Pencuri Kesunyian

Karya . Dikliping tanggal 3 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

KAU tahu kenapa kau ditangkap dan digiring kemari? Aku yakin kau terkejut saat anak buahku menangkapmu. Jangan diambil hati, mereka hanya menjalankan tugas. Apakah mereka telah berlaku kasar kepadamu? Pasti tidak. Kau tahu, saat pertama kali melihat tampangmu, aku tak yakin kalau kau ini seorang perusuh. Baiklah, agar aku tidak salah tangkap orang, sebaiknya kau kau jujur padaku. Ingat, ju-jur! Jadi, cepatlah, ceritakan.

*

Aku memang tidak tahu apa salahku sampai anak buahmu menangkapku. Setahuku, aku tidak pernah membuat kesalahan. Meski aku ini miskin, aku masih tahu aturan. Sumpah, Pak, aku tidak tahu harus bercerita apa. Tapi, jika Bapak ingin tahu peristiwa apa yang terjadi pada malam itu, baiklah, aku ceritakan.

Malam itu, kami—aku dan Sum (istriku)—tiba-tiba merasa bosan dengan kehidupan (kemiskinan) kami. Lalu, Sum mengajakku bangkit dari kasur untuk kemudian berkumpul di ruang tamu kami yang sempit. Dia punya ide untuk mengusir kebosanan kami itu.

“Kita, Sup, sudah terlalu lama tak bahagia, terlalu lama tak tertawa. Mari buat malam ini menjadi meriah dengan cara kita,” kata Sum penuh semangat.

Baru kali itu aku melihat Sum terlihat lebih hidup dari sebelum- sebelumnya. Sedang biasanya, setiap selesai azan Isya, dia sudah mengajakku tidur karena, memang, kami terlampau lelah untuk melakukan kegiatan lainnya, meski hal yang paling remeh sekalipun. Aku bekerja menjadi tukang bangunan, dan Sum sendiri bekerja sebagai tukang cuci harian. Sum terpaksa ikut bekerja, karena terlalu banyak hutang yang harus dilunasi, juga ada empat perut yang harus dibuat kenyang.

Setelah ada di ruang tamu, kami berembuk.

“Apa yang akan kita lakukan, Sum, agar bisa bahagia, agar bisa tertawa?”

“Aku juga tidak tahu, Sup.”

“Kalau sama-sama tidak tahu, lebih baik kita tidur saja.”

“Tidak. Aku ingin bahagia dan tertawa malam ini.”

Kami pun berpikir tentang hal apa yang bisa membuat kami bisa bahagia dan tertawa. Lalu, Sum, menyampaikan pendapat.

“Bagaimana kalau kita buat drama?”

“Drama apa?”

“Drama yang bisa mengambarkan kalau rumah tangga kita ini bahagia.”

“Aku setuju saja. Tapi, apa yang harus aku lakukan”

“Kau panggil Lisun dan dan Blurik dulu sana.”

Baca juga:  Sungai Wong Agung

Sum memberi perintah untuk memanggil dua anak kami, Lisun (Sun) dan Blurik (Rik). Mereka sebenarnya sudah tidur, tapi Sum memaksa agar aku membangunkan mereka. Saat bangun, dua anakku itu, langsung turun dari kasurnya.

Sum segera memberi arahan kepada dua anak kami dengan suara pelan.

“Hei, kau, Sun, pura-puralah membaca buku pelajaran. Ingat, baca dengan suara lantang, ya! Sekarang kau ambil sisa-sisa buku pelajaranmu yang sudah usang sana.”

“Dan kau, Rik, jawablah apa yang ditanyakan Sun nanti. Jawablah sesukamu dengan suara lantang pula.”

Kemudian, setelah mereka mengerti perintah Sum, dengan wajah amat serius, dia memberi perintah kepadaku.

“Kau juga, Sup, lakukan dengan sebaik-baiknya. Mari bikin malam ini menjadi meriah. Berteriak dan tertawa sepuasnya.”

Aku menganggukkan kepala saja, sebagai tanda kalau aku mengerti apa yang dia inginkan.

“Mulai,” begitu perintah Sum kemudian, dengan nada lirih.

Sun segera membuka buku pelajaran, dan membacanya dengan suara lantang.

“Satu ditambah empat sama dengan?”

Dengan menampakkan wajah tololnya, Rik segera menyambar, “Sepuluh.”

Sumpah, aku tak bisa menahan tawa. Tawaku pecah. Sampai ngakak. Sum juga sama, tawanya mirip kuntilanak. Sun pura-pura marah pada Rik.

“Kau memang tolol, Rik. Lima, tahu!”

Rik malah tertawa. Sun tidak peduli dan membaca lagi.

“Lima ditambah lima?”

“Seratus.”

Aku tertawa lagi. Istriku juga. Sun marah-marah lagi.

“Kau memang bodoh, Rik. Sepuluh, tahu!”

Rik tertawa lagi. Sampai terbatuk-batuk. Sun merengut. Lalu melemparkan buku yang dipegangnya ke sembarang tempat. Dia ambil buku pelajaran lain, dan membaca lagi.

“Hei, bocah tolol. Dengar baik- baik soal ini: Ibu pergi ke pasar, Ayah pergi ke, titik-titik?”

“Ayah ke mana, ya?! Oh, ya, Ayah ngintip orang mandi!”

Aku tertawa lagi, terpingkal- pingkal, sampai terbatuk-batuk. Sum tertawa sampai mengeluarkan air mata. Sun mendelikkan matanya ke arah Rik yang masih menampakkan wajah tololnya.

Ngintip orang mandi? Salah. Ayah bekerja, tahu!”

Rik hanya bisa menganga mulutnya karena sudah lelah tertawa. Sun merengut lagi. Buku di tangannya itu dilemparnya ke sembarang tempat lagi. Dia lantas mengambil buku gambar, lalu membentangkannya di atas meja. Dia perintahkan Rik mengambil pensil dan menggambar lebih dulu.

Baca juga:  Lelaki yang Menjelma Sinterklas

“Hei, kau, gambarlah sesukamu. Nanti biar Ayah yang menebaknya. Ya kan, Yah?”

Aku mengangguk. Rik segera menggambar. Tak jelas apa yang digambarnya. Setelah selesai, dia suruh aku menebaknya.

“Ayo, gambar apa ini?”

Aku teliti gambar itu dari segala sisi. Gambar itu mirip kepala binatang. Tapi, aku tak tahu, kepala binatang apa. Jadi, aku jawab saja sesukaku.

“Kepala monyet.”

Rik langsung menyambar, “Salah. Gambar gini aja tidak tahu. Ini kepala anjing, tahu!”

Aku tertawa. Tertawa bukan karena ucapan Rik. Tapi, karena mata dia yang membelalak seperti ingin lepas dari tempatnya.

Sun mengambil alih pensil dan segera menggambar. Tangannya tangkas sekali membuat garis lengkung dan garis-garis lainnya. Sepertinya dia sedang menggambar wajah. Di wajah itu dia beri hidung dan telinga serupa punya babi. Dia pun selesai menggambar.

“Coba tebak, Yah. Gambar apa ini?”

Karena gambarnya sangat jelas, aku langsung menebak, “Wajah babi!”

Sun memekikkan suara kepadaku, “Salah. Gambar seperti ini saja tidak tahu. Ini wajah Ayah!”

Dia tertawa sendiri setelah mengatakan itu. Aku pukul kepalanya. Tapi tak terlalu keras. Sebagai peringatan saja. Agar dia tidak terlalu kurang ajar. Tiba-tiba Sun mendadak ingin berhenti. Rik juga.

“Aku ngantuk, Yah!” kata Sun.

“Aku juga,” susul Rik. Sum segera menyuruh mereka pergi ke kamar mereka untuk tidur lagi.

Sementara dia sendiri, tanpa pamit, juga ikut-ikutan meninggalkan aku. Dia melangkah menuju kamarnya sendiri.

Begitulah, kemeriahan yang kami buat dengan cara kami berakhir cepat. Sangat cepat bahkan. Meski itu dibuat-buat, aku tetap merasa bahagia karena bisa tertawa. Aku kira Sum juga merasakan hal yang sama. Tapi tidak pada tetangga di depan rumah kami. Rupanya, keriuhan yang kami buat dengan suara lantang telah mengusik telinga mereka. Aku bisa mendengar dengan jelas suara perempuan dan laki-laki di dalam rumah itu sedang bicara soal kami.

“Ah, suara mereka itu bikin emosi saja.”

“Eh, keluarga itu masih rukun, ya? Aku kira sudah bubar.”

“Dasar keluarga sinting. Kalau bicara tak punya aturan. Sudah tolol, miskin, ketawa-ketawa lagi. Dasar keluarga tidak berpendidikan.”

“Iya, laki-perempuan sama saja. Sama sintingnya. Anak-anaknya juga diajak sinting. Dasar keluarga gila.”

Baca juga:  Bulan Merah

Begitu kata mereka. Tapi, sama sekali aku tidak tersinggung, apalagi marah. Sebab apa yang mereka katakan itu benar. Kami ini memang keluarga tidak berpendidikan. Sun dan Rik saja hanya mampu aku sekolahkan sampai kelas 3 SD, karena kami memang tidak punya cukup waktu dan biaya.

Aku sudah jujur, Pak. Jika Bapak bertanya tentang cerita- cerita yang lain, sumpah, aku tidak memiliki cerita lagi selain cerita-cerita kemiskinan kami. Jika kau meminta aku untuk menceritakannya, butuh berhari- hari untuk menyelesaikannya. Aku rasa, kau juga tidak akan betah mendengar cerita tentang kemiskinan.

Sekarang, aku ingin tahu, apa sebenarnya salahku, sampai ditangkap dan dibawa kemari.

*

Hmm, rupanya tidak ada yang salah dengan pengaduan ini. Jadi, memang benar kalau kau itu telah menggangu ketenangan orang lain. Kau tahu, tetangga di depan rumahmu lah yang telah melaporkanmu. Di delik pengaduan ini tertulis: Jusup dan keluarganya telah mencuri kesunyian. Sebenarnya, tetanggamu itu menginginkan agar Sum dan kedua anakmu itu juga ditangkap. Tapi, setelah salah satu anak buahku melaporkan tentang kehidupanmu pada saat menangkapmu, aku segera memberi perintah agar membawa kau saja.

Jadi, demi memuaskan tetanggamu itu, aku harap kau menerima keputusanku. Kau harus mendekam di tahanan selama seminggu. Biar aku nanti yang memberitahu kepada istrimu bahwa kau harus menebus kesalahan yang kalian perbuat. Satu minggu itu tidak lama. Dan aku tidak butuh persetujuanmu. Ini juga demi kebaikanmu. Dan, jika keluar dari sini nanti kau berniat ingin melaporkan tetanggamu, aku siap menerima. Tapi, aku rasa kau tidak akan berani.

Sudahlah, cukup di sini saja. Setelah ini, salah satu petugas akan membawamu ke dalam sel tahanan. Jadi, aku peringatkan, jangan melawan.

Asoka, M 2018

Agus Salim sejumlah karyanya telah diterbitkan di media massa. Buku kumpulan cerpen tunggal perdananya berjudul Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring.

 

[1] Disalin dari karya Agus Salim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 2 September 2018