Menjadi Seperti Mutiara

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

“WIHHH…. udah dikerudung lu Del.”

“Ehh, awas ada ustazah lewat tuh. Assalamualaikum Ustazah.”

“Masyaallaah ukhti, hahahaha …”

BEGITULAH ketika aku memu­tuskan untuk hijrah, banyak sekali orang-orang yang mecibirku, mengataiku. Bukan satu dua, tetapi banyak sekali, mengingat aku adalah salah satu pelajar SMA yang terkenal nakal, suka bermain dengan laki-laki. Benar sekali ternyata kata orang, hijrah itu tidaklah mudah apalagi un­tuk orang sepertiku, yang memutuskan langsung totalitas dalam berhijrah. Ya, na­maku Delia Yunita. Aku adalah salah satu pelajar di sekolah swasta di Purwakarta, di SMA Pasundan. Aku pernah mendengar sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “Hidayah itu dikejar, bukan ditunggu”. Aku masih ingat ketika pertama kali aku berte­mu dengan sahabatku, Nania namanya. Dialah yang pertama kali membuat aku sadar bagaimana fitrah seorang Muslimah sesungguhnya.

“Assalamualaikum Nania, ini aku Delia, sekarang aku udah berhijab Nan, tapi kamu gak lihat kan gimana cantiknya aku pake hi­jab, hehe….”

“Oh iya Nan, ternyata bener kata kamu hijrah itu sangat membutuhkan proses, dan sekarang aku sedang menikmati proses itu. Sungguh, rasanya aku ingin menyerah mengingat tidak ada sahabat yang sebaik kamu. Kamu yang selalu ngingetin aku kalau aku salah,” kataku sambil menghapus air mata yang jatuh dari mata.

“Nan, aku ingin sepertimu, menjadi perempuan yang dapat memotivasi orang lain, menjadi perempuan yang dicintai orang lain, menjadi perempuan yang dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. Nan, aku pulang dulu ya, semoga kamu ba­hagia di sana, semoga kebaikan kamu Allah ganti dengan hal yang terbaik. Aamiin.”

Satu tahun yang lalu,ketika bulan Ra­madan tiba, aku bertemu dengan Nania di depan masjid di daerah Purwakarta. Dia tidak melihatku, tetapi aku melihatnya. Aku melihat dia sedang memberikan makan un­tuk buka puasa kepada orang-orang yang lewat bersama dengan teman-temannya.

“Wah, udah azan Asar. Ayo temen-temen, kita salat dulu. Percuma kalau puasa tapi enggak salat. Yuk yuk…” ujarnya.

Jleb... kata-katanya masuk ke hatiku. Aku seperti tertampar mendengar penuturan dari Nania. Sudah satu minggu aku terus memperhatikan  Nania, tetapi aku tidak  be­rani untuk  menyapanya. Aku tertarik untuk mempelajari Islam secara mendalam. Lalu pada akhirnya aku tertangkap basah sedang  memperhatikan  Nania.

Baca juga:  Sepasang Mata yang Menyala

“Assalamualaikum. Hai.. aku lihat seming­gu ini kamu terus datang ke sini. Ayo mau ikutan bagi-bagi takjil buat orang lain?” sapa Nania sambil tersenyum ramah sampai gingsulnya kelihatan.

‘Wah, ternyata dia pun memperhatikan aku,” ucapku dalam hati.

“Oh iya, nama kamu siapa? Aku Nania,” dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Menjadi Seperti Mutiara‘Wa’alaikumsalam. Oh iya.. hehe namaku Delia. lya, aku sering memperhatikan kamu. Aku senang kalau melihat kebaikan orang lain,” jawabku.

Tidak dimungkiri, sisi kemanusiaanku ter­panggil ketika melihat Nania dan teman-te­mannya dengan semangatnya membagikan takjil untuk orang lain. Bagiku hal itu adalah sesuatu yang luar biasa, di saat kini banyak sekali orang-orang yang sudah tidak peduli lagi dengan  oranglain.

Sudah satu minggu lebih aku mengenal Nania sebagai sosok perempuan yang aktif bagi kemaslahatan orang lain. Aku diberi tahu tentang perempuan-perempuan dalam Islam. Salah satunya adalah Fatimah Azzahra, seorang puti Rasulullah. Dia sangat menjaga kesucian serta kehor­matannya  sebagaiwanita. Salah satunya dengan menutup aurat secara sempurna.

“Jadi, perempuan itu ibaratkan mutiara yang tersimpan di laut lepas yang megah. Mengapa demikian? Karena mutiara itu susah untuk didapatkan, dia tersembunyi dan orang yang ingin mendapatkannya harus berjuang. Maka, kita sebagai Mus­limah harus menjadi mutiara di mana tidak semua orang bisa melihatnya, di mana tidak semua orang bisa menyentuhnya.” Seperti itu penjelasan Nania sebagai pembukaan materi kajian minggu ini. Setiap Kamis me­mang kami sering berkumpul dalam satu wadah komunitas  Muslimah.

Lalu seseorang bertanya, “Kak, bagaimana dengan seseorang yang punya masa lalu yang kelam, lalu dia ingin ber­hijrah tetapi dia merasa tidak pantas?”

“Begini ya teman-teman salihah. Kita se­mua ini manusia. Manusia adalah tempat­nya salah dan dosa. Jadi wajar jika kita melakukan kesalahan. Tetapi ingat, sebisa mungkin kita jangan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya. lngat! Rahmat dan ampunan Allah itu sangat luas dari apa yang kita pikirkan. Apa selamanya kita akan merasa tidak pantas untuk berubah menja­di ke arah yang lebih baik padahal kita tahu bahwa kebaikan itu perlu kita lakukan. Manusia tidak diukur dari masa lalunya, bukan? lngat kisah Umar bin Khattab. Dulu dia adalah seorang penjahat. Tetapi dia sadar bahwa kebaikan itu sudah ada di de­pan matanya dan menjadi sahabat rasul yang selalu berjuang demi Islam,” ujarnya menjelaskan.

Baca juga:  Kulit Iman - Menunggu Pagi - Di Pidie Setelah Subuh Dikumandangkan - Rubayat Tahajud

Sungguh, aku sangat kagum mendengar penuturan dari Nania. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Nania.  Dan aku merasa malu berada di tengah orang-orang yang berhijab syar’i , sedangkan aku masih pakai kerudung.

Selesai acara kajian,aku menghampiri Nania untuk bertanya lebih dekat seputar perempuan dalam Islam, “Nania… aku ingin menjadi sepertimu, apa yang harus aku lakukan pertama kali sebagai wujud dari perubahan diriku?”

“Tutup auratmu, cantik. Jangan mau mempertontonkan auratmu secara gratis kepada kaum Adam. Cukup kelak hanya untuk suamimu saja. Buat bidadari surga cemburu kepada kita sebagai muslimah,” tuturnya. Kata-katanya membuat aku berpikir, membuat aku terenyuh. Meng­ingat aku adalah perempuan yang masih sering lupa untuk hal satu itu.

Keesokan harinya, Nania menemuiku di masjid tempat kami biasa berkumpul. “Na­nia mengapa kamu baik sekali…” ucapku dalam hati, “semoga kamu menjadi manusia yang selalu dirahmati Allah.”

“Assalamualaikum Del, ini aku belikan ka­mu kerudung syar’i untuk kamu pakai menutup aurat.”

‘Waalaikumussalam, terima kasih Nania, kamu baik sekali, semoga aku bisa is­tiqamah seperti kamu. Bantu aku terus, bimbing aku terus ya untuk menjadi manu­sia yang lebih baik lagi,” ucapku sambil memeluk Nania. “lnsyaallah, semoga Allah selalu membantu kita ya. Aamiin,” tuturnya.

“Pesanku untuk kamu Del.. nanti di de­pan sana kamu akan menemui banyak rin­tangan, tidak mudah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, kamu pasti menemui orang yang tidak suka dengan perubahan kamu, tapi aku percaya kamu orang yang kuat. Nikmati proses itu ya, Del. Jangan menyerah!” katanya lagi.

“Terima kasih Nania, tapi aku belum siap untuk pakai kerudung, aku ingin menjadi orang yang lebih baik dulu sebelum aku pakai kerudung,” jawabku.

“Baiklah jika itu maumu, Del. Tapi ingat ya, permen yang terbuka dari cangkangnya akan banyak digerumuti se­mut, beda dengan permen yang masih ter­bungkus rapi. Kalau kamu ditawari per­men yang sudah terbuka dan masih rapi terbungkus, kamu akan pilih mana?” ujarnya.

Baca juga:  Lelaki Badai Hujan

“Pilih yang masih terbungkus,” jawabku

“Kenapa?” katanya lagi.

“Karena masih terjaga dari kotoran dan semut-semut yang menggerumutinya,” ujarku.

Nah, tuh kamu tahu jawabannya. Lagipula berhijab itu wajib bagi wanita yang su­dah balig,” katanya.

Ting……. suasana hening, aku tertampar lagi. Berarti aku masih sangat jauh dari kata baik. Ya Allah…

Setelah mengenal Nania selama satu tahun, aku sadar Allah mempertemukan aku dengan Nania untuk mengejar hidayah, dan hari ini aku ingin menemui Nania untuk memberi tahu kalau aku ingin berhijab syar’i seperti Nania. Akan tetapi, Nania susah un­tuk dihubungi. Sudah satu bulan lebih tidak ada kabar dari Nania. Setelah aku caritahu ternyata Nania sedang dirawat, dia punya salah satu penyakit yang mematikan.

‘Ya Allah… kenapa Nania tidak pernah bercerita kalau dia punya penyakit yang membahayakan seperti itu,” aku menangis tidak tahan mendengar sahabat baikku menderita. Hingga pada akhirnya aku men­dapat sebuah kabar bahwa Nania mening­gal dunia.

“Assalamualaikum Bu, kenapa Nania  tidak pernah menceritakan kalau dia punya penyakit yang sangat membahayakan bagi dirinya?” tanyaku kepada lbu Nania sambil menahan  tangis.

‘Waalaikumussalam, Nania bilang, dia tidak ingin menceritakan soalpenyakitnya kepada siapa pun, dia tidak ingin membuat orang lain merasa khwatir dan dia tidak mau jika harus menyusahkan orang lain,” tutur lbu Nania menjawab disertai derai air mata.

Aku jadi teringat Nania pernah berucap, “Del, jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain, sebab hidup hanya sekali dan ki­ta harus mampu memanfaatkan hidup se­baik-baiknya, salah satunya bisa berguna untuk orang lain. Minimal kita bisa berman­faat untuk diri kita sendiri, sebagai bekal di akhirat kelak.” ***


[1] Disalin dari karya Melani Wulandari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 23 September 2018