin menekan beberapa kali bel rumah tersebut, hingga muncullah seorang pembantu di balik ger- bang besi itu. “Ada perlu apa ya?” Tanya pembantu itu. “Apa benar ini rumah bunda, m..mak..maksudnya rumah bu Arum Khastari?” Airin balik bertanya pada pembantu tersebut. “Benar ini rumahnya Bu Arum”. “Bu Arumnya ada? Kami ingin bertemu” Kini Ibu Ann yang berbicara. “Ada, kalau begitu silakan masuk.”

Airin dan ibu Ann mengikuti langkah pembantu tersebut memasuki rumah bak istana itu, “Tunggu sebentar sepertinya Bu Arum dan Pak Darma sedang ada tamu. Silakan tunggu dulu di sini.” Pembantu tersebut mempersilakan Airin dan ibu Ann untuk menunggu. “Kalau boleh tahu, Pak Darma itu siapanya Bu Arum?” Tanya ibu Ann. “Oh, Pak Darma itu ayahnya Bu Arum, Bu. Kalau begitu saya ke dapur dulu.”

Baca juga:  Malam Pengantin

“Bunda…” Airin berlari dan langsung memeluk Arum tanpa memperdulikan tamu yang ada di sana. Arum terlihat kaget dengan kedatangan Airin. Darma langsung berdiri dari duduknya dan mendorong Airin hingga tubuh mungilnya tersungkur ke lantai, “Siapa kamu? Panggil-panggil bunda ke anak saya. Cepat pergi,” ucap Darma tanpa menunjukkan sedikit pun rasa belas kasihan.

“Bunda ini Airin, Bun, bayi yang bunda tinggal di panti lima belas tahun yang lalu,” Airin mencoba meyakinkan Arum. Arum menggelengkan kepalanya sambil menangis, ‘Airin anakku’ ucapnya dalam hati. Arum beralih melihat Darma lantas berkata, “Dia anakku, Pah”. “Bukan, dia hanya anak panti yang mengaku sebagai anakmu. Cepat pergi dari sini,” Darma semakin menaikkan rahangnya. Airin berlari keluar tanpa melihat ke kiri maupun kanan jalan, hingga sebuah minibus menabrak dirinya. Airin terlempar entah seberapa jauh, penglihatannya mulai kabur, helaan napasnya begitu berat, detak jantung dan denyut nadinya semakin melemah.

“Airin kenapa kamu tinggalin bunda, setelah sekian lama kita tidak bertemu?” Arum terus saja menangis sambil memeluk batu nisan bertuliskan Airin di sana. Ibu Ann menghampiri Arum dan memberikan sebuah surat padanya, “Saya temukan surat ini di bawah bantalnya Airin, saya kira ini untuk ibu”. Arum membuka surat itu dan membacanya dengan saksama.

Surat Cinta untuk Bunda

Bunda untuk kali pertama selama lima belas tahun ini akhirnya aku bisa melihat bunda, rasanya senang sekali. Aku berharap malam ini segera berganti pagi, aku ingin cepat memeluk bunda. Semoga surat ini bisa aku berikan langsung pada bunda. Aku berharap bunda juga ingin bertemu denganku. Ah rasanya tidak sabar. Selamat malam bunda. Dengan sayang dan cinta dari Airin.

Air mata Arum mulai berjatuhan membaca surat itu. “Maafin bunda Airin. Bunda selalu sayang sama Airin.”  ❑

[1] Disalin dari karya Renata Mulya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” Minggu, 26 Agustus 2018