Mematikan Lagarise

Karya . Dikliping tanggal 17 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

DI dalam benteng kokoh berpintu besi ini, aku mendapati diriku sedang bersantai. Aku duduk di depan pintu rumah utama. Menghadap ke tembok batu cadas setinggi kurang lebih dua setengah meter. Puluhan atau mungkin hampir ratusan tanaman anggrek memenuhi dinding tembok. Aku tidak bisa melihat apa indahnya, kecuali bahwa bunga-bunga itu serupa perempuan-perempuan tua. Kaku dan abadi.

Aku menyesap seteguk teh hangat dari beras merah. Hidungku menghirup wangi pandan dan lidahku mengecap rasa sedikit gosong dari serbuk beras merah – yang malah menambah rasa. Ini baru buatku, tapi enak. Aku lalu menjadi semakin bersemangat dan mulai mengatur rencana. Gelas kedua bisa menunggu, sebelum embun-embun pagi ini berlalu di bawah kolong matahari…

*

“Lagarise tewas diracun. Benar- benar mengecewakan, tapi sangat menghibur penonton.”

“Tapi, di berita belum ada yang menyinggung tentang hasil otopsi dan lab,”

“Oh? Jadi, dengan mata dan akal budimu pun kamu tidak bisa mengambil kesimpulan?”

“Tapi, bukannya sebelum…”

“Ah! Pokoknya begitu! Hasil otopsi keluar sekarang atau lusa atau seminggu lagi, bahkan setahun lagi, sudah jelas Lagarise diracun.”

“Atau bunuh diri dengan minum racun?”

“Bukan! Pemuda congkak itu bukan jenis yang mampu membunuh dirinya sendiri. Dia jenis manusia garang yang punya banyak musuh.”

“Bagaimana, eh, kok bisa tahu, eh dia banyak musuh?”

Wim van Tilburg menoleh ke arah Jonkers dengan tatapan mata kejam, “Aku salah satu yang menginginkan kematiannya.”

Jonkers langsung terdiam, memang Wim pernah bertukar serapah dengan Lagarise, ketika Wim datang berkunjung ke rumah Jonkers–tepatnya, selalu datang ke rumah ini. Ketika itu, Lagarise memarkir mobilnya seenaknya dan menghalangi jalan untuk pejalan kaki dan sepeda. Tapi, tentu saja lelaki tua keras kepala itu hanya ‘ingin’ tapi tidak mungkin.

Jonkers kembali menekuni berita tentang kematian pebisnis muda berumur tiga puluh empat tahun di kota mereka–tepatnya tetangga samping rumah Jonkers. Dia sedikit menyesal, hampir tidak tahu apa- apa tentang Lagarise.

Lagarise memang pemuda beringas, sombong, dan sering berulah di klub-klub minum setempat. Di usia enam belas tahun dia pernah menaruh obat tidur dalam minuman soda teman kencannya dan ketika anak perempuan itu jatuh tertidur, Lagarise menelanjanginya dan mengambil foto dengan kamera polaroid. Juga ada puluhan perkelahian dan pertengkaran baik di sekolah maupun di rumahnya orangtuanya. Hmmm… , jadi kematian orang- orang seperti ini bisa dianggap boleh-boleh saja? Seharusnya tidak perlu seheboh ini.

Baca juga:  Kematian Seekor Tikus

Tapi, yang menjadikan penemuan mayatnya dan kisah-kisah heboh yang mengikutinya tidak biasa adalah… Coba tebak? Lagarise ditemukan terbaring manis di atas meja bilyar di ruang tengah rumahnya sendiri. Manis dalam artian sebenarnya. Sama sekali jauh dari seram, mengerikan atau brutal. Tidak ada genangan darah atau lukaluka sabetan atau tusukan yang menganga.

Lagarise malah terbaring cantik dengan wig palsu sebahu berwarna pirang terang, mengenakan terusan berbahan satin polos berwarna putih tulang dan oh wajahnya itu, dipoles dengan make up yang begitu halus. Benar-benar adikarya. Kulitnya yang berpori kasar benar-benar tersamar dengan bedak yang halus, bibirnya yang selalu tersenyum congkak itu bahkan berwarna merah marun yang lembut.

Siapa pelakunya? Seorang make up artist kuat nan kekar yang dendam kepadanya? Meracunnya dulu (kalau benar dugaan Wim) lalu mengganti baju dan merias wajahnya? Jonkers berpikir untuk mengucapkan selamat kepada sang pembunuh, membuat Lagarise ketika ditemukan tidak dikenali.

Ibunya sendiri bahkan mengaku, “Kukira ini adalah acara lucu-lucuan seperti di televisi, dan kukira perempuan yang sedang terlentang itu mungkin saja teman kencan Lagarise. Tidak pernah terpikir itu Lagarise yang sudah meninggal…”

Yah, Mevrouw van Mullen cukup tegar, tidak histeris, tidak pingsan, tidak juga menangis di depan wartawan media cetak maupun televisi yang memenuhi lokasi ketika akhirnya polisi dipanggil dan datang dengan mobil ambulans. Jonkers memang naif, tapi dia tergelitik untuk menuduh. Mevrouw van Mullen mengambil sedikit bagian dari semua ini. Atau setidaknya dia bersalah karena terlihat seperti lega dan bahagia kehilangan putra satu-satunya. Memang, keluarga dekat dari Mevrouw van Mullen mengatakan kepada wartawan, kalau Lagarise pernah mengancam membunuh ibunya sendiri dengan senapan berburu.

Huff, benar-benar awal musim panas yang panas. Jonkers mengelus-ngelus alisnya yang tumbuh subur mencuat. Aku bukan detektif, bukan pula polisi, apalagi wartawan berita kriminal yang melebih-lebihkan dalam setiap berita tentang Lagarise–aku hanya tetangga yang penasaran. Siapa perempuan yang kulihat melintas di halaman depan rumah Lagarise ketika itu? Dan dua malam kemudian Lagarise ditemukan? Apakah itu Lagarise sendiri yang berdandan ala perempuan dan lalu lalang di depan hidungku? Ataukah sang pembunuh itu sendiri?

Baca juga:  Hujan, Mendoan, Kopi, dan Rindu yang Belum Tandas

Diduga kuat Lagarise kerap berdandan seperti perempuan walaupun tampangnya keras dan jahat. Ada kehidupan lain yang dia sembunyikan. Tapi, Jonkers tidak percaya. Dia sangat yakin, Lagarise diperdaya sebelum maut menjemputnya.

*

Lagarise mati dalam tidurnya. Setan memakan nyawanya. Karena setan cemburu. Jika terus-terusan dibiarkan hidup, setan kalah pamor. Lagarise memang masih muda, tapi mumpung masih muda, sebelum tangannya melakukan kejahatan lain yang lebih berbahaya dan bisa menggeser kedudukan setan, lebih baik dihabisi dulu. Begitu jenderal setan akhirnya memutuskan. Piala siapa yang terjahat haruslah tetap milik setan.

*

Lagarise panjang umur, setelah sebelumnya bertobat dan memberi dirinya dipermandikan. Dia bahkan mulai berkhotbah tentang pengampunan dan kasih karunia. Tapi, baru berpikir begitu, ada yang muntah, cuih!

*

Kesaktian Lagarise semakin menjadi-jadi, semua dukun sakti mandraguna sudah menanda tubuhnya. Rambutnya tak putus ditebas keris dari Jawa. Semua orang takut kepadanya. Semua yang mengenal maupun tak mengenalnya menjuluki dia: psikopat. Tapi, muncul puteri dari Timur jauh, menancapkan jarum beracun ke kulitnya yang bersisik. Ular muda roboh, mampus!

*

Lagarise sekarat di pelukan istrinya, muntah darah. Istrinya tersedu karena bahagia, Si Jahat ini mati juga akhirnya. Belum hilang di ingatan sang istri, Lagarise kerap mencemooh siapa saja.

Merendahkan siapa saja. Lagarise pernah berkata, “Aku benci si X, kalau anak laki-laki kita sudah besar, mungkin akan kusuruh dia mencari anak perempuan si X, supaya dirusak.” Sang istri memang penurut dan mungkin bodoh, tapi dia benci mendengar kalimat rendahan dan memalukan seperti ini. Mimpi apa…

*

Hans Christian Andersen memanggil peri-peri baik hati yang terbang keluar dari bingkai pintu dan melindungi dan membawa perempuan itu pergi…ketika Si Jahat itu tiba-tiba kerasukan dan mulai mengeluarkan kata-kata hinaan. Peri-peri lalu memanggil binatang pemakan setan, dan Lagarise terkurung selamanya di dalam perut sang binatang yang tak bernama.

Baca juga:  Kunang-kunang

*

“Ayo… Kafenya bisa-bisa sudah tutup kalau kita tidak pergi-pergi juga!”

“Ya.”

“Cepat! Viktor dan teman- temanku sudah menunggu. Habis ini mau lanjut biliar,”

“Sekalian saja aku ndak usah ikut ya?”

“Terserah! Kami mau minum- minum jadi lebih baik kau jangan menghalangi. Eeh, kamu juga jangan coba-coba bawa Mercy baruku keluar rumah. Kamu di rumah saja, memangnya kamu butuh cari laki-laki lain? Mau selingkuh?”

“Ya.” Dalam hati, ‘Padahal mobil bekas tahun purba, pede, sok kaya…’

*

Lagarise melangkah masuk ke kafe, tepat ketika seekor ular derik berbisa yang tersesat dari padang gurun, menerjang mata kaki Lagarise. Lagarise menjerit-jerit, mungkin seperti Neymar. Tapi, Neymar baik-baik saja. Namun, Lagarise tewas membiru.

*

Lagarise kejatuhan meja bilyar yang barusan diturunkan dari truk kontainer, dan teman- temannya berpesta bir, merayakan kematiannya. Sebenarnya tewas kejatuhan pisang lebih tragis lucunya, tapi pastilah pembaca akan menuduh, ini meniru-niru cara tewas ayah dari Forrest Gump.

*

Heh! Bikin apa kau di situ? Pura-pura sibuk? Ada undangan pesta nanti malam. Kau bisa pinjam baju pesta Nila, juga tas sekalian. Dandan yang cantik, jangan bikin malu!”

Aku memandang ke wajahnya yang keji, merenung-renung kapan saat yang tepat, dan bagaimana?

Nah, adakah yang tahu bagaimana cara mematikan Lagarise tanpa harus ketahuan lalu kemudian bersakit-sakit diadili di pengadilan manusia?

Sebaiknya kuhabiskan dulu gelas kedua teh beras merahku yang enak ini, sebelum lanjut menulis, nah itu dia! Aku bisa mulai dengan mengembangkan karakter aneh bernama Jonkers, dan Si Pak Tua yang berlidah sadis, Wim van Tilburg. Dan yang paling penting, memunculkan karakter paling misterius yang antik dan licin – sang pembasmi lelaki pelaku kekerasan verbal dan ȴ sik. Duh, susah ternyata mencoba menjadi seorang pengarang.

Caroline Wong sejumlah karyanya telah dimuat di sejumlah media massa.

 

[1] Disalin dari karya Caroline Wong
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 17 September 2018