Baju Kaki Ayah

Karya . Dikliping tanggal 24 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

PAGI itu ayah sudah siap dengan baju khaki, celana panjang warna senada, dan sepatu kulit hitam peninggalan almarhum kakek. Tak lupa dengan rambut legam yang telah disisir rapi ke belakang. Matanyamemandangku yang tengah terduduk lesu di kursi kayu kayu, dengan topi merah di genggamanku. Ayah tersenyum, sementara aku masih menahan rasa mualyang membuat kedua mataku semakin berarir. Ya, hari ini hari pertama kali aku masuk sekolah dasar.

Dengan postur tubuh tinggi dan memakai baju khaki, hari itu ayah terlihat gagah namun ramah. Apalagi ketika berdiri di depan murid-murid. Ayah mengajak berkenalan satu persatu, menyanyikan yel-yel dan bermain bersama agar kami saling mengenal dan beradaptasi.

Ayah mengajarku kembali di kelas lima. Pagi itu hari Senin dan ayah masih menungguku di teras rumah, lengkap dengan baju khakinya. Terus memanggilku. Aku melangkah keluar dengan malas, lalu mengulangi permintaanku hari sebelumnya.

“Yah, aku mohon.”

“Ayah tidak akan melakukannya. Apa anak Ayah ini ingin Ayah berdosa?”

“Sekali ini saja.”

“Tidak, Nak,” jawab ayah tegas.

Aku menutup pintu dengan keras. Ayah tidak bersedia memenuhi permintaanku, memanipulasi nilai ujian tengah semesterku yang rendah. Sekalipun murid ayah, aku notabene anaknya sendiri, ayah tidak ingin menambah nilaiku.

Baca juga:  Penggali Liang Lahat

“Kalau ingin nilaimu bagus, rajinlah belajar apa yang sudah Ayah ajarkan. Tanyakan apa yang belum kamu mengerti.”

Jawaban ayah saat itu membuatku jengkel. Pikiran kanak-kanakku menyimpulkan jika ayah tidak menyayangiku. Apa keuntungannya aku menjadi murid ayah jika ayah tidak bisa menambah nilaiku? Aku merasa benci dengan baju khaki yang ayah pakai hari itu. Bahkan beberapa hari berikutnya, aku menyembunyikannya. Baju itu aku masukkan ke almari khusus pakaianku agar ayah tak menemukannya.

“Naya, apa kamu melihat baju khaki Ayah? Tadi malam Ayah gantungkan baju itu di sini kok tidak ada ya,” tanyanya.

Aku menggeleng. Ayah mencari baju itu ke sana kemari. Hingga Senin, jadwal memakai baju itu, ayah tak menemukannya. Baju khaki yang diberikan sekolah itu satu-satunya yang ayah miliki. Beliau pun terpaksa memakai baju lain. Ayah meminta maaf kepada kepala sekolah karena tidak memakai baju seragam hari itu.

***

Baju Kaki AyahTAHUN terus berganti. Ayah masih setia dengan baju warna khaki. Seperti biasa, ayah selalu menyeterika baju itu hingga tak ada bagian yang kusust sedikit pun. Setelah itu, ayah mengenakan sambil menatap bayangannya di cermin. Ayah masih terlihat tampan dan gagah meski beberapa guratan telah menghiasi kedua sudut matanya. Dan saat itu tahun pertama aku mengenakan seragam putih abu-abu.

Baca juga:  Kutukan Rahim (4)

“Ayah tidak malu memakai baju khaki itu?” tanyaku.

“Kenapa harus malu?”

“Baju ayah kan tidak ada badgenya.”

Lagi-lagi ayah tersenyum.

“Ada badge maupun tanpa badge, sama-sama mengabdi, Naya. Ayah snagat mencintai pekerjaan Ayah.”

Baju khaki milik ayah memang polos tanpa badge, karena status ayah guru tidak tetap di sekolah dasar itu. Untuk memenuhi kebutuhan kami yang hanya tinggal berdua, ayah juga mencari pintu rezeki di tempat lain: mengajar di lembaga bimbingan belajar.

***

SUARA ayah yang terbatuk-batuk membuyarkan lamunanku. Jam sudah menunjukkan pukul 6:00. Hari ini hari pertama aku bekerja. Ayah sudah berkutat dengan bunga-bunga di taman depan rumah, mengisi hari-hari tuanya usai purna tugas. Baju khakinya kini sudah tersimpan rapi di dalam lemari. Badan ayah yang dulu gagah kini sedikit terbungkuk dan kuit wajahnya semakin dipenuhi dengan guratan.

Baca juga:  Seorang Tamu Istimewa

Ia menghentikan pekerjaannya setelah mendengar suara langkah kakiku. Matanya memandangku yang tengah berjalan mantap dengan memakai bajukhaki lengkap dengan badge, rok warna senada, sepatu pantofel hitam, dan rambut yang sudah aku sisir rapi, dan aku biarkan tergerai. Tak henti-hentinya ayah memandangku.

“Selamat pagi ibu guru cantik, semangat!” seru ayah sambil mengepalkan tangannya.

Aku mendekati ayah, mencium tangannya.

“Aku akan meneruskan perjuangan Ayah,” kataku dalam hati. Ayah telah mengajarkan tentang kejujuran dan semangat mengabdi, meski sebagai guru tidak tetap. Apalagi aku yang kini menjadi guru tetap, tentu tidak mau kalah dengan ayah.

Rizkia Hety Netarahim, Ngentak RT 76/38, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta


[1]Disalin dari karya Rizkia Hety Netarahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 21 Oktober 2018