Kekasih dari Bulan

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

KEDUA matanya tertambat pada bulan purnama di malam itu. Semilir angin malam sedikit bertingkah membelai poni rambutnya yang panjang. Usia tiga puluh lima tahun yang menyedihkan untuk pria itu ketika semua teman-teman sebayanya sudah punya pasangan hidup dan keluarga.

HAMPIR tak punya daya saat sanak keluarga dari orangtuanya menanyakan,”kapan  menikah?” Dan komentar terus berhamburan tanpa pernah membiarkan sedikit saja men­jawab. Pria itu sebenamya termasuk tam­pan sekitar lima belas tahun lalu sebelum jambang dan kumis terpelihara pada wa­jah yang berahang lebar. Kini ketampan­annya seolah habis, sejak Gugun enam kali putus hubungan asmaranya tanpa se­bab dan lima kali gagal ke jenjang pernikahan. Hanya karena hobinya melukis. Sampai saat ini, pria itu masih melukis dan memandangi bulan setiap malamnya.

“Tidak ada perempuan yang akan mau denganmu,jika pekerjaanmu hanya begi­tu.”

Bahkan kedua orangtuanya tak bisa melakukan banyak hal untuk meyakinkan Gugun cari pekerjaan yang janjikan masa depan cerah. Seperti kerja di kantoran, ja­di pengusaha, pebisnis atau bekerja di pe­rusahaan lain.

“Saya suka melakukan sesuatu yang benar-benar senang melakukannya, bukan terpaksa,” ujamya pada orangtua waktu itu, lima tahun lalu.

Lukisan yang dibuatnya pun tak bisa di­pahami orang awam seperti keluarganya. Gugun lebih suka melukis berbagai imaji­nasi, seperti bulan merah marun di antara latar biru gelap dan perpaduan abstrak. Melukis wajah perempuan serupa bayangan, sesuatu yang tak dimengerti objek apa yang dia lukis. Tetapi Gugun tetap melukis hingga suatu hari beberapa lukisannya terpajang pada festival seni sekabupaten di gedung Galery Graha ter­masuk seni rupa. lnformasi itu didapat dari temannya di dunia maya.

Gugun masih duduk di teras depan ka­marnya lantai dua. Terpikat pada bulan di langit sana. Seandainya saja, semua gosip tentang dirinya bisa dipatahkan hanya dengan satu perempuan yang mencintai apa adanya. Saat acara keluarga datang di rumahnya, beberapa diantara mereka se­lalu membawa cibiran berupa sindiran tentang dirinya. Pria itu seolah jadi bahan gosip di antara sepupu dan kerabat keluarga.

“Apa salahnya saya belum menikah?” tegur Gugun kala bisik itu terdengar serupa duri ditelinga.

Baca juga:  Lima Kisah Mimpi Kanak-kanak

“Kami membicarakan orang lain, Gun. Lihatlah hampir teman dan sepupumu yang sebaya sudah menikah dan memiliki anak. Kamu belum mencoba lagi mendekati gadis lain?”

“ltu urusan saya. Urus saja urusan kalian!”

Seandainya saja bulan itu memberikan perempuan yang menerima dia apa adanya, gumamnya  sendiri. Tetapi  dia merasa bulan yang setiap malam dia pan­dangi serupa gadis manis yang setia mendengarkan curahan hati meski dia hanya diam. Sebentar lagi bulan akan segera lengser dari peraduan. Sebenarnya dia tidak mau segera pagi. Dia hanya ingin selalu menikmati malam yang sunyi ditemani cahaya bulan.

**

RUANG galeri seni rupa sepi peminat. Lukisan seolah tak diapresiasi dengan baik oleh warga yang hadir. Hanya beberapa orang pendatang yang menga­mati. Gugun duduk menunggu di antara lukisan-lukisannya yang tertata pada dinding dan lantai. Ada sekitar tujuh lu­kisan berfigura kayu, figura yang juga di­buat sendiri.

Sejak pagi hingga siang, belum ada satu orang pun yang mengomentari lukisan­nya. Mungkin mereka tidak berselera dengan lukisannya, atau tidak bisa mengerti objek lukisan itu. Gugun menghela napas, sembari berpikir tentang apakah sebaiknya dia berhenti melukis.

“Hmmm …Lukisannya indah, guratan dan warnanya atraktif, abstrak bahkan terasa misterius,” tiba-tiba celetuk seorang perempuan.

Gugun terperanjat dari duduk, bukan saja karena lukisannya dikomentari. Akan tetapi, sosok  perempuan itu, rambut pan­jang sebahunya dibiarkan tergerai dan berponi, postur tubuhnya imut, matanya indah saat mata Gugun tak sengaja tertabrak mata si perempuan. Pakaiannya sederhana, kaus oblong berkerah warna pastel dan rok panjang warna marun. Aroma mint dan kayu manis menguar dari tubuh perempuan itu. Klasik, pikir Gugun.

“Kenalkan,saya Gugun.” Refleks pria matang itu mengulurkan tangan. Perem­puan itu bukan menyambut yang sama. Malah tertawa geli. Gigi gingsul tersembul indah dari balik bibirnya yang ranum.

“Lukisan-lukisan saya ini terinspirasi dari bulan pada setiap malamnya,” tutur Gugun.

“Apakah, kamu suka memandangi bu­lan?” tanya perempuan itu tersenyum.

Gugun mengangguk, dan rasanya dia malu untuk mengakui hal itu. Serasa takut ketahuan selingkuh dengan hal baru sete­lah bersetia dengan sesuatu.

Baca juga:  Dua Orang Pejuang dari Desa

“Namaku Purnama. Aku suka lukisan­ lukisan ini. Di sini banyak sekali imajinasi tentang bulan, dan kemisteriusannya.”

“Oh, namanya Purnama,”gumam Gu­gun sendiri.

Pria itu akhirnya leluasa berbincang­ bincang dengan perempuan yang ternya­ta penyuka lukisan.Ternyata keluarga dekatnya salah, masih ada perempuan yang suka seni rupa dan menghargainya. Perbincangan berlanjut hingga dua jam lamanya untuk satu bahasan, yakni lukisan.

Ketika perempuan itu memandang ke arah lain, Gugun memerhatikan wajah dan senyumnya dengan lekat. Semakin diperhatikan, dia merasa perempuan itu serupa bulan yang selalu dia lihat setiap malam. Apakah perempuan itu dari bu­lan? Pikimya.

Petang hampir malam, gedung Galery Graha semakin sepi pengunjung. Warga kota tidak terlalu antusias dengan dua hal. Pergelaran seni dan seminar atau bazar buku. Gugun mulai bersiap pulang. Sebelum berpisah, Purnama mening­galkan nomor handphone-nya pada pria itu.

**

SEJAK acara kemarin, Gugun memikirkan Purnama. Perempuan yang suka dengan lukisannya. Gayung bersambut terjadi antara keduanya setelah saling berkomunikasi dari HP setiap ada kesem­patan.

Minggu kedua mereka membuat janji untuk bertemu di sebuah kafe. Suasana di sana menjanjikan mereka untuk bercakap-cakap lebih kental. Gugun berharap kali ini pelabuhan hatinya yang terakhir. Kekasih terakhir untuk bisa di­harapkan meniti masa depan.

Pria itu sudah berada dalam kafe bernuansa klasik, duduk di bangku yang menghadap taman kecil kafe. Terlihat dari jauh, Purnama datang sendiri. Kali ini rambutnya diikat ke belakang, wajah tan­pa riasan yang sama dengan pertama kali bertemu. Pakaian blush terusan selutut, warna marun pecah.

“Hai,Mas Gun.Sudah lama menung­gu?” sapa Pumama.

‘Tidak. Saya juga baru datang,” sahut Gugun, dengan sedikit kebohongan. Bah­wa sebenamya dia sudah datang satu jam lalu dan hampir saja jenuh.

Pertemuan kedua tak segaring pertama dengan obrolan lukisan. Purnama tak se­riang kemarin,pikir Gugun. Di pikiran masing-masing terbesit, apa tujuan mere­ka bertemu? Keduanya pun kikuk. Sam­pai akhimya pecah oleh pelayan yang menawarkan makanan dan minuman. Gu­gun memesan minuman saja, dan seolah latah Purnama juga sama. Setelah pe­sanan datang, keduanya tertawa kecil menertawakan kekonyolan masing­ masing.

Baca juga:  Selamat Ulang Tahun, Bulan yang Menggantung di Langit

“Apa kamu punya pacar?” tanya Gugun tiba-tiba. Perubahan kecil yang tak dis­adari pria itu yang membuat dia akhirnya terbatuk-batuk.

Purnama tertawa dan segera menutup mulutnya dengan saputangan. Lantas mengatakan bahwa dirinya pernah menikah, mendengar itu Gugun hampir tersedak kopinya.

“Kamu pasti heran ya, jika aku sudah menikah. Atau terkejut?”

Gugun sedikit lesu, mendeham pendek. Sebetulnya dia tidak mengharapkan ja waban itu. “Sebenarnya, iya,” akhimya Gugun menjawab dengan pelan.

Purnama pun bercerita bahwa dia per­nah menikah dan bercerai setahun setelahnya tanpa punya anak. Gugun mendengarkan, baru kali ini dia mendengarkan perempuan bercerita seolah sedang memutarkan film biografi tentang perempuan itu di hadapannya. Sampai selesai pun, kedua mata Purnama tak berair juga berkaca-kaca. Padahal kisah yang diceritakannya menyedihkan.

“Sekarang, kamu percaya bahwa bulan itu selalu indah? Padahal tidak juga.”

“Bagi saya, bulan selalu memberikan kehangatan di malam gelap. Harapan ke­dua setelah cahaya mentari bagi bumi.”

Purnama terkesan dengan jawaban itu.

Petang berganti malam. Gugun dan Purnama masih berada dalam kafe itu. Pesanan minuman untuk kedua kalinya. Satu hal yang belum diketahui Purnama, bahwa saat itu juga Gugun menemukan kemiripan suasananya bersama perem­puan itu dalam lukisan yang dia ciptakan dua tahun lalu. Lukisan abstrak sepasang kekasih duduk berhadapan di kafe klasik pada malam bulan pumama yang indah.

“Jadi, Bagaimana?” tanya Purnama.

“Sejak dulu saya menyukai bulan sam­pai sekarang.” Gugun merapatkan tubuh­nya selekat pandangan matanya pada Purnama. “Bolehkah saya, meminta kamu dan hidupmu untuk bersama saya, sela­manya?”

Purnama tersenyum manis dan mem­biarkan pria itu menatap lebih dalam pa­da kedua matanya.***

[1] Disalin dari karya Rosie Ochiemuh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 2 September 2018