Ibu, Ayah di Mana?

Karya . Dikliping tanggal 1 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

IBU selalu meninggalkan kami dan menyendiri di kamar ketika kenangan tentang Ayah meluap dalam pikirannya. Bila itu terjadi, kami tak akan mampu berkomunikasi dengan baik.

Kami, anak dan menantunya, harus menunggu sampai Ibu bersedia keluar kamar dengan mata sembap dan senyum terpaksa. Dulu, sebelum bisa menerima perilaku Ibu itu, kami akan merayu dan menghibur Ibu. Namun kami sadar, ajakan macam apa pun tak akan ia terima. Bahkan celoteh anakku yang berusia dua tahun pun tak mampu mengajak dia beranjak dari kasur.

Ibu bisa kapan saja berperilaku begitu. Ibu pasti menyendiri dalam kamar ketika kami sekeluarga menggelar hajatan untuk berkirim doa bagi Ayah.

Baik tiga hari, seminggu, empat puluh hari, maupun seratus hari Ayah meninggal. Pun hari ini, Ibu tak mau keluar kamar walau tahu kami sekeluarga sibuk memperingati seribu hari Ayah meninggal.

Setelah semua orang, selain anggota keluarga, meninggalkan rumah, baru Ibu mau keluar kamar. “Di mana Arai, Nak?” Ibu duduk meluruskan kaki. Kupijat kaki Ibu. Kulihat kaki Ibu mengecil. Ibu makin kurus.

“Di kamar, Bu. Dia kelelahan. Ibu melewatkan kejadian lucu ketika dia memaksa ikut melayani tamu yang mengaji. Ia meniruku menuangkan teh ke gelas para tamu. Ibu bisa dengar tangis Arai yang kepanasan karena teh hangat tumpah ke bajunya?”

“Iya, Ibu dengar. Arai tak terluka kan, Nak?”

“Tidak, Bu. Ia hanya kaget. Lebih lucu lagi, ia bilang maaf berkali-ulang.”

“Aku senang. Hati anakmu begitu lembut. Anak berusia dua tahun sudah mengerti rasa bersalah. Sayang….”

“Ibu, jangan lagi masuk kamar. Aku butuh Ibu sekarang.” Aku merebahkan kepala ke pangkuan Ibu. Ibu duduk bersandar ke lemari kayu di ruang tengah. Lemari itu sekaligus berfungsi sebagai penyekat agar para tamu tak bisa langsung melihat kegiatan di dapur keluarga kami.

“Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa sembuh atas kehilangan ayahmu,” ujar Ibu sambil mengusap kepalaku.

“Iya, Bu.” Kupejamkan mataku.

Ibu, Ayah di Mana?Aku mencium wangi tubuh khas Ibu. “Sampai kapan kau akan bermanja pada Ibu seperti itu, Mas?” celoteh Sari bila melihat kelakuanku seperti sekarang. Istriku anak pertama dari lima orang bersaudara. Dia terbiasa momong adik-adiknya sejak kecil. Tak heran bila ia tak bisa mengerti betapa manja anak tunggal seperti aku ini.

Baca juga:  9 / 11

“Sari di mana, Nak?” tanya Ibu. Mungkin Ibu juga khawatir bakal mendengar celoteh Sari macam itu.

“Tenang, Bu. Dia menemani Arai tidur. Ibu juga ya, temani aku tidur malam ini.”

“Dasar anak manja. Kamu enggak malu pada Arai?”

“Biarlah, Bu. Aku malah ingin Arai tahu. Aku ingin Arai mengerti kasih Ibu tak pernah mengenal batas waktu,” jawabku sambil memutar badan. Sekarang wajahku menghadap ke perut Ibu.

“Ayah selalu tersenyum ketika melihatmu seperti ini, Nak.”

“Eh?” Sekarang aku telentang.

“Iya, Nak. Kau tak pernah tahu, karena sejak kecil ketika wajahmu menempel ke perutku, kau selalu tertidur. Melihatmu seperti ini, Ayah selalu tersenyum. Lalu ia angkat dan gendong kamu dari pangkuanku, membawamu ke kamar.”

“Jadi itulah jawaban atas pertanyaanku sejak kecil, Bu?”

“Tentang bagaimana kau bisa pindah ke kamar? Iyalah. Kau tak pernah berjalan sambil tidur,” jawab Ibu seraya tertawa.

“Selama ini Ibu bohongi aku ya? Padahal aku selalu bangga saat bercerita pada temanteman kuliahku dulu, Bu. Kusuruh teman-temanku berhati-hati karena aku sering mengigau dan berjalan saat tidur.” Kembali kutempelkan hidungku ke perut Ibu.

Malam sudah larut. Sari dan Arai pasti sudah terlelap. Aku ingin sejenak bernostalgia dengan kebiasaan lama. Sejak ada Arai, aku tak punya waktu melakukan ini. Perut Ibu adalah tempat ternyaman. Meski aku selalu terbuai pelukan Sari, perut Ibulah tempatku kembali. Aku yakin telah terlelap sampai ada beberapa tetes air membasahi pipi dan membangunkanku. Air mata Ibu!

“Ibu kenapa?”

Ibu diam saja.

“Bu?” ujarku setelah tak lagi berbaring di pangkuannya. Kugenggam tangan Ibu.

“Iya, Nak.” Ibu baru menjawab setelah beberapa saat kupijat tangan kanannya. Dia mengusap air mata dengan tangan kiri.

Baca juga:  Gentong Tua

“Ini sudah seribu hari, Bu. Jangan sampai perjalanan Ayah terbebani oleh tangis Ibu.” Kuberanikan diri mendakwahi Ibu. Aku teringat ucapan Ustaz Fauzi, tangis keluarga hanya akan membebani perjalanan almarhum di alam barzah.

“Kau tahu kenapa Ibu tak bisa berhenti menangisi kepergian ayahmu?”

Aku diam. Tak tahu jawaban atas pertanyaan Ibu.

“Aku tak yakin semua yang kita lakukan setelah kematian Ayah akan sampai padanya.”

“Maksud, Ibu?”

“Aku tak yakin semua doa yang kita kirimkan untuk Ayah, sejak hari pertama kepergiannya sampai sekarang, akan sampai pada dia, Nak.”

Mata Ibu kembali mengair. “Ibu tak yakin semua doa yang kita kirimkan, lewat tahlilan pada peringatan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, bahkan seribu hari malam ini, akan sampai pada Ayah,” lanjut Ibu setelah tahu aku tak menanggapi pernyataannya.

“Kenapa Ibu meragukan itu sekarang?”

“Sejak dulu, Nak. Ketika ayahmu masih hidup pun, Ibu tak yakin.”

“Ibu tak yakin akan kekuatan doa kita?”

“Bukan pada doa kita, Nak. Ibu hanya tak yakin doa kita akan sampai.”

“Kenapa?”

“Pernahkah kau bermakmum pada Ayah ketika salat, Nak?”

Pertanyaan Ibu menohok batinku. Aku masih menggenggam tangan Ibu, sambil menekan-nekan telapaknya secara tak berirama. Pikiranku melompat-lompat, menyeleksi ingatan tentang kebersamaan salatku dengan Ayah.

“Ayah berjamaah di masjid kan, Bu?”

“Ayah tak pernah mengimami salatmu atau salat Ibu, Nak.”

“Ayah salat dan membaca Alquran kan, Bu? Aku menyaksikan itu setiap malam kok.”

“Ayah tak pernah membiarkan kita mengikut di belakang salatnya, Nak. Dia selalu munfarid, sendiri, ketika salat di rumah.”

“Lalu apa masalahnya, Bu?”

“Ayahmu selalu mendambakan moksa, Nak.”

Pernyataan Ibu melemparkanku pada kenangan itu.

“Ayah tak ingin mati, Nak,” kata Ayah saat terbaring di rumah sakit, menjelang kepergiannya.

Aku yakin kalimat Ayah tak terhenti di situ. Namun kalimat setelah itu tak jelas ia perdengarkan padaku.

“Ayah tak ingin mati, Nak. Ayah ingin moksa.”

Baca juga:  Ramdhan

Kalimat itu tersempurnakan oleh Ibu di antara linangan air mata.

“Sepanjang hidup Ayah, Ibu selalu berdoa semoga suamiku mau percaya apa yang kupercaya. Namun doaku tak terkabul, Nak. Ayah seagama dengan kita, tetapi tidak satu keyakinan.”

Aku diam, bingung. Bagaimana bisa seagama tetapi tak sekeyakinan? Memang benar, waktu kecil aku pernah bilang pada Ayah: aku ingin salat berjamaah dengannya. Ayah selalu mengajakku ke masjid dan bilang, “Kita sudah salat bersama kan, Nak?”

Aku mengangguk, walau tidak puas.

“Namun Ayah salat kan, Bu?” Ibu mengangguk.

“Ayah puasa, zakat, baca Alquran. Ayah konsisten melaksanakan perintah agama, Bu. Bagaimana bisa Ibu meragukan keyakinan Ayah?”

“Pernah Ayah memarahi kamu menggunakan dalil agama karena kenakalanmu?”

Kembali pertanyaan Ibu membuatku terenyak. Seingatku Ayah memang tak pernah mengucapkan dalil agama dalam mendidikku. Ayah hanya bertanya, “Sudah pantaskah yang kaulakukan, Nak?” Atau, “Benar kau tak membohongi hatimu tentang kebenaran tindakanmu itu?”

“Apa hubungan hal itu dengan keyakinan Ayah, Bu?”

“Salat dan ibadah Ayah berbeda tujuan dari salat kita, Nak. Ayah tak pernah menjadikan agama sebagai dasar kerangka berpikir. Karena itulah, dia tak pernah membiarkan kita mengikuti salatnya barang sekali saja. Ayah tak pernah meyakini keberadaan surga dan neraka. Ayah tak berdoa agar tenang dan mendapat kenikmatan di alam kubur. Ayah mengidamkan kembali ke sumber kehidupan, Nak. Padahal kita berdoa setiap hari untuk orang yang berada di alam kubur. Aku tahu, bukan alam kubur yang ayahmu tuju saat meninggal.”

“Lalu di mana sekarang Ayah, Bu?”

Pertanyaan itu tak berjawab; membentur keheningan malam dan Ibu yang membisu. (28)

Fahmi Abdillah, alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang (FBS Unnes). Penabuh gender dan penulis cerita ini telah menerbitkan buku kumpuan cerita pendek berbahasa Jawa, Kalingan Ayang-ayang (2018).


[1]Disalin dari karya Fahmi Abdillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 30 September 2018