Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah

Karya . Dikliping tanggal 2 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

SAAT kuceritakan kepada ayah, bahwa sepulang sekolah tadi aku menemukan bangkai anjing di pinggir jalan, dia langsung muntah dan menghujaniku dengan sumpah serapah. Awalnya, aku menerka ceritaku itu terlalu menjijikkan untuk diucapkan di meja makan, terlebih ketika ayah sedang mengunyah makanannya. Dan untuk membuktikan tebakanku itu, di lain waktu aku mengatakan jika tadi aku menjumpai seekor bangkai ayam di pinggir jalan.

“Mungkin dia terlindas oleh sepeda motor yang melintas,” tambahku.

Ajaibnya, ayahku tak bereaksi apa-apa, pun ketika aku mengisahkan bangkai-bangkai lainnya, tentu saja selain anjing.

Aku mulai mencium aroma sebuah misteri. Dan sebagai kanak-kanak menjelang remaja—di masa itu—seketika hatiku bersorak. Aku suka misteri. Dan kurasa seluruh anak-anak di dunia ini menyukai cerita misteri dan petualangannya.

Namun sayangnya, aku tak menemukan petunjuk apa pun untuk memecahkan misteri: Kenapa ayah muntah setiap kali aku mengatakan melihat bangkai anjing? Beberapa tahun berlalu dan hal itu tetaplah menjadi misteri, sampai saat aku kelas 3 SMP dan aku mengatakan sepulang sekolah, kami menabrak seekor anjing sampai mati. Ayah langsung menampar dan menendangku.

Aku tercengang dalam beberapa detik. Setelahnya, saat rasa sakit menyerang akibat pukulan ayah, aku meraung. Ayah mencengkeram kerah bajuku, matanya mendelik dan dari bibir hitamnya yang telah digerogoti tembakau selama bertahun-tahun itu, terluncur kata-kata. “Sekali lagi kau bercerita tentang bangkai anjing di depanku, aku tak segan menghajarmu.”

Saat ayah melepaskan cengkeramannya pada kerah bajuku, aku seketika bangkit dan menghambur ke dalam kamar. Meninggalkan meja makan dan wajah ibu yang pias. Kubanting pintu kamar dan mengepal tinju. Ada perasaan marah yang menggelegak dalam dadaku, seperti air panas yang mencapai titik didih.

Sejak malam itu aku membenci ayah. Dan untuk membalas dendam yang bersemayam, aku akan terus mencari kisah-kisah tentang bangkai anjing. Aku akan menikmati kemenangan saat melihat ayah muntah, menggigil, bahkan mengamuk padaku hanya gara-gara aku membangkang lantaran tak menuruti perintahnya untuk tak menceritakan perihal apa pun yang berhubungan dengan bangkai anjing.

Dan anehnya, aku seperti orgasme saat melihat kemuakan ayah pada bangkai anjing yang kuceritakan. Rasanya jauh lebih nikmat tinimbang saat aku meracap diam-diam di kamar sepulang sekolah.

***

AKU tadi mancing di Sungai Lematang bersama Alan,” ucapku saat aku, ibu, dan ayah menikmati makan malam. Aku ingat sekali, saat itu aku sudah duduk di kelas 3 SMA. Dan misteri tentang kenapa ayah sangat membenci bangkai anjing belum terpecahkan olehku.

Aku memang pergi memancing dengan kawan sekelasku itu. Dan seperti mendapat anugerah luar biasa, aku melihat seekor bangkai anjing tersangkut pada rimbun semak yang menganjur ke dalam sungai. Keempat kaki anjing itu terangkat ke atas, lalat-lalat hijau besar berdengung-dengung laksana sekompi tentara yang siap pesta besar di atas perutnya yang menggembung. Alan seketika muntah saat hidungnya mencium aroma busuk luar biasa. Ganjilnya, aku tersenyum dan merasa girang bukan kepalang.

“Apa kau dapat ikan?” pertanyaan ibu membuyarkan ingatanku pada bangkai anjing itu.

Baca juga:  Menjelang Kematian Dulkarim

Aku menggeleng, “Tidak.”

Kulirik ayah yang masih sibuk mengunyah makanannya.

“Tapi, aku menemukan bangkai anjing.”

Seketika meja makan kami menjadi hening. Ayah menghentikan sendok berisi nasi yang hendak dia suap. Ibu menoleh kepadaku. Aku melempar senyum untuk ayah sekaligus memberikan wajah menantang. Dari ekor mataku, aku bisa melihat ibu meremas kain rok di atas pahanya. Punggung ibu tegak lurus, seperti menahan napas. Matanya lurus menatap ayah yang mematung. Pandangan ayah tertuju padaku. Aku masih bersetia dengan senyumku.

“Keempat kaki bangkai anjing itu teracung ke atas,” aku melanjutkan cerita. Seketika tangan kiri ibu yang ada di bawah meja menarik bajuku. Aku bergeming, seolah-olah tak memahami isyarat dari ibu.

“Perut bangkai itu membuncit. Seperti akan meledak. Lalat hijau sangat banyak. Besar-besar. Berdengung macam sirene perang. Kurasa belatung-belatung dalam perut bangkai itu sangat gemuk. Jika saja perutnya meledak saat kutusuk dengan kayu.”

“Bangsat!”

Tiba-tiba ayah berteriak. Lalu, aku mendengar suara kursi didorong paksa. Dan gelas pecah berkeping-keping di lantai. Ibu terlonjak. Tangannya mencengkeram kuat rok di atas pahanya. Tubuhnya menggigil. Aku bergeming dan tetap tersenyum sembari menatap wajah ayah yang memerah, seperti ada larva yang akan muntah dari kepala ayah.

“Bangkai anjing itu seperti….”

“Setan kau!”

Ayah tiba-tiba melompat, menghancurkan isi meja makan, menerjang ke arahku. Aku tak sempat menghindari. Piring-gelas dan apa pun berjatuhan. Menciptakan irama yang terdengar begitu harmonis tetapi ganjil. Ibu menyempurnakan irama itu dengan jeritan panjang sembari berdiri dari duduknya.

***

TANGAN ibu gemetar ketika mengelap wajahku dengan sapu tangan basah. Aku meringis, menahan perih. Kamarku begitu hening. Kuduga, ayah pasti berada di teras, mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya begitu kuat. Begitulah yang dia lakukan jika tengah kesal atau marah atau bisa jadi tengah depresi.

“Ibu kan sudah bilang, jangan pernah bahas apa pun tentang anjing, terlebih bangkainya, di depan ayah. Jangan menyulut emosi ayahmu.”

Aku kembali mendesis saat ibu kembali mengelap luka di pelipisku dengan sapu tangan basah. Setelah merasa lukaku bersih, ibu meletakkan sapu tangan ke dalam baskom kecil berisi air, lalu membuka kotak P3K.

“Kenapa?” aku bertanya. Pertanyaan yang telah berpuluh kali kuulang kepada ibu. Sejak misteri “kenapa ayah membenci bangkai anjing” menghantui imajinasi kanak-kanakku. Lalu dendam kepada ayah beranak-pinak dan aku begitu gigih untuk membalasnya.

“Tak semua hal harus ada jawaban dan alasan, kan? Iya, kan?” ibu justru balik bertanya. Seperti yang sudah-sudah.

“Berarti, akan banyak kisah bangkai anjing yang kuceritakan pada ayah.” Dan aku pun mengikuti kehendak ibu.

Aku mendengar ibu menghela napas. Dia mengoleskan obat merah di pelipisku dan aku kembali mendesis menahan perih.

“Apa lukamu terasa perih?” ibu bertanya dan kurasa itu pertanyaan yang konyol sekali.

“Ya,” tapi tetap kujawab.

“Begitu juga yang ayahmu rasakan,” sambung ibu. Aku mengernyitkan kening.

Ibu merapikan kotak P3K. Dan seperti akan beranjak, meninggalkanku. Aku seketika mengambil lengannya. Menahan langkah ibu.

Baca juga:  Suamiku Ingin Mati di Wawonii

“Ceritakan padaku.” Mata kami bertemu di kekosongan udara. Dan sekali lagi ibu menghela napas. Aku mengerjap. Memohon.

“Dan kau berjanji untuk tak mengusik luka ayahmu lagi?”

“Akan kucoba.”

“Berjanjilah?”

Aku mendengus. “Baiklah. Aku berjanji.”

Ibu duduk kembali di sisi ranjang. Dia terlihat berkali-kali menghela napas, seakan-akan cerita yang akan dia ungkapkan adalah kisah penuh lebam.

“Di pengujung tahun ’65,” ibu membuka ceritanya. “Pasca-peristiwa Gerakan 30 September, terjadi pembersihan besar-besaran di kota ini, termasuk kampung kita. Setiap hari ada saja mobil-mobil truk yang datang dan membawa orang-orang. Dan setiap yang pergi tak akan pernah kembali.”

Kata ibu, waktu itu umur ayah 14 tahun, sementara ibu berusia 10 tahun. Jadi, mereka berdua sudah punya ingatan yang cukup bagus akan peristiwa yang terjadi. Namun, ibu tak tahu siapa yang membawa orang-orang itu. Setiap malam rumah-rumah akan lengang dan gulita. Seluruh penghuninya berdebar-debar, khawatir kalau pintu rumah mereka diketuk seseorang. Bila itu terjadi, terdengar teriakan histeris dan tangisan pilu. Tapi, tak akan ada yang berani membuka pintu untuk mencari tahu. Semua orang pura-pura tuli sembari berdoa bukan pintu rumah mereka yang diketuk. Besoknya, barulah orang-orang akan bertanya dalam bisik-bisik, siapa yang dibawa semalam?

“Konon katanya, orang-orang itu dibawa ke daerah yang bernama Pembantaian sekarang. Lokasinya di jalan perlintasan rel kereta api bila kita ke Muara Enim.”

Aku langsung tahu dengan tempat yang ibu kisahkan.

“Tak hanya orang kampung kita. Banyak dari kampung-kampung lain. Bahkan, katanya, orang-orang yang dibawa dari Talang Ubi sana diseret dengan truk.”

Aku bergidik.

“Beberapa bulan lamanya Sungai Lematang dipenuhi mayat.” Aku bisa melihat bulu kuduk di tangan ibu meremang. “Setiap ada rakit pohon pisang yang hanyut, orang-orang yang keluarganya hilang pasti langsung histeris dan menangis. Sebab, di setiap rakit pohon pisang itu pasti ada mayat. Sekurang-kurangnya tiga mayat dalam satu rakit. Tak hanya dihanyutkan dalam rakit, mayat-mayat juga dihanyutkan sembarangan. Air Sungai Lematang beraroma busuk. Bahkan, tak ada orang yang berani memakan ikan dari sungai setelah ada yang menemukan jari manusia dalam perut ikan.”

Aku ingin muntah lantaran teringat dengan ikan yang kami santap di meja makan tadi.

“Lalu, apa hubungan dengan ayah dan bangkai anjing?”

Ibu mencengkeram roknya. Dia sedikit gemetar.

“Kakekmu,” suara ibu mendesis, “Ayahku….” ibu menelan ludah. Dia meluruskan punggung, menghela, lalu menghirup napas kembali.

“Ayahku juga dibawa oleh orang-orang itu. Padahal, beliau sudah bersembunyi. Tak ada yang tahu persembunyiannya selain kami. Kakekmu juga tak bersalah. Dia tak tahu apa-apa. Ibu yakin itu. Kakekmu taat sembahyang.” Mata ibu memerah, kaca-kaca perlahan pecah di sana.

“Kami histeris saat kakekmu dibawa pergi, tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Lebih dari dua minggu kami menunggu dalam cemas sembari berharap kakekmu pulang. Tapi, hari menyedihkan itu datang. Ayahmu menemukan mayat ayahku tersangkut di semak pinggir sungai. Mayat ayahku ditemukan bersama bangkai anjing.”

Aku menelan ludah. Malam itu terasa ganjil sekali bagiku.

Baca juga:  Garnish

***

BERTAHUN-TAHUN setelah cerita ibu malam itu, aku tak pernah mengisahkan apa pun tentang bangkai anjing kepada ayah ataupun ibu. Tentu rekaman masa lalu itu sangat mengerikan bagi ayah. Dia menemukan ayah gadis pujaannya—mereka sudah berpacaran kala itu kata ibu—membusuk bersama bangkai anjing di pinggir sungai. Jadi, adalah ganjil sekali ketika usai tahlilan malam ketujuh kematian ibu, ayah tiba-tiba mendekat kepadaku dan berkata, “Aku ingin berbagi rahasia tentang bangkai anjing yang membusuk di pinggir sungai.”

Aku memandangnya bingung. Hanya kami berdua di teras belakang. Anak-istriku sudah terlelap bersama sanak keluarga di dalam rumah. Ayah memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dia mengambil tanganku. Aku bergeming.

“Kupikir,” mata ayah menerawang jauh, menembus langit malam. “Aku akan membawa rahasia ini sampai ke liang kubur.” Ayah menoleh, memandangku. “Tapi, kurasa aku tak sanggup membawanya sampai mati. Seharusnya, rahasia ini kubagikan pada ibumu. Tapi, aku terlalu pengecut. Aku takut dia membenciku. Tak ada hal yang lebih menyakitkan daripada dibenci oleh orang yang kita cintai, bukan?”

Aku menelan ludah, kesat. Sepasang air mata mengalir di pipi keriput ayah.

“Aku tak ingin ibumu membawa kebencian dan ingatan buruk tentangku ke alam kuburnya.”

Ayah memandangku dengan mata lembap. Dia mengambil tanganku. Aku bergeming.

“Ibumu pasti sudah menceritakan penyebab ayah membenci bangkai anjing,” ucapnya, yang kujawab dengan anggukan. “Ya, aku menemukan ayahnya membusuk bersama bangkai anjing di pinggir sungai. Ada bekas luka tembak di dadanya. Juga bekas luka-luka lainnya.” Tangan ayah terasa dingin sekali di telapak tanganku.

“Tapi, ada yang ibumu tidak tahu,” suaranya bergetar. Hening beberapa detik. Aku menahan napas.

“Aku yang memberi tahu persembunyian ayahnya.”

Hening. Terasa ganjil sekali sunyi ini. Kami bersitatap tanpa suara. Aku menelan ludah.

“Kau pasti bertanya, kenapa aku setega itu?” air mata ayah mengalir, “Karena orang-orang itu hampir menemukan ayahku.” Jawabnya, dengan suara yang gemetar.

Aku tertegun. Tanganku terasa kebas. Kupandang ayah. Baru kusadari, betapa dia telah bertahun-tahun kehilangan kepalanya karena digerogoti belatung dari bangkai seekor anjing yang dia peram dalam kepalanya.

Malam terasa jauh lebih ganjil daripada saat ibu mengisahkan rahasia ayah berpuluh tahun lalu. Dan perutku mual sekali, rasanya aku hendak muntah, tapi tak bisa. (*)

 

Pali, September 2017–Juli 2018

Seperti yang dikisahkan Kajut Munif. Untuk Pak Martin Aleida, terima kasih untuk cerita-ceritanya yang membuat mataku kerap basah. Terus berkarya, Pak.

 

Guntur Alam. 

Menulis cerita pendek dan berkebun di pekarangan. Buku kumpulan cerita pendeknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2015. Saat ini bekerja dan menetap di Pali.


[1] Disalin dari karya Guntur Alam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 30 September 2018