September ‘99

Karya . Dikliping tanggal 16 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

KALAU saja pada bulan September 1999 itu pertumpahan darah tidak terjadi di Timor, tentulah kisah kematian Maria bersama dua anaknya akan menjadi sesuatu yang menghebohkan. Kisah itu akan menjadi bahan gunjingan selama berhari-hari, terutama di K, kota yang ditakdirkan menerima ribuan pengungsi pasca-jajak pendapat Timor Timur. Namun, kisah kematian Maria hampir tidak diingat orang. Dari berbagai versi cerita tentang kematian itu, berikut ini salah satu versi yang mungkin mendekati kebenaran.

Aku harus membunuh masa lalu bersama laki-laki itu, atau ia akan membunuh masa depanku. Di tengah Selat Ombay, kapal feri Maubesi terengah-engah bertahan melawan amukan laut. Lampu-lampu kapal itu hanya bisa menghalau gelap dalam jarak beberapa meter, sementara kegelapan dan air yang melingkupinya seperti tak bertepi. Butuh enam jam atau lebih untuk keluar dari prahara ini.

Di atas atap WC kapal itu, Maria menyandarkan tubuhnya pada barikade besi yang membuatnya tidak terjun bebas ke dalam kegelapan dan laut yang mengamuk di bawah sana. Atap WC kapal feri sudah biasa dijadikan tempat duduk oleh para penumpang. Itu seperti tempat cadangan yang sengaja disediakan ketika ruangan di bawah tidak mampu menampung manusia yang harus berbagi tempat dengan aneka bawaan mereka; sepeda motor, babi, kambing, karung-karung berisi aneka jenis barang, mulai pakaian rombengan hingga hasil pertanian, seperti kopi, kopra, kakao, dan masih banyak lagi.

Maria tidak kebagian tempat di dalam bawah sana, dan di atap inilah ia dan beberapa penumpang lain, menanti kelanjutan nasib kapal itu. Ia panik. Mulutnya komat-kamit. Mungkin merapal doa, atau menyebut beberapa nama. Ia coba memejamkan mata, mengenang segala peristiwa yang membawanya masuk dalam kemelut ini.

Semua bermula di kota A, dari kegigihan ayahnya untuk mengirimnya melanjutkan kuliah di tanah Jawa seperti dua saudaranya. Ia berkeras menolak keinginan ayahnya itu, sebab ia lebih ingin berkuliah di kota K, bersama sahabat-sahabat karibnya. Berbagai alasan telah ia kemukakan, tetapi ayahnya tetap kukuh seperti karang.

“Ayah ingin berlaku adil di dalam keluarga ini. Dua saudaramu kuliah di Jawa, maka kau juga harus ke sana. Ayah tidak ingin kau merasa kurang hati kalau hanya kuliah di kota K,” demikian alasan ayahnya.

Ia tahu, di balik alasan yang demikian itu, ayahnya ingin menunjukkan ke orang-orang bahwa tidak percumalah menduduki jabatan camat selama hampir dua puluh tahun. Ia bisa mengirim anak-anaknya berkuliah di Jawa. Dua kakak Maria telah lebih dulu merasakan sentuhan air Jawa, dan kini giliran Maria.

Itu adalah masa di mana sejak hari pertama masuk SD hingga hari terakhir berpamitan pada guru-guru SMA-nya, Maria melihat bahwa yang selalu sama dari setiap ruang kelas yang pernah disinggahinya ialah foto seorang presiden dengan senyumnya yang kebapakan bertakhta sedikit lebih tinggi di atas papan tulis. Meski foto wakil presiden selalu berganti setiap lima tahun, foto itu tak pernah lengser dari posisinya di sisi kanan gambar garuda Pancasila. Pak Petrus, ayah Maria, yang turut berjasa membantu Indonesia menduduki Timor Timur menikmati keistimewaan selama masa pemerintahan sang presiden. Ia diganjar jabatan camat yang mungkin akan berlaku seumur hidupnya.

Keistimewaan yang dinikmati ayahnya menular pula pada keluarganya. Mereka adalah panutan dan simbol kesuksesan yang dimimpikan banyak keluarga lain. Keluarga itu dijadikan rujukan dalam segala nasihat dan ajaran yang diberikan para tetangga kepada anak-anak mereka. Beberapa kali Maria mendengar kata-kata Om Sintus atau Tanta Mia ketika menasihati anak-anaknya.

“Kalau kamu malas sekolah kamu tidak akan jadi manusia. Orang bisa jadi camat macam baptua [1] Petrus karena rajin sekolah. Kalau jadi camat, kamu bisa perintah orang lain, bukan tunggu orang yang perintah kamu.” Demikian Om Sintus memarahi dua anaknya, Linus dan Finus, yang sering membolos sekolah demi bermain di bawah jembatan dekat gereja katedral.

“Kau lihat baptua Petrus? Dua anaknya sudah kuliah di Jawa, tapi kau masih suka mabuk terus. Sedikit lagi Linda tamat SMA. Dia mau kuliah atau tidak? Coba kau lebih rajin cari uang, jangan hanya tau minum mabuk saja!” Suara marah-marah Tanta Mia mengudara pada suatu pagi. Suaminya, Om Oni yang terkenal suka minum sopi [2] itu hanya bisa diam tak memberi jawab.

Baca juga:  Nawang Wulan dalam Pelukan

Di sekolah, Maria dan anak-anak pejabat yang lain mendapat perlakuan khusus dari para guru. Mereka tidak diberi sanksi bila tidak ikut membersihkan kelas atau tidak mengerjakan PR. Kalaupun diberi hukuman, para guru akan selalu meminta maaf sambil berpesan agar tidak perlulah hukuman itu diceritakan kepada orang tua di rumah.

Tentu saja Maria menikmati keistimewaan itu. Namun, ujung dari keistimewaan yang diberikan ayahnya adalah kesempatan untuk berkuliah di Jawa, dan itu sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Setiap kali ia mengutarakan penolakan, ayahnya akan menjelaskan betapa ia telah berjuang sebagai seorang kepala keluarga, mempertaruhkan jabatannya yang berharga itu demi masa depan anak-anaknya. Sementara ibunya akan mengamini penjelasan sang suami, memberi nasihat sambil tak lupa membanding-bandingkan nasib mereka dengan nasib kebanyakan anak lain di kota kecil itu.

“Kau harusnya bersyukur bisa kuliah di Jawa. Jangan mengecewakan ayahmu yang telah berjuang mati-matian demi menyekolahkanmu. Anak-anak lain mana bisa mendapat kesempatan seperti kau dan saudara-saudaramu?” demikian ibunya. Maria menelan kata-kata itu dan langsung ingin memuntahkannya kembali.

“Jangan jadi anak durhaka. Contohlah dua kakakmu. Mereka membuat ayah dan ibu bangga karena mereka patuh. Jangan macam Sinta, anaknya Om Lius, yang baru dua bulan kuliah sudah hamil lebih dulu,” kali ini kata-kata ibunya membuat Maria berlalu ke kamarnya sambil membanting pintu kuat-kuat.

Maria tahu, nanti jika para tetangga bertandang ayah atau ibunya akan dengan bangga bercerita tentang keinginan kuat anak-anaknya untuk kuliah di Jawa. Bahwa anak-anaknya ingin belajar menghadapi tantangan yang jauh lebih besar. Lalu, dengan nada agak merendah orang tuanya akan bilang bahwa mereka menghargai pilihan anak-anaknya, sebab mereka membiasakan anak-anaknya untuk berani mengemukakan pilihan dan berani bertanggung jawab atas pilihan itu.

Demikianlah, dengan setengah hati Maria berangkat ke Surabaya, diantar ayahnya. Semester pertama, semuanya berjalan baik-baik saja. Maria telah berhasil mengatasi rasa kecewanya dan mulai menikmati kehidupan di kota besar. Sesekali ia menelepon keluarganya, mengabarkan kondisi terakhirnya dan memberi tahu perkembangan kuliahnya. Ayahnya tersenyum senang, ibunya membawa intensi ke gereja, mengucap syukur atas kebaikan Tuhan dan berterima kasih atas bantuan doa para orang kudus.

Jika semua berjalan mulus, ketika kembali Maria akan mendapat posisi di salah satu kantor pemerintah daerah, seperti Frans, kakak sulungnya, yang telah mendapat jabatan sekretaris camat di kantor ayahnya. Sebentar lagi Marta, kakaknya yang nomor dua, juga akan pulang dan tentu tempat untuknya telah tersedia sebagai jatah ayahnya. Itu lazim terjadi sebagai bentuk terima kasih pemerintah atas segala jasa dan pengabdian sang ayah kepada nusa dan bangsa.

Sepertinya berkat Tuhan terus melimpahi keluarga itu, hingga suatu malam Maria menelepon dan berbicara panjang lebar dengan ibunya. Air mata ibunya berlinang setelah menerima kabar terbaru sang anak. Ayahnya yang biasanya kukuh bagai bukit batu itu hanya bisa diam dengan wajah muram. Tentu saja isi percakapan itu tidak akan bertahan lama di balik tembok-tembok rumah mereka.

Bisik-bisik mulai menyebar di antara para tetangga. Maria telah hamil, dan telah pula berpindah agama dan menikah menurut tata cara agama laki-laki yang menghamilinya itu. Gerah mendengar gunjingan tetangga, Pak Petrus menyuruh Maria segera kembali dengan atau tanpa laki-laki yang telah menjadi suaminya itu. Pria tua itu punya rencana, sebab sebagai orang tua ia lebih tahu yang terbaik buat anaknya.

Maria pulang dengan perut membuncit ditemani seorang laki-laki. Terbakar amarah, Pak Petrus dibantu beberapa paman Maria menghajar laki-laki itu, menyeretnya ke kantor polisi, dan menjebloskannya ke dalam sel. Ia telah melecehkan martabat keluarga Pak Petrus yang terpandang di kota kecil itu. Seminggu mendekam dalam sel, ia dikeluarkan dan dipaksa menandatangani surat yang berisi pernyataan bahwa ia khilaf ketika menikahi Maria dan bahwa ia tidak akan lagi mengusik kehidupan Maria untuk seterusnya. Ia pun diusir keluar dari kota A.

Beberapa hari kemudian, Maria menghilang dari rumah. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Ada yang bilang ia melarikan diri ke rumah neneknya di pedalaman, tetapi ada juga yang bilang mereka melihat Maria menumpang bus antarkota. Untuk pertama kali dalam riwayat hidupnya yang bergelimang kesuksesan, Pak Petrus mengalami kekalahan beruntun. Kekalahan yang diberikan oleh Maria dan laki-laki kurang ajar itu.

Baca juga:  Buntalan Mikail

Ia mengutuk Maria dengan sumpah-sumpah adat yang tak terampunkan. Biarlah anak itu mendapat kemalangan selama hidupnya. Biarlah ia mati dipagut ular berbisa, digigit anjing gila, dihanyutkan banjir bandang, atau ditabrak mobil di jalanan. Namanya akan dihapus dari daftar keluarga dan tidak boleh ada sesiapa dari keluarga itu yang boleh berhubungan dengan anak durhaka itu lagi. Istrinya, perempuan yang berpuluh tahun terlatih oleh ketaatan sempurna pada kehendak suaminya itu, hanya bisa meneteskan air mata sambil diam-diam memanjatkan doa-doa, menangkal kutukan yang diucapkan sang suami.

Sebetulnya, Maria diam-diam pergi ke kota K. Di sana, laki-laki yang tetap mencintainya meski sudah dihajar habis-habisan itu, telah menunggunya. Mereka punya pilihan sendiri.

***

September ‘99Bersama suaminya, Maria pergi ke kota E, kampung halaman suaminya. Ia siap membuka lembar kehidupan baru di kota itu. Ia melahirkan seorang bayi laki-laki, dan tentu saja kebahagiaan merajai hari-harinya. Ia kini telah menjadi seorang ibu, dan ia sudah keluar dari ingatan-ingatan akan kota kelahirannya.

Suaminya meneruskan usaha keluarga, menjadi pemasok barang-barang kebutuhan pokok dari Jawa untuk beberapa kota di Pulau F. Pekerjaan ini membuat suaminya harus bolak-balik ke Jawa atau berkeliling pulau F untuk memastikan roda bisnis keluarganya tetap berputar di tengah hempasan krisis dan gonjang-ganjing situasi politik. Hal ini membuat Maria harus rela mengurusi anak semata wayangnya di rumah mertuanya, sebab mereka masih menumpang tinggal di situ.

Kehadiran suaminya yang cuma sebentar, ditambah keluhan Ibu mertua dan anggapan ipar-iparnya yang perempuan bahwa Maria belum siap menjadi seorang ibu rumah tangga, lambat laun membuatnya merasa terpojok sendirian. Bila suaminya pulang, mertua dan ipar-iparnya akan lebih dulu menyampaikan aneka “laporan” berbumbu keluhan tentang Maria dan anaknya.

“Dia tidak bisa mengurusi anakmu. Ibu yang harus mengganti popok anakmu, dan saudari-saudarimu yang mesti mencuci semua pakaian kotor istri dan anakmu itu,” demikian wanita tua itu mengeluh.

“Tidak ada ratu dan pelayan di rumah ini. Kalau mau jadi ratu silakan cari istana sendiri untuk bertakhta di sana,” seorang ipar Maria turut menyindir.

Suaminya memilih diam dan tidak meladeni keluhan-keluhan itu. Maria sendiri mengakui beberapa kali ia memang meminta bantuan ibu mertua dan ipar-iparnya untuk turut mengurusi si kecil, yaitu ketika Maria terkena demam dan sedikit masuk angin, tetapi selebihnya ia bisa melakukan segalanya sendiri. Suaminya tidak menanggapi berlebihan. Mungkin ia capek atau mungkin sedang suntuk memikirkan rencana-rencana dagangnya.

Menjelang setahun usia anaknya, hampir sebulan suaminya tidak kembali ke rumah karena sibuk berkeliling ke kota-kota di Pulau F untuk mengecek setoran dari para agen dan pengecer yang tidak menentu akibat krisis ekonomi yang makin menjadi. Banyak perusahaan gulung tikar, dan pasokan barang ke daerah-daerah luar Jawa tidak lagi lancar. Bisnis keluarga yang diurus suaminya terus merugi. Maria yang sudah tidak tahan dengan situasi di rumah mertuanya memilih pergi dari rumah itu.

“Istri dan anakmu sudah kabur dari rumah ini. Mereka menyewa sebuah kamar kos di samping lorong masuk pasar ikan, dekat pelabuhan. Telah berkali-kali kami menemuinya, tetapi ia tidak mau kembali,” demikian laporan yang diterima suaminya saat laki-laki yang usaha dagangnya di ambang kebangkrutan itu kembali ke rumah dengan tangan hampa.

“Marsel, tetangga kita yang bekerja di rumah Om Lipus bilang ia beberapa kali disuruh mengantar ikan ke kos istrimu. Ia juga membawa amplop yang mungkin berisi uang, atau mungkin surat cinta dari duda pemilik kapal ikan itu untuk istrimu,” ibunya turut memberi cerita.

“Kalau begini terus, lama-lama orang akan tahu kelakuan serong istrimu itu. Mau ditaruh di mana muka keluarga kita?” tambah wanita tua itu.

Tanpa banyak bicara, laki-laki itu menemui istrinya. Dipaksanya Maria agar menceritakan hubungannya dengan Om Lipus, tetapi Maria membantah dengan keras tuduhan tidak berdasar itu. Ia menggeledah kamar kos itu, mencari amplop-amplop kiriman Om Lipus. Nihil. Amarahnya memuncak. Dibantingnya barang-barang yang bisa diraihnya di kamar sempit itu, diiringi teriak kemarahan Maria. Kali ini, mulut Maria yang kena hantam tangan laki-laki itu. Darah mengucur, dan Maria balas mencakar wajah suaminya.

Baca juga:  Nama untuk Ayah

“Kalau kau lebih percaya mulut keluargamu, tidak apa-apa. Keluar dari kamar ini dan jangan pernah kembali lagi ke sini!” Maria berteriak sambil mendorong keluar tubuh suaminya. Tak dihiraukannya suara isak anaknya yang dari tadi menyaksikan pertengkaran itu. Ia membanting pintu, dan membiarkan suaminya menggedor-gedor pintu yang telah dikuncinya dari dalam. Ia menyiapkan pakaiannya, membujuk anaknya agar segera diam dan menghitung sisa uang yang masih dimilikinya. Mereka akan pergi dari kota itu.

Ketika dirasa suaminya tidak lagi menanti di depan pintu, Maria keluar sambil menggendong anaknya yang masih menangis sesenggukan. Dengan sebuah tas bergantung di punggungya, Maria membuang langkah menuju pelabuhan. Niatnya sudah bulat. Ia akan kembali pada keluarganya di kota A, apa pun risikonya.

Ia tahu, keluarga suaminya tidak menginginkan kehadirannya karena suaminya itu sudah dijodohkan sejak kecil dengan anak seorang saudagar ikan, saingan Om Lipus. Itu sebabnya, mereka menjadikan Om Lipus sebagai kambing hitam dari segala tuduhan mereka yang tidak berdasar itu. Namun, itu tidak penting lagi buat Maria. Ia hanya ingin cepat pergi dari kota itu.

Mengetahui kepergian Maria, suaminya menyusul ke pelabuhan. Dia mencari di antara ratusan penumpang yang berebut menaiki feri cepat yang akan bertolak ke kota K. Usahanya sia-sia belaka. Maria dan anaknya tidak ditemukan. Mereka tidak ada di sana. Lelaki itu bimbang, tetapi masih merasakan adanya harapan. Jika mereka tidak ada di pelabuhan, bisa saja mereka tidak jadi pergi. Mungkin mereka telah kembali ke kamar kos itu.

Maria sudah menduga bahwa laki-laki itu akan menyusulnya ke pelabuhan. Maka ia membawa anaknya pergi ke terminal antar-kota, menumpang bus, lalu menuju kota L. Ada kapal feri yang berlayar dua kali seminggu dari pelabuhan di kota L menuju kota K. Kalau ia tidak salah hitung, kapal feri itu akan berangkat besok sore. Belum terlambat untuk sampai ke sana.

Maubesi masih terombang-ambing di tengah Selat Ombay. Dari jauh, cahaya lampu kapal itu hilang muncul seperti kunang-kunang di tengah samudra malam. Maria berusaha menguatkan hatinya. Ia menarik napas panjang dan mulai memanjat barikade yang terdiri atas beberapa batang besi yang dipasang melintang dengan jarak tertentu seperti tangga itu.

Putranya masih tetap lelap. Ia tentu lelah setelah menghabiskan waktu hampir empat puluh delapan jam di jalan. Ia menatap wajah putranya. Diciumnya wajah itu, dan dengan anak dalam gendongannya, Maria menjatuhkan diri ke dalam ganasnya gelombang.

Maubesi terus berlalu, terombang-ambing di tengah lautan.

Ribuan manusia memadati pelabuhan kecil kota K. Mereka datang dari ujung timur pulau Timor, diangkut kapal tentara dan kapal-kapal feri yang tersedia. Maubesi yang baru saja bersandar diperintahkan untuk segera berlayar ke Dili, membantu evakuasi rakyat Timor Timur dari wilayah yang dilanda huru-hara itu.

Kematian seorang wanita bersama anak dalam gendongannya, yang tadi ramai dibicarakan di atas kapal, kini larut dalam kehebohan yang baru. Kehadiran warga Timor Timur dengan jejak-jejak konflik menjadi kisah baru yang mengharu biru, juga membikin ngeri.

Di dasar Selat Ombay, Maria dan putranya terkubur dan dilupakan. Kepada ikan-ikan yang mampir mencumbu jasadnya, Maria tersenyum kecut dan berbisik, “Aku telah gagal berpamitan dengan masa lalu, maka aku pun tak pantas mengucap salam jumpa pada masa depan.” 

Keterangan:
Baptua: Bapak tua
Sopi: Sebutan untuk minuman keras di Timor, biasanya produk lokal/olahan rumah tangga.

Fahik Agustinus, lahir di pedalaman Timor 1986. Bergiat di Komunitas Pustaka LEKO Kupang. Aktif menulis opini, esai, dan ulasan sastra di media massa dengan nama pena Gusty Fahik. Buku kumpulan puisinya berjudul Monumen Luka (IRGSC, 2017).

[1] Disalin dari karya Gusty Fahik
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 15 – 16 September 2018