Tirakatan

Karya . Dikliping tanggal 20 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat

“SELAMA masih ada rakyat miskin di negeri ini, awak ini tidak akan makan siang, tidak makan malam, tidak ngemil atau sekadar minum,” kata kakek, suatu ketika.

Aku juga pernah bertanya kepada ibu mengapa kakek menyiksa diri dalam kehausan dan kelaparan terus menerus?

“Itulah yang disebut tirakatan. Beda dengan puasa sebagaimana yang diperintahkan agama. Tirakatan itu bentuk protes terhadap keadaan buruk yang tidak diinginkannya. Selama keadaan buruk itu belum berubah menjadi baik seperti yang diinginkan, tirakatan tidak akan berhenti.”

Aku tidak bertanya lagi tentang arti tirakatan, khawatir kalau ibu membentakku agar segera membuka kamus atau bertanya kepada mbah google. Maka segera aku membuka kamus dan langsung menemukannya.

Lalu aku bertanya lagi kepada ibu, mengapa kakek rela tirakatan untuk memprotes keadaan buruk yang tidak diinginkannya, yakni di negeri yang sudah merdeka ini masih ada rakyat miskin. Jawaban ibu membuat mataku terbelalak.

Baca juga:  Dari Sebuah Lobang

“Kakek dulu ikut berjuang memerdekakan bangsa dan negara ini dengan berperang melawan penjajah. Dalam peperangan itu, Kakek membunuh sejumlah serdadu kompeni dan setelah itu bersumpah, kalau setelah merdeka ternyata masih ada rakyat miskin di negeri ini, dirinya akan tirakatan sampai tidak ada lagi rakyat miskin di negeri ini.”

Kakek betul-betul melaksanakan sumpahnya. Ibu pernah memprotes bahwa sumpah kakek itu tidak masuk akal, karena di negara mana pun selalu ada rakyat miskin. Tapi protes ibu tidak membuat kakek berhenti tirakatan.

Aku pun pernah meminta kakek membatalkan sumpahnya karena sampai kiamat pun pasti tetap ada rakyat miskin di negeri ini. Tapi kakek tetap tidak berhenti tirakatan.

Menurut cerita ibu, dulu sewaktu masih hidup nenek juga sering merayu kakek agar berhenti tirakatan, dengan sengaja memasak aneka menu kesukaan kakek di siang dan malam hari. Tapi kakek tetap tirakatan meskipun di meja makan penuh menu kesukaannya yang siap untuk dinikmati.

Baca juga:  Sepasang Merpati dalam Sebuah Cerita

Lalu nenek putus asa dan ikut-ikutan tirakatan. Kakek kasihan melihat nenek selalu lesu dan pucat karena ikut-ikutan tirakatan. Kakek kemudian menyuruh nenek agar berhenti tirakatan. Tapi nenek tetap tirakatan, hingga ajal menjemputnya.

Aku pun pernah mencoba mendesak kakek agar berhenti tirakatan dengan ikut-ikutan tirakatan, tapi aku hanya mampu tirakatan selama sepekan. Tubuhku sangat lemas dan wajahku pucat. Ibu membawaku ke rumah sakit. Aku diinfus agar segera kembali segar bubar.

“Makan dan minum yang banyak biar tidak mengalami malnutrisi lagi.” Dokter berpesan sebelum aku meninggalkan rumah sakit.

Setibanya di rumah, kakek menertawakan diriku. “Kamu tak akan kuat tirakatan. Kalau kamu nekat lagi tirakatan, bisa bahaya!”

Aku bersungut-sungut. Dan , aku mendadak sangat muak ketika membaca koran yang baru diantar loper. Ada berita di koran itu bahwa sejumlah kepala daerah dan segenap pejabat akan menggelar acara tirakatan pada malam 17 Agustus di pendapa kabupaten dengan tumpeng raksasa untuk dinikmati bersama.

Baca juga:  Suaramu Kunci - Hadirmu - Reformasi :nasibmu kini -

“Tirakatan ternyata sudah diubah menjadi pesta tumpeng,” gerutuku sambil membayangkan pesta nasi tumpeng di malam 17 Agustus tahun lalu. Setelah itu, aku juga teringat berita tentang sejumlah kepala daerah yang ditangkap KPK.

“Apakah karena tirakatan telah diubah maknanya menjadi pesta nasi tumpeng, kemudian korupsi merajalela di negeri ini?” tanyaku dalam hati. ❑ – g

Bumi Mina Tani, 2018

[1] Disalin dari karya Nahzil Muhsinin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 12 Agustus 2018