Danau dan Sepotong Cerita

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Aku sedang memperhatikan seorang perempuan yang tengah duduk depan cermin ketika menulis cerita ini. Ia sibuk memoles wajahnya dengan sepuhan bedak, dengan bibir warna merah menyala. Aku heran dengan caranya mengenakan sepatu hak tinggi yang membungkus kakinya. Bagaimana tidak, aku merasa kasihan barangkali kaki itu dapat berbicara, mungkin saja ia berteriak kesakitan. Perempuan itu mengencangkan tali sepatu tanpa ampun. Agar kakinya terlihat ramping, katanya kemudian setelah memelototkan mata ke arahku. Aku hanya tersenyum datar.

“Mau ke mana?” tanyaku kepadanya.

“Hidup ini harus dibuat bersenang-senang,” balasnya dengan mulut menyeringai. Hampir menyerupai singa yang hendak menerkam mangsanya. Namun, ia begitu santai dengan jawabannya.

“Anakmu bagaimana? Dia belum bangun.”

“Biarkan saja.” Nanti dia pasti akan mencari Mbok Nah, pembantu yang sudah menemaninya sejak mula ia menikah dengan Iyas, suaminya. “Lagi pula itu sudah menjadi tugas yang harus dilakukannya.”

Aku hanya diam mencerna kata-katanya. Barangkali yang ada di benak perempuan itu bahwa mungkin tak akan ada gunanya ia bersusah payah mengupah pembantunya jika pembantunya itu tak melakukan yang semestinya ia lakukan. Ia memang sudah sering tidak menghiraukan Mbok Nah. Para tetangga sudah lama menggunjingkan atas ketidakhormatannya terhadap segala orang tua seusia Mbok Nah.

Pernah suatu kali ia memaki habis-habisan seorang peminta-minta yang mendatangi pintu rumahnya dengan suara mengiba. Pengemis itu lelaki kira-kira berusia sepantaran dengan Mbok Nah, barangkali sedikit lebih tua.

Saat itu Ahad, semua orang di keluarga perempuan itu hendak menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan. Lelaki tua itu sangat letih, hampir tak bertenaga, aku hanya bisa memperhatikan dari balik jendela, tidak berani mendekat karena biasanya perempuan itu tidak akan mengizinkan, bahkan marah besar.

Harapan lelaki tua itu tidak banyak, hanya mengharap segelas air putih karena letih sudah seharian ini ia berjalan. Namun, seketika itu juga perempuan itu mendorong Pak tua keluar gerbang, kemudian menutupnya rapat. Sementara mobilnya buru-buru meninggalkan garasi. Suaminya sudah memperingatkannya, tapi selalu saja ada alasan yang membuat suaminya menghela napas—menyerah. Kemudian lelaki tua itu kelihatan sangat murung wajahnya. Ia berjalan dengan langkah limbung karena tidak memiliki tenaga, hampir saja terjatuh. Berjalanlah mobil perempuan itu, bersamaan dengan suara parau Pak tua, “Kau akan menyesal kelak, perempuan muda. Sebab perlakuan anakmu sendiri!”

Baca juga:  Tentang Belly

***

Perempuan itu tidak saja keras, tetapi juga jarang mengurusi anaknya dan hampir tidak pernah mempedulikan Iyas, suaminya. Hal yang terpenting baginya adalah ia dapat memberikan segala sesuatu yang diinginkan anak semata wayangnya. Karena menurutnya segalanya bisa dibeli dengan uang. Dengan uang itu, ia bisa membeli mobil, rumah, mengupah pembantu, jalan-jalan ke luar negeri, atau sekadar jajan di luar rumah dan mentraktir teman kerjanya di kafe dekat kantor. Sementara, ia selalu melarang-larang suaminya melakukan sesuatu, tapi tak pernah sedikit pun mengerti yang dikehendaki suaminya itu. Masalah setelan baju, dasi, atau tas kerja tidak pernah sedikit pun digubrisnya. Yang ada di pikirannya hanya uang, uang, dan uang.

Aku pernah secara tidak sengaja mendengar percakapannya dengan anak lelakinya, yang masih berusia delapan tahun.

“Bu, Tiar ingin ibu memasak untuk Tiar. Tiar bosan dengan masakan Mbok Nah yang itu-itu saja.”

“Sama Mbok Nah saja, ya. Ibu masih sibuk.”

“Sudah, ya. Ibu pergi kerja dulu. Nanti biar Ibu minta Mbok Nah untuk memasak makanan kesukaan Tiar. Ibu kerja kan untuk Tiar juga.”

Ah, perempuan itu selalu saja punya alasan untuk menolak permintaan anaknya. Mestinya itu bukanlah permintaan yang sulit bagi seorang ibu. Bukankah sudah patut ia curahkan rasa kasih dan sayangnya untuk anaknya? Tidak melulu yang ada di pikiran selalu saja uang.

Ia menciumi kedua pipi anaknya, kemudian bergegas mempercepat langkah sepatu hak yang menyerupai sepatu kuda, tik-tok-tik-tok! Kontan saja wajah anak lelaki itu berubah masam, seperti buah yang terlanjur panen sebelum masak.

Diam-diam suami perempuan itu kerap mengeluarkan seluruh isi kepala kepada Juan, teman dekatnya. Ia sering kali membusakan mulutnya yang berisi segala macam keluhan mengenai istrinya itu.

“Menurutmu, apa yang meski kulakukan terhadap istriku?”

“Terserah kau saja. Namun mestinya kau nasihati istrimu itu. Kuperhatikan selama ini kamu saja yang kurang tegas terhadapnya,” sergah Juan.

“Aku kurang tegas? Kau belum tahu saja, bagaimana menakutkannya istriku saat sedang mengamuk. Aku hanya tak ingin mencari masalah terhadapnya. Mestinya kau tahu itu.”

“Kau terlalu lemah. Makanya ia seenaknya terhadapmu.”

Iyas sering kali berpikir, selama sem bilan tahun ini hampir tak pernah ia mendapat sambutan hangat dari istrinya. Bahkan, ketika ia kelihatan sangat letih. Bajunya penuh dengan peluh yang memenuhi sekujur tubuh. Ia mencoba berulang kali mengetuk pintu dengan sekuat tenaga, tapi tak sekali pun jawaban dari balik pintu ia dapatkan. Barangkali Mbok Nah tengah sibuk merampungkan pekerjaannya, sementara perempuan itu masih asyik menghamburkan uangnya.

Baca juga:  Daun Pintu

Sebagai seorang lelaki yang mempunyai istri, sudah sepantasnya jika ia mendapatkan sambutan hangat saat tubuh merasa lelah sepulang kerja, lalu bersegera membawakan tas dan menyeduhkan secangkir kopi panas, atau sekadar memberikan pijitan kecil pada persendian yang kaku setelah seharian bekerja.

Namun, tidak. Tidak demikian untuk Iyas. Ia justru harus menahan segala kepahitan yang ditanggungnya. Ia selalu melakukan pekerjaanya sendiri tanpa bersusah payah meminta bantuan pada istrinya. Mulai bangun tidur, menyeduh kopi, menyiapkan setelan baju, tas kerja, sepatu, serta berbagai rangkaian pekerjaan lain ia kerjakan sendiri.

Pak lurah pernah bercerita kepadaku, ia sangat bosan jika harus berkunjung ke rumah perempuan itu. Bukan, bukan karena rumah itu berhantu, tapi karena tak pernah sekali pun pak lurah berhasil bertemu penghuni rumah, hanya ada aku dan Mbok Nah yang tidak punya urusan dengan Pak lurah. Mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekadar menyapa tetangganya. Bagi mereka siang dan malam hampir tidak ada bedanya. Malam bisa saja menjadi siang, dan siang pun bisa menjadi malam.

***

Danau dan Sepotong Cerita

“Tapi, kan …”

Tetangga Srukat, perempuan itu, kerap menggunjing karena hampir setiap harinya tak ia luangkan untuk anak dan suaminya. Ia selalu menyerahkan urusan anak kepada Mbok Nah.

Sepulang kerja, perempuan itu langsung merebahkan tubuhnya, yang ia anggap ramping itu, ke atas tumpukan kasur. Ah, siapa bilang tubuhnya ramping? Itu hanya pujiannya saja untuk menghibur dirinya sendiri. Siapa lagi?

Iyas adalah lelaki yang cukup sabar dan setia. Kalau suami Srukat adalah lelaki lain, mungkin saja saat ini sudah memilih pergi. Banyak di luar sana yang masih lebih menawan dan lebih memiliki kepedulian ketimbang Srukat.

Pernah juga suatu kali anaknya mengadu.

“Bu, kapan ibu bisa menemaniku ke danau? Aku jenuh di rumah terus. Mainan yang ibu belikan tidak mengubah apa pun. Aku tak mengerti apa-apa yang ada di luar sana. Sedangkan, ibu selalu sibuk keluar rumah, yang ibu bilang bekerja itu. Mbok Nah juga tak selalu bisa menemaniku karena ia sibuk membereskan pekerjaan.”

Baca juga:  Pernikahan Emas

“Nanti kalau pekerjaan ibu sudah selesai, lagi pula ayahmu masih banyak urusan.” Bicaranya kasar, mungkin saja ia terlampau lelah.

“Kapan Ibu ada waktu? Apa perlu aku menceburkan diri ke dalam danau, baru Ibu akan mencari-cari beradaku? Atau justru itu yang Ibu harapkan?”

Perempuan itu menggelengkan kepalanya.

Biji matanya yang cokelat kehitaman memancarkan tatapan tajam ke arah anaknya. Ia seolah tak percaya, anak semata wayangnya berkata demikian kepadanya. Ia menundukkan wajahnya, mungkin ia hatinya sedikit tergugah bahwa selama ini ia telah salah memperlakukan keluarganya.

“Bukan itu maksud Ibu.”

“Lalu? Aku bahkan tidak mengerti apakah Ibu masih menganggapku sebagai anak.”

Perempuan itu semakin tercengang. Kepalanya tiba-tiba mendongak dengan dua biji mata yang semakin berkaca-kaca. Kemudian beranjak dari duduknya di atas dipan di teras rumahnya.

***

Biarkan perempuan itu memilih ceritanya sendiri, barangkali menjadi dengan terlebih dahulu menjadi orang lain akan mengubahnya menjadi dirinya yang seutuhnya.

“Mbok, mana Tiar? Katakan padanya, ada oleh-oleh untuknya. Dan sampaikan juga, besok lusa aku dan Mas Iyas akan mengajaknya ke danau.”

“Em. Anu, Nyonya …”

Kenapa Mbok?”

“Den Tiar tidak pulang sejak empat hari yang lalu,” ungkap Mbok Nah resah.

“Apa? Kenapa kamu tidak menghubungiku atau Mas Iyas?”

“Sudah berkali-kali, Nyonya. Maafkan saya.” Wajah Mbok Nah seketika lesu dan tak berdaya.

***

Ingatan Srukat membawanya pada sederet kalimat paling hening, “Kapan Ibu ada waktu? Apa perlu aku menceburkan diri ke dalam danau, baru Ibu akan mencari-cari beradaku? Atau justru itu yang Ibu harapkan?” Lidahnya tercekat. Ia berlari dengan kecepatan yang hampir menyerupai kilat yang menyambar-nyambar ketika hari menjelang turun hujan. Sampailah ia pada tepian danau. Kemudian memanggil-manggil nama anaknya. Hening. Tidak ada jawaban. Di kepalanya berkelebat sederet kalimat, “Kau akan menyesal kelak, perempuan muda. Sebab perlakuan anakmu sendiri!”

Fina Lanahdiana, lahir dan tinggal di Kendal.


[1] Disalin dari karya Fina Lanahdiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 23 September 2018