Zikir Sunyi Perempuan yang Merindukan Kakbah

Karya . Dikliping tanggal 13 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

SAYUP-SAYUP terdengar suara terompah dari barat laut. Terbawa angin dan perlahan mendekat ke tenggara. Merambat pelan, seolah tak mau mengganggu makhluk yang masih terlelap berselimut mimpi. Suaranya semakin dekat, berhenti di depan rumah. Tepat di balik pintu, suara terompah menghilang. Berganti suara derit pintu dari engsel berkarat tak berminyak. Menyelinap ke gendang telinga, melipir masuk dan menyanyat ulu hati. Pintu terbuka, Emak masuk rumah.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumussalam…” jawabku.

Sosok perempuan mendekatiku. Wajahnya teduh. Tangan kanannya menenteng terompah. Rukuh putih yang sudah lusuh masih dikenakannya. Tangan kirinya memegangi bagian bawah agar tak menyentuh lantai. Sajadah hijau kesayangannya tersampir di pundak kiri. Aku berdiri menyambutnya. Membawakan terompah lalu mencium tangannya yang sudah mulai mengurat. Emak masuk kamar, aku menuju dapur.

Emak memandangi gambar kakbah berpigura sebelum masuk kamar, seperti saat itu. Tergantung di tembok dan ukurannya tak besar, 1 meter x 1,5 meter. Umurnya dua dekade. Oleh- oleh Bapak ketika pulang haji. Saat aku sedang memiguranya, Bapak berkata kepada Emak, suatu saat mereka berdua akan berangkat haji ke Mekah dan mencium Hajar Aswad, bersama. Bapak mengatakan itu sambil menunjuk kakbah. Emak masih mengingatnya meski sudah 7 tahun Bapak meninggal dunia. Kini, gambar kakbah dan terompah menjadi peninggalan Bapak yang begitu lekat di hati Emak.

Sepeninggal Bapak, Emak selalu memakai terompah ke masjid. Tidak lima waktu, hanya subuh. Seperti Bapak yang memakainya setiap jemaah salat subuh. Dan seperti Bapak pula Emak selalu mendawamkan zikir panjang di masjid usai subuh. Menunduk dan menengadahkan kedua telapak tangannya. Tak tahu apa yang Emak baca, panjang dan lama. Ketika jemaah lain pulang, Emak masih betah bersimpuh. Emak pulang ketika masjid sepi.

Aku selalu lungkrah melihat Emak memandangi gambar kakbah yang tergantung di tembok rumah. Kadang, Emak meneteskan air mata sambil menempelkan jari telunjuknya ke pigura. Sosok perempuan perkasa yang merawatku sendirian, mendadak kalah dengan benda mati itu. Sesekali Emak mengatakan, Bapak telah berada di Surga. Dan di pagi itu, Emak mengaku melihat Bapak menunggunya di Mekah.

“Bapak menunggu Emak, di sini,” kata Emak sambil menunjuk kakbah yang tergantung di tembok rumah. Ain Emak berlinang, diusapnya dengan jari yang tak lagi mulus, lalu masuk kamar.

Di dapur aku menghidupkan arang sisa angkringan semalam, persiapan menanak nasi dan merebus air. Kami punya kompor gas, tapi Emak lebih suka arang. Alasannya, rasa masakannya lebih enak daripada kompor gas. Tapi aku tahu, Emak ingin hemat. Biasanya, tiga sasi sekali Emak baru mengisi tabung gas ukuran 3 kg. Arang mulai menyala. Ceret berisi air, aku tumpangkan di atas anglo. Lalu aku pamitan Emak.

Baca juga:  Pilihan Ganda dari Tuhan

***

LONCENG gereja belum berbunyi. Langit masih gelap. Mentari belum mau bangun dari peraduannya. Belum waktunya. Mereka punya jatah masing- masing: kapan lonceng berbunyi dan sunyi, kapan waktunya gelap, dan sebaliknya. Tak akan bertabarakan. Sepeda ontel warisan Bapak, aku kayuh perlahan. Biasanya, lonceng gereja baru terdengar setelah aku mengepak beberapa koran di Kios Koran Nusantara.

Hampir 8 tahun aku menjadi Loper Koran di Kios Nusantara. Koh Kresna yang sekarang meneruskan bisnis keluarganya, sangat baik. Dia menuruni kebaikan ayahnya, Koh Sugeng, perintis bisnis itu. Saban sasi, harusnya upah yang aku terima di kisaran 150-200 ribu. Tergantung jumlah koran yang aku antarkan. Kalau dihitung, jumlah pelanggan koran di Kios Nusantara mulai menurun. Katanya, mereka lebih suka membaca berita lewat gawai atau langganan epapar. Orang-orang menyebutnya, senjakala media cetak.

Koh Kresna tak percaya itu. Katanya, suatu saat media cetak berjaya lagi. Makanya Koh Kresna selalu menggenapi upahku saban sasinya menjadi 250 ribu. Bagiku, upah itu sudah layak dengan kerjaku setiap hari yang hanya 2 jam. Dari jam enam sampai jam delapan.

Lonceng gereja berbunyi. Saatnya bekerja. Aku mengayuh sepeda ontel dari rumah ke rumah. Ada pelanggan yang menunggu di luar rumah dan tak jarang yang aku lempar karena pagar masih terkunci. Pak Helmy, salah satu pelangganku yang baik. Dia selalu mengumpulkan koran- koran bekas setiap sasinya. Di akhir sasi, koran itu dia hibahkan padaku. Katanya, untuk bungkus nasi kucing angkringanku. Hibah itu adalah tawaran terakhirnya. Sebelumnya, aku selalu menolak. Emak memintaku mematuhi ajaran Bapak: mandiri dan jangan suka menerima pemberian orang, apalagi meminta.

Dulu, aku teman karibnya Aris, anak semata wayang Pak Helmy. Semasa kuliah aku sering menyambangi rumahnya. Kami satu angkatan dan sering mengerjakan tugas bersama. Cerita berubah ketika aku semester empat, Bapak meninggal. Sepeninggal Bapak, Emak tidak kuat membiayai kuliahku. Tanpa Bapak, Emak hanya bertahan dua semester. Gelar Sarjana Ekonomi yang sangat Bapak inginkan, aku lepas. Semester enam aku keluar. Sejak itu aku tak pernah berkunjung ke rumah Aris, malu. Sampai akhirnya aku menjadi Loper Koran dan mengantarkan koran ke rumah Pak Helmy.

Kabar menyesakkan datang usai lonceng gereja. Pak Helmy memeluk erat. Air matanya menetes membasahi pundakku, hanyut dalam kesedihan. Aku merasa bersalah mengapa tak pernah berkunjung. Aris meninggal setelah setengah tahun menjalani kemoterapi karena penyakit leukemia mielositik akut.

Awalnya Pak Helmy mau mengadopsiku, Emak tak mengijinkan. Membantu biaya kuliah, sama. Memberiku modal usaha, Emak pun tak mengijinkannya. Terakhir, koran bekas untuk bungkus nasi kucing angkringan yang aku jajakan setiap malam. Emak baru mengijinkan. Pelanggan baik lainnya, Pak Muryanto. Korannya aku antarkan terakhir. Dia jurnalis senior. Ngobrol dengannya sangat menyenangkan. Dia memberiku tips menulis dan cara mengetahui berita hoax. Yang paling aku sukai, Pak muryanto selalu menyajikan secangkir kopi. Tapi, sudah dua hari aku tak bertemu dengannya. Kata istrinya, dia sedang liputan investigasi soal kuota haji. Aku jadi ingat berita di televisi sore kemarin, banyak jemaah haji Indonesia yang berangkat menggunakan paspor Filipina. Kasihan, mereka terkatung-katung dan batal berangkat.

Baca juga:  SOREANG (Atawa: Season of The Witch*)

Aku melirik boncengan sepeda, koran tinggal satu eksemplar. Jatah Pak Muryanto. Segera saja aku mempercepat kayuhan sepeda. Di jalan menuju rumahnya aku berharap hari ini bertemu Pak Muryanto. Mendapatkan cerita haji sambil menyeruput kopi. Aku bergegas. Tak sabar. Di depan rumah berpagar putih, tepatnya di Jalan Nasution No 20, aku berhenti. Pagar sudah terbuka, tak perlu memencet bel. Cak Anang,tukang kebun Pak Muryanto selalu membukanya di pagi hari. Rumahnya luas, di depan ada taman dengan pohon sawo besar. Rindang dan asri.

Cak Anang mempersilahkan. Katanya, Pak Muryanto sudah menunggu. Benar, di teras rumah aku melihatnya. Dia melambaikan tangan. Aku mempercepat langkah sambil menuntun sepeda. Sepertinya, harapanku bakal terkabul.

***

MALAM masih gelap. Udara dingin tak mau pergi. Suara gemericik air wudu Emak, membangunkan tidurku. Sebentar lagi pasti azan subuh. Biasanya seperti itu. Benar, usai Emak wudu, suara azan subuh merayap ke seluruh sudut rumah. Aku bangun dan membasuh wajah, wudu. Di depan rumah Emak telah bersiap dengan terompahnya. Kami berangkat ke masjid diiringi suara terompah peninggalan Bapak. Mungkin, jemaah yang sudah berada di masjid mendengar suara terompah lirih merayap dari tenggara ke barat laut.

***

SEPERTI biasa, suara terompah terdengar dari barat laut menuju tenggara. Pelan, seolah tak mau mengganggu mahluk yang masih terlelap berselimut mimpi. Suaranya semakin dekat, berhenti di depan rumah. Tepat di balik pintu, suara terompah menghilang. Pintu terbuka, tak bersuara. Minggu lalu aku sudah mengolesi engsel dengan oli bekas. Emak uluk salam lalu masuk rumah dan aku menjawabnya.

Pagi itu, aku melihat wajah Emak cerah sekali. Tangan kanannya menenteng terompah. Masih mengenakan rukuh putih yang sudah lusuh dan tangan kirinya memegangi bagian bawah agar tak menyentuh lantai. Di pundak kiri Emak, sajadah hijau masih tersampir. Aku berdiri menyambutnya. Membawakan terompah lalu mencium tangannya. Tapi, pagi itu Emak langsung masuk kamar tanpa melihat kakbah yang tergantung di tembok rumah.

“Tunggu, jangan ke belakang dulu,” kata Emak, pelan.

Baca juga:  Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah

Aku duduk kembali. Terompah aku taruh di bawah kursi. Emak keluar kamar. Masih mengenakan rukuh. Sajadah hijau sudah tidak di pundak kiri, tapi dipengang untuk menutupi sesuatu. Emak duduk tepat di sebelah kananku. Membuka sajadah dan terlihat jelas apa yang dipegangnya, kaleng bekas bikuit. Bagian tutupnya terdapat lubang memanjang. Kertas putih menempel di tutupnya. Ada tulisan berhuruf kapital ‘CELENGAN HAJI’. Emak memperlihatkannya, lalu tersenyum, sumringah, bungah. Aku terharu melihat Emak di pagi itu, sumpah.

“Emak ingin membukanya,” ujarnya, pelan. Perlahan Emak membukanya. Beberapa uang berwarna biru terhambur keluar. Emak memintaku mengambil. Semua lembaran dikeluarkan. Warna hijau mendominasi. Hanya beberapa lembar yang berwarna merah.

“Kita hitung bersama. Ini uang celengan haji Emak,” ujarnya penuh semangat.

Aku tak kuasa menahan air mata. Bola mataku berlinang air. Mendadak bulirannya tak mau berhenti keluar dari sudut kanan dan kiri. Aku tak malu air mataku terus mengalir, aku biarkan semua mengalir. Aku malu pada Emak yang rajin menabung untuk pergi ke Baitullah. Aku bisa membayangkan bagaimana keinginan Emak yang sangat kuat untuk menunaikan rukun Islam kelima itu. Emak menatapku, menyeka air mataku dengan rukuhnya.

“Nang Marjan, Emak tak wajib berhaji. Seperti kata Nang Marjan kemarin malam. Uang ini untuk menikah saja.”

Kata-kata Emak membuatku bingung, haru, dan malu. Tapi tetap saja buliran air mataku mengalir keluar. Aku memeluk Emak, erat. Dalam pelukan, aku menyesal menceritakan perjumpaanku dengan Pak Muryanto. Menceritakan bahwa haji telah menjadi ladang bisnis berkedok agama. Tak sedikit biro haji yang menyalahgunakan visa dan praktik percaloan terjadi di sana-sini. Mereka yang berkuasa dan berkoneksi bisa langsung berangkat tanpa antre. Sementara rakyat berkantong tipis dipaksa menunggu.

“Emak ingin Nang Marjan menikah. Raih mimpimu. Jangan menyerah. Di manapun Nang Marjan berada, Emak bisa menemukanmu.” Ujar Emak dan terus memelukku erat.

Pelukan Emak semakin kuat, hangat. Bibirrnya Emak mendekat telingaku, membisikkan sesuatu, berkali-kali. Lirih. Tak bisa aku dengar. Aku hanya merasakan waktu yang seketika itu berhenti, hening, tak ada detak jantung. Tenang, sunyi, sepi. []

***

Pujokusuman, Senin 23 Juli 2018.

Yaya Marjan kesehariannya bekerja di bidang jurnalistik. Di waktu luangnya, ia menulis cerpen yang sudah terbit di sejumlah media massa.

 

[1] Disalin dari karya Yaya Marjan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi 12 Agustus 2018