Percumbuan Topeng

Karya . Dikliping tanggal 4 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

KAMAR kosong yang ditinggalkan Dewi Laksmi, setelah menikah, masih rapi seperti sediakala. Topeng-topeng tertata di dinding. Topeng panji, topeng losari, topeng malangan, topeng raksasa, topeng tari khon Thailand, topeng noh Jepang, topeng leak, dan topeng para badut. Masih banyak topeng tak diketahui dari mana berasal. Gani memandangi topeng-topeng itu, dengan perasaan tak paham kenapa Dewi Laksmi, anak perempuannya, menyukai dan memasang topeng-topeng di dinding kamar. Tiap kali Dewi Laksmi bepergian menari, ke mana pun, selalu memburu topeng. Sesekali memang Dewi Laksmi menggunakan topeng-topeng itu untuk menari. Tetapi ia lebih banyak membeli topeng untuk memenuhi dinding kamar.

Sebelum pensiun, Gani tak pernah memperhatikan suasana kamar putri bungsunya. Setelah Gani pensiun, Dewi Laksmi menikah dan menempati rumahnya sendiri, barulah ia memiliki waktu luang mengamati keanehan kamar penuh topeng itu. Topeng-topeng memenuhi dinding kamar. Topeng-topeng itu seperti berkisah mengenai kehidupan manusia dari tanah asal yang jauh. Memang Dewi Laksmi berkali-kali menjelajah beberapa negara untuk menari. Mungkin kebiasaannya mengoleksi topeng sekadar kegemaran, bukan tuntutan dari dalam jiwa. Atau inikah simbol yang Dewi Laksmi ingin katakana bahwa manusia di sekelilingnya menjalani hidup dengan kedok, dengan kepalsuan perangai?

Tinggal seorang diri di rumah, dalam kecanggungan menjalani sepi hari-hari setelah pensiun, Gani jadi punya waktu merenungkan kebiasaan-kebiasaan putri bungsunya. Ia tak tahu apa yang putri bungsunya itu lakukan menjelang tidur. Apa dia memandangi topeng-topeng itu? Begitu pula ketika bangun tidur, apakah ia merenungi karakter topeng-topeng itu? Lalu, apa yang membuatnya bahagia?

Ketika memandangi topeng di dinding itu banyak yang kosong, tak terpasang di tempatnya, barulah Gani sadar pastilah Dewi Laksmi telah mengambilnya. Mungkin untuk keperluan tari. Gani mengikuti suara hatinya untuk menemukan kembali topeng-topeng yang telah diambil dari dinding kamar. Ia bergegas ke sanggar tari. Dia lihat gadis-gadis menari dengan aneka topeng terpasang di muka mereka, lebih bergairah, lebih memukau. Baru kali ini ia tersadar akan daya pikat topeng-topeng yang telah menjadikannya terpana. Lama ia memandangi gadis-gadis menari. Takjub. Sesekali berdecak kagum. Ia tergerak memahami rahasia topeng. Ia mendatangi seorang pemahat topeng.

***

Langkah Gani mencapai pelataran rumah Widi, pemahat topeng. Dia lihat Widi suntuk memahat, dan tak berpaling dari topeng yang digarap. Gani memandangi Widi dari jarak sangat dekat, berhadap-hadapan. Tetapi Widi sama sakali tak berpaling dari topeng yang sedang dia haluskan pahatannya. Widi baru tersentak setelah mengangkat topeng, mengamati dari jarak dekat, tampak Gani berdiri di hadapannya.

Baca juga:  Bayangan di Bawah Pohon Kersen

“Mari, kalau mau lihat koleksi topeng di pendapa,” kata Widi, yang masih terheran-heran. Tak pernah Gani datang ke rumahnya. Baru kali ini ayah Dewi Laksmi berkunjung ke rumahnya.

“Aku sedang mengingat masa-masa berguru memahat topeng dari ayahmu dulu,” kata Gani, mengenang kegemarannya memahat topeng semasa muda. Hasrat untuk kembali memahat topeng muncul tak terduga, setelah ia pensiun, ketika memiliki waktu luang seharian.

“Kalau berkenan memahat topeng kembali, saya akan bersyukur. Pesanan topeng akan bisa kita penuhi bersama.”

“Akan kucoba. Semoga aku masih terampil memahat.”

“Mungkin pada mulanya masih canggung. Tapi saya yakin akan segera menemukan keasyikan memahat seperti dulu.”

“Mulai besok aku mulai memahat topeng.”

Langkah Gani meninggalkan rumah Widi terasa ringan. Ia sudah menentukan kesibukan yang pernah dia tekuni semasa muda, dan kemudian dia lupakan: sebagai pemahat topeng. Ia sudah menghasilkan topeng-topeng yang halus dan berkarakter. Ayah Widi sangat menyukai pahatan topengnya. Tetapi ia menghentikan kegemaran memahat topeng setelah sibuk kerja kantor, menikah, dan memiliki dua anak perempuan.

Kini Gani memiliki kesempatan utuh untuk memahat topeng seharian penuh. Hari-harinya tak akan kosong. Ia akan kembali pada kesenangan masa silam, dengan harapan- harapan baru, yang sudah diketahui hasilnya. Ia sudah merasakan kehalusan topeng pahatan dan keindahannya. Ia pernah merasakan kesuntukan pemahat topeng, memahat dalam diam, dalam renungan. Ia ingin menambah karakter, perangai, warna cat, dan bentuk topeng-topeng baru. Tentu perlu waktu agak lama baginya untuk terampil memahat topeng dengan perangai lembut, sebagaimana Widi lalukan, yang mewarisi keahlian memahat topeng dari leluhurnya.

***

Sepanjang malam itu Gani mengamati topeng-topeng di kamar Dewi Laksmi. Topeng-topeng itu menampakkan beberapa karakter dan daya magis masing-masing. Apa sebenarnya yang Dewi Laksmi kagumi dari topeng-topeng itu? Tiap topeng yang disentuh memberikan getaran perasaan berbeda-beda. Tiap topeng yang dikenakan di wajahnya menggetarkan kesadaran yang beragam: kelembutan, kegarangan, kejenakaan, kedengkian, atau ketamakan.

Semalaman itu Gani hampir tak tertidur, hanya mengamati topeng-topeng di kamar Dewi Laksmi. Topeng-topeng itu serupa wajah-wajah manusia yang bercerita dengan kisah masing-masing. Kini ia paham, istri yang meninggalkannya hanyalah kedok, topeng yang dikenakan untuk menutupi keaslian hasrat hatinya. Dia bongkar kembali kotak peralatan memahat topeng di gudang. Dia temukan kapak, gerjaji potong, bor, pangot, pahat, pathuk, tatah, dan ganden. Alat-alat itu sudah lapuk, sudah berkarat. Ia membeli lagi alatalat yang baru. Menebang pohon waru dan nangka di belakang rumah. Memotong-motong kayu waru dan nangka itu. Dia keringkan. Ia memulai hidup sebagai pemahat topeng, yang menajamkan perasaan untuk memahat setiap gurat karakter topeng itu. Tak begitu saja ia bisa memahat. Topeng pertama dia pahat dalam waktu lama, masih kasar, belum memancarkan karakter yang dia kehendaki. Ia mencipta topeng panji. Tetapi ketelatenan, kesabaran, dan ketelitian telah menyempurnakan topeng pertama. Larut malam ia masih memahat topeng di pendapa rumah yang dipenuhi seperangkat gamelan.

Baca juga:  Keputusan

***

Kebiasaan memahami garis watak melalui serat topeng, dan mencari kisah di baliknya, Gani terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bila bertemu dengan seseorang. Ia mencoba memahami kesejatian perasaan orang yang dia hadapi. Tidakkah keramahan orang itu palsu? Kadang ia berhasil menebak kesejatian perangai orang yang dihadapi. Tetapi kadang ia susah memahami: terlalu berlapis-lapis kedok perangai orang yang dia amati.

Telah banyak topeng Gani pahat. Topeng-topeng itu dia pahat sesuai dengan perasaan, yang segera Widi bayar untuk dipasarkan. Sesekali Widi datang mengambil topeng-topeng itu dengan takjub: betapa cepat Gani menyelesaikan, halus pahatannya, berkarakter. Topeng-topeng itu memiliki kesempurnaan pahatan dengan kematangan jiwa. Widi merasa perlu belajar pada Gani. Tetapi ia tak mau mengatakan.

“Tiap topeng ini seperti bernyawa, seperti berkisah,” kata Widi ketika mengambil topeng-topeng dari rumah Gani. “Banyak pelanggan yang mengagumi pahatan topeng ini.”

“Aku berguru pada ayahmu,” tukas Gani. “Dia ajari aku kecintaan memahat, keikhlasan, dan kesabaran.”

“Ini pahatan seseorang yang mulai bisa membaca perangai seseorang, untuk menyingkap dusta di baliknya.”

“Kau tentu lebih pandai dariku. Aku murid ayahmu. Tentu kau mewarisi segala kehalusan rasa ayahmu, pemahat topeng ternama pada zamannya.”

***

Mengendarai sedan Peugeot kesayangannya, Edgar Degas datang ke rumah Widi saat senja. Lelaki Prancis itu lama tinggal di Ubud, memiliki galeri lukis dan kerajinan. Ia melakukan perjalanan ke berbagai pelosok tanah Jawa. Memburu lukisan dan kerajinan untuk galerinya. Ia singgah di rumah Widi, memesan topeng-topeng yang dia kehendaki. Widi meminta Edgar Degas memesan topeng-topeng itu pada Gani. Lelaki Prancis itu merasa yakin bisa leluasa menentukan pahatan topeng-topeng Gani sesuai dengan seleranya. Tetapi Gani menolak pesanan topeng Edgar Degas.

Baca juga:  Dua Pergelaran

“Aku tak ingin memahat topeng dengan perasaan terpaksa,” tukas Gani.

“Aku memahat topeng untuk memenuhi tuntutan rasa keindahan dalam jiwaku.”

“Apa salahnya kau memenuhi seleraku selama rasa keindahan itu terpenuhi?”

“Aku tak ingin tamak.”

“Bukankah pesanan topeng itu rezeki bagimu?”

“Memahat topeng bagiku untuk menyempurnakan kesadaran akan perangai manusia. Kalau memenuhi permintaanmu, aku akan kehilangan kesadaran itu. Aku jadi pemburu harta. Sudah tidak masanya lagi bagiku.”

Edgar Degas menggeleng-geleng. Tak sepenuhnya memahami kemauan Gani. Pemahat topeng yang beranjak menua itu tetap kukuh dalam pendirian. Ia tak goyah. Tak mau memenuhi bujuk rayu Edgar Degas, yang meninggalkan rumahnya dengan perasaan kecewa. Tampak benar raut wajahnya yang memancarkan perasaan masygul.

Gani kembali memahat topeng dengan ketenangan suasana di pendapa rumahnya. Ketenangan serupa itu pernah dia alami semasa muda belajar memahat di pendapa rumah ayah Widi. Wajah Gani tampak suntuk mencari karakter topeng yang dia pahat.

***

Widi datang dengan keramahan dan wajah bercahaya memasuki pendapa rumah Gani yang senyap. Suara pahat mencipta garis wajah pada kayu yang hendak dibuat topeng, selalu berulang, dan kadang terhenti. Aroma kayu sengon yang dipahat tercium pekat. Widi membawa tas berisi uang dan menyodorkan pada Gani.

“Ini, uang pesanan topeng-topeng yang kaubuat,” kata Widi.

“Dari Edwar Degas?” Bimbang, Widi menggeleng.

Tukasnya, “Uangku sendiri.”

“Kau tak pernah memesan topeng dengan bayar di muka serupa ini,” balas Gani.

“Ini pasti uang Edwar Degas. Aku tak mau terpasung pada kehendak seorang pemilik uang serupa ini. Biar aku memahat topeng dengan segala seleraku, dan aku tahu, banyak orang akan berdatangan ke rumahku untuk membeli.”

“Topengmu bisa tak laku.”

Tersenyum, Gani tampak meyakini keputusannya. “Orang-orang, dari mana pun asalnya, akan membeli topengku. Aku tak ingin dikuasai satu orang.”

Tampak masygul, Widi meninggalkan pendapa rumah Gani. (44)

Pandana Merdeka, Agustus 2018

– S Prasetyo Utomo lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Sastrawan sekaligus akademikus di Universitas PGRI Semarang ini dikenal melalui esai sastra, puisi, dan cerita pendek di berbagai surat kabar di Indonesia.

[1] Disalin dari karya S Prasetyo Utomo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 2 September 2018