Los Muertos

Karya . Dikliping tanggal 24 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

DI BAWAH langit Meksiko mereka telah menyambutku. Bergelas-gelas tequilla dituangkan merata. Di sudut dekat sebuah meja kayu yang telah dipernis, tergantung sebuah lukisan mendiang penyair ternama yang kukagumi, Renato Leduc. Setahun sekali ia pulang dan kami bertemu di tempat kesukaannya ini. Pada mulanya hanya Renato sebelum kemudian ia mengisahkan tentang kawan-kawan barunya yang telantar dalam keadaan menyedihkan.

“Mereka adalah para penyair malang yang terbunuh oleh kediktatoran Porfirio Diaz. Karena tak terkenal, dan tak ada lagi keluarga yang mengenang, mereka terancam lenyap di alam sana.” Renato berkata padaku tepat pada malam Dia De Los Muertos lima tahun lalu. Aku lalu mencari gambar-gambar mereka di tumpukan arsip di tempatku bekerja. Dan berkat sisa-sisa gambar sebelum eksekusi yang dapat kutemukan, setiap setahun sekali kini mereka dapat pulang, seperti malam ini.

Mereka terlihat kurus dengan tulang pipi menonjol. Tetapi senyum mereka memancarkan sikap keras kepala dan semacam ketololan sehingga tampak seolah di sana tak pernah ada duka. “Don Pedro, tak kusangka, bandot juga kau rupanya!” Salah satu dari mereka berkata. Semuanya tertawa, aku tersenyum saja. Mereka merujuk pada sebuah puisi panjang yang kutulis untuk seorang perempuan di alam sana. Puisi itu muncul di koran ternama ibu kota.

“Tapi kau perlu belajar lebih banyak dariku. Ada bumbu gairah yang perlu ditambah,” ia berkedip nakal, sembari menggesekkan jari telunjuk di pipinya sendiri. Aku tersenyum dan berkata, “Katakan padaku, apa yang dapat dipelajari dari pembual yang sok puitis seperti kalian?” Dan di bawah kepulan asap cerutu tak berhenti kami tertawa sehingga berjam-jam waktu berlalu tanpa kami menyadarinya.

Los MuertosDi luar sana bintang berpendar-pendar dan sejenak langit menurunkan keheningan. Renato berkata padaku, “Ketika kau sudah di alam di sana, kau akan paham betapa berartinya sebuah ingatan, ya, semacam puisi yang dikirim oleh yang hidup kepada mereka yang telah mati.”

Dan ketika malam mulai larut, satu per satu pamit pergi melihat tempat-tempat lain yang menyimpan kenangan. Terpancar jelas dari wajah mereka ingin tinggal lebih lama. Tetapi waktu mereka tidak banyak. Semua hanya terjadi setahun sekali, di saat malam Dia De Los Muertos yang singkat seperti ini. Setelah ini mereka harus pulang kembali ke alam sana.

Di bar itu lalu aku tinggal sendiri. Pada akhirnya semua akan pergi, aku berkata pada diri sendiri. Kata-kata Renato terngiang. Mereka yang sudah di alam sana bergantung pada ingatan orang yang hidup. Aku membayangkan ketika aku meninggal nanti. Adakah yang akan mengenangku? Aku beranjak dari bar. Rintik hujan menyapa dan menyebarkan dingin ke sekujur badan. Ada yang menyeruak dalam diriku.

Baca juga:  Empat Babak Cornelia

Orang-orang berkata waktu dapat mengalir meluruhkan usia tetapi tidak kenangan. Dan ia telah hadir lagi di pikiranku.

“Aku akan selalu mencintaimu, Pedro!” Terlihat matanya yang teduh memancarkan ketulusan dari kedalaman jiwanya.

Ia Sofia, wanita yang kucintai. Ia telah memilih melompat dari lantai sebuah bangunan tua di sudut kota ini dua tahun lalu. Itu ketika ia tahu diam-diam aku mengkhianatinya. Aku mempunyai kekasih lain. “Kenapa kau tidak membunuhku saja?” Ia berkata. Aku tidak dapat mengelak. Setelah itu ia menolak menemuiku. Dan tak lama kemudian dengan mata kepala sendiri kulihat tubuhnya remuk dan kepalanya pecah di jalur yang sedang kulintasi ini.

Bagaimanakah aku akan memaafkan diri sendiri? Tidakkah tanganku ini berlumur darah? Bagaimanakah keadaannya sekarang di alam sana? Aku ingin meminta maaf. Pada malam Dia De Los Muertos tahun lalu aku menyiapkan fotonya, membakar lilin, menyediakan roti kesukaannya, dan beberapa botol tequilla. Tetapi ia tak kunjung hadir. Aku merasa terlalu dalam aku melukainya.

Minggu lalu, ia berulang tahun. Aku menulis sepotong puisi. Melihat bait-bait itu muncul di koran, aku sedikit bahagia, seperti menemukan bagian dari diriku yang telah lama hilang. Kuletakkan potongan koran berisi puisi itu di samping fotonya yang dikelilingi oleh lilin-lilin. Tetapi ia tetap tidak hadir sehingga kuputuskan bertemu Renato Leduc dan kawan-kawan di bar tua itu.

Di langit terdengar halilintar dan hujan mulai mengguyur. Aku berjalan pulang. Mungkin selamanya ia tidak akan pernah datang lagi padaku, aku berpikir. Mengapa tidak kumulai saja lembaran baru? Dan tiba-tiba aku ingin menulis puisi lagi; berharap dapat melupakan ini semua. Puisi untuk perempuan yang nyata, yang dapat kusentuh, perempuan hidup yang dapat mencintaiku.

Sampai di rumah, aku membuka pintu dan tiba-tiba aku dapat mencium wangi parfum yang akrab. Tidak lama kemudian aku melihat satu sosok bergerak mulus seperti sehelai kafan putih. Ia berpindah dari meja makan ke samping wastafel lalu melayang melewati dapur dan menghilang. Perlahan aku mendekati jendela dan melihatnya sedang duduk menunduk memunggungiku di balkon.

Baca juga:  Baluembidi

“Sofia,” aku memanggil. Hanya ada hening yang dingin.

“Aku kira kau masih bersama perempuan itu,” ia berkata terbata-bata.

“Tidak, Sofia. Perempuan itu mengkhianatiku. Ia pergi bersama laki-laki lain,” aku berkata. “Barangkali begini cara Tuhan menghukumku. Demi Tuhan, maafkan aku, Sofia!”

Dalam sekejap ia berdiri di depanku dan meraih kedua tanganku. Aku menatapnya. Ia menyeka bulir-bulir kristal yang bergelayut di mataku. Aku mencoba memeluknya. Tetapi rasanya seperti meraih gumpalan kabut. Ia telah menjadi hantu.

“Puisimu membuatku yakin untuk pulang,” ia berkata.

Dan dalam waktu sejenak kami memulai hidup bersama lagi. Ini membuatku teringat pada saat pertama kami bertemu. Ia mahasiswi filologi dari universitas Nacional Autónoma de México. Ia magang di Badan Arsip tempatku bekerja. Aku membantunya mencari dokumen kuno untuk penelitiannya. Perlahan kami dapati diri kami saling jatuh cinta.

Dan sejak saat itu aku mengajaknya ke tempatku di setiap akhir pekan. Kami semakin dekat. Ia mulai menemaniku memasak dan terkadang mengomeliku sebab membiarkan piring kotor yang tak kucuci selama berhari-hari. Namun kemudian sesuatu yang tak kuinginkan itu terjadi.

Sekarang tak seorang pun mengetahui kebersamaan ini. Barangkali cuma seorang lelaki tua yang sesekali mengetuk dinding saat kami terlalu larut dalam tawa. Aku mulai dapat sedikit memaafkan diri sendiri. Kebahagiaan lama telah kembali meski tak lagi sempurna.

“Andai saja kita dapat hidup bersama lebih lama, Pedro!” Sofia menghela napas.

Aku melihat keluar melalui jendela. Malam sebentar lagi berakhir. Detik-detik perpisahan menjelang. Aku merasa sesak karena ia akan segera pergi. Ia mengajakku berdiri di hadapan fotonya yang dikelilingi lilin-lilin, roti, dan botol-botol tequilla. Ia memberiku kecupan dan tersenyum. Kami berpelukan. Sofia meraih tequilla lalu menuangkannya untuk kami berdua.

Aku melihat ia minum tetapi tequila hanya mengalir dari mulutnya dan merembesi lantai. Aku menunjukkan cara minum yang patut dan mulai menenggak gelas yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi ketika ia melakukan itu lagi sama seperti ia sengaja menuangkannya ke lantai. Dan itu membuatku tertawa.

Kami terus menikmati detik-detik terakhir itu. Di gelas yang kesekian aku merasa bumi berputar begitu ganas dan membuatku oleng beberapa kali. Aku bangkit perlahan dan melihat Sofia menertawakanku. Dan akhirnya dengan lembut ia mengulurkan tangan dan aku melangkah ke arahnya

“Berjanjilah kita akan selalu bersama begini, Pedro. Mau kah kau?”

Baca juga:  Maut Bercanda dengan Kolonel Saidi

Aku mengangguk dan terlihat jelas wajahnya merona berseri-seri. Ia begitu bahagia dan aku mulai menari menikmati suasana. Rasanya gerak-gerakku menjadi leluasa seperti orang lumpuh yang tiba-tiba menyadari dapat berlari. Aku merasa takjub. Di bawah terlihat orang-orang berkumpul seperti heboh mengerumuni sesuatu tetapi kami tidak peduli.

Ketika orang semakin ramai, aku memutuskan turun. Gerakanku terasa lebih ringan dan lebih cepat dari biasanya. Dan aku mendapati satu sosok yang telah remuk. “Itu aku …” Aku terkejut melihat tubuhku sendiri terkapar di sana. “Tenang saja!” Sofia tersenyum dan meraih tanganku, membawaku semakin tinggi. Dan aku pun pasrah. Aku melihat gemintang di alam baru yang melebihi luas semesta raya.

Kelak orang-orang menyebutkan nama kami ketika menjelaskan tempat ini, ketika ia diubah menjadi sebuah museum. Lalu setahun sekali kami pulang dan melihat foto kami terpampang dan kliping koran yang dibingkai. “Tempat ini milik sepasang hantu yang malang”. Mereka kasihan dan percaya aku bunuh diri lantaran depresi ditinggal pasangan yang juga mengakhiri hidupnya sendiri.

“Barangkali orang ramai memang senang tertipu dan akan selalu begitu,” Sofia berkata dan kami tersenyum.

Kami berpegangan tangan dan berdansa di angkasa; beterbangan di langit Meksiko dan tertawa. Ia mencintaiku dan aku mencintainya. Meski orang-orang mengenang kami dengan cerita yang buruk, tak seorang pun tahu di alam ini kami begitu berbahagia.

Catatan: 
Dia De Los Muertos atau hari orang meninggal adalah tradisi upacara kematian di Meksiko dan beberapa negara di Amerika Latin. Pada hari tersebut orang-orang yang telah meninggal dipercaya pulang dan mereka disambut penuh sukacita oleh orang-orang yang dicintai. 
Tequilla: Minuman khas Meksiko

Putra Hidayatullah menyelesaikan studi Contemporary Art and Art Theory of Asia and Africa di SOAS, London. Selain menulis cerita pendek, ia terlibat dalam kegiatan kuratorial. Ia terpilih sebagai salah satu kurator muda Jakarta Biennale 2015. Karya-karyanya tersebar di sejumlah media. Saat ini ia tergabung dalam Liga Kebudayaan Tikar Pandan, Banda Aceh.


[1] Disalin dari karya Putra Hidayatullah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 22 – 23 September 2018