Amnesti

Karya . Dikliping tanggal 17 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Di zaman baheula, ada seorang bromocorah yang divonis hukuman mati. Ulahnya membunuh, menjarah, menyiksa, sangat biadab. Seluruh warga mengutuk dan berdoa supaya bajingan itu cepat mati. Dia dianggap iblis yang memberi isyarat hari kiamat sudah tiba.

Tak hanya terbatas menjarah orang kaya, bandit itu juga tak segan-segan merampok, memperkosa, membantai rakyat jelata yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan darah dingin, saraf baja, ia hirup nikmat kutukan biadab bagai pujian, sembari nyengir gila. Ia meyakini dapat kepercayaan untuk menyelamatkan dunia dan kehidupan dengan dana dari perdagangan narkoba.

“Manusia adalah serigala kata Thomas Hobbes. Untuk menggembalakannya perlu macan,” kata bajingan itu bangga. “Maka, aku jadi Raja Rimba. Hukum sudah tak bertaring lagi. Hukum hanya sandiwara untuk menipu sejarah. Itu bukan infrastruktur peradaban, bukan pasukan pengawal-pengaman kehidupan, bukan Robin Hood dari rimba Sherwood. Hukum hanya ular kobra, black mamba, bagi rakyat kecil. Hukum hanya pilar kekuasaan untuk mengamankan keangkaraan kesewenang-wenangan kekaisaran yang hanya bercita-cita tunggal: membekukan kita sebagai abdi Kaisar! Berhala yang mencincang kebebasan-kemerdekaan itu harus dicincang rata dengan tanah. Di atasnya kita bangun kerajaan masa depan yang tanpa batas. Itulah kemerdekaan sejati yang asli. Dan, aku yang akan menjamin tak seorang pun yang akan berani melanggar aturan ketertiban dan kedamaian. Karena baru sampai ada getaran niat saja di dadanya sudah langsung aku sikat musnah tandas zonder basa-basi permisi lagi yang isinya cuma bau tai!!”

Semua orang mengurut dada. Takjub juga bingung pada komentarnya yang digeber obral seluruh medsos secara mencolok besar-besaran hampir sebulan penuh. Seakan-akan tak ada kabar lain yang lebih layak dimakan rakyat.

Masyarakat jadi terteror. Gelisah, resah, gerah.

“Kenapa pernyataannya tak sedikit pun menunjukkan kegentaran ketakutan menghampiri saat eksekusi, seperti umumnya kita manusia normal? Apakah dia binatang? Itu menakjubkan. Apakah sarafnya sudah putus? Atau di dasar jiwanya ada iblis membisikkan ia berada di jalan Tuhan, yang menjadikan dia gagah berani, bahkan bahagia meninggalkan timbunan dosanya dalam kehidupan. Tidak gentar berpisah dengan sanak saudara dan handai taulannya karena percaya ia sudah disediakan lapak di surga? Alasan seperti itukah yang menyebabkan orang jadi nekat jahat, bejat, tidak toleran, antikemanusiaan, dan radikal? Atau, atau mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah sesungguhnya dialah sebenar-benarnya yang adil, betul dan benar?”

Pertanyaan itu beranak pertanyaan, bercucu pertanyaan. Dan, akhirnya melahirkan kepasrahan. Rakyat terlalu sibuk dikepung begitu banyak masalah tiap hari. Terjadilah apa yang harus terjadi.

“Berpikir bukan tugas kami. Bukan juga urusan kami. Dan, sama sekali bukan kesenangan kami,” kata massa awam, “kami wajib bekerja, itulah fitrah kami. Mendapat sandang-pangan-papan saja sulitnya lebih dari mengasah paku jadi jarum, hidup kami akan runyam habis kalau mesti ikut-ikutan pula memandang jauh ke depan, pada kehidupan yang belum ada. Mustahil, Bro! Tiga hari keroncongan tanpa sebutir nasi, kami bukannya nanti jadi ahli, tapi satu per satu mati konyol. Jadi silakan saja di situ para dewa selesaikan merangkai peta kehidupan yang harus kami tempuh. Biarlah kami yang jelata ini mengalir saja mengikuti arus dengan mengandalkan lekukan-lekukan bumi! Asal bisa hidup walau melata, kami sudah bahagia!”

Baca juga:  Bapak yang Berkumis dan Bau Kopi

Rakyat tak sabar lagi menanti kapan eksekusi dilaksanakan. Pesta dangdut selama sepekan sudah disiapkan. Para pengusaha siap membagikan duit pada masyarakat miskin karena kematian sang terpidana mati merupakan jaminan amannya bidang usaha.

Menteri Pemuda juga sudah mendatangkan wakil-wakil kawula muda dari seluruh wilayah. Siap untuk menyambut lembaran baru, bebasnya kerajaan dari sekapan narkoba.

Tetapi apa lacur, tiba-tiba Kaisar dilaporkan mendapat mimpi buruk. Seorang kakek tua datang dan memberikan wejangan:

“Anakku hukuman mati itu adalah warisan masa lalu. Ketika manusia masih primitif. Manusia yang berbudaya berhak menerapkan ganjaran hukuman seberat-beratnya bagi bromocorah. Tapi seberat-berat hukuman, manusia tidak memiliki hak mencabut nyawa manusia lain, apa pun alasannya. Itu hak prerogatif-Nya….”

Sejak mimpi itu, kesehatan Kaisar mundur. Para pendeta dan istri sudah mendesaknya untuk membatalkan putusan mati pada Sang Bromocorah. Tapi Kaisar menolak.

“Mimpi adalah permainan tidur, yang bisa diatur orang lain. Aku ingin menegakkan hukum bukan firasat otak yang sedang lelah,” katanya tegas.

Sakit Kaisar bertambah parah. Namun, ia tetap tak mau membatalkan keputusan mati. Pada suatu hari yang sudah diduga banyak orang, Kaisar mangkat.

Kaisar digantikan oleh putra mahkota. Begitu memegang takhta, kaisar muda kontan dihadapkan pada dilema yang sulit.

Ibu suri, bundanya sendiri mendapat giliran bermimpi yang ajaib. Karena mimpi itu seakan sambungan mimpi suaminya almarhum.

“Orang tua yang datang ke dalam mimpi ayahandamu almarhum masuk ke mimpi ibu. Ia mengulang apa yang dikatakannya pada ayahmu. Kita boleh menghukum kejahatan seberat-beratnya, tetapi mencabut nyawa seseorang adalah hak-Nya. Atau ….”

Raja muda adalah fotokopi ayahnya. Walaupun para menteri kerajaan memberikan masukan bulat, menyetujui apabila ia memberikan amnesti, tetapi dia menolak.

“Rakyat menginginkan orang yang sangat jahat itu mati. Karena, kalau dia masih hidup, tidak akan kurang 50 orang akan mati jadi korban narkobanya saja. Belum lagi ….”

Rakyat bersorak gegap gempita menyambut keputusan Kaisar muda. Hanya para pejuang HAM dengan dukungan berbagai kelompok dari luar negeri menyerang Kaisar Muda yang mereka nobatkan sebagai Batara Kala yang haus darah.

Perang urat saraf berlangsung gencar. Antara Kaisar yang dianggap terpasung oleh semangat ingin berbakti kepada orangtuanya dan nilai pembaruan dalam citra kemanusiaan. Perang itu disambut dengan bersemangat oleh medsos.

Namun, sebuah kejutan meletus. Sebelum menjalani hukuman, terpidana itu menulis sebuah surat. Sebuah wasiat tak langsung, untuk istri dan anak-anaknya yang bersembunyi entah di mana.

Baca juga:  Indonesia

Surat itu ditujukan ke hadapan Yang Mulia Baginda Kaisar. Tapi ditembuskan ke semua medsos. Akibatnya jadi surat terbuka yang menggedor batin semua orang.

“Yang Mulia Baginda Kaisar. Tuanku, perbuatan hamba yang terkutuk, memang sudah merugikan kerajaan dan menyengsarakan rakyat. Hukuman mati ini sebenarnya terlalu ringan untuk dosa hamba. Seharusnya hamba disiksa sampai mati agar merasakan buah kejahatan hamba setimpal dengan pedih yang sudah hamba timpakan kepada rakyat. Jangan maafkan hamba. Nanti generasi muda akan meniru perbuatan hamba. Karena betapa pun laknat dosanya, toh, akan dimaafkan jangan! Kutuklah hamba agar masuk ke dalam neraka yang paling jahanam. Hanya satu permintaan hamba, janganlah keluarga hamba dibawa-bawa. Sebab mereka adalah kertas putih yang belum bernoda. Mereka jangan sampai ikut menanggung dosa hamba. Itulah permohonanku. Tak usah repot-repot memberikanku amnesti!”

Surat itu sampai ke tangan Kaisar Muda, hari itu juga. Dibaca baginda detik itu juga. Serta kontan dibalas langsung. Sementara berjuta-juta surat-dari seluruh kerajaan, yang ditulis oleh orang jompo, anak-anak papa, orang cacat, yatim-piatu dan para perempuan yang menderita masih bertahun-tahun bertumpuk, antre untuk dibuka tangan baginda.

Selesai membaca, baginda termenung, tetapi hanya sebentar. Kemudian baginda langsung menjawab dengan menulis sendiri jawabannya.

“Bung, suratmu ditulis oleh hati nuranimu yang sudah sadar, terhadap dosa besar yang sudah kamu lakukan. Hukuman yang paling berat sebenarnya memang bukan kematian, tetapi rasa bersalah yang mendalam. Maka dengan ini, aku perintahkan agar Yang Mulia Para Hakim, yang sudah menetapkan hukuman mati padamu, aku minta mencabut kembali hukumannya. Aku membebaskan kamu untuk kembali ke masyarakat, sebagai kesempatan merasakan kesalahan serta sesal dan kepedihanmu seumur hidup. Itulah hukuman yang aku anggap lebih pantas untuk menyiksamu nyahok! Agar kesakitan orang lain oleh perbuatanmu yang super biadab itu, sedikit demi sedikit, kembali, melumatmu bagai bumerang. Kamu harus menikmati karma-palamu! Digerogoti, dicabik-cabik, diiris-iris, agar batinmu perlahan membusuk setiap hari sambil kau rasakan perihnya!”

Seluruh kerajaan bergolak ketika surat balasan itu disampaikan dan dibacakan di depan umum. Rakyat meraung-raung karena merasa itu tidak adil. Sementara pers yang tadinya memakai alasan kemanusiaan cenderung membela bromocorah itu terkesima. Mereka kalang-kabut dan saling tuding-menuding menyalahkan satu sama lain. Mereka yakin, karena desakan dan ejekan merekalah, keadilan jadi terbalik.

“Ya, tapi kami sebenarnya, kan, hanya mengolah berita agar jadi menarik. Bukan maksud kami agar bromocorah itu dibebaskan. Berita, kan, barang komoditi yang harus dibuat kontroversial supaya laris dijual,” teriak satu di antaranya.

Tapi keputusan baginda raja adalah perintah. Siapa berani membantah? Maka, eksekusi dibatalkan.

Bromocorah itu menjerit kegirangan. Dia berlari melompat-lompat keliling penjara meneriakkan keputusan baginda yang membuat seluruh penghuni lapas setengah mati iri dan keki. Media sosial mengaum di seluruh negeri dengan berbagai cara.

Baca juga:  Tahun Baru

“Keadilan keblinger! Kebenaran sesat! Hukum mencla-mencle!”

Baginda Kaisar pun diejek habis. Dianggap tak mampu menyerap kehendak zaman. Masih berkutat pada timbang rasa kuno di zaman yang kian mengeras.

“Rakyat jelata yang bodoh, awam, miskin boleh tertipu seratus kali dan masih layak dimaafkan karena kekonyolannya itu akibat keterbatasannya. Tapi seorang pejabat yang memangku nasib berjuta-juta rakyat, satu kata, satu langkah saja keliru, negeri bisa hancur lebur dan malu!”

“Mundur! Kita perlu Kaisar baru!”

“Baginda kebakaran jenggot! Inilah akibat terbiasa mengukur keadilan dari perasaan sendiri. Baginda sudah membuat hukum tak bergigi dan sekarang terpaksa gigit jari sendiri! Kaisar amatiran! Mundur! Mundurrrr!!”

“Inilah bukti kebodohan dimanjakan, belas kasihan diberhalakan, rakyat jadi korban!”

Terpidana mati yang dibebaskan menyelenggarakan pesta perpisahan dengan kroni-kroninya. Kepada mereka, ia janjikan segala balas jasa bagi yang sudah memanjakannya selama di penjara.

“Ada di antara kamu punya musuh yang harus aku bereskan?” tanyanya di depan para petugas kepada bajingan-bajingan sahabatnya sambil mengejapkan mata.

Para petugas tertawa, merasa itu lelucon. Tetapi esoknya, entah siapa sumbernya, berita itu muncul di banyak koran, membuat masyarakat heboh.

Begitu pintu penjara dibuka dan bromocorah yang dianugerahi “kewajiban untuk merasakan kesakitan buah dosanya” itu bebas, ribuan rakyat menyerbu. Bromocorah itu hanya sempat jalan tiga langkah. Keburu ribuan pasang tangan menggasak mencabik-cabiknya jadi daging cincang.

Tak hanya bromocorah itu, semua yang berbau dia disikat. Tangan rakyat tidak terkendali lagi. Ngamuk, tak terbendung oleh apa pun! Dahsyat.

Ketika kemudian para pejuang HAM protes keras, Kaisar Muda menjawab: “Siapa bilang negara membunuh orang? Kami justru sudah membebaskan dia.”

Putu Wijaya, lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon.

Indra Widiyanto, pekerja seni lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Kini, ia menetap di kota Bandung. Finalis 7th Phillip Morris Indonesian Art Award (1999), Top 3 of Asia Europe Young Artist Painting Competition (2000), Finalis UOB Painting of The Year (2015), serta berbagai prestasi di bidang seni rupa.

 

[1] Disalin dari karya Putu Wijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 16 September 2018