Obituarium Origami

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

“Tuhan selalu bersama orang-orang yang sedih dan kesepian,” kata Ayah dahulu kepadaku. “Maka ketika kau bersedih, berdoalah dan berharap. Tuhan selalu mendengarkan doa mereka.”

Aku mengingat betul kalimat Ayah itu. Setiap malam ketika orang-orang terlelap dalam mimpi manisnya di kamp pengungsian, aku acap melabuhkan sebuah lipatan origami berisi harapan dan doa. Aku melarutkannya di parit-parit kecil dengan genangan air berwarna coklat. Kemudian aku berharap, para origami itu tiba di rumah Tuhan yang terletak jauh di ujung sana. Aku percaya Tuhan ada di mana-mana, Dia berada di setiap kesedihan dan kebahagian umat-Nya. Maka sebab itu, seperti kata Ayah pula, aku tak jemu mengirimkan lipatan-lipatan origami kertas yang telah kuguratkan dengan bisikan doa dan harapan di dalamnya.

Begitulah. Kebiasaan aneh ini acap aku lakukan selama beberapa kali terakhir, setelah sebuah gempa besar melanda kotaku. Aku melakukan ini hanya ingin mengirimkan, dan memastikan, salam rinduku pada Ayah dan Ibu yang kini entah berada di mana. Gempa bumi dan disusul tsunami besar telah membawa mereka hanyut ke suatu tempat yang tak aku ketahui, ke dunia antah-berantah yang masih ada di bumi atau sebaliknya. Tempat tak terdeteksi yang memisahkan kami. Bencana itu juga sudah menggulung setiap pintal kenangan di kampung halamanku. Tidak ada lagi yang aku miliki saat ini. Teman-teman, kerabat, dan hangatnya tempat untuk berteduh. Semuanya raib dihancurkan oleh nasib!

Aku sekarang hidup sebatang kara sebagai anak-anak korban bencana yang entah memiliki masa depan atau tidak. Oleh sebab itu, waktu rasa rindu dan sedih datang bersamaan, aku acap membuat origami kertas yang di dalamnya telah kuguratkan harapan dan doa-doaku kepada setiap orang yang aku cintai. Malam ini demikian. Aku kembali menghanyutkan origami kertas di parit kecil dekat pengungsian. Hati-hati aku menyelinap keluar, membawa origami-origami kertas yang di dalamnya sudah aku tulis doa-doa dan harapanku. Aku menghanyutkannya dan memandang origami-origami kertasku terseok-seok diseret arus parit. Sesekali aku memejam mata dan berharap, origami-origami itu sampai ke rumah Tuhan.

***

Pengungsian itu tampak murung. Banyak orang yang kehilangan kerabat dan harta karena bencana ini. Pekik tangis seolah menjadi pemanis kamp setiap hari. Mungkin terikan tangis itu sudah menggumpal dan memenuhi sela-sela sudut tempat. Aku sendiri hanya termenung menyaksikan kepiluan demi kepiluan yang datang silih berganti.

Baca juga:  Menjelang Kepergian Ibunda

Setiap waktu yang bergulir selalu bermunculan wajah-wajah pucat tanpa nyawa dan asing, yang menjadi korban bencana. Tubuh-tubuh yang telah koyak atau setengah busuk itu terlihat sangat mengerikan menggelepar. Tubuh-tubuh itu mungkin sudah tertimbun lumpur atau bangunan beberapa hari dan pasrah menunggu untuk lekas diselamatkan.

Namun, hingga kini aku belum bertemu dengan sosok ayah dan ibuku. Aku tak tahu apakah mereka masih hidup atau telah membusuk dalam tumpukan lumpur seperti tubuh-tubuh itu. Betapa berat hidup dengan terus memanggul kegelisahaan seperti ini. Setiap saat aku hanya dipaksa menunggu sebuah kabar murung yang mungkin saja datang terlambat. Oleh sebab itu, dengan origami kertas, aku menyampaikan doa-doa dan harapan-harapanku. Aku menyampaikan semua angan dan kegelisahanku: semoga mereka semua masih hidup dan kini sedang memikirkanku!

Siang ini, setelah lama menunggu, hal yang aku harapankan tak juga datang. Malah yang datang padaku adalah kesedihan berupa kenangan atas Ayah dan Ibu. Mereka seakan hadir waktu aku melihat setumpuk mayat yang bergelimpangan. Aku seolah melihat sosok Ayah dan Ibu yang terkapar tiada daya di sana. Namun ketika aku pastikan lebih lanjut dengan mendekat, sosok itu bukan mereka. Tubuhku melemas. Lamat-lamat, air mataku menetes. Aku lari ke barak pengungsian; duduk seorang diri seraya memintal origami kertas dan menuliskan doa-doa di dalamnya. Setelah tujuh origami kertas selesai aku buat; bergegas kumenuju parit kecil yang setiap waktu tak jemu melabuhkan doa-doaku.

Sebelum aku melarutkan origami-origami itu, aku memeluknya beberapa menit. Aku kemudian dengan pelan-pelan melepaskannya seraya arus air membawa. Air mataku ikut jatuh melihat origami-origami itu menjauh dariku.

“Tolong sampaikan pada Tuhan kalau aku begitu sedih dan ingin dipeluk-Nya!”

Aku termenung beberapa saat seraya mengutuk nasib burukku. Mengapa aku tak direnggut saja dalam bencana itu? Tiba-tiba dadaku terasa sakit. Air mataku deras mengalir dari hilir.

“Mengapa Kau ciptakan kesedihaan ini untuk kami, Tuhan?” pekikku lirih.

Origami-origami kertas sudah jauh pergi. Namun, kesedihan di hatiku tidak lekas berlalu. Kesedihan itu malah mengental dan memberatkan dada.

Baca juga:  Haji Manap

***

Tujuh hari berlalu, tetapi keajaiban yang aku tunggu belum juga datang. Di barak pengungsian, semakin banyak kesedihan. Wajah-wajah pengungsi tampak lelah dan putus asa. Barangkali meraka juga memiliki nasib yang sama sepertiku, menunggu sesuatu yang sangat tak pasti. Setiap hari, bertambah banyak aku jumpai wajah-wajah pucat tanpa nyawa yang bergelimpangan. Pekik tangis tak pernah surut mendengung. Beberapa hari yang lalu bahkan ada seorang wanita yang nekat mengakhiri hidupnya karena tahu seluruh keluarganya mati terenggut bencana.

Aku pun menjadi sering berdoa. Aku tak lelah mengirim harapan-harapanku dengan origami-origami kertas itu.

“Tolong antarkan mereka kembali kepadaku, Tuhan,” kataku sebelum menenggelamkan origami-origami itu. “Tolong berikan kedamaian pada setiap orang di sini.”

Origami-origami itu aku labuhkan; membiarkannya tersuruk-suruk dibawa air kali. Namun tanpa sengaja melintas pikiran: Apakah origami-origami kertas itu sampai ke rumah Tuhan? Apakah origami-origami kertas yang membawa doa-doaku itu tersesat di jalan? Aku tak tahu. Aku hanya dapat berharap origami-origami itu menyampaikan salam rindu dan doa-doaku kepada Tuhan.

***

Obituarium OrigamiHari terus berganti dan semakin menumpuk kesedihan di barak pengungsian. Sudah tidak terhitung wajah-wajah tanpa nyawa yang setiap hari ditemukan. Aku belum juga menemukan sosok ayah dan ibuku. Apakah mereka masih hidup atau telah membusuk di sebuah kubangan lumpur? Air mataku mangalir. Aku kembali membuat origami kertas kemudian melabuhkanya di parit kecil dengan arus yang cukup deras. Hanya kini tiba-tiba melesat di pikiran: origami kertas yang aku kirim itu tak ada gunanya! Origami-origami itu tak pernah sampai ke rumah Tuhan. Aku kembali menangis meratapi kebodohanku.

“Mungkin, Tuhan tak pernah mendengar kan doa-doaku,” pekikku sesenggukan. “Origami-origami itu tak pernah sampai ke mana pun.”

Begitulah. Sepanjang hari yang murung itu, aku termenung di pohon yang tak jauh dari kamp pengungsian. Aku meratapi segala kemalangan yang menimpa serta doa-doa yang tanggal entah ke mana. Gerimis turun perlahan. Aku menatap ke arah tenda-tenda pengusian yang telihat suram. Tak putus terdengar dengung sirene mobil-mobil ambulans yang membawa mayat-mayat serta para korban yang berhasil diselamatkan. Mendadak, di balik gerimis yang turun pelan, aku melihat sepasang sosok yang berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka melangkah ke arahku. Sepasang senyum itu merekah indah, menyambutku.

Baca juga:  Nelayan yang Malas Melepas Jala

“Kau pasti sudah lama menunggu?” sahut sepasang sosok itu. “Maafkan kami sudah membuatmu gelisah karena harus menunggu.”

Tubuhku bergetar melihat sepasang sosok yang tampak mesra dan hangat berdiri di depanku. Aku setengah tak percaya ketika sepasang tangan itu merangkul dan memelukku. Akhirnya setelah berhari-hari menunggu, mereka datang juga.

“Ayah dan Ibu ke mana saja?” sahutku berlinang air mata. “Aku merindukan kalian!”

“Ayah dan Ibu hanya pergi sebentar.”

Aku menatap wajah mereka yang pucat. Mereka tampak lelah. Sepasang mata mereka tampak putus asa. Aku masih merasakan kehangatan yang sama ketika berada di pelukan mereka.

“Kau tidak perlu menangis,” sahut Ibu riang. “Kau hanya perlu belajar mengihklaskan.”

“Maksudnya?” aku menatap mereka.

Mereka sama sekali tak menjawab. Mereka malah mengajakku ke tempat yang cukup jauh. Namun aku tahu ke mana mereka membawaku. Mereka membawaku kembali pulang ke tempat kami dahulu tinggal. Mereka membawaku pulang ke rumah.

“Tuhan tak pernah meninggalkanmu,” sahut ayah ketika sampai di sebuah puing-puing rumah berlumpur. “Tuhan selalu mendengarkan doa-doamu.”

Hujan mendadak menjadi deras ketika sepasang sosok itu tanpa aku duga menghilang. Aku tergagap. Kini di hadapanku malah ada ratusan origami yang terbangan penuh cahaya. Origami-origami dengan cahaya keperakan itu melayang-layang dan hinggap pada puing-puing kayu yang roboh. Origami-origami itu juga membawa seonggok tubuh tanpa nyawa yang tampak pucat dan koyak. Aku mengenal wajah-wajah itu. Wajah itu adalah milik Ayah dan Ibu yang aku rindukan. Tiba-tiba, aku ingin menangis. Namun sebelum aku menangis, ada seorang yang memelukku dari belakang. Seseorang dengan tubuh hangat dan wangi itu membisikkan sesuatu kepadaku,

“Tuhan selalu ada bagi mereka sedih dan kesepian, Dia selalu dan untuk mereka.”

Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian(2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi 2 September 2018