Firasat Oak

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

Salim masih terpekur di balik reruntuhan rumahnya. Tatapannya kosong. Sisa air mata yang mengering di pipinya telah berubah seperti kerak yang menempel di kulit panci. Tapi ia tak peduli dengan semua itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah wajah nenek dan adik kesayangannya, yang mungkin masih tertimbun puing bangunan. Gempa bumi yang melanda kampungnya tadi pagi tak hanya merobohkan rumahnya dan ratusan rumah warga lain, juga semangat hidupnya. Dengan siapa lagi ia akan tinggal sekarang? Isaknya dalam hati.

Sejak kecil Oak Tantre, neneknya, memang sudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi Salim dan Karim, adiknya yang masih kelas IV SD. Ayah mereka sudah lama meninggal, tepatnya sejak Karim baru dilahirkan. Sedangkan ibunya telah menikah lagi dengan seorang laki-laki dari luar kota. Hanya sekali setahun, pada saat Lebaran, ia pulang kammpung. Itu pun bukan untuk memberi uang biaya hidup. Tapi untuk ngomel-ngomel dan menuntut agar sepetak sawah peninggalan ayah Salim dijual dan hasil penjualannya dibagi dua.

“Kamu jangan mendaki dulu, gerhana tadi malam adalah gerhana yang tak biasa dari sebelumnya.”

Nasihat Oak Tantre pada pagi hari setelah gerhana bulan, kembali mengiang di telinga Salim. Ia merasa menyesal mengikuti egonya sendiri.

“Memangnya kenapa, Oak? Bukankah gerhana bulan adalah peristiwa yang biasa terjadi?” selorohnya waktu itu seolah mencemooh nasihat Oak.

“Memang, tapi firasat Oak sangat kuat bahwa gerhana ini akan disusul suatu bencana besar. Dan Oak sendiri tidak tahu bencana apa yang akan terjadi,” jawab Oak dengan yakin.

Baca juga:  Menunggu

“Dari mana Oak tahu itu?”

“Dari langit. Sesungguhnya langit seringkali mengabarkan peristiwa yang akan terjadi di bumi, hanya saja kita tidak pernah menghiraukan hal itu. Dan gerhana tadi malam adalah salah satu contohnya.”

Salim menyeringai. Rupanya pengaruh paham kuno dan mistik masih sangat melekat di pikiran Oak. Setidaknya ramalan mengenai bencana inilah salah satu contohnya.”

“Ah itu kan firasat Oak saja. Sebaiknya Oak jangan berpikir yang tidak-tidak,” balas Salim akhirnya lalu bergegas masuk ke rumah untuk mengemas barang-barang yang dibawa mendaki. “Oh ya Oak, Salim mau bawa bule, bayarannya dua kali lipat dari turis lokal.”

Mendengar jawaban cucu kesayangannya, Oak Tantre hanya bisa terdiam. Di satu sisi, ia memang butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan itu bisa terpenuhi bila Salim pergi ke puncak Rinjani untuk membawakan barang-barang milik para pendaki manja. Kondisi tubuh yang sudah ringkih membuat Oak tak mampu lagi mencari nafkah.

Sejak menamatkan jenjang pendidikan SMP, Salim sudah bekerja sebagai porter di Gunung Rinjani. Letak rumahnya yang dekat dengan rute pendakian, menjadikannya mudah saja mendapat pekerjaan itu dengan teman-teman lain yang sebaya dengannya. Bila musim pendakian seperti saat sekarang ini tiba, Salim bisa meraup uang jutaan rupiah hanya dalam hitungan minggu. Apalagi jika banyak pendaki turis asing, penghasilannya bisa bertambah dua bahkan tiga kali lipat. Itulah kenapa ia tak mau neyia-nyiakan kesempatan emas yang datang sekali setahun ini.

Jika tak beekrja sebagai porter, ia memang bisa saja menghabiskan waktunya bekerja di sawah peninggalan ayahnya. Akan tetapi, hasil panen sepetak sawah tentu sangat jauh dari kata cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebab itu, sawah tersebut Salim tanami singkong agar bisa disambangi sesekali saja. Akhirnya, setelah selesai mengemas barang-barang yang hendak dibawa, Salim pun berangkat mendaki dengan terlebih dahulu berpamitan dengan Oak.

Baca juga:  Hajar Aswad

Dua belas jam menapaki jalur pendakian, Salim dan rombongan turis yang dibawanya tiba di pelawangan pada malam hari. Pelawangan adalah sebuah lokasi penginapan antara jalur menuju puncak Rinjani dan danau Segara Anak. Salim mengajak tamunya menginap di sana selama satu malam. Dan separuh waktu malam itu dihabiskan dengan mendaki ke puncak. Bukan hanya berdiam di tenda saja. Biasanya mereka berangkat pada jam dua dini hari dan kembali ke penginapan pada saat matahari mulai terbit, atau sekitar pukul tujuh pagi. Tapi Salim sendiri tidak ikut ke puncak, karena ia harus memasak sarapan buat tamunya.

***

Firasat OakMATAHARI sudah mengintip di balik punggung gunung. Rasa dingin yang mencekam perlahan digeser dengan kehadiran raja cahaya itu. Salim terbangun dan menanggalkan selimut tipis yang dibawanya dari rumah. Kakinya langsung beranjak ke jalan setapak menuju tebing curam tempat para pendaki mengambil air. Di sana ada beberapa pancuran air bersih yang bisa dipakai minum dan memasak. Salim tak mau ketinggalan. Karena selain tak mau berdesak-desakan dengan pendaki lain, ia juga harus segera memasak untuk lima orang majikan dadakannya: para pendaki asing. Menu sarapan harus sudah siap begitu mereka turun.

Baca juga:  Kisah Ganjil Seorang Penggali Kubur

Namun, sekembalinya dari tempat itu, belum sempat tangannya meraih beberapa alat masak, Salim merasakan guncangan yang sangat kencang. Ia mendongak ke arah puncak gunung, debu-debu beterbangan menutupi jalur pendakian. Beberapa pendaki tampak tergelincir. Tanah landai tempatnya berpijak mulai retak. Pendaki-pendaki lain di sekitarnya berteriak histeris dan berusaha menyelamatkan diri. Salim pun turut berlari ke tempat yang lebih lapang. Seketika itu ia teringat Oak yang sudah ringkih dan adiknya yang tinggal di rumah. Ia pun segera turun menerabas jalur pendakian dengan berlari sekencang-kencangnya.

Ketika sampai di rumah pada sore hari, Salim menemukan rumahnya sudah rata dengan tanah. Lututnya bergetar lemas. Hanya menangis yang dapat ia lakukan untuk menyesali rasa bersalah yang telah mengabaikan nasihat Oak.

“Sabar, anak muda. Kamu harus tabah!”

Tepukan ringan beberapa petugas berseragam oranye di pundak Salim, membangunkan isaknya. Ia menengok lalu dikepit menuju tenda pengungsian. Di sana sudah terbujur kaku mayat dua orang yang amat dicintainya, Oak dan Karim.

Lombok Tengah, 26 Agustus 2018

Wardie Pena. Menulis Cerpen, Esai dan resensi. Bermukim di Lombok Tengah, NTB.


[1] Disalin dari karya Wardie Pena
[2] Pernah tersiar di surat kabar”Minggu Pagi” edisi Minggu 07 September 2018