Lelaki Pengurus Orang Mati

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

TIDAK bisa dibohongi, sesungguhnya Kris tidak rela bila cintanya harus pupus. Tadi pagi Fatimah menemuinya dengan wajah sedih, menyampaikan perihal sebab ia bersedih. Sama seperti Kris, Fatimah juga tak rela. Ia begitu mencintai Kris. Orang tua Fatimah tak menyetujui bila hubungan itu harus berlanjut ke jenjang pernikahan, dengan alasan hanya gara-gara Kris yang bekerja sebagai pengurus orang mati.

Ya, Kris bekerja sebagai pengurus orang mati. Ia bergabung di sebuah komunitas. Kegiatan utama komunitas itu tentu saja memandikan jenazah hingga menguburkannya. Tetapi, apa yang dilakukan sedikit tidak umum. Maksudnya, kegiatan komunitas itu hanyalah memandikan orang yang meninggal tertentu saja. Contoh, orang gila yang mati di pinggir jalan, mayat yang ditemukan tanpa identitas, orang yang wafat di panti jompo, orang-orang yang tak diketahui sanak-familinya dan sebagainya.

Gaji pengurus orang mati tentu saja tak sebanyak pegawai negeri. Komunitas Kris di bawah bayang-bayang pemerintah, tetapi pihak pemerintah sendiri hanya sanggup menggaji mereka dengan gaji yang minim, bahkan, ada yang mengaku gaji itu terlalu minim untuk seorang pengurus jenazah, apalagi bila mengingat saat bertugas, terkadang mengurusi mayat yang kondisinya sangat menjijikkan. Namun, jika sedang beruntung, mereka bisa mendapat uang tambahan dari orang yang iba kepada mereka, meski hanya sedikit jumlahnya.

Fatimah tahu, pekerjaan Kris tidak hina, bahkan bila yang memandang adalah orang beriman, pekerjaan itu sangat mulia. Tetapi, keluarganya tidak bisa menerima, bagi mereka yang terpenting bukan soal mulia tidaknya sebuah pekerjaan, namun seberapa menghasilkan (uang) sebuah pekerjaan sebab kehidupan rumah tangga bermuara pada tanggung jawab, apalagi saat sudah hadir buah hati, tentu tanggung jawab akan semakin berat, kebutuhan semakin meningkat.

Lelaki Pengurus Orang MatiUang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Keluarga Fatimah adalah keluarga yang kaya. Namun, mereka tidak mendidik Fatimah secara manja. Bisa saja setelah menikah Fatimah masih bergantung pada kekayaan orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi, apakah demikian? Dan, orang tua Fatimah tak pernah mengharapkan itu.

Orang tua Fatimah ingin kehidupan rumah tangga Fatimah bersama suaminya berjalan secara mandiri, artinya dalam memenuhi segala kebutuhan sehari-hari tak mengandalkan siapa pun.

Baca juga:  Akibat Ketakutan

Fatimah sendiri sesungguhnya sudah mengatakan pada orang tuanya, bahwa ia akan mengandalkan kesarjanaan akuntansinya untuk mencari pekerjaan. Fatimah tergolong orang yang cerdas dan pandai berbicara, ia yakin dengan kemampuannya akan terlampau mudah untuk mencari pekerjaan. Dan, ia yakin bila bekerja, kehidupan sehari-hari akan tercukupi.

“Tapi, bagaimana jika kau sudah mempunyai anak?” tanya Ayahnya. “Apa kau masih tetap akan bekerja? Ayah tidak mau, anakmu kelak kurang kasih sayang hanya gara-gara kau terlalu sibuk bekerja.”

“Dengarkan ayah, Fatimah. Dalam berumah tangga, yang diwajibkan mencari nafkah itu laki-laki. Bukan pihak perempuan. Tugas perempuan sejatinya mengurusi rumah.”

“Ayah?”

“Pokoknya ayah tidak mau melihat kau susah hanya karena gaji suamimu yang pas-pasan. Ayah tidak mau melihatmu menderita maka carilah laki-laki yang mempunyai pekerjaan yang jelas dan pasti.”

“Apakah pekerjaan Kris tidak jelas?”

“Bukan begitu. Sekarang berapa gaji Kris sebagai pengurus jenazah?” tanya Ayah Fatimah dengan raut muka seperti orang yang menantang taruhan. “Jika kau tetap keras kepala, ayah akan merestui kau dengan Kris, tetapi dengan satu syarat, suruh ia ganti pekerjaan yang jelas dan pasti.”

Sementara Kris sendiri dilema. Antara memilih Fatimah dan mencari pekerjaan lain atau tetap bertahan dengan pekerjaannya dengan konsekuensi hubungannya dengan Fatimah berakhir. Ia menjadi ingat dengan kata-kata ustaz Karim saat ia masih belajar di pondok pesantren, saat usianya masih dua belas tahun.

“Sesungguhnya menolong sesama termasuk dalam ibadah.”

Meski Kris tahu, apa yang dilakukan adalah ibadah, ia tak pernah menganggap hal itu sebagai ibadah. Sebagai orang yang beriman, agaknya harus seperti itu, biarlah Tuhan yang menilai perbuatan yang manusia lakukan. Manusia sangat tak pantas menghakimi dirinya sendiri sudah melakukan kebaikan.

“Tetapi, apa iya, aku harus berhenti hanya demi seorang gadis?” tanya Kris, pertanyaan yang ia lontarkan ia tujukan pada dirinya sendiri. Ia kini sedang berada di teras rumah.

“Tidak. Aku tidak akan berhenti. Aku takut bila lebih condong pada Fatimah, aku tak lagi sebahagia saat mengurusi orang mati. Bagiku mengurusi orang mati adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Tidak. Aku tidak akan berhenti,” kata Kris beberapa saat kemudian, setelah ia merenung.

Baca juga:  Mata Merah

***

Sesungguhnya orang-orang semacam Kris sangat besar jasanya. Bayangkan saja, saat ada orang gila mati di pinggir jalan, siapa yang sudi mengurusi, sementara ia sendiri tak jelas siapa dan dari mana? Entah bagaimana cara komunitas Kris bisa tahu, bahwa pada hari bla… bla…, di tempat bla… bla… ada orang meninggal dengan ciri-ciri bla… bla… (ciri-ciri yang memungkinkan tak ada orang yang sudi mengurusi). Mereka akan menuju ke lokasi, begitu berita tentang kematian seseorang yang kebanyakan tak diketahui identitasnya sampai pada mereka. Perlu sedikit diketahui, komunitas itu sudah lumayan cukup punya nama di kota Kris tinggal.

Sebagai pengurus orang mati, Kris pernah mengalami berbagai peristiwa di luar nalar. Yang paling ia ingat hingga kini ialah kematian seorang kakek-kakek bernama Mbah Tomo. Mbah Tomo tinggal di sebuah panti jompo, komunitas Kris sudah kerap sekali mengurusi orang meninggal di panti jompo itu. Menurut yang dikatakan salah satu pengurus di panti jompo itu, Mbah Tomo dibuang anaknya, hampir hari-harinya tak pernah sepi dengan tangis. Ketika meninggal dunia, Kris yang memandikan Mbah Tomo. Namun, saat hendak dikafani, sepasang mata almarhum Mbah Tomo mengeluarkan air mata, begitu deras.

Tanpa sadar, Kris meneteskan air mata. Seketika ia membayangkan dirinya sebagai Mbah Tomo. Mungkin ia sudah menjadi gila, ia tak kuat menanggung penderitaan, tak sekuat Mbah Tomo. Kepala Kris mendekat pada kepala Mbah Tomo, tanpa rasa takut.

“Mbah Tomo tidak perlu sedih. Mbah Tomo tidak perlu merasa sendiri. Ingat Allah, Allah akan selalu bersama kita,” kata Kris dengan terbata-bata.

Begitu Kris selesai berkata-kata, air mata yang mengalir dari sepasang mata Mbah Tomo langsung berhenti. Di mata Kris, bibir Mbah Tomo tampak sedang tersenyum, meski sesungguhnya bibir itu tak bergerak sedikit pun.

***

Fatimah menangis setelah Kris dengan tegas menolak ajakan gadis itu untuk nekat menikah. Kali ini Kris seperti orang yang tak pernah mempunyai cinta untuk Fatimah. Gadis itu sesegukan. Meski tampak tegar dan kuat, Kris sebenarnya sedih. Hatinya tak bisa dibohongi, ada rasa tak rela melepaskan Fatimah, tetapi ia sudah mengambil keputusan. Fatimah berucap kepada Kris, ia akan berusaha sekali lagi untuk menaklukkan hati ayahnya. Kris tak melarang meski ia tak yakin apa yang dilakukan Fatimah akan berhasil.

Baca juga:  Tarom

Singkat cerita, orang tua Fatimah tetap pada pendirian, mereka tak mengizinkan Fatimah menikah dengan Kris dan Kris sendiri teguh pada prinsipnya, ia tak akan mencari pekerjaan lain. Hubungan itu pun berakhir. Kris tak merasa dilecehkan karena pekerjaannya yang membuat orang tua Fatimah tak merestui hubungan itu.

Pada akhirnya Kris menikah dengan seorang gadis bukan berasal dari keluarga kaya seperti Fatimah. Ia bernama Muna. Ia tak mempermasalahkan pekerjaan Kris. Baginya yang paling utama dari sebuah pekerjaan adalah kehalalan. Muna sangat salut dengan Kris. Di mata Muna, Kris seorang pekerja keras. Meski terkadang wajah Fatimah membayang di benak Kris, laki-laki itu terus berusaha menanamkan pengertian pada dirinya sendiri; bahwa cintanya bukan lagi untuk Fatimah.

Tidak terasa dua tahun sudah Kris menikmati hari-harinya bersama Muna. Pasangan suami-istri itu belum juga dikaruniai momongan. Kris masih setia dengan pekerjaannya. Muna sendiri membantu Kris mencari penghasilan tambahan dengan berjualan batagor di rumah.

Pada suatu hari, Kris beserta teman-temannya mendapat informasi, di sebuah jalan seseorang yang tidak waras telah ditabrak oleh sebuah mobil dan meninggal dunia. Dengan cekatan Kris beserta teman-temannya langsung menuju ke lokasi. Tandu diturunkan dari ambulans. Kris terbelalak begitu melihat korban tabrak. Seketika kenangan-kenangan tentang Fatimah hadir di pikirannya. ■

Bantul, 2018

RISEN DHAWUH ABDULLAH lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

 

[1] Disalin dari karya Risen Dhawuh Abdullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 16 September 2018