Tujuh Anjing Penjaga

Karya . Dikliping tanggal 21 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Anjing-anjing Bu Meli hilang pagi itu. Sepertinya mereka pergi karena bosan tidak diberi makan enak. Sebenarnya bukan cuma karena makanan yang diberi selalu basi dan tidak enak saja, melainkan juga tidak pernah membuat kenyang.

Anjing-anjing malang itu hanya diberi wewenang menggonggong pada waktu tertentu dan menggeram pada waktu tertentu pula, yakni saat malam hari ketika orang sudah tidur, dan bukan saat waktu makan. “Itu tugas mereka!” ketus Bu Meli saat seorang tetangga menyayangkan hilangnya anjing-anjing itu.

Tetangga itu bilang, kalau saja Bu Meli agak perhatian kepada anjing-anjingnya, misal memberi beberapa menu tambahan agar lebih setia, mungkin tidak akan ada cerita kehilangan.

Para penjaga gerbang rumah dari ancaman maling dan rampok itu barangkali jenuh dan kesal, tetapi tidak tega mencabik-cabik ratu yang seksi sebagai ganti makanan basi. Mereka lebih memilih pergi. Sayang, tanpa anjing-anjing, Bu Meli yang janda tidak bisa berbuat apa-apa demi dapat tidur nyenyak.

Bu Meli tanpa anjing-anjingnya adalah ratu tanpa pengawal. Tidak ada satpam dulu sampai kini di rumah ini, sehingga siapa pun mafhum betapa pelit orang ini. Sedikit utang diumbar-umbar. Sedikit bantuan digembar-gemborkan.

Orang lama-lama mengerti dan kapok, dan seandainya ada pembukaan pendaftaran satpam di rumah si janda, dipastikan tak ada satu pun pendaftar. Orang pelit memang tidak bisa dijadikan teman. Kalau Anda berteman dengan orang pelit dan tersesat berdua di padang pasir, Anda akan lebih dulu mati. Percayalah.

Maka muncul banyak spekulasi, karena anjing Bu Meli tujuh, juga karena beliau janda cantik yang seksi dan unik — untuk tidak menyebut pelit — ada yang bilang anjing-anjing itu memang sengaja pergi karena jenuh. Namun ada juga yang bilang ada kelompok pencinta binatang yang boleh jadi menggalang dana untuk memindahkan anjing-anjing itu secara diam-diam ke tempat yang baik bagi mereka.

“Tempat yang baik itu,” demikian kata sebagian pendapat, “adalah tempat yang tak kurang makanan. Ada berbagai wahana permainan yang menyenangkan juga bagi kaum anjing, misalnya mandi bola, perosotan, ayunan. Di rumah Bu Meli kan tidak ada begituan?”

“Tapi bisa saja anjing-anjing itu memang sengaja pergi dan mencari tuan baru. Di kota sebelah ada peternak anjing. Orangnya baik dan tidak pelit, tapi sudah tua dan bau tanah. Barangkali sebentar lagi orang itu mati dan anjingnya yang banyak entah pergi ke mana.

Baca juga:  Hari Terakhir Ah Xiang

Anjing-anjing Bu Meli mana tahu soal bau tanah, jadi mereka kira di tempat peternak tua itu bakal aman sentosa sampai hari kiamat mendatang. Mereka agak bodoh karena kurang gizi dan setiap hari disuruh jaga rumah dari maling dan rampok. Setiap hari jaga melulu. Kalau saya sih sudah gila!”

Tentu saja dari berbagai spekulasi ngawur itu ada yang beranggapan selalu ada kemungkinan bagi anjing-anjing lapar untuk menyerang dan memakan sang tuan. Dulu pernah di suatu kampung di kota ini, tuan pemilik beberapa ekor anjing pergi meninggalkan rumah selama dua minggu. Anjing-anjing itu tidak diberi makan apa-apa, sehingga saling memangsa.

Suatu hari, saat kepulangan sang tuan, ada keributan. Tetangga tak berani melihat. Mereka tahu keesokan harinya tuan itu habis dimakan anjing-anjingnya. Di dekatnya, ada tulang belulang dua ekor anjing lain yang paling lemah.

“Mungkin mereka tidak sanggup karena Bu Meli kelewat cantik,” kata seseorang menimpali, mendengar teori anjing-makan-tuan sendiri itu.

“Atau jangan-jangan Bu Meli pasang susuk, sehingga anjing-anjing itu terpikat dan barangsiapa yang jatuh cinta tidak mungkin melukai.”

“Memang anjing punya perasaan?!”

“Memang ada yang tidak mungkin di dunia ini?”

Demikianlah, banyak perdebatan lahir di warung kopi dan semua berputar di perkara hilangnya anjing-anjing itu. Bu Meli tidak peduli atas berbagai teori. Dia ingin tahu bagaimana anjing-anjing itu kabur atau hilang. Antara dua hal, kabur atau hilang, yang belum jelas tapi pasti: anjing-anjingnya sudah tidak ada di kandang.

Pagi ketika Bu Meli sadar anjing-anjing itu tidak ada, gerbang depan terbuka lebar. Tentu ia tidak akan pusing seandainya ada beberapa barang berharga hilang; itu pasti ulah perampok.

Mereka bisa saja membunuh anjing-anjing dengan pistol berperedam suara dan mengangkut tubuh para penjaga gerbang sang pelit dan membuangnya ke pengepul daging anjing demi melahirkan nuansa misteri ala novel detektif.

Baca juga:  Asal-muasal Agama Sungai

Sayang sekali, itu tidak mungkin ada. Semua barang berharga utuh. Anjing-anjing tidak dibunuh oleh perampok. Mungkinkah setan? Anjing-anjing itu bisa saja kedatangan para setan dari suatu tempat untuk menghasut mereka agar memakan habis tubuh seksi Bu Meli. Tubuh sintal yang tentu saja akan sangat nikmat bagi binatang karnivora. Namun karena anjing-anjing itu setia, mereka tidak terbujuk. Mereka justru mengejar setan-setan laknat itu sampai ke neraka, dan tentu saja hewan yang semula terbiasa menghirup udara bumi, tidak tahan panas api neraka. Ketujuh anjing itu pun mati di neraka!

Oh, Bu Meli sekarang gusar. Apa pun itu, entah anjing-anjing itu mati di neraka, entah dibunuh para perampok psikopat (karena tidak ada barang berharga hilang), entah mencari rumah peternak anjing tua dan berharap kehidupan yang lebih mengenyangkan di sana, dan entah kelompok pencinta binatang mencuri anjing-anjingnya diam-diam, Bu Meli tidak peduli. Pokoknya ia harus dapat pengganti yang bisa menjaga pintu gerbang rumahnya yang besar.

Tentu saja Bu Meli tidak memakai susuk kalau sekadar takut bakal disantap anjinganjingnya. Memang ada anjing jatuh cinta pada manusia? Bu Meli tidak yakin itu terjadi dan beliau orang yang logis. Lagipula kalau pergi ke dukun untuk memasang susuk, pastilah bayar banyak dan itu amat merugikan. Itu tidak pernah ada dalam buku agenda janda bernama Meli, yang seksi, berduit banyak, pelit, dan hidup sendiri ditemani tujuh anjing penjaga.

Hilangnya anjing-anjing sama dengan hilangnya tingkat keamanan. Bu Meli butuh pengganti yang bisa menjaga pintu dari ancaman maling dan rampok dan boleh jadi pemerkosa.

Tersebar luas omongan soal dia dan anjing yang hilang membuat orang yang semula tidak tahu Bu Meli menjadi tahu. Dan, kita boleh curiga, di antara orang-orang itu barangkali ada yang mata keranjang sehingga laki-laki itu lantas membayangkan menerobos masuk rumah tanpa penjaga untuk mengerjai pemiliknya.

Soal kemungkinan ada pemerkosa dipikirkan oleh para warga yang kenal betul Bu Meli. Mereka bukan mau memerkosa, melainkan merasa mendapat hidayah dari Yang Mahakuasa bahwa hidup di dunia ini memang tidak boleh pelit, bahkan terhadap anjing sekalipun.

Baca juga:  Sabda Tuhan di Kepala Orang Gila

Mereka sudah memastikan, meski tanpa bukti, anjing-anjing Bu Meli pergi karena kurang hiburan dan bosan punya majikan pelit yang selalu menyuruh jaga malam, padahal makanan kurang. Tubuh mereka juga butuh asupan gizi lebih banyak kan?

Kalau saja janda itu tidak pelit, tentu tujuh anjing galak itu tidak akan pergi dari rumah yang bagai istana, hingga Bu Meli tidak akan merasa cemas bakal diperkosa orang. Coba saja ada yang berani masuk, sementara tujuh ekor anjing siaga di pintu gerbang, sudah celaka duluan bajingan itu, siapa pun dia.

Belum memerkosa, sudah dicabik duluan oleh anjing-anjing, apalagi dalam kondisi lapar. Anjing-anjing itu mungkin saja akan memangsa habis sang penjahat dan tidak ada satu pun tetangga tahu karena anjing-anjing itu sangat rajin. Mereka selalu mengerjakan segala sesuatu dengan rapi.

Tentu soal penjahat yang dimangsa anjing itu termasuk dalam pikiran warga yang tidak tahu kenyataan tetapi suka berspekulasi. Bu Meli memang pelit, tetapi lihat efek yang dihasilkan. Rumahnya aman dari incaran penjahat. Dan, tidak pernah ada kabar maling atau rampok menyatroni rumahnya, padahal rumah itu paling besar di kawasan ini.

Sejatinya itu terjadi bukan karena tidak ada yang pernah berniat jahat di rumah Bu Meli. Tidak ada kabar penyatronan justru karena anjing-anjing berpesta setiap malam. Kalau saja orang tahu, mereka bisa memeriksa halaman samping rumah si janda. Ada tumpukan baju dan tulang belulang, yang belum dikubur karena Bu Meli masih sibuk oleh urusan kantor seminggu ini. Kalau tidak salah sudah empat maling. Dan, si janda tidak yakin jumlah itu akan bertambah karena kini anjing-anjingnya hilang entah ke mana. (44)

Gempol, 2018 

Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya antara lain Museum Anomali (2016) dan Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017).

 

[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 19 Agustus 2018