Senyum Ibu

Karya . Dikliping tanggal 24 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

AIRA menatap sedih tubuh ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Kedua mata ibu terpejam. Bibir ibu yang mulai tampak mengeriput sedikit terbuka. Sesekali suara dengkur halus menguar dari kedua celah bibir beliau. Sepertinya ibu begitu pulas usai emminum obat yang barusan diberikan oleh ibu bidan.

Di kampung Aira tugas bu bidan memang tak sekadar membantu perempuan yang hendak melahirkan, juga menjadi rujukan bagi warga sekitar yang tengah menderita sakit ringan seperti batuk, pilek, masuk angin, mencret, dan lain sebagainya.

Tadi pagi, usai salat Subuh, Aira langsung panik saat menuju ruang dapur dan melihat raut ibu yang terlihat pucat tak seperti hari-hari biasa. Mulanya ibu menolak saat Aira mengajak berobat ke rumah bu bidan di kampung sebelah. Ibu hanya bilang kecapekkan saja. Ibu langsung luluh saat Aira mengatakan satu hal yang membuathati ibu terenyuh.

“Aira nggak mau Ibu kenapa-napa. Ibu satu-satunya orangtua Aira di dunia saat ini.”

Ayah pergi meninggalkan ibu saat Aira masih bayi. Dulu, ibu sempat berbohong pada Aira bahwa ayah sedang pergi kerja ke luar kota. Belakangan Aira baru tahu bahwa ibu sengaja berbohong agar dirinya tak bersedih. Ibu baru menceritakan kejadian yang sesungguhnya saat Aira sudah masuk SMA. Mulanya, Aira ingin marah sama ibu karena tak jujur sedari dulu. Namun setelah merenungi perjuangan ibu yang begitu besar untuk membesarkan dirinya, kemarahan Aira pun pupus. Yang tersisa justru rasa sayang yang begitu besar pada ibunya.

Baca juga:  Ibu Mertua

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibu berjualan aneka kue basah dan gorengan yang dititipkan di warung-warung terdekat. Bahkan Aira tak merasa malu membawa dagangan ibu setiap pagi ke sekolah untuk dititipkan di kantin.

***

Senyum IbuSUARA batuk ibu membuat konsentrasi AIra yang tengah membaca buku menjadi ambyar. Aira memang sengaja menunggu ibu di kamar beliau. Sambil duduk di kursi plastik dekat jendela, Aira membaca buku yang ia pinjaam di perpustakaan sekolah. Sebuah buku motivasi yang telah tiga kali ini ia baca tapi tak pernah membuatnya bosan karena isinya sangat bagus, mengajak pembaca agar melewati hari-hari sepanjang tahun dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Buku ini pula yang mampu membuat Aira berdamai dengan takdir yang semula ia anggaptak adil.

Baca juga:  Surat Untuk Ayah

“Lho, Aira nggak sekolah?” Pertanyaan ibu membuat Aira tersenyum.

“Ini kan hari Minggu, Bu,” kata Aira sambil menutup bukunya.

“Oh, hari Minggu, ya?” Ibu pun mengulas senyum.

“Gimana kondisi Ibu, udah nggak lemas, kan?” tanya Aira saat melihat wajah ibu yang sudah tak sepucat tadi pagi.

“Alhamdulillah, udah mendingan.” Ibu tersenyum menatap Aira. Beliau bersyukur meski hanya hidup berdua dengan putrinya, tapi Aira adalah anak yang berbakti dan selalu khawatir saat melihat ibunya sakit. Persis sebagaimana kekhawatiran ibu saat melihat Aira sedang tak enak badan.

Tentang kisah perselingkuhan ayah dengan wanita lain, ibu sudah berusaha melupakannya meski masih menyisakan rasa sakit bila kembali teringat pengkhianatan tersebut. Ibu memilih berpisah dari ayah. Ayah lantas pergi meninggalkan ibu. Luka di hati ibu kian menganga saat sebulan kemudian ia mendengar berita tentang pernikahan ayah dengan wanita selingkuhannya yang digelar di luar kota.

“Mulai sekarang Ibu harus lebih menjaga kesehatan. Jangan terlalu kecapaian. Pokoknya kalau ngerasa capai, Ibu harus berhenti. Jangan dipaksakan. Aira nggak mau kalau Ibu sampai jatuh sakit lagi.”

Baca juga:  Kisah Pilu tentang Seutas Tali

Ibu tersenyum mendengar kata-kata Aira yang penuh kekhawatiran. Ibu mengangguk refleks. Aira tersenyum melihat respons ibu. Melihat senyum ibu, hati Aira merasa begitu damai. Dalam hati Aira pun berjanji akan selalu berusaha membahagiakan ibu yang selama ini telah begitu kenyang dengan rerupa penderitaan.

“Aira juga nggak boleh kecapaian. Harus jaga kesehatan.”

Aira tersenyum mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir ibunya. Aira pun lekas mengangguk lantas berdiri dan menghampiri ibu yang kini sudah duduk di tepi ranjang. Dengan mata berkaca-kaca Aira memeluk tubuh ibu dan mencium kening beliau sambil berkata lirih, “Aira sayang sama Ibu.”

“Ibu juga sayang Aira,” balas Ibu sambil mengeratkan pelukan.

Puring Kebumen, 4 September 2018

Sam Edy Yuswanto. Purwosari, Puring, Kebumen.


[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar”Minggu Pagi” edisi Minggu 23 September 2018