Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu

Karya . Dikliping tanggal 24 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

KABAR itu seperti ikut terbawa daun-daun yang dihembuskan angin segala arah. Kabar tentang pintu yang tiba-tiba ada di pinggir hutan belantara, pintu yang dapat membawamu ke tempat yang kauinginkan.

Orang-orang di sekitar tempat itu kemudian segera teringat bila beberapa hari sebelumnya, ada seorang laki-laki yang melintasi desa sambil menyeret sebuah pintu besar dengan tali yang dikalungkan di dadanya. Ia tak bicara apa- apa. Tapi beberapa orang yang melihatnya menyimpulkan kalau ia hanyalah orang gila yang kebetulan lewat.

Tapi tentu saja ia bukan orang gila. Ia memang memutuskan tak banyak bicara, karena yang dibawanya memang bukanlah pintu biasa. Itu adalah pintu yang dikabarkan oleh kabar angin hari ini. Pintu yang dapat membawa siapa pun ke tempat yang diinginkannya.

\Bertahun-tahun, laki-laki itu tak pernah tahu kalau pintu yang diletakkan begitu saja di halaman rumah, bukanlah pintu biasa.

Ayahnya tak pernah membicarakan apa-apa tentang pintu itu. Rasanya ada banyak hal yang lebih perlu dibicarakan ketimbang sekadar itu. Walau sebenarnya keberadaannya cukup menimbulkan tanda tanya. Ukurannya sedikit lebih besar dari pintu-pintu rumah pada umumnya, dan posisinya yang dibiarkan berdiri begitu saja dengan kondisi tergembok dengan rantai besi yang mulai berkarat.

Tapi, itu seperti dibiarkan seakan bukan suatu yang penting. Saat ia berusia 10 tahun, ayahnya malah lebih memilih menceritakan tentang jati dirinya, kalau ia bukanlah anak kandungnya.

“Kau tahu, aku tak pernah menikah, jadi aku tentu tak akan memiliki anak,” ujar ayahnya. “Sejak muda, aku tahu kalau aku ditakdirkan untuk hidup sendirian. Tapi, Yang Kuasa berbaik padaku. Melalui burung besar yang kerap melintasi gunung ini, ia mengirim dirimu ke sini. Dan aku merawatmu hingga sekarang.”

Laki-laki itu mengingat sekali kisah itu. Itulah yang membuatnya merasa kalau sejak kecil ia sudah mengalami kisah luar biasa. Apalagi sampai sekarang, ia masih melihat burung besar itu mampir ke sekitar rumah ini ditemani kawanannya. Ia akan hinggap di pohon besar di sebelah kursi panjang di mana ayahnya selalu duduk. Kadang ia membawa sesuatu di paruhnya yang dilemparkan begitu saja di dekat kaki ayahnya.

Seingatnya, barang-barang yang pernah dibawa burung-burung besar itu bukan barang sembarangan. Sebagian tak pernah ia lihat sebelumnya, seperti: ular penuh warna, sejenis buah berbentuk tangan manusia, atau akar pohon yang menguarkan aroma amis.

Baca juga:  Jejak Air

Barang-barang ini sangat dibutuhkan ayahnya. Tak banyak yang tahu, bila ayahnya sebenarnya adalah seorang tabib, tapi ia menolak untuk mengobati siapa pun, karena dulu pernah gagal saat mengobati adik kesayangannya. Maka hari-harinya hanya dipenuhi dengan membuat ramuan. Bila didengarnya di sebuah desa terjangkit penyakit tertentu, ia akan datang ke sana sambil membawa ramuannya.

Barulah ketika ia berusia 15 tahun, ayahnya mulai menceritakan perihal pintu itu. “Kau mungkin sejak dulu bertanya-tanya kenapa pintu itu berdiri di situ. Tapi aku tak pernah mau menjawabnya. Kini kupikir, waktuku untuk menjawab semuanya. Pintu ini… bukanlah pintu biasa. Itu pintu yang dapat membawamu ke manapun kau mau. Ayahku membawanya ke sini, untuk menjaganya. Karena bila pintu ini ada di tangan orang yang salah, aku tak bisa membayangkan malapetaka yang akan terjadi.”

Laki-laki itu sebenarnya tak terlalu yakin dengan apa yang ditangkap telinganya. Tapi ayahnya kemudian berkata, “Coba kau masuk ke dalamnya! Bayangkan suatu tempat yang kau inginkan lebih dahulu, sebelum kau masuk.”

Laki-laki itu membayangkan sebuah pantai yang indah dengan perahu-perahu nelayan berderet di tepiannya. Setelah menyingkirkan gemboknya, ia mulai membuka pintu. Dan begitu kedua kakinya melewati ambang pintu, yang dilihatnya di depan matanya adalah sebuah pantai seperti yang dibayangkannya.

Ia buru-buru keluar dengan tatapan tak percaya. Ia kemudian mencoba untuk kedua kalinya. Kali ini dibayangkan sebuah kota besar di mana jalanannya dipenuhi orang-orang. Dan kembali, begitu kakinya melewati ambang pintu, dilihatnya sebuah kota seperti yang dibayangkannya.

“Ayah ini menyenangkan,” serunya. “Semua bisa jadi lebih mudah karena pintu ini. Tapi kenapa ayah bilang tadi, tak bisa membayangkan malapetaka yang akan terjadi?”

Ayah menarik napas panjang. “Sebelum pintu ini dibawa ke mari, pintu ini ada di sebuah kota. Penguasa kota membiarkan orang-orang bebas memakainya. Kau tahu apa yang kemudian terjadi? Beberapanya memang hanya mencoba mencari tempat-tempat yang indah. Namun beberapa di antaranya, memanfaatkan pintu ini untuk mengambil barang-barang berharga di tempat yang dibayangkannya. Itulah kenapa penguasa kota itu kemudian menyuruh ayahku membawa pintu ini pergi sejauh mungkin, dan menjaganya agar tak dimanfaatkan orang lain.”

Dan kini, telah hampir 10 tahun lebih sejak perbincangan itu. Ayahnya telah lama meninggal. Laki-laki yang awalnya mencoba meneruskan menjaga pintu itu, merasa tak bisa terus begini. Orang- orang terus beranak-pinak, desa-desa kecil di sekitar gunung yang awalnya hanya ditinggali segelintir orang, terus tumbuh. Beberapanya bahkan sudah ada yang pernah datang ke sini.

Baca juga:  Kapal Terakhir

Sungguh, ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Laki-laki itu memutuskan untuk membawa pintu itu pergi dari gunung. Ia teringat ucapan gurunya di hari-hari terakhirnya. “Satu- satunya jalan agar tak pernah terjadi kejadian mengerikan seperti dulu adalah menghancurkan pintu ini. Dan tempat yang bisa menghancurkannya hanyalah Sumur Akhirat.”

Sumur Akhirat adalah semacam lubang raksasa di mana lahar gunung bersemayam sejak beratus-ratus tahun lalu. Di situlah pintu ini harus dilemparkan agar hancur. Karena pintu itu memang tak mempan dihancurkan dengan cara biasa.

Tapi tentu, itu bukan perjalanan yang mudah. Jaraknya begitu jauh. Bahkan tak terlukis di peta yang dimiliki ayahnya. Terlebih pintu itu juga begitu berat.

Laki-laki itu kemudian mengikat pintu itu dengan tali yang ujung lainnya dikalungkan di dadanya. Di jalan yang lurus, cara ini nampak mudah. Namun di jalan berbatu dan yang dipenuhi pohon, tentu ini bukan cara yang mudah.

Baru melintasi sebuah desa saja, tubuh laki- laki itu terasa remuk. Ditambah lagi gangguan orang-orang yang nampak ingin tahu. Tapi ia mencoba tak peduli dengan ucapan- ucapan itu. Ia berpikir, begitu ia berusaha akrab, orang-orang itu akan semakin banyak bertanya. Dan ia takut salah bicara.

Berhari-hari kemudian dilewatinya. Ia merasa perjalanannya seperti tak pernah berakhir. Namun di sepanjang jalan, saat ia merasa begitu kesepian, ia mencoba menghibur dirinya. Diam- diam ia akan menegakkan pintu dan membuka gembok pintu. Ia kemudian membayangkan tempat-tempat tertentu yang ingin didatanginya. Di sebuah istana milik penguasa kota, di sebuah restoran tempat di mana makanan paling enak dibuat, bahkan di tempat yang seharusnya tak pernah dipilihnya: di sebuah tempat di mana seorang gadis jelita yang dicintainya berada.

Dan pintu itu benar-benar membawanya ke sana. Gadis itu benar-benar melampaui apa yang dibayangkannya. Tubuhnya tinggi semampai, senyumnya merekah bagai cawan kehidupan yang selalu ingin diteguknya, dan suaranya saat mendendangkan sebuah lagu terdengar begitu merdu. Sungguh ia adalah gadis paling jelita yang pernah ditemuinya.

Laki-laki itu mengamatinya sepanjang hari. Dari saat ia menjemur pakaian, memasak makanan, hingga akhirnya ia pergi ke arah sungai untuk mengambil air.

Baca juga:  Air Akar

Saat itulah laki-laki itu memutuskan menghampiri gadis itu. Ia menawarkan diri menolong membawakan kendi air gadis itu. Tapi sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Laki-laki itu hanya bisa melirik gadis itu berkali-kali. Hingga keduanya tiba di depan rumah gadis itu.

Saat gadis itu masuk, laki-laki itu hanya berdiri termangu. Ia mulai ragu untuk kembali ke arah pintu. Terlebih saat gadis jelita itu muncul di jendela dan tersenyum padanya. Ia seperti terbang ke awang- awang. Sungguh, sepanjang hidupnya ia tak pernah mengalami perasaan seperti ini.

Ia menyadari kalau tak seharusnya di sini. Ayahnya akan marah bila ia mengesampingkan tugas ini. Tapi sisi batinnya yang lain mencoba membela diri. Sekian lama ia menjadi anak yang penurut, tak pernah sekali pun ia mengecewakan ayahnya, walau sebenarnya ia hanyalah anak angkat. Kini, saat sebuah bayangan tentang kebahagiaan terpampang jelas di hadapannya, ia benar-benar tak ingin meninggalkannya.

Sambil meminta maaf dalam-dalam pada ayahnya, ia memutuskan untuk tak kembali.

Pintu itu ditinggalkan begitu saja di tepian hutan itu. Seorang pemburu melihatnya dan mencoba membukanya. Saat itu ia sedang membayangkan sebuah tempat berburu yang dipenuhi rusa dan babi liar. Dan betapa terkejutnya ia saat melangkahi ambang pintu itu, ia menemukan tempat seperti yang dibayangkannya.

Ia segera menyebarkan apa yang dialaminya itu pada kawan-kawannya. Dan kabar itu bagai menjadi daun-daun luruh yang terhempas angin tak tentu arah. Hanya sehari berselang, orang-orang di sekitar hutan itu mulai berdatangan.

Semakin hari orang-orang semakin menyemut. Satu persatu mulai mendekati pintu itu. Namun di saat seorang yang berada paling dekat mulai meraih gagang pintu itu, seekor burung besar tiba-tiba muncul di sana. Dengan cengkeramannya, ia segera menarik pintu itu dan membawanya pergi entah ke mana… ***

Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa buku. Buku terbarunya: Sang Penggesek Biola, sebuah roman tentang Wage Rudolf Supratman (Imania).


[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 23 September 2018